← Back to list

Pohon Beringin

Kadang takdir cuma datang lewat hujan yang keterlaluan… dan satu orang yang ikut berteduh di tempat yang sama.

harrrrrrryy · 2026-01-30 17:44 · 0 claps · 5.9 min read
#awal #cerita #romance
Open on Medium ↗
Wiki topics: 💑 · Relationships

Pohon Beringin

Namaku Joko. Sore itu aku pulang kerja dengan kondisi yang bisa dibilang “manusia versi low battery”: kepala masih penuh sisa rapat, badan lengket sama capek, dan hati… ya standar, kosong tapi sok kuat.

Aku melintasi jalan kota yang biasanya ramai, tapi hari itu langit mulai berubah kayak orang habis baca chat “kita temenan aja ya”. Mendungnya tebal. Anginnya dingin. Dan aku…seperti orang yang terlalu percaya diri pada hidup….,nggak bawa jas hujan.

“Aman lah, paling cuma gerimis,” pikirku.

Ternyata semesta baca pikiranku dan langsung tertawa.

Hujan turun deras. Bukan hujan romantis yang jatuhnya pelan-pelan buat orang pacaran. Ini hujan yang jatuhnya kayak lagi ngegas: “NIH, RASAIN!”

Aku berhenti sebentar, panik kecil, menoleh kanan-kiri cari tempat berteduh. Di kiri ada toko tutup. Di kanan ada halte tapi penuh orang yang wajahnya sama-sama pasrah. Di depan… ada satu pohon beringin besar, rindang, berdiri gagah seolah bilang: “Sini, bang, daripada jadi nugget basah.”

Tanpa banyak drama, aku memarkir motorku, lalu lari ke bawah beringin itu. Nafasku ngos-ngosan, rambutku mulai kalah wibawa, dan bajuku lembap. Tapi setidaknya aku selamat dari status “kehujanan sampai lupa diri”.

Aku berdiri sendirian beberapa detik. Hujan menggedor daun-daun beringin, suaranya rame tapi menenangkan. Jalanan kota di depanku jadi blur karena tirai air. Aku cuma bisa menatap hujan sambil berdoa semoga ini cepat selesai.

Belum sempat aku merasa puitis, terdengar suara motor mendekat.

Aku menoleh.

Sebuah motor Scoopy 2015 muncul, tapi bukan Scoopy biasa. Scoopy ini sudah dimodif dengan decal warna pink…pink yang tegas, pink yang niat, pink yang kayak punya motto hidup sendiri: “Aku cute, tapi aku serius.”

Motor itu berhenti mendadak di dekat pohon. Pengendaranya turun cepat dan lari ke arahku untuk ikut berteduh.

Dan tiba-tiba…

Kami berdua saja di bawah beringin.

Situasi langsung berubah jadi canggung level nasional. Hanya ada kami, hujan, dan suara daun yang berisik seperti penonton yang lagi nunggu adegan penting.

Aku mencoba jadi orang normal. Minimal terlihat normal.

Aku lempar basa-basi paling klasik sedunia…basa-basi yang jawabannya jelas, tapi tetap ditanyakan karena otak masih kaget.

“Kehujanan juga, Mbak?” tanyaku.

Dia menoleh. Senyum kecil muncul, natural, nggak dibuat-buat.

“Iya nih, Mas,” jawabnya.

Dan entah kenapa, senyum itu bikin dadaku hangat sedikit…padahal aku lagi berdiri di bawah pohon, dengan baju lembap, dan harga diri yang juga lembap.

Aku membatin, “Cantik banget.” Tapi tetap aku simpan dalam hati, karena kalau aku ucapkan, itu bukan romantis. Itu bisa jadi bahan sidang warga.

Aku mikir lagi, cari topik obrolan berikutnya. Otakku muter, tapi yang keluar malah ketakutan receh:

“Tanya nama nggak ya? Nanti dikira modus.”

“Kalau aku kelihatan nervous, nanti dikira aku orang aneh.”

“Kalau aku diam, nanti suasana makin kayak ruang ujian.”

Aku tarik napas, lalu nekat. Suaraku sedikit ragu, tapi aku maksa tetap sopan.

“Namanya siapa, Kak?” tanyaku.

Dia menjawab cepat, santai, seolah pertanyaan itu bukan sesuatu yang aneh.

“Eh, Nia, Kak,” katanya.

“Nia…” aku mengulang pelan, kayak sedang mencoba menaruh nama itu di tempat yang aman dalam pikiranku.

Aku balas dengan senyum kecil.

“Bagus, Kak, namanya. Aku Joko.”

Dia mengangguk, senyumnya masih ada. Dan di titik itu, canggungnya mulai retak. Pelan-pelan.

Aku lanjut menggali, supaya obrolan nggak mati.

“Kerja sekitaran sini juga, Kak?”

