← Back to list

72 Tahun Mbah Nun: Maiyah dan Padhangmbulan

Sampai suatu ketika, sahib saya, Mohammad Roky Huzaeni dan Angga Firdalis (dua teman kuliah di jurusan yang sama) kerap mendengungkan nama…

Ahmad Deni Rofiqi · 2025-05-27 16:44 · 1 claps · 5.1 min read
#ceramah #cak-nun #maiyah
Open on Medium ↗
Wiki topics: 🥊 · Combat Sports

72 Tahun Mbah Nun: Maiyah dan Padhangmbulan

(Arsip foto pribadi) Saya bersama Mohammad Roky Huzaeni.

(Arsip foto pribadi) Saya bersama Mohammad Roky Huzaeni.

Emha Ainun Nadjib. Nama ini kerap melengking di berbagai pentas lomba baca puisi. Sebab karya-karya puisinya sangat laku dan cocok untuk diperlombakan, dipentaskan, dan dibacakan.

Saya termasuk yang sering membawakan beberapa puisi Emha Ainun Nadjib di pentas puisi. Salah satu yang saya ingat berjudul "Kita Masuki Pasar Riba".

Kita Masuki Pasar Riba

Kita pasar riba Medan perang keserakahan Seperti ikan dalam air tenggelam Tak bisa ambil jarak Tak tahu langit Ke kiri dosa ke kanan dusta Bernapas air Makan minum air Darah riba mengalir Kita masuki pasar riba Menjual diri dan Tuhan Untuk membeli hidup yang picisan Telanjur jadi uang recehan Dari putaran riba politik dan ekonomi Sistem yang membunuh sebelum mati Siapakah kita ? Wajah tak menentu jenisnya Tiap saat berganti nama Tegantung kepentingannya apa Tergantung rugi atau laba Kita pilih kepada siapa tertawa

1987.

Saya lupa kapan tepatnya puisi ini dibacakan dalam perlombaan. Namun, puisi ini kelak menjadi wasilah bagi saya untuk mengenal siapa sebenarnya Emha Ainun Nadjib.

Dari Puisi ke Informasi yang Lebih Detail

Saat masih nyantri, saya tidak tahu detail siapa sebenarnya Emha Ainun Nadjib. Bahkan saya kerap keliru menyebutkan nama panggilan "Cak Nun" ke Cak Nur.

Padahal Cak Nun adalah panggilan untuk Emha Ainun Nadjib, sementara Cak Nur panggilan untuk Nurcholish Madjid.

Fakta ini menunjukkan kalau saya tidak tahu banyak tentang Cak Nun. Saya hanya tahu kalau dia seorang budayawan yang memiliki karya-karya puisi.

Selain puisi, untuk pertama kalinya ketika masih nyantri, saya juga membaca salah satu karya buku kumpulan 100 puisi Cak Nun berjudul "99 untuk Tuhanku" yang pertama kali terbit pada 1983.

Buku itu saya pinjam dari seorang teman. Semalaman saya membacanya. Dari buku itu, label saya pada Cak Nun makin kuat: bukan sembarang sastrawan. Hanya sastrawan. Tanpa embel-embel identitas yang lain.

Hingga keluar dari pesantren, memori tentang Cak Nun turut memudar. Apalagi saya juga makin jarang membaca puisi. Kalau pun membaca puisi, saya bergeser pada puisi-puisi milik W.S. Rendra.

Sampai suatu ketika, sahib saya, Mohammad Roky Huzaeni dan Angga Firdalis (dua teman kuliah di jurusan yang sama) kerap mendengungkan nama Cak Nun.

Dari mereka, saya tahu bahwa Cak Nun tidak sesederhana dan sesempit pengetahuan saya: selalu lekat dengan puisi.

Mereka jugalah yang memperkenalkan saya pada Maiyah; nilai-nilai hidup yang tumbuh dari bawah; sebuah perkumpulan dengan lakon seni dan dakwah yang berpadu.

