← Back to list

Katanya “Act of Service”, tapi kok Doyan Nulis?

Ini tuh tulisan jenis apa ya, tulisan klarifikasi mungkin kali yaa hahaha.

Amelia Khoirurrahma · 2023-03-31 03:23 · 0 claps · 2.8 min read
#nulis #gombal
Open on Medium ↗

Katanya “Act of Service”, tapi kok Doyan Nulis?

Ini tuh tulisan jenis apa ya, tulisan klarifikasi mungkin kali yaa hahaha.

Photo by Aaron Burden on Unsplash

Photo by Aaron Burden on Unsplash

Jadi belakangan ini saya ketemu sama beberapa orang yang mempertanyakan jenis love languange saya. Mereka nggak percaya kalau saya jawab act of service. Langsung pasang mata sinis, sangsi sama jawaban saya karena menurut mereka kata-kata saya tuh manis. Loh, diabetes dong ya ini yang baca? Wkwkwk.

Menurut segelintir orang tersebut, harusnya love language saya yang paling dominan itu ya words of affirmation. Kalau gitu kan jadi cocok sama kepribadian saya yang suka nulis. Begitu kata mereka.

Sebenernya saya juga bingung sih jelasinnya gimana haha.

Gini deh, kita mulai dari zaman SMA. Waktu SMA, saya dikenal sama beberapa sahabat saya sebagai “ratu gombal”. Yaa julukan itu hadir karena saya hobinya gombalin teman-teman saya. Teman perempuan loh ya, kalau laki-laki skip lah, bahaya. Nanti kalau mereka baper kan saya yang celaka wkwk.

Tapi serius, gombalin temen perempuan itu seru loh. Apalagi kalau gombalin perempuan yang gampang melting. Respon tersipu dan pipinya yang kemerahan itu bikin saya pengen gombalin melulu. Saya yang perempuan aja suka sama responnya, apalagi laki-laki ya. Suka banget pasti. Pantesan aja banyak laki-laki bermulut manis di mana-mana hahaha. Tiati ya ciws.

Nah, waktu kuliah hobi saya ini berkurang drastis. Pengen tobat ceritanya. Eh, tapi kambuh lagi tiap ada X-Day Si Maniez zaman 2021 dulu. Sampai ada album berjudul “Amel barbar” karena saya sempet gombalin mereka di room chat Google Meet, beberapa malah di-screenshoot dan dimasukkin ke album di grup dong aishh. Sebetulnya agak malu sih kalau sama mereka, ciwi eldeka satu ini kok barbar kali rupanya, hapunten ya ges ya.

Belakangan ini juga salah satu temen saya punya julukan khusus buat saya. Dia mencap saya sebagai “buaya betina” karena seringnya saya gombalin dia. Padahal kan buaya hewan setia yak, parah banget emang dia mencoreng nama baik buaya. Saya yakin sih, sebentar lagi dia beneran bakalan ganti nama saya di kontaknya jadi buaya betina kalau saya masih sering gombalin dia hahaha.

Pertanyaannya, kok bisa saya gombalin mereka semua?

Jawabannya agak menyebalkan sih, tapi yaudahlah kita jujur aja ya. Menurut saya ya gampang, tinggal latihan bermulut manis. Melontarkan banyak pujian yang membuat wanita senang tanpa disertai perasaan.

Nggak susah kan untuk memuji seseorang setiap hari dengan kata-kata semacam cantik, baik, dan pintar? Yang susah adalah menyertai perasaan di dalam pujiannya.

Oh berarti saya kalau memuji orang nggak pernah tulus dong?

Yaa nggak juga. Teman-teman dekat saya hampir selalu bisa bedain kok mana pujian yang sebatas gombalan semata dan mana yang benar-benar berasal dari hati saya. Intinya itu tadi cuma rumus buat ngegombal aja, jangan kebanyakan pakai perasaan. Titik. Wkwk.

Terus hubungannya sama nulis apaan?

Yaa mirip ya, nulis kan sama aja kayak berbicara, berkata-kata. Bedanya cuma medianya aja.

Bukan. Bukannya saya nulis nggak pakai perasaan. Tentu saya menuang rasa di dalamnya. Tapi, kadar perasaan yang saya tuangkan ke dalam tulisan rasanya nggak pernah sebesar perasaan yang saya tuangkan ke dalam perbuatan yang saya lakukan.

Paham nggak ya? Wkwkwk.

Intinya adalah saya lebih banyak menggunakan perasaan ketika berbuat baik kepada seseorang dibandingkan ketika saya merangkai tulisan. Saya lebih senang membantu manusia di dunia nyata dibanding hanya sekadar via kata-kata. Pun begitu sebaliknya. Saya lebih suka menerima aksi dibanding validasi.

Menurut saya, itulah kenapa saya bisa sering menulis, ya karena saya bisa tetap berkata-kata hanya dengan sedikit rasa. Bahasa simpelnya, mungkin karena udah terbiasa lah ya.

Itu juga yang menjadikan saya sering sekali membuat kartu ucapan untuk orang-orang. Ya karena itu hal termudah yang bisa saya lakukan. Lain halnya kalau membantu langsung di dunia nyata, butuh interaksi dan kepercayaan terlebih dahulu dengan saya baru bisa sering saya bantu.

Nangkep poinnya nggak? Nangkep aja lah yaaa wkwkwk.

Kalau kata temen-temen saya, “Amel itu jago ngegombal, tapi susah digombalin.”

Hahaha, ada-ada aja lah mereka. Sekian klarifikasinya ya, kalau tidak memuaskan, mohon dimaafkan.

Oiya, sebagian besar pujian yang saya lemparkan ke orang-orang itu tulus kok, terutama kalau jumlah pujiannya lebih dari dua puluh kata. Jadi silakan dihitung sendiri aja ya hahaha.

Salam dari si manusia gombal, #MeletakAsa.


메타데이터
post_id
7e2bc9188c8c
slug
katanya-act-of-service-tapi-kok-doyan-nulis-7e2bc9188c8c
url
https://medium.com/@meletakasa/katanya-act-of-service-tapi-kok-doyan-nulis-7e2bc9188c8c
canonical_url
https://medium.com/@meletakasa/katanya-act-of-service-tapi-kok-doyan-nulis-7e2bc9188c8c
author_url
https://medium.com/@meletakasa
status
ok
fetched_at
2026-07-25 23:01:09