Mencinta dan Dicinta Adalah Secangkir Teh Hangat.
Dalam hidupku, aku dan secangkir teh hangat adalah hal yang paling mendekati cinta.
Mencinta dan Dicinta Adalah Secangkir Teh Hangat.
Dalam hidupku, aku dan secangkir teh hangat adalah hal yang paling mendekati cinta.

Setiap pagi, aku meminum secangkir teh hangat untuk sarapan. Tanpa pernah merasa muak, aku meminum secangkir teh hangat sebagai upacara penyambutan hari esok yang kusumpahi akan selalu datang.
Setiap jatuh sakit, aku meminum secangkir teh hangat untuk menghangatkan diri. Tanpa pernah merasa muak, aku meminum secangkir teh hangat untuk bangkit.
Untukku, hubunganku dengan secangkir teh hangat mungkin adalah hal yang paling mendekati hubungan saling mencinta dalam kurun waktu lama. Sejak dahulu, Sulit bagiku percaya bahwa dua jiwa dapat mencinta lama-lama hingga semuanya terkikis kecuali cinta yang mereka genggam. Sulit percaya bahwa dua jiwa dapat merawat asa layaknya anak yang lahir dari potongan daging dan darah yang mereka tautkan dengan tangan mereka sendiri. Tetapi, aku mulai berpikir bahwa dua orang yang saling mencinta lama-lama mungkin seperti aku dan secangkir teh hangat—saling memberi hangat di hari ini dan hari esok. Tidak menuntut apa-apa selain keberadaan—cinta yang mendekati abadi.
Tidak pernah memaksa bagaimana, hanya hadir dan menemani. Maka rasa muak pun tidak dapat mendekati, dan cinta dijemput tiap fajar datang lagi.
Aku yakin ke manapun jiwaku membawaku pergi, aku akan terus meminum secangkir teh hangat untuk menyambut pagi. Bagaimana aku bisa lelah dengan rasa manis yang tidak membebani lidah dan hangat yang merekah di sekujur raga?
Itu gila bagaimana setiap pagiku berjalan berbeda-beda dan di setiap pagi itu aku mengonsumsi secangkir teh hangat. Terkadang aku meminumnya dengan buru-buru karena urusan penting, terkadang tanpa penghayatan karena suasana hatiku sedang tidak baik. Terkadang kuminum sambil bersulang dengan angin karena suatu hal yang baik akan berlangsung hari itu. Terkadang kuminum sampai habis, terkadang kubiarkan cangkir itu setengah berisi.
Dan meski begitu, secangkir teh hangat tetap memberi hangat tanpa peduli bagaimana aku meminumnya pagi itu. Dengan rasa manis yang familiar, yang tetap sama, yang menerima, yang mendekati rumah.
Secangkir teh hangat bagai pengingat bahwa bahkan dengan segala hal yang telah aku lewati selama ini, hari esok akan datang. Aku akan selalu punya kesempatan untuk hidup, dan secangkir teh hangat akan menemaniku di tiap langkah yang kuambil.
Hidup menjadi sedikit lebih mudah dan sedikit lebih lembut karena secangkir teh hangat. Aku menjadi sedikit semangat menyambut hari esok karena secangkir teh hangat.
Barangkali di hari di mana dunia akan berakhir, aku akan duduk dan meminum secangkir teh hangat. Dengan penuh penghayatan, meresap setiap partikel teh yang diseduh dengan amatir namun tetap merupakan secangkir teh hangat yang penuh kasih.
Jika semua ini bukan cinta, lalu apa?
Maka dari itu, untukku, mencinta dan dicinta seperti secangkir teh hangat. Meski ini hanya satu dari ribuan persepsiku tentang cinta, aku tetap menghargai hangatnya persepsi yang satu ini. Mari bersulang atas nama cinta yang lama dan mendekati abadi (namun alih-alih alkohol, mari bersulang dengan secangkir teh hangat).
Minggu, 15th of June 2025 | 02:26 PM | The Moon.
메타데이터
- post_id
- 7bef12848a63
- slug
- mencinta-dan-dicinta-adalah-secangkir-teh-hangat-7bef12848a63
- url
- https://medium.com/@38midnightmoon/mencinta-dan-dicinta-adalah-secangkir-teh-hangat-7bef12848a63
- canonical_url
- https://medium.com/@38midnightmoon/mencinta-dan-dicinta-adalah-secangkir-teh-hangat-7bef12848a63
- author_url
- https://medium.com/@38midnightmoon
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-19 10:57:29