Di Balik Garangnya Anggota Geng Klitih
Angin senyap malam itu menyusup dua lapisan baju rajut yang kukenakan hingga membuat tubuhku mendapatkan kesejukan yang lebih dari cukup…
Di Balik Garangnya Anggota Geng Klitih
Angin senyap malam itu menyusup dua lapisan baju rajut yang kukenakan hingga membuat tubuhku mendapatkan kesejukan yang lebih dari cukup. Waktu yang menunjukkan tengah malam tak membuat lapangan rumput yang luas menjadi gelap berkat bantuan lampu-lampu remang yang meneranginya, tak menyebabkan gerombongan anak muda membuang tahu bulat di plastik yang dijinjingnya, dan tak lekas membubarkan permainan papan luncur antara dua orang pemuda. Lalu, tak berhasil menjadi alasan berakhirnya percakapan antara aku dan ketiga temanku. Perlu diketahui salah satu di antara mereka membuatku tercengang karena pengakuannya bahwa ia seorang mantan anggota geng klitih.
Nama samarannya, Joni. Ia aktif menjadi anggota geng klitih selama lima tahun lamanya. Sudah banyak hari sabtu yang ia habiskan bersama teman-temannya untuk menjajakan nyawa pada pihak musuh atau geng lain dengan melakukan tawuran. Membawa celurit di atas motor yang melenggang di jalanan yang luas, mengonsumsi obat penghilang kewarasan, menyerang acak orang tak bersalah di jalanan, membalaskan dendam dengan solidaritas kekerasan, membiarkan kamar pribadi di rumahnya kosong berhari-hari, dan menjadi target operasional pihak berwenang merupakan perkara-perkara yang menjadi hal lumrah baginya, dulu. Hal lain yang membuatnya semakin arogan ialah label “anggota geng klitih” yang dipandang keren oleh teman-temannya yang tak tergabung di sana.
Banyak pengalaman yang ia dapatkan ketika menjadi anggota geng klitih. Pengalaman pertamanya menjadi anggota geng klitih dimulai pada hari pertama ia bergabung, yaitu membuat pengendara motor terjatuh di jalanan. “Ya, kalo mau masuk klitih itu ada syaratnya. Syaratnya ngebacok orang atau seenggaknya digimanain aja asal target itu harus sampe jatoh,” terang Joni.
Keberhasilan dalam melukai orang lain di jalanan adalah tanda penerimaan atau tanda layaknya seseorang bergabung dalam geng klitih. Para korban yang menjadi alat pembantu lolosnya calon anggota geng klitih lekas akan ditinggalkan begitu saja ketika sudah tergeletak di jalanan. Namun, penelantaran korban ini bukan hanya dilakukan ketika ujian masuk geng klitih saja tetapi juga dilakukan ketika operasional geng klitih berlangsung kapan pun.
Anggota geng klitih biasanya melukai korban dengan membuatnya terjatuh dari motor, memukulinya bak seorang maling yang kepergok massa, dan yang paling ekstrem ialah menyerang korban dari belakang dengan alat tajam. Bahkan tak jarang ditemukan korban yang dilukai hingga tewas. “Aku paling parah pernah ngebacok pake celurit, di sininya,” ucap Joni sembari menepuk dahi kanannya, “Dan pernah juga ada yang sampe koma,” lanjutnya.
Namun, menjadi seorang spesialis menyerang orang lain tak membuat para anggota geng klitih aman ketika berlawanan dengan musuh karena dari pengalaman Joni, sebanyak dua orang temannya yang berhasil kehilangan nyawa akibat tawuran yang dilakukan dengan anggota geng lain. Pun, pengalaman lain yang ia dapatkan, yaitu menjalani rehabilitasi anak di bawah umur dan merasakan penginapan sel penjara di kantor polisi selama tiga hari. Sewajarnya anak tanggung berusia 15 tahun, Joni tak merasa kapok. Ia masih terus eksis di dunia menyeramkan itu hingga usianya beranjak dewasa awal.
Lingkungan Pertemanan
Joni memaparkan bahwa salah satu faktor yang bisa menjadi alasan bergabungnya seseorang menjadi anggota geng klitih adalah lingkungan pertemanan. Ketika seseorang memiliki keluarga dengan status sosial ekonomi terjamin dan kehangatan dari orang tua yang terus mengalir untuknya, lingkungan pertemanan mampu menjadi virus utama. Virus yang mampu menggerogoti prinsip diri.