“Iya, Kak,” jawabnya. “Aku di Gedung Mahameru lantai 7.”

Aku spontan sedikit kaget. Bukan kaget lebay, tapi kaget yang bikin hidup mendadak terasa “kok bisa pas begini”.

“Oh, aku juga di Mahameru, Kak,” kataku cepat. “Tapi… lantai 6.”

Nia menatapku lebih fokus, lalu ketawa kecil.

“Hah? Serius? Berarti kita beda satu lantai doang.”

Aku ikut ketawa, dan karena sudah mulai nyaman, mulutku jadi lebih berani receh.

“Berarti selama ini kita deket, cuma… nggak sadar. Kayak WiFi tetangga. Ada, tapi nggak pernah nyambung.”

Nia ketawa lagi. Bukan ketawa basa-basi. Ketawa beneran. Dan jujur, itu bikin aku merasa menang.

Aku melirik motornya yang pink.

“Ngomong-ngomong, Scoopy-nya… keren, Kak. Pink-nya niat banget.”

Dia senyum bangga. “Hehe, iya. Biar hidup nggak terlalu serius.”

Aku spontan jawab, “Setuju. Kalau hidup terlalu serius, nanti cepat keriput. Padahal skincare mahal.”

Dia ngakak kecil. Aku ikut ketawa. Hujan masih deras, tapi suasana di bawah beringin sudah jauh lebih hangat daripada sebelumnya.

Beberapa detik kami cuma mendengarkan hujan. Lalu Nia mengusap sedikit ujung rambutnya yang basah.

“Kak Joko bawa jas hujan?”

Aku geleng pelan. “Nggak.”

Dia mengangkat alis. “Aku juga nggak.”

Kami saling tatap sebentar, lalu sama-sama ketawa kecil, karena rasanya konyol: dua orang dewasa, kerja kantoran, tapi kalah sama hujan.

Aku merogoh jok motor dan menemukan satu jas hujan plastik tipis cadangan…yang biasanya aku simpan buat keadaan darurat. Modelnya transparan, ringan, dan kalau kena angin, vibe-nya lebih ke “bungkus makanan”.

Aku ragu sebentar, lalu mengulurkan.

“Aku punya cadangan, Kak. Tipis sih… tapi lumayan.”

Nia menatap jas hujan itu, lalu menatapku.

“Kalau aku pakai itu, kamu gimana?”

Aku…dengan kebodohan yang kadang kusebut keberanian…menjawab sok kuat.

“Aku cowok, Kak. Aku bisa menghadapi hujan… dan cicilan.”

Nia ketawa, tapi akhirnya menerima. Dia memakainya. Jas hujan itu kebesaran, jadi Nia terlihat lucu sekaligus menggemaskan.

Aku pura-pura santai, padahal dalam hati aku seperti habis ditepuk semesta: “Nah, Joko. Ini momen. Jangan rusak.”

Hujan akhirnya mulai mereda. Suaranya mengecil, tetesannya masih turun tapi tidak lagi seperti amarah. Jalanan mulai terlihat jelas. Angin pun lebih ramah.

Nia melirik ke luar, lalu kembali menatapku.

“Kayaknya udah bisa jalan, Kak.”

Aku mengangguk. “Iya. Pelan-pelan aja.”

Kami berjalan keluar dari bawah beringin menuju motor masing-masing. Jarak kami dekat, tapi tetap sopan. Rasanya aneh: baru kenal, tapi ritmenya sudah seperti orang yang “nyambung”.

Sampai di dekat Scoopy pink-nya, Nia berhenti sebentar. Tangannya memegang setang motor, tapi dia belum buru-buru naik.

Ada jeda. Dan aku tahu, di jeda itu ada sesuatu yang harus dilakukan.

Otakku langsung ribut lagi:

“Tanya nomor? Nanti dikira terlalu cepat.”

“Nggak tanya? Nanti nyesel seminggu.”

“Tanya dengan cara halus? Tapi caraku halusnya suka gagal.”

Aku menghela napas, lalu mengeluarkan kalimat yang paling jujur sekaligus paling aman.

“Kak Nia…”

“Iya, Kak?”

Aku menatapnya, berusaha nggak terlihat seperti orang yang baru belajar komunikasi.

“Kalau… besok ketemu di Mahameru, jangan pura-pura nggak kenal ya.”

Nia diam sepersekian detik. Lalu senyum yang muncul kali ini terasa lebih hangat.

“Nggak lah,” jawabnya. “Justru… aku takut kamu yang pura-pura lupa.”

Aku refleks ketawa kecil. “Aku? Nggak mungkin. Aku ini orangnya gampang ingat. Apalagi kalau hujannya keterlaluan begini.”

Nia menatapku lagi, seolah menimbang sesuatu. Lalu dia bilang pelan tapi tegas:

“Nomor kamu ada, Kak?”

