Eunoia
Teman Tak Terduga
CERITA PENDEK
Eunoia
Teman Tak Terduga
Photo by Francisco Moreno on Unsplash
Tangannya menderek tirai dengan terpaksa. Apa sinar matahari selalu muncul seterang ini? Menyengat dan menyisakan debu dari luar jendela. Bayangan yang muncul menyenderkan lengannya pada kusen jendela. Pemuda itu tersenyum manis, membawa beberapa tangkai bunga cantik. “Hai, seperti biasa. Bunga ini memang sudah seharusnya mendatangi orang-orang yang cocok dengannya.”
Apa dia meremehkanku? Itu sangat tidak cocok denganku. Bunga Krisan. Bunga itu melambangkan kehidupan yang panjang dan harapan. Seorang perempuan yang terduduk di kursi roda hanya mengamati senyum cerah pemuda dibalik jendela dengan tatapan dingin, seperti biasa. Sedari tadi ia membatin kesal, berharap pemuda itu cepat pergi dan tidak usah kembali.
Setelah sebuah kecelakaan merenggut pita suaranya, dunia tak lagi sama. Perempuan ini tidak bisa lagi bernyanyi, bercerita, maupun sekadar basa-basi. Baginya, dunia tak lebih dari sebuah panggung yang sudah tidak lagi menginginkannya sebagai pemeran utama. Bahkan mengabaikan kehadirannya dari jejeran peran tritagonis.
“Cantik sekali, bukan? Hari ini aku memetiknya lagi dari seikat buket bunga pemberian seseorang untukku dan membagikannya ke seluruh kamar di lantai 1.”
Apa dia mau pamer? Dia mau aku merespon bagaimana? Pasti anak manja kaya raya ini akan mengulangi perkataannya lagi besok pagi. Menyebalkan.
“Bunga Krisan ini justru membuatku lebih sedih jika aku tidak membagikannya. Aneh, bukan?”
Dari awal kita tidak pernah kenal, kamu sudah aneh membagikan sepetik bunga ke orang asing!
“Aku membawa lumayan banyak tangkai bunga krisan daripada biasanya karena mayoritas pasien rawat inap ini telah dipulangkan ke rumah mereka.”
Ini sudah genap seminggu sejak pemuda itu memberinya sepetik bunga di kusen jendela. Setiap kamar di lantai satu berhadapan memutari taman yang cukup luas. Biasanya, pada pukul 6 pagi, bunda dari perempuan ini konsisten membuka jendela dan menyibak tirai agar hawa sejuk masuk. Meskipun, perempuan itu tidak pernah menginginkannya.
Pemuda itu memakai gips di kaki kanannya. Lengan kirinya diperban. Punggung tangan kirinya terlihat jelas sebuah luka bakar. Wajahnya agak tirus, berbingkai kacamata kotak. Sepertinya, dia agak kurusan dari beberapa hari yang lalu.
“By the way, hari ini kamu yang buka jendela, ya? Biasanya bunda kamu,” tanyanya, basa basi.
Perempuan ini mengangguk. Tanpa sadar, lawan bicaranya menjadi lebih ceria dengan responnya. “Aku selalu berpikir kamu canggung dan keberatan denganku. Tapi, aku nggak punya teman satupun. Jadi, umm … aku anggap, kamu sudah menerimaku, ya!”
Bagaimanapun, perempuan ini awalnya rawat inap karena kecelakaan dan membuat kakinya juga dalam kondisi buruk sehingga dia harus memakai kursi roda. Namun, dokter menyatakan bahwa besok ia sudah boleh pulang untuk rawat jalan dengan jarak kontrol dua minggu sekali. Ia pun sudah boleh tidak lagi memakai kursi roda, namun tongkat penyangga kaki.
