← Back to list

Dilema Ibu Pertiwi : Antara Inflasi Dan Deforestasi

Seperti yang telah menjadi pemahaman bersama bahwa salah satu penyebab inflasi adalah kelangkaan, suatu kondisi di mana penawaran tak mampu…

N0pale0n Bonaparty · 2026-05-25 12:21 · 0 claps · 2.2 min read
#ekonomi #lingkungan #papua
Open on Medium ↗

Dilema Ibu Pertiwi : Antara Inflasi Dan Deforestasi

Seperti yang telah menjadi pemahaman bersama bahwa salah satu penyebab inflasi adalah kelangkaan, suatu kondisi di mana penawaran tak mampu memenuhi permintaan pasar sehingga terjadi kondisi di mana harga suatu komoditas pada suatu waktu dan suatu tempat bisa melonjak drastis melebihi nilai seharusnya suatu barang tersebut. Kondisi ini tentunya adalah kondisi yang memberikan dampak buruk bagi kebanyakan pihak, di mana ketika harga suatu komoditas naik, maka semua sektor perekonomian akan terdampak. Produsen harus menambah cost production atau melakukan hal lain seperti efisiensi produksi dengan mengurangi biaya-biaya yang dianggap kurang penting, atau menaikan harga jual agar perusahaan tetap memiliki laba. Distributor harus mengatur ulang keluar masuknya barang karena permintaan yang tidak terbendung, atau dalam beberapa kasus terutama pada komoditas seperti bahan bakar, mereka harus menaikan harga atas jasa mereka. Dan Konsumen harus rela membayar lebih untuk mendapatkan kebermanfaatan dari barang yang mereka beli.

Di sisi lain, tantangan juga datang dari lingkungan. Di mana hutan terus menyempit sehingga menghilankan banyak rumah bagi flora dan fauna. Bukan hanya itu dampak yang ditimbulkan, kualitas udara menurun sehingga menciptakan lebih banyak kepayahan bagi pernafasan manusia, tanah adat tergerus menghilankan identitas budaya setempat, beberapa mata pencaharian masyarakat lokal harus lenyap meninggalkan kelaparan bagi suatu keluarga. Data deforestasi Indonesia menunjukkan bahwa ancaman terhadap hutan masih sangat nyata. Pada 2024, deforestasi Indonesia mencapai 261.575 hektare, lalu meningkat tajam menjadi 433.751 hektare pada 2025.

Inilah yang kemudian menjadi dilema yang cukup besar bagi bangsa indonesia. Mari kita fokus pada kasus di Papua. Seperti yang kita ketahui bersama, Papua merupakan daerah dengan pertumbuhan ekonomi yang tidak se-memuaskan daerah lain terutama pulau jawa. Hal ini terjadi tentunya karena kurangnya pembangunan infrastruktur yang menunjang kegiatan produksi dan distribusi. Seperti yang telah kita bahas tadi, ketika permintaan atau daya konsumsi lebih tinggi dari pada ketersediaan barang atau komoditas yang diminta, maka terjadi inflasi yang membuat konsumen sendiri menjadi kesulitan untuk mendapat kebergunaan dari suatu barang atau komoditas tersebut. Bukan hanya itu, kurangnya infrastruktur yang menunjang kegiatan ekonomi juga menimbukan dampak lain yang cukup serius, angka pengangguran yang tinggi menyebabkan kemiskinan yang mencekik setiap keluarga sehingga mereka tidak memiliki akses untuk mendapat kelayakan seperti pendidikan, kesehatan, dan teknologi. Sehingga sangat mungkin menjadi sebab Papua masih terhambat untuk memajukan peradaban mereka, di luar faktor lain seperti politik, budaya, kebijakan pemerintah, atau sekedar takdir Tuhan.

Sedangkan untuk melakukan pembangunan infrastruktur penunjang ekonomi, haruslah ada pohon yang ditebang dan hutan yang digunduli. Tidak mungkin agaknya melakukan pembangunan tanpa merusak alam sekitarnya, hal ini tentunya dapat dilihat dari setiap daerah dengan pertumbuhan ekonomi yang tinggi, kita lihat Jakarta, Beijing, Philadelphia, Busan, New York, Amsterdam, Moskow, dan masih banyak lagi, tak satupun dari daerah tersebut yang dapat mempertahankan kondisi alam mereka sebagaimana kondisi awalnya. Keinginan Papua untuk maju secara ekonomi dan sosial adalah keinginan yang sah, namun mereka harus siap untuk membayar atas kemajuan tersebut dengan harga yang memang mahal, seperti yang sudah dilakukan pulau Jawa yang selalu mereka irikan. Karena dalam perspektif ekonomi, tidak pernah ada suatu hal yang gratis, pasar akan memaksa untuk membayar atas apa yang kita nikmati.

Hal ini juga yang menjadikan Papua sebagai daerah konflik berkepanjangan seolah tidak memiliki solusi. Orang-orang papua menuntut pemerintah untuk memajukan daerah mereka namun enggan melepaskan hutan karena tuntutan budaya. Sedangkan pemerintah ingin melakukan pembangunan guna memajukan ekonomi namun selalu menggunakan cara yang kurang manusiawi tanpa mencari alternatif lain. Dan hingga saat ini peluru-peluru masih bersautan dari kedua belah pihak, darah kedua belah pihak membasahi tanah, dan masalah kelaparanpun tak pernah tuntas hingga saat ini.


메타데이터
post_id
7d0d0f9fcea4
slug
dilema-ibu-pertiwi-antara-inflasi-dan-deforestasi-7d0d0f9fcea4
url
https://medium.com/@nvl556554/dilema-ibu-pertiwi-antara-inflasi-dan-deforestasi-7d0d0f9fcea4
canonical_url
https://medium.com/@nvl556554/dilema-ibu-pertiwi-antara-inflasi-dan-deforestasi-7d0d0f9fcea4
author_url
https://medium.com/@nvl556554
status
ok
fetched_at
2026-06-09 15:37:30