“Kau Menjawab dengan Nama yang Kucintai” — Tentang A Way Back Love dan Puisi Hwang Jiwoo
Jika waktuku tersisa satu minggu lagi, apa yang akan kulakukan?
“Kau Menjawab dengan Nama yang Kucintai” — Tentang A Way Back Love dan Puisi Hwang Jiwoo
Jika waktuku tersisa satu minggu lagi, apa yang akan kulakukan?

Image source by Soompi
Bagaimana jika waktuku hidup di bumi hanya tersisa satu minggu lagi? Apa yang akan kulakukan? Siapa yang akan kutemui? Dan, apa yang ingin kukatakan pada orang-orang yang akan kutinggalkan?
Orang-orang mungkin berpikir untuk menghabiskan waktu yang tersisa dengan orang-orang yang mereka cintai. Tapi, aku… masih tercenung lama untuk mereka-reka makna cinta yang orang lain sering ucapkan.
Apa itu cinta?
Aku masih ragu tentang semua itu.
Hingga suatu hari, aku menemukan sebuah drama yang membuatku terdiam cukup lama di hadapan sebait puisi. Dan, aku mulai berpikir, inikah cinta? Seperti inikah cinta? Benarkah ini cinta?
Aku tahu ini terdengar klise, tapi entah kenapa, bentuk cinta seperti inilah yang rasanya paling melekat di hati. Dan, aku tahu jika cinta yang digambarkan dalam puisi ini dibalut oleh rasa sakit dan penyesalan — tapi entah kenapa…untukku, cinta seperti ini juga membawa setitik harapan.
Bait tersebut berasal dari puisi karya Hwang Ji-woo. Sebuah puisi yang kutemukan saat menonton drama Korea berjudul ‘Way Back Love’. Sebuah drama bergenre fantasi-supernatural yang bercerita tentang romansa manis namun tragis dari dua orang siswa SMA bernama Kim Ram-woo dan Jung Hee-wan.
Awal drama ini dibuka dengan suasana kamar yang gelap dan kelam. Suasana yang tepat untuk menggambarkan kondisi Jung Hee-wan yang kehilangan semangat hidup dan mengalami depresi berkepanjangan. Bertahun-tahun lamanya dia terkurung dalam duka, rasa bersalah, dan penyesalan akibat kehilangan cinta pertamanya dalam sebuah tragedi kecelakaan.
Hingga suatu hari, tiba-tiba saja cinta pertamanya itu datang kembali di hadapannya. Dia datang untuk membawa satu kabar yang mengejutkan: bahwa waktu Jung Hee-wan hanya tersisa satu minggu lagi.
Menurutku, bagian paling menarik dari drama ini terletak pada satu scene di penghujung episode pertama. Scene tersebut adalah saat Kim Ram-woo (nama cinta pertama Hee-wan) membacakan sebuah puisi karya Hwang Ji-woo berjudul Il Postino. Saat mendengar puisi itu pertama kali, aku merasa terenyuh dan dibuat termenung beberapa saat.
Aku sadar, wah… ternyata ini bukan hanya tentang kisah tentang dua orang remaja yang sedang jatuh cinta, tapi ini adalah kisah yang membawa pesan sangat dalam tentang proses penerimaan, dan…
— ketulusan.
Berikut potongan terjemahan puisi Il Postino karya Hwang Ji-woo yang aku kutip dari drama Way Back Love:
“Kau menyeka dahimu saat mendorong sepeda dan membawa berita dari luar. Pernahkah melihat Hermes yang lusuh seperti itu? Ceritakan padaku keindahan pulau ini Kau menjawab dengan nama orang yang kucintai…”
— Il Postino karya Hwang Ji-woo
Alur cerita Way Back Love dan bait-bait puisi dari Hwang Ji-woo, entah mengapa, terasa begitu beresonansi.
‘Kau yang menjawab dengan nama orang yang kucintai’ —
— menurutku, bait ini menggambarkan murninya ketulusan yang diberikan seseorang untuk orang yang ia cintai.
Mari kita ambil contoh dari kisah Ram-woo dan Hee-wan saat mereka iseng bertukar nama di hari pertama sekolah. Aku pikir, jika aku menjadi Ram-woo aku tidak akan membiarkan Hee-wan menggunakan namaku berterus-terusan. Aku pasti akan dengan tegas mengatakan, ‘Aku tidak ingin bermain-main, dan mari kita hentikan sekarang.’ Namun, Ram-woo tidak melakukannya.
Saat Hee-wan menunggunya di sebuah halaman dengan gaun kuning yang basah, Ram-woo datang memanggilnya dari arah belakang — bukan dengan namanya sendiri. Tapi, dengan nama orang yang Hee-wan cintai: “Kim Ram-woo!”
Bahkan di saat momen terakhir mereka bersama, alih-alih melaksanakan tugasnya untuk menjemput Jung Hee-wan, dia memilih menerima hukuman dan menyebutkan namanya sendiri sebanyak tiga kali.