Perempuan ini mengangguk kembali menanggapi pernyataan pemuda yang terkekeh-kekeh di depannya itu, berpembatas jendela dan hawa sejuk sinar mentari. Setidaknya, aku akan menjadi temanmu dalam satu hari sebelum besok aku pulang. Perempuan ini mengangkat lima jari-jemarinya ke udara, tepat di hadapan raut muka bingung si pemuda. Isyarat, tunggu sebentar!
Ia mengambil sebuah notebook kecil dari dalam tas selempang biru laut miliknya. Warnanya kuning cerah, seperti kepribadianmu. Kemudian perempuan itu menulis sesuatu di halaman tengah buku, lembar kosong. “Ayo kita menggambar di notebook milikku.” Setidaknya setelah aku pulang, aku akan membawa kenangan ini seumur hidupku.
“Hachim!” Pemuda ini menelengkan kepalanya sebentar ke arah berlawanan sebelum akhirnya berpangku tangan dan mengangkat sebelah alisnya, penasaran. “Kalau gitu, aku yang nentuin temanya.” Dibalas anggukan dari lawan bicaranya. “Temanya adalah hal yang paling berharga untukmu detik ini.”
Serius banget. Awalnya perempuan ini hanya ingin iseng mencoret-coret kertas. Toh, ini hari terakhirnya berada di rumah sakit. Namun sepertinya pemuda di depannya ini ingin menyampaikan sesuatu. Apa dia kesepian?
Anak perempuan dengan paras pucat ini berusaha mengulum senyumnya di hadapan seorang yang selama ini dia abaikan setiap pagi. Ia menarik sudut bibirnya dengan terpaksa kemudian memperlihatkan deretan giginya perlahan. Tentu saja, pihak satunya membalas dengan raut wajah ceria, seperti biasanya.
Jika diperhatikan, kedua alisnya cukup tegas. Bulu matanya yang lentik bersembunyi dibalik bingkai kacamata berwarna abu-abu. Hidungnya berbekas merah sehabis bersin. Pemuda ini masih mempertahankan kedua sudut senyumnya. Mimik muka yang menyebalkan. Ia mengingatkanku pada ayah.
Perempuan ini melanjutkan tulisannya, “Tetap diluar. Aku tidak mau ada yang menjengukku di kamar ini.” Begitu membacanya, pemuda itu terkekeh dan menyetujuinya. Sang perempuan menyobek salah satu halaman buku dan memberikannya. Mereka menggambar saling memunggungi satu sama lain dari balik jendela.
Secarik kertas turun dari bahu perempuan itu dan jatuh ke atas kertas miliknya. Sketsanya juga sudah selesai. Cepat sekali dia. Anehnya, ia mendengar suara aneh. Suara rintihan seseorang dan gesekan lantai.
Sret. Sret. Sret.
“Uh!”
Ia memutar kursi roda untuk menghadap jendela dan mendapati pemuda itu telah tersungkur di lantai rumah sakit dengan kondisi memegang dadanya dan raut luar biasa pucat. Matanya merah dan berair. Yang selanjutnya terjadi adalah bengkak. Perempuan ini spontan mengusahakan dirinya berdiri sempoyongan.
“Kh!” Tenggorokannya sakit sekali. Sekitar 2 minggu yang lalu ia divonis oleh dokter, tidak mampu berbicara lagi. Kecelakaan itu telah mengorbankan ayah dan pita suaranya. Badan pemuda itu bergetar. Sepertinya, ia sesak napas.
Perempuan ini tidak bisa melompat. Kakinya sempat patah tulang dan dalam kondisi pemulihan setelah operasi. Ia kembali terduduk di kursi rodanya dan memencet tombol darurat yang akan mengirim suster datang. Hari ini, mengapa taman itu begitu sepi?
Sebelum suster datang ke kamarnya, ia terlebih dahulu melewati koridor taman dan mengetahui urgensi pemuda yang hampir lemas mengalami sesak napas. Di ingatan perempuan ini ada sosok ayahnya. Ia mengamati para suster berdatangan dan menaikkannya ke ranjang roda pasien. Semakin bayangan itu menjauh, semakin jelas ingatan suara parau bundanya yang membawa kabar duka pasca perempuan ini masa pemulihan rawat inap. Kabar mengenai ayahnya.
