← Back to list

Jika Sudah Iri Dengki, Wujudnya Masih Manusia, Namun Hatinya Seperti Apel Busuk

Chapter #339 — Menulis Satu Halaman, 10 Juli 2026

Riza Putranto in Ruang Kontemplasi · 2026-07-10 10:01 · 316 claps · 2.9 min read
#ruang-kontemplasi #kontemplasi-diri #refleksi-diri #pengembangan-diri #psikologi
Open on Medium ↗

Jika Sudah Iri Dengki, Wujudnya Masih Manusia, Namun Hatinya Seperti Apel Busuk

Chapter #339 — Menulis Satu Halaman, 10 Juli 2026

Photo by Amr Taha™ on Unsplash

Photo by Amr Taha™ on Unsplash

Malum foris integrum, intus putridum.

Apelnya tampak utuh dari luar, namun busuk di dalam.

Sebuah kiasan sederhana, tetapi manusia memang memiliki kemampuan untuk berbuat baik sekaligus berbuat buruk.

Dua potensi itu hidup berdampingan di dalam diri setiap orang. Tidak ada seorang pun yang sepenuhnya kebal dari keduanya.

Judul tulisan ini memang terdengar menyeramkan. Maaf ya. Namun saya ingin mengajak kita semua, termasuk diri saya sendiri, untuk merenungkan satu hal yang sering luput kita sadari.

Yang sering terjadi, kebusukan hati tidak selalu tampak di wajah seseorang.

Saat kecil, mungkin saya , kamu dan kita semua banyak disuguhi cerita bahwa tokoh jahat selalu mudah dikenali. Wajahnya garang, tatapannya tajam, suaranya keras, dan tingkah lakunya kasar. Sebaliknya, tokoh baik selalu digambarkan ramah, lembut, murah senyum, dan menolong siapa saja.

Realitanya, dunia nyata ternyata jauh lebih rumit daripada dongeng.

Mungkin kamu sering melihat, ada orang yang tutur katanya lembut, senyumnya hangat, penampilannya rapi, bahkan terlihat innocent. Namun di balik semua itu, ternyata beliau diam-diam tidak sanggup melihat orang lain bahagia. Keberhasilan orang lain terasa seperti ancaman. Kebahagiaan orang lain dianggap sebagai kerugian bagi dirinya sendiri.

“Penyakit hati” bernama iri dengki mulai menghinggapinya.

Invidia est affectus valde humanus.

Iri adalah emosi yang sangat manusiawi.

Secara saintifik, iri atau sering disebut envy dalam bahasa Inggris, muncul ketika kita menyadari bahwa orang lain memiliki sesuatu yang kita inginkan, baik berupa prestasi, kekayaan, status sosial, kecantikan, maupun hubungan. Emosi ini sendiri sebenarnya bukanlah tanda bahwa seseorang jahat. Saya yakin ampir setiap orang pernah mengalaminya.

Namun kemudian jika pembahasan ilmiah kita lanjutkan, kita akan mengenal dua jenis iri. Pertama, *benign envy mendorong seseorang untuk memperbaiki diri agar mampu mencapai keberhasilan yang sama. Sebaliknya, [malicious envy](https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/19485619/)* membuat seseorang berharap agar keunggulan orang lain menghilang.

Menurut saya, disinilah yang sering kita sebut dengki.

Fokusnya bukan lagi bertumbuh, melainkan menjatuhkan.

Tangkapan layar artikel ilmiah Emotion 2009 tentang Benign dan Malicious Envy.

Tangkapan layar artikel ilmiah Emotion 2009 tentang Benign dan Malicious Envy.

Sains mengatakan bahwa ketika seseorang dipenuhi dengki, perhatian otaknya lebih banyak tersita untuk melakukan *social comparison *daripada mengembangkan dirinya sendiri. Akibatnya, dia lebih mudah mengalami stres, ketidakpuasan hidup, kecemasan, hingga penurunan kesejahteraan psikologis.

Ya inilah sisi ironis dari sifat dengki. Emosi yang awalnya ditujukan kepada orang lain justru paling banyak melukai pemiliknya.

Saya sendiri sebagai manusia biasa sering merenungkan mengenai dengki ini. Saya menilai bahwa perilaku dengki berbahaya karena sifatnya yang sering tidak kasatmata. Dengki tidak selalu muncul sebagai kemarahan atau kekerasan. Dengki dapat menyamar menjadi kritik yang terdengar objektif, candaan yang merendahkan, gosip yang dibungkus kepedulian, atau nasihat yang diam-diam bertujuan menghambat kemajuan orang lain.

Sains memberikan istilah *Schadenfreude, yaitu perasaan senang ketika melihat orang lain yang sebelumnya membuat kita iri mengalami kegagalan. Aktivitas ini bahkan melibatkan reward system *di otak. Teori saintifik tersebut bukan berarti manusia terlahir jahat, melainkan menunjukkan bahwa otak memiliki kecenderungan yang perlu dikendalikan oleh kesadaran, empati, dan nilai moral.

Cor custodire difficilius est quam imaginem servare.

Menjaga hati lebih sulit daripada menjaga citra. Benar bukan?

Penampilan dapat dibentuk dalam hitungan menit, tetapi membangun karakter membutuhkan latihan yang bahkan perlu seumur hidup.

Setiap kali melihat keberhasilan orang lain, pertanyaan yang lebih sehat bukanlah, “Mengapa bukan saya?” melainkan, “Apa yang bisa saya pelajari dari perjalanan mereka?”

Saya percaya bahwa setiap orang memiliki garis waktu, tantangan, dan jalan hidup yang berbeda.

Kesuksesan orang lain bukanlah bukti bahwa kesempatan kita telah berkurang. Justru sebaliknya, keberhasilan seseorang dapat menjadi pengingat bahwa pertumbuhan itu mungkin terjadi. Ketika kita mampu mengganti iri hati dengan rasa ingin belajar, hati menjadi lebih lapang, pikiran lebih jernih, dan langkah terasa lebih ringan.

Ya paham sih, meski sering kita sedang berjuang lalu tetiba ada orang yang mudah mendapat tempat hanya karena kenal ordal. Tapi, apakah hati kita mau dikotori dengan menggunakan cara “kotor” yang sama?

Mungkin karena itulah kebusukan hati sering diibaratkan seperti apel yang tampak indah dari luar, tetapi telah membusuk di bagian dalam. Semoga kita semua diberikan kesadaran untuk memusnahkan kebusukan itu dari hati kita.

Salam kebaikan.

fin.-


메타데이터
post_id
7c353f54852f
slug
jika-sudah-iri-dengki-wujudnya-masih-manusia-namun-hatinya-seperti-apel-busuk-7c353f54852f
url
https://medium.com/ruang-kontemplasi/jika-sudah-iri-dengki-wujudnya-masih-manusia-namun-hatinya-seperti-apel-busuk-7c353f54852f
canonical_url
https://medium.com/ruang-kontemplasi/jika-sudah-iri-dengki-wujudnya-masih-manusia-namun-hatinya-seperti-apel-busuk-7c353f54852f
author_url
https://medium.com/@rizaputranto
status
ok
fetched_at
2026-07-12 00:48:14