petani hutan yang tidak pernah dapat kredit
006.
petani hutan yang tidak pernah dapat kredit

photo with a picture of an orangutan at the Centre for Orangutan Protection (COP) rehabilitation.
006.
Primata.
Kelompok hewan vertebrata yang berasal dari bahasa Latin primatus, yang berarti “yang pertama” atau “utama”. Dalam taksonomi, primata adalah mamalia anggota Ordo Primates, kelompok dengan hasil adaptasi dan evolusi yang relatif maju seperti penglihatan stereoskopik, tangan dengan ibu jari opposable, struktur otak yang kompleks, serta kedekatan genetik yang mirip dengan kita.
Namun, bagi sebagian orang, mereka hanya dianggap “mirip manusia tapi tidak bisa bicara”.
Padahal, jauh sebelum manusia sibuk merancang carbon credits, target Net Zero, dan dashboard emisi yang penuh grafik, primata sudah menjalankan layanan seed dispersal paling dasar dan efektif.
Mereka bukan influencer dengan jutaan pengikut. Bukan juga aktor utama dalam pidato politik pembangunan hijau. Tapi justru merekalah petani hutan tropis yang menanam, menyebarkan, dan mengawal regenerasi hutan tanpa klaim, kontrak dan tepuk tangan.
Fakta biologisnya sederhana. Di hutan tropis, sebagian besar spesies tumbuhan bergantung pada hewan untuk menyebarkan biji. Primata yang terbagi dalam dua subordo besar dan enam superfamily, dari monyet kecil hingga kera besar, memegang peran penting dalam proses ini. Melalui buah yang mereka makan, biji disebarkan lewat kotoran atau muntahan, dan sering kali jauh dari pohon induk. Jarak ini krusial karena mengurangi kompetisi, meningkatkan peluang tumbuh, dan memungkinkan regenerasi hutan berlangsung secara alami.
Ini bukan opini. Ini mekanisme ekologis yang sudah dibuktikan oleh banyak penelitian selama puluhan tahun.
Satu individu orangutan, misalnya, diketahui mampu mendispersikan biji dari puluhan spesies tumbuhan hingga beberapa kilometer. Banyak diantaranya merupakan pohon berumur panjang, termasuk spesies endemik dengan kapasitas penyimpanan karbon yang tinggi. Artinya, setiap langkah orangutan bukan hanya tentang bertahan hidup, tapi juga menyimpan karbon untuk masa depan.
Masalahnya, di saat primata melakukan mitigasi iklim secara gratis, manusia justru sibuk menghitung emisi sambil menghancurkan penyerapnya. Deforestasi, ekspansi pertanian, pertambangan, dan fragmentasi habitat terus terjadi. Akibatnya, hampir 70% spesies primata di Indonesia kini terancam punah.
Dan dampak ini tidak hanya berhenti pada mereka. Tanpa primata, proses regenerasi banyak spesies pohon melambat drastis karena biji tidak lagi tersebar, keragaman tanaman menurun, jumlah pohon besar berkurang, dan kapasitas hutan untuk menyimpan karbon jangka panjang ikut melemah.
Di sinilah paradoksnya: Manusia seolah yakin semua solusi iklim bisa diteknologikan, sementara petani hutan yang sudah bekerja selama jutaan tahun justru disingkirkan.
Jika kita benar-benar serius menghadapi krisis iklim, saatnya memberi kredit yang nyata: memulihkan habitat primata, menjaga konektivitas hutan, menghentikan fragmentasi, dan mengintegrasikan layanan ekosistem alami ke dalam kebijakan iklim.
Para petani tanpa kredit ini membutuhkan rumah yang utuh untuk terus bekerja. Ironisnya, kebutuhan mereka sama persis dengan kebutuhan kita sebagai manusia, seperti udara bersih, iklim yang lebih stabil, dan air yang tetap mengalir. Semuanya bergantung pada hutan yang masih mampu berfungsi.
Koeksistensi bukan konsep romantis, tapi strategi bertahan hidup. Melindungi primata bukan hanya soal menyelamatkan mereka saja, tapi juga memastikan sistem ekologis tetap berjalan. Karena ketika para penanam ini pergi, yang runtuh bukan hanya hutan, tapi fondasi kehidupan yang selama ini kita anggap tersedia tanpa batas.
Primata tidak pernah menuntut pengakuan. Tapi krisis iklim menuntut kita berhenti mengabaikan mereka. Jika kita masih ingin berbicara tentang masa depan, menjaga rumah para petani hutan ini bukan pilihan, tapi keharusan.
PrimateForClimate #PrimataUntukIklim #HariPrimataIndonesia #HPI2026
Sumber: Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF) — Peran penting habitat orangutan dalam pengaturan iklim dan fungsi hutan. (Peran Penting)
Estrada et al. (2017). Impending extinction crisis of the world’s primates. Science Advances. (Impending extinction crisis of the world’s primates: Why primates matter — PubMed)
IPBES (2019). Global Assessment Report on Biodiversity and Ecosystem Services. (ipbes_global_assessment_report_summary_for_policymakers.pdf)
IUCN SSC Primate Specialist Group & IUCN Red List (global primate conservation assessments). (IUCN SSC Primate Specialist Group | IUCN)
Peres et al. (2016). Dispersal limitation induces long-term biomass collapse in overhunted forests. Proc Natl Acad Sci U S A. (Dispersal limitation induces long-term biomass collapse in overhunted Amazonian forests — PubMed)
Profauna Indonesia — Tentang Primata Indonesia. (Tentang Primata Indonesia dan Aksi PROFAUNA untuk Menyelamatkannya | PROFAUNA
메타데이터
- post_id
- 7e5a4af1dd9e
- slug
- petani-hutan-yang-tidak-pernah-dapat-kredit-7e5a4af1dd9e
- url
- https://medium.com/@lulunurarinda/petani-hutan-yang-tidak-pernah-dapat-kredit-7e5a4af1dd9e
- canonical_url
- https://medium.com/@lulunurarinda/petani-hutan-yang-tidak-pernah-dapat-kredit-7e5a4af1dd9e
- author_url
- https://medium.com/@lulunurarinda
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-24 11:06:28