← Back to list

Emosi Berkelanjutan atau Manipulasi Emosi?

Respon manusia dapat berbeda karena banyak hal

Rival Fadli · 2025-03-18 11:09 · 100 claps · 3.3 min read paywalled
#emosi #manipulasi #respon #manusia #perilaku
Open on Medium ↗

Life

Emosi Berkelanjutan atau Manipulasi Emosi?

Respon manusia dapat berbeda karena banyak hal

Photo by Taylor Nicole on Unsplash

Photo by Taylor Nicole on Unsplash

Dalam sebuah tayangan vidio pendek di sosial media, menampilkan salah satu film yang cukup populer yang berasal dari Korea Selatan. Dalam vidio tersebut terdapat sebuah percakapan antara ayah dan anak. Mereka saling bertukar pikiran tentang situasi dan kondisi yang dialaminya. Ekspresi mereka tampak begitu sedih dan serius dalam percakapan yang berlangsung.

Ayah dan anak terlibat dalam komunikasi yang tak pasti, suasana yang hancur dan tak mesti, serta kalut pikiran yang kian waktu ingin mati. Keluarga yang tampak harmonis itu, kini hancur dan lebur. Kertas sudah menjadi bubur. Waktu tidak bisa diulang. Semuanya hanya menjadi kenangan. Dulu mereka ceria, tapi kini mereka sengsara. Semua berawal dari kepergian sang anak kedua. Sang kaka merasa menderita. Sang ibu merasa merana. Sang ayah menahan berat derita keluarga.

Anak kedua mereka meninggal dalam keadaan yang mengenaskan, hanya kakanya yang menjadi saksi kematian sang adik. Ibunya meringis dan beringas, seolah sang kaka yang membunuh adiknya. Kesalahpahaman itu berlanjut setelah sang adik disemayamkan. Konflik keluarga terus terjadi seolah tak pernah usai. Sang ibu selalu menuduh anak pertamanya sebagai pelaku atas kematian putri tercintanya yang meninggal secara tragis.

Anak pertama yang masih kecil dan lugu, tidak mengerti situasi yang terjadi. Ia hanya menjadi sasaran pelampiasan orang dewasa yakni ibunya karena kesedihannya yang berlarut ditinggal oleh putri kesayangannya.

Bocah laki-laki ini selalu menjadi kambing hitam bagi ibunya, sampai bahkan diusianya yang masih belia, ia tidak mendapatkan rasa kasih sayang yang seutuhnya dari sang ibu lantaran ibunya selalu menjauhi keberadaannya. Waktu demi waktu, perasaan negatif itu tumbuh menjadi benci kepada anak laki-lakinya.

Tiap kali melihatnya, sang ibu selalu memporakporandakan situasi rumah dengan melempari barang yang ada di sekelilingnya. Entah apa yang terjadi dalam pikiran sang ibu, namun saat melihat anaknya sendiri seolah ia sedang melihat iblis yang selalu ingin ia jauhi.

Dialog antara bapak dan anak akhirnya di mulai.

“Nak, ketika orang-orang sedang sedih, mereka akan melampiaskannya dalam kemarahan. Ibu-mu tidak marah kepada-mu, hanya saja ia sedang sedih.” tutur sang ayah menjelaskan kepada anaknya dengan nada yang lembut dan perhatian. Sang ayah yang begitu kelelahan menghadapi istrinya, yang selalu menyalahkan putranya, begitu geram dengan ekspresi menahan diri dan tak berdaya menenangi.

Ayah berusaha menjelaskan situasinya, ia ingin anaknya memahami situasinya, bahwa ibunya tidaklah marah, ia hanya sedih. Situasi ini membuat saya berpikir keras untuk mencerna dan memahaminya lebih dalam.

Dialektika terjadi, “Kenapa manusia menyembunyikan kesedihannya dengan kemarahan? Kenapa manusia harus marah ditengah kesedihan? Saya melihat realitas yang berbeda, faktanya ada manusia yang menyembunyikan kemarahannya dengan kesedihan, kenapa demikian? Kenapa emosi seolah bisa dimanipulasi? Kenapa manusia tidak bisa fokus memilih satu emosi untuk diluapkan?” Dialektika ini kadang membuat saya makin berpikir lebih keras.