Dari situ, perlahan saya mulai mencari tahu Cak Nun. Saya baca berbagai hal dari internet. Baik dari beberapa tulisannya, biografinya, melacak foto-fotonya, hingga mencari tahu apa itu Maiyah. (Jika Anda ingin tahu, baca di sini definisi Maiyah: https://www.caknun.com/2021/apa-itu-maiyah/ )

Kembali pada cerita masa-masa awal memasuki perguruan tinggi. Memori tentang Cak Nun memudar seiring bacaan puisi saya bergeser. Dari satu pengarang, ke pengarang yang lain.

Cak Nun mulai saya tinggalkan puisi-puisinya. Berganti puisi-puisi W.S. Rendra.

Saya harus akui, rasa ingin tahu pada Cak Nun waktu itu juga tidak ada.

Namun dari dua orang sahib itulah, saya mulai menelusuri lagi. Mengumpulkan lebih banyak informasi tentang Cak Nun.

Sampai suatu ketika, saya temukan foto Cak Nun dan W.S. Rendra duduk bersama. Saya kaget bukan main.

W.S. Rendra dan Cak Nun adalah dua orang sahabat yang sama-sama memiliki memori kolektif. Baik dalam sosial maupun politik di zaman Orde Baru.

Anda bisa menonton kenangan Cak Nun bersama W.S. Rendra di sini: https://youtu.be/tKBeYNT_8ic?si=fWRsh1Z1hnd_CTdw

Saya malu karena terlambat mengetahui fakta dan informasi tersebut.

Padhangmbulan dan Cinta yang Terus Tumbuh

Pada 3 Juni 2023, Mohammad Roky Huzaeni berencana melakukan perjalanan agak jauh. Dia menyebut perjalanan religi.

Dari beberapa rute perjalanan yang kami rencanakan, tujuan utama kami satu: ke Padhangmbulan.

"Maiyah pertama dimulai dari sini. Padhangmbulan," sambil menunjukkan pamflet di Instagram.

Karena tidak pernah hadir ke Maiyah, rasa penasaran saya menggebu-gebu. Tanpa pikir panjang, saya langsung setuju rencana itu.

Letak Padhangmbulan ada di Desa Mentoro, Kecamatan Sumobito, Kabupaten Jombang, Jawa Timur.

Kami tiba di sana sekitar pukul 19.30 WIB setelah menempuh perjalanan dari Pondok Pesantren Tebuireng Jombang usai salat Maghrib.

Kendaraan para jamaah telah memadati parkiran. Ruas jalan dari parkiran menuju titik kumpul Padhangmbulan agak sesak oleh jamaah dan para pedagang.

Tiba di depan pentas, jamaah juga padat. Kami tak kebagian posisi duduk yang cukup strategis, alih-alih duduk di antara kuburan yang terletak di halaman rumah yang sangat luas itu.

Berhubung acara belum berlangsung dan sadar orang-orang di sekitar saya menggunakan atribut ala Maiyah, saya pun mengajak Roky pergi ke pedagang sekitar mencari atribut kopiah khas merah putih milik Maiyah.

Setelah kopiah dibeli, kami pun kembali ke depan pentas dalam keadaan siap: siap secara batin dan siap secara atribut.

Sekitar pukul 20.00 WIB acara baru dimulai. Diawali persembahan penampilan musik khas dari Kiai Kanjeng, saya merinding. Irama lagu yang mengiringi puji-pujian sangat menyentuh.

Hati saya tak bisa berbohong. Alunan musik yang mengiringi puji-pujian kepada Tuhan seperti memiliki aura magis yang kuat.

Meski saya tidak paham segala yang berkaitan dengan musik, tetapi dari apa yang ditampilkan Kiai Kanjeng, saya dapat merasakan aroma musik ini tidak biasa.

Saya dapat memastikan, terutama orang yang baru hadir di Maiyah, kala mendengar alunan musik itu, hatinya pasti bergemuruh dan batinnya merinding.

Setelah musik selesai, ada beberapa rentetan acara lain. Hingga tiba saatnya, sinau bareng Cak Nun dimulai.