Perluasan kawasan anggota geng klitih melalui lingkungan pertemanan ini biasanya dilakukan oleh teman-teman yang sudah tergabung dalam geng klitih. Berawal dari kedok ajakan berkumpul untuk bermain bersama lalu membuat target merasa nyaman dan kemudian bergabung menjadi anggota. Ajakan yang dilakukan oleh para senior anggota geng klitih pun tak serta merta dilakukan pada semua orang, melainkan melalui observasi yang dilakukan kepada target dengan benih-benih keberanian diri yang dimiliki target yang menjadi salah satu aspek kelayakan dalam rekrutmen.
Kesetaraan gender di dunia klitih pun lebih terdepan rasanya karena sudah sedari lama mereka menerima anggota yang berjenis kelamin perempuan. Terdengar mengherankan memang, tetapi tidak menutup kemungkinan bagi anak perempuan untuk menjadi aktivis kekerasan di jalanan. “Banyak kok cewek. Biasanya kalo cewek itu jadi joki yang ngebonceng penyerang. Kalo yang dibonceng atau penyerangnya itu cowok,” jelas Joni.
Sosial Ekonomi Anggota Geng Klitih
“Orang tua aku dua kali nebus aku. Yang pertama itu 8 juta terus yang kedua itu 12 juta,” cerita Joni. Ia menjelaskan bahwa sebagian besar anggota geng klitih datang dari keluarga dengan sosial ekonomi kelas atas. Hal ini terjadi karena risiko yang disebabkan oleh para anggota geng klitih, yaitu bertanggung jawab atas korban yang mengalami luka yang tentunya memerlukan biaya untuk pengobatan.
Menurutnya, hal ini pula menjadi salah satu alasan terbanyak bagi teman-temannya bergabung geng klitih. Sang anak tidak mendapatkan perhatian dan pola asuh yang baik dari orang tuanya yang sibuk mencari lembaran uang. Maka, perkumpulan anggota geng klitih menjadi alternatif bagi mereka untuk menemukan perhatian dan kehangatan sebuah keluarga. Dan ketebalan dompet orang tua mereka inilah yang menjadi penopang rasa aman bagi para anggota geng klitih karena mereka yakin seberapa besar pun nominal yang diminta korban akan mampu terpenuhi oleh orang tua mereka masing-masing.
Penindasan atau Bullying
Ketika itu Joni tengah duduk di bangku kelas 8 di salah satu Sekolah Menengah Pertama di Daerah Istimewa Yogyakarta. Hari-harinya terasa muak lantaran dirinya merupakan seorang bocah laki-laki yang memiliki tubuh kurus yang dijadikan objek penindasan oleh teman-temannya. Tak jarang Joni dijadikan pesuruh untuk membelikan jajanan kantin dan ditantang untuk berkelahi oleh sang jagoan kelas.
Dengan kesanggupannya dalam memenuhi permintaan dan menjadi budak bagi teman-temannya bukan berarti ia tak ingin pitamnya naik dan tangisnya menjerit. Di belakang semua itu, ia menyimpan dendam terhadap mereka yang memperlakukannya semena-mena. Ia memiliki tekad untuk menebus kepuasannya dalam melukai para penindas. Kemudian, ia menemukan geng klitih yang di dalamnya terdapat anak-anak yang pandai berkelahi dan dijamin mampu menjadi penyokongnya dalam melawan para penindas serta menjadi sarana balas dendamnya.
Bergabungnya Joni menjadi anggota geng klitih membuatnya mencapai kepuasan dalam menebus dendam kesumatnya kepada para tiran dan menjadikan ia memiliki nama yang ditakuti oleh si para bocah jagoan. Joni tak lagi dititah membelikan es plastik di kantin dan tak lagi ada orang yang berani menantangnya untuk adu jotos. “Jaga mulut dan tindakan kita kepada siapa pun karena kita tidak tahu bagaimana penerimaan orang lain atas ucapan dan perbuatan yang kita lakukan pada mereka. Mungkin bagimu itu hanya sebuah candaan, tapi bisa jadi ia tengah mempersiapkan sesuatu untuk membalasmu,” tutur Joni.
메타데이터
- post_id
- 7cf98b7bdf79
- slug
- di-balik-garangnya-anggota-geng-klitih-7cf98b7bdf79
- url
- https://medium.com/@windyaml/di-balik-garangnya-anggota-geng-klitih-7cf98b7bdf79
- canonical_url
- https://medium.com/@windyaml/di-balik-garangnya-anggota-geng-klitih-7cf98b7bdf79
- author_url
- https://medium.com/@windyaml
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-26 05:00:11