Realitas di atas termasuk ke dalam menutupi kesedihannya dengan kemarahan, di mana ibunya melampiaskan kekesalahan dan kemarahannya kepada putranya, yang seolah menjadi pelaku atas semua tragedi yang terjadi. Saya menemukan realitas yang berbeda dan kebalikannya, seseorang yang menutupi kemarahannya dengan kesedihan. Hal ini terjadi pada Rasulullah Saw. ketika berdakwah di kota Thaif.

Di sana Rasul di caci, maki, dihina, dilempari batu, diusir, dan lain sebagainya sampai bahkan fisiknya terluka. Padahal Rasul hanya menyampaikan risalah kebenaran dan mengajak masyarakat untuk beriman tanpa paksaan, tapi feedback mereka lebih jauh dari ekspetasi kemanusiaan dalam merespon.

Secara umum, jika kita mendapatkan perlakuan negatif maka dengan otomatisnya akan muncul rasa kesal dan amarah yang meluap. Namun, Rasul berbeda. Segala perbuatan keji dan jahat yang dilakukan masyarakat Thaif, Rasulullah menahan amarah tersebut dan meluapkan kesedihannya. Masya allah.

Dalam teori etika, kita sebagai manusia harus berlaku etis kepada manusia lain. selain karena menjaga fitrah mereka, kita juga merupakan makhluk sosial yang sama-sama perlu diperhatikan. Bertingkah sesuai etika secara baik dan buruk sudah menjadi alamiah manusia. Jika kita memilih menutupi kesedihan dengan kemarahan, maka akan ada orang yang menjadi sasaran kemarahan kita. Hal ini akan berdampak buruk dan membawa hal yang negatif jauh lebih besar. berbeda tenimbang kita menutupi kemaharan dengan kesedihan. Semua proses yang dilalui dan dialami hanya pada ranah pribadi saja, sehingga pengaruh kepada orang lain terminimalisir bahkan tidak ada. Alhasil, kita masih bisa menjaga fitrah manusia lain dan dapat berpilaku secara etis.

Interpretasi saya tentang realitas ini, bagaimanapun manusia adalah makhluk yang teramat kompleks. Dia dibekali kehendak bebas, memiliki pikiran dan perasaan. Manusia memiliki pilihan dalam menentukan perilaku dan perbuatannya. Kedua realitas di atas bisa terbentuk karena manusia merupakan makhluk pengalaman sehingga aktus perilaku saat ini memiliki proses panjang dari waktu yang sebelumnya. Maka dari itu,perbedaan dapat terjadi, respon yang terjadi dipengaruhi oleh banyak faktor yang teramat komplikasi.

Bagaimanapun, saya akan lebih memilih dan setuju untuk menutupi kemarahan dengan kesedihan. Ada begitu banyak resiko yang terhindar dan kebermanfaatan yang jauh lebih besar tenimbang harus meluapkan marah pada orang lain.

Marah dan sedih kedunya merupakan emosi yang timbul dari proses kerja perasaan. Bagi saya, marah dan sedih bisa menjadi sebuah fase emosionalitas yang saling terintegrasi. Saya selalu mengingatkan diri saya sendiri untuk tidak melampiaskan kemarahan pada orang lain karena hal itu akan memiliki pengaruh yang berkelanjutan.

Bagaimana denganmu?


메타데이터
post_id
7c1b00c7cf4c
slug
emosi-berkelanjutan-atau-manipulasi-emosi-7c1b00c7cf4c
url
https://medium.com/@rivalfadli55/emosi-berkelanjutan-atau-manipulasi-emosi-7c1b00c7cf4c
canonical_url
https://medium.com/@rivalfadli55/emosi-berkelanjutan-atau-manipulasi-emosi-7c1b00c7cf4c
author_url
https://medium.com/@rivalfadli55
status
ok
fetched_at
2026-07-20 15:04:06