Dan di saat itu, jujur, hujan boleh saja menyisakan genangan…tapi di kepalaku, semuanya terasa terang.

Aku cepat-cepat mengeluarkan HP. Kami tukar nomor. Namanya muncul di layar: Nia.

Nia menyalakan motornya. Scoopy pink itu hidup dengan suara halus. Sebelum pergi, dia menoleh lagi.

“Makasih ya, Kak. Buat jas hujannya… sama buat obrolannya.”

Aku mengangguk. “Sama-sama, Kak. Hati-hati di jalan.”

Nia pergi pelan, meninggalkan jejak ban di jalan basah. Aku berdiri sebentar di bawah beringin, menatap arah dia menghilang, lalu menatap hujan yang sudah tinggal sisa.

Dan aku sadar: sore itu tadinya cuma “pulang kerja”. Tapi ternyata bisa berubah jadi “awal cerita”.

Malamnya, saat aku rebahan dan mencoba jadi manusia yang tidak memikirkan apa-apa, notifikasi masuk.

“Kak Joko, makasih ya jas hujannya. Besok aku balikin. Jangan lupa senyum kalau ketemu wkwk.”, chatnya muncul di layar HPku.

Aku senyum sendiri. Senyum yang bodoh, tapi jujur.

“Siap, Kak. Besok aku senyum. Tapi kalau aku senyumnya kebanyakan, itu bukan salahku. Itu salah hujan.”, balasku.

Balasannya cepat. “Halah. Modus.”

Aku ketawa pelan. Kalau ini modus, maka ini modus yang paling tidak siap: tanpa payung, tanpa rencana, cuma berbekal basa-basi dan pohon beringin.

Besok paginya, aku masuk Gedung Mahameru dengan perasaan yang aneh: langkahku sama, tapi dadaku lebih ringan.

Di lift, pintu terbuka.

Nia masuk.

Kali ini rambutnya rapi, wajahnya segar, dan jas hujan plastik itu sudah dilipat rapi di tangannya.

Dia menatapku, senyum.

“Kita ketemu lagi,” katanya.

Aku mengangguk, pura-pura kalem.

“Iya. Ini bukti aku nggak pura-pura lupa,” jawabku.

Nia menyerahkan jas hujan itu.

“Makasih ya, Kak.”

Lift naik. Sampai lantai 6, pintu terbuka.

Aku melangkah keluar, tapi sebelum benar-benar pergi, aku berbalik.

“Kak Nia…”

“Iya?”

Aku menelan ludah. Lalu aku memilih satu kalimat yang receh, tapi aku pastikan jujur.

“Kalau nanti hujan turun lagi… kita berteduh bareng lagi boleh? Tapi bukan karena kehujanan. Karena… aku pengen.”

Nia menatapku beberapa detik. Lalu dia tersenyum pelan…senyum yang bikin hati orang gampang salah tingkah.

“Boleh,” jawabnya. “Tapi lain kali, jangan cuma bawa jas hujan plastik. Bawa juga niat.”

Aku ketawa. “Siap, Kak.”

Dia melangkah ke arah tombol lift lagi.

“Oh ya, Kak Joko…”

“Iya?”

“Kalau pulang nanti… kopi yuk. Biar hujan nggak merasa kerjaannya sia-sia.”

Aku diam sebentar, lalu mengangguk cepat.

“Yuk.”

Sore itu, setelah jam kerja selesai, kami duduk di sebuah kedai kopi kecil dekat Gedung Mahameru. Hujan sudah tidak ada. Tapi entah kenapa, aku tetap merasa ada sesuatu yang turun pelan dari langit…bukan air, tapi rasa hangat yang sulit dijelaskan.

Dan sejak hari itu, aku punya kebiasaan baru yang konyol: setiap kali awan menggelap, aku tidak lagi ngomel soal cuaca.

Aku malah melirik ke arah beringin besar itu.

Karena kadang, takdir tidak datang lewat momen megah atau kata-kata puitis.

Kadang takdir cuma datang lewat hujan yang keterlaluan… dan satu orang yang ikut berteduh di tempat yang sama.

Dan anehnya, di kota yang sibuk dan penuh orang, aku baru merasa “ketemu” justru saat aku basah, panik, dan tidak siap apa-apa.

Mungkin memang begitu.

Hal-hal terbaik sering dimulai dari sesuatu yang receh… tapi berakhir jadi sesuatu yang serius.

END.


메타데이터
post_id
7d4a86eb5a69
slug
pohon-beringin-7d4a86eb5a69
url
https://medium.com/@harry_uwawuwaw/pohon-beringin-7d4a86eb5a69
canonical_url
https://medium.com/@harry_uwawuwaw/pohon-beringin-7d4a86eb5a69
author_url
https://medium.com/@harry_uwawuwaw
status
ok
fetched_at
2026-06-24 11:06:28