Bagi Hee-wan, Kim Ram-woo adalah nama dari seseorang yang ia cintai. Sementara bagi Ram-woo, namanya sendiri adalah sesuatu yang bisa ia berikan kepada orang yang ia cintai. Di saat itu aku tersadar bahwa hal yang paling indah dan paling tulus yang pernah diberikan Ram-woo untuk Hee-wan adalah namanya sendiri.
Namun, nama Ram-woo suatu hari malah menjadi sumber rasa bersalah dalam diri Hee-wan. Perasaan tersebut sangat beresonansi dengan bait demi bait di kelanjutan paragraf puisi Il Postino:
Ketika aku meninggalkan pulau itu dan melupakanmu selamanya. Kau mengangkat mikrofon ke langit malam dan merekam bintang. Apakah kau ingin menyampaikan cintamu yang bersemi pada bintang-bintang? Kamu meninggalkan pulau itu sepenuhnya. — Il Postino karya Hwang Ji-woo
Hee-wan mewakili besarnya rasa sakit yang ditanggung oleh orang-orang yang ditinggalkan. Tidak semua orang bisa benar-benar memahami rasa sakit itu, kecuali mereka yang pernah mengalaminya sendiri. Karena itu, proses berduka bukan sekadar reaksi emosional, melainkan pengalaman yang bisa terasa begitu dalam dan membekas — seolah meninggalkan ruang kosong dalam hati seseorang.
Hal-hal indah di pulau ini telah kamu hitung. Di angka terakhir, lautan kesedihan ayahmu menjadi bidikan jarak jauh, dan gambar yang panjang Sampai semua casting credit muncul, aku akan duduk di kursi dengan kepala tertunduk. — Il Postino karya Hwang Ji-woo
Saat kupikirkan lebih dalam, penyesalan Hee-wan sebenarnya berakar pada cinta yang ia miliki. Rasa kehilangan yang begitu dalam menjadi penanda betapa berharganya seseorang itu baginya. Pada akhirnya, kepedihan yang ia tanggung adalah bentuk lain dari cinta itu sendiri.
Sekilas drama ini tampak menyajikan kisah yang menyedihkan, namun di dalamnya menyimpan pesan yang indah tentang harapan dan proses penerimaan. Pesan itu diselipkan salah satunya dalam perkataan Ram-woo di penghujung episode: “Menyelamatkanmu adalah menyelamatkan diriku juga.”
Dan, aku melihatnya menjadi: “Melihatmu bertahan dan berbahagia adalah membuatku bertahan dan berbahagia juga.”
Jika dilihat sekilas, Ram-woo tampak sebagai pihak yang memiliki cinta paling besar karena berani menerima hukuman demi menyelamatkan Hee-wan. Namun, jika direnungkan lebih dalam, cinta Hee-wan pun tak kalah besar, karena ia memilih untuk tetap bertahan demi memastikan Ram-woo dapat melanjutkan perjalannya dengan tenang.
Dari drama ini aku belajar makna dari mencintai dan dicintai. Bagi seseorang yang mencintai, kebahagiaan orang yang ia cintai adalah bagian dari kebahagiaannya sendiri. Dan, bagi seseorang yang dicintai, memilih untuk hidup dengan menemukan kebahagiaan adalah cara paling tulus untuk membalas cinta yang ia terima.
Karenanya, aku jadi teringat pesan yang disampaikan dalam drama My Mister;
“Jalanilah hidup yang bahagia. Begitulah cara kamu membalas kebaikan orang-orang yang mengisi hidupmu.”
Mungkin pada akhirnya, cinta memang sesederhana itu —
mendoakan kebahagiaan untuk orang-orang yang kita cintai, dan berusaha hidup dengan bahagia untuk mereka yang mencintai kita.
Note: Tulisan ini merupakan refleksi pribadi yang tidak terlepas dari bias nilai dan pengalaman penulis. Karena itu, interpretasi di dalamnya bersifat subjektif dan belum tentu mewakili secara penuh makna maupun pesan yang sebenarnya ingin disampaikan oleh penulis drama maupun penyair Hwang Ji-woo.
메타데이터
- post_id
- 7ccda13e6fe2
- slug
- kau-menjawab-dengan-nama-yang-kucintai-tentang-a-way-back-love-dan-puisi-hwang-jiwoo-7ccda13e6fe2
- url
- https://medium.com/@rimaginary/kau-menjawab-dengan-nama-yang-kucintai-tentang-a-way-back-love-dan-puisi-hwang-jiwoo-7ccda13e6fe2
- canonical_url
- https://medium.com/@rimaginary/kau-menjawab-dengan-nama-yang-kucintai-tentang-a-way-back-love-dan-puisi-hwang-jiwoo-7ccda13e6fe2
- author_url
- https://medium.com/@rimaginary
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-24 23:31:39