Sebagai pemula di Maiyah, saya dapat menyaksikan dan memperhatikan bahwa keberadaan Cak Nun, apa yang disampaikan pada jamaah, serta berbagai latar belakang jamaah yang hadir, telah menunjukkan satu hal pada saya: Maiyah atau Padhangmbulan hadir sebagai titik kebersamaan.

Padhangmbulan, setidaknya pada saya, telah menggambarkan titik pertemuan orang-orang yang gelisah, menjadi ruang untuk mengungkap keresahan, serta menjadi lentera tumbuhnya harapan baru.

Bagi saya, Cak Nun, baik melalui Maiyah atau Padhangmbulan, berhasil memberikan jangkar keberanian yang kuat dan rasa percaya diri yang kokoh pada manusia yang kerap hilang arah dan mencari perlindungan, di tengah gampangnya orang dilabel kafir atau masuk neraka.

Cak Nun telah mengulurkan tangan pada mereka yang tidak tahu mencari bantuan pada sesamanya; Padhangmbulan membukakan keyakinan-keyakinan lain, yang mungkin, dan bisa diusahakan, dengan tetap berpegang teguh pada keyakinan agama, keyakinan Islam, dan keyakinan pada Allah.

Waktu itu, Cak Nun memberikan ceramah yang tidak berapi-api. Meski kadang dengan nada tinggi, dia tidak sedang marah. Cak Nun, seperti biasa, memang sedang mengulurkan tangan dan memeluk jamaahnya.

Saya ingat. Ada satu pernyataan yang sangat dalam maknanya, diajarkan oleh Cak Nun pada jamaah Maiyah.

"Jika engkau sedang menghadapi suatu pilihan, bayangkan dirimu adalah Muhammad dan apa yang dia akan pilih," ajarnya pada jamaah Maiyah kala itu.

Seketika, saya langsung menunduk dan beradu pandang dengan Roky. Kami berdua paham bahwa penjelasan itu berat, mendalam, dan tidak bisa dimakan mentah.

Namun satu hal yang saya pahami. Bahwa Maiyah atau Padhangmbulan telah membantu dan mengajak orang agar lebih bernilai dan berarti hidupnya.

Hingga hari ini, Maiyah dan Padhangmbulan masih tegak berdiri. Dihadiri oleh berbagai lapisan masyarakat.

Di sana, mereka yang lemah tak merasa terancam; mereka yang kuat tak memiliki kuasa menindas; dan mereka yang tak memiliki apa-apa selalu membawa pulang oleh-oleh untuk hidupnya. Cintanya pada hidup terus tumbuh.

Untuk Cak Nun

(Dok. Mohammad Roky Huzaeni) Dia hadir di Padhangmbulan, Selasa 27 Mei 2025 persis di momentum Milad 72 Tahun Mbah Nun.

(Dok. Mohammad Roky Huzaeni) Dia hadir di Padhangmbulan, Selasa 27 Mei 2025 persis di momentum Milad 72 Tahun Mbah Nun.

Semoga beliau lekas sembuh dan dapat membersamai kita semua lagi. 72 tahun Mbah Nun adalah potret hidup yang panjang. Darinya, kita belajar banyak hal. Dari puisi, musik, buku, politik, ekonomi, agama, dan seterusnya.

Dan barangkali, semua pelajaran itu dapat kita temukan di satu tempat yang sama, yakni Maiyah.

(Dok. Mohammad Roky Huzaeni) Suasana Padhangmbulan, Selasa 27 Mei 2025.

(Dok. Mohammad Roky Huzaeni) Suasana Padhangmbulan, Selasa 27 Mei 2025.


메타데이터
post_id
7e3552f843ba
slug
72-tahun-mbah-nun-maiyah-dan-padhangmbulan-7e3552f843ba
url
https://medium.com/@rofiqideni/72-tahun-mbah-nun-maiyah-dan-padhangmbulan-7e3552f843ba
canonical_url
https://medium.com/@rofiqideni/72-tahun-mbah-nun-maiyah-dan-padhangmbulan-7e3552f843ba
author_url
https://medium.com/@rofiqideni
status
ok
fetched_at
2026-07-19 17:23:31