← Back to list

The Boy I Met In London, Anton Lee

Aku pertama kali melihatnya di sekitar Westminster Abbey.

Twinkle · 2026-05-06 14:09 · 0 claps · 2.2 min read
#anton-lee #riize
Open on Medium ↗

The Boy I Met In London, Anton Lee

[embed]

Aku pertama kali melihatnya di sekitar Westminster Abbey.

Dia berdiri sedikit jauh dari keramaian turis, memegang kamera kecil ditangannya sambil mengarahkan lensa ke langit london yang cerah kala itu. Sling bag hitam tersampir di bahunya, rambut hitamnya berantakan tertiup angin, dan ekspresinya terlihat sangat fokus hanya untuk memotret gedung tua dan burung-burung yang terbang terlalu cepat.

Actually, aku sempat berhenti hanya untuk memperhatikannya.

Melihat betapa indahnya dia.

Terlalu lama.

And maybe that was exactly why I didn’t notice where I was going.

Karena beberapa detik kemudian — aku menabraknya.

Cukup keras sampai kameranya hampir terlepas dari genggamannya.

“Oh my God — I’m so sorry!” kataku panik.

Aku sudah siap melihat ekspresi kesal.

Tapi dia justru menahan kameranya, lalu menatapku sambil tersenyum kecil.

Senyum yang terlalu tenang untuk seseorang yang nyaris kehilangan kameranya.

“Don’t worry,” katanya lembut.

Dia tidak marah?

“But seriously… be careful, please.”

God.

Even his concern sounded attractive.

“I promise I don’t usually attack strangers.”

Kali ini dia benar-benar tertawa.

Dan aku benci kenyataan bahwa aku langsung menyukai suara tawanya. Okay.

Can we just get married tomorrow?

Somehow, percakapan kami berlanjut mulai dari perkenalan biasa hingga alasan kenapa kami sama-sama berada di London.

“Have you eaten?”

Aku menggeleng.

Dia menunjuk restoran kecil di dekat Convent Garden.

“Then let me take you to lunch”

Red flag? Maybe.

A face like that? Unfortunately, green flag.

so, i said yes.

Okay, this is crazy, i think i’m crazy.

Lunch turned into long conversations. Long conversations turned into walking around the city together.

Kami berjalan bersama menyusuri Notting Hill.

Minum kopi di dekat River Thames.

Tertawa tanpa alasan jelas di sekitar London Eye.

Sesekali dia mengambil foto kota.

Old buildings.

Street musicians.

Flowers hanging outside tiny cafés.

Even a random cat sitting near someone’s window.

“You take pictures of everything,” kataku sambil tertawa kecil.

Dia mengangkat bahu.

“Only things I want to remember.”

Dan tanpa sepengetahuannya —

he was slowly becoming my favorite view.

God.

I think I’m falling in love with someone I met this morning.

….

Langkah kami melambat di dekat London Eye.

Untuk pertama kalinya hari itu, kami sama-sama diam.

Mungkin karena kami sadar hari ini hampir selesai.

Dan aku mulai membenci fakta itu.

“You know,” katanya tiba-tiba sambil melihat hasil foto di kameranya.

“Today was unexpectedly nice.”

Unexpectedly nice?

Sir, I’m already planning our wedding playlist.

Aku tertawa kecil.

“Just nice?”

Dia menoleh padaku lalu tersenyum.

“Okay. Maybe unforgettable.”

Sebelum kami benar-benar berpisah, dia menyerahkan satu foto kepadaku.

Itu fotoku.

Aku sedang tertawa sambil menatapnya.

Completely unaware that he was looking at me like that.

Di belakang foto itu tertulis

For the girl who bumped into me in London.

Lengkap dengan nomor teleponnya.

Aku menatapnya, berusaha menahan senyum.

“What’s this?”

Dia memasukkan kedua tangannya ke saku coat-nya dan tersenyum kecil.

“In case you want to accidentally bump into me again.”

Aku tertawa terlalu keras.

“And if I wanted to bump into you on purpose?”

Untuk pertama kalinya hari itu, dia terlihat speechless.

Lalu dia tersenyum kecil and said…

“I’d like that.”

END


메타데이터
post_id
7cfbbba7fa14
slug
the-boy-ive-ever-met-in-london-anton-lee-7cfbbba7fa14
url
https://medium.com/@ntwinklestars/the-boy-ive-ever-met-in-london-anton-lee-7cfbbba7fa14
canonical_url
https://medium.com/@ntwinklestars/the-boy-ive-ever-met-in-london-anton-lee-7cfbbba7fa14
author_url
https://medium.com/@ntwinklestars
status
ok
fetched_at
2026-07-10 19:34:48