Tidak. Tidak. Tidak.
Srek.
Kursi rodanya menginjak secarik kertas. Di tengah panik, ia memungutnya. Matanya terbelalak kaget dan hampir menjatuhkan apa yang ia pegang. Terdapat gambar dan tulisan. Gambarnya adalah bunga krisan. Huruf-huruf dibawahnya yang membentuk kalimat itu menggunakan tulisan tegak bersambung. Disana memuat sebuah kalimat.
Bertuliskan, “Aku alergi bunga krisan.”
Tunggu, mengapa? Bukankah tema gambar yang dia sebutkan adalah hal yang paling berharga saat ini? Perempuan ini meraih bukunya yang tadinya terlempar saat ia spontan hendak berdiri. Goresan sketsa miliknya menggambarkan sosok ayahnya yang tersenyum. Ia masih merindukan ayahnya. Ia tidak menyangka ayahnya akan tiada. Hal yang paling berharga untuknya detik ini adalah kenangan hangat yang terlukis di mimik muka ayahnya.
Pagi itu, ayahnya mengantarkannya untuk menghadiri lomba bernyanyi tingkat nasional jenjang SMP di Kabupaten. Mereka menaiki mobil. Lalu entah bagaimana, sebuah truk dengan sopir yang mengantuk, melintas dari lampu merah. Menabrak mobil dengan sangat mengenaskan. Serpihan kaca mengenai tenggorokan perempuan ini, pecahan berat mobil menimpa salah satu kakinya. Sedangkan ayahnya yang paling parah kondisinya karena truk melintas tepat di sisi bagian sopir.
Bukankah dia bilang, bunga itu pemberian seseorang? Apakah orang yang menjenguknya bahkan tidak tahu alergi miliknya? Lalu mengapa jika tahu itu, pemuda ini tetap menerima pemberiannya? Apa daripada membuang buket bunga itu, dia memilih membagikannya ke tetangga kamar rumah sakit lantai 1? Pikirannya kacau, meremas kertas itu. Ia kemudian menyadari bahwa dibalik halaman itu menyisakan tulisan tiga paragraf, di tengah halaman.
Bodoh sekali. Mengapa aku bodoh? Seharusnya aku segera menyingkirkan sepetik bunga ini dari kusen jendela! Membaca tulisan tegak bersambung berikutnya hanya membuatnya semakin merasa bersalah akan segera pulang dari rumah sakit.
“Aku menyayangi ibuku yang telah pergi meskipun tidak pernah menjengukku ketika dirawat oleh nenek. Nenek telah tiada ketika kebakaran terjadi di rumah kami seminggu yang lalu.
Bagaimana, ya? Aku menyayangi ibu. Tapi, ibu lebih memilih meninggalkan bunga krisan ini dan sejumlah uang.
Sepertinya bunga krisan ini berharga untuknya. Ia memilih filosofi keabadian hidup ibarat berumur panjang, sebagai doa untukku. Lalu aku, memilih bunga krisan sebagai sumber berhargaku saat ini karena artinya ia datang, mengunjungiku.”
Perempuan ini mengambil pulpen dan menuliskan nomor handphonenya di lembar kertas pemuda tadi, pada bagian bawah tulisan si pemuda. Tertulis oleh perempuan itu;
08XXXXXXXXXX — Hana
“Simpan nomor teleponku. Mulai besok, mari kita bertukar buket bunga.”
1298 kata,
Fira Khairu Nisa.
July 14, 2025
메타데이터
- post_id
- 7d0546d19f0f
- slug
- eunoia-7d0546d19f0f
- url
- https://medium.com/@Aurorahibernasi/eunoia-7d0546d19f0f
- canonical_url
- https://medium.com/@Aurorahibernasi/eunoia-7d0546d19f0f
- author_url
- https://medium.com/@Aurorahibernasi
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-13 06:23:13