tolerate it.
wonhui oneshot au | written by sha.
tolerate it.
wonhui oneshot au | written by sha.

based on: tolerate it by taylor swift.
tw // implied sexual content, cheating, divorce.
Ada hal-hal menyenangkan yang selalu aku nantikan sepanjang hari.
Tentang Wonwoo yang selalu bersedia membacakan banyak kutipan dari buku-buku yang ia baca untukku, dengan kacamata yang bertengger di pangkal hidungnya.
Tentang Wonwoo yang bangun dari tidur lelapnya dengan memberi banyak kecupan-kecupan hangat padaku.
Tentang Wonwoo yang mengatakan rencananya setiap pagi sembari mengunyah sarapan yang aku siapkan sebelum dia berangkat bekerja.
Tentang Wonwoo yang memberikan usapan lembut di kepalaku sebelum keluar dari apartemen kami, pun juga tentang Wonwoo yang memberi peluk hangat saat ia pulang dari tempatnya bekerja, lalu bibirnya itu akan mengatakan banyak kata-kata indah dan puitis tanpa lupa tersenyum manis.
Namun sekarang… keadaannya sudah berbeda.
Raut wajahnya jadi jauh lebih masam saat dia masuk ke dalam apartemen kami. Tidak ada lagi kata-kata indah. Tidak ada lagi pelukan-pelukan hangat. Tidak ada lagi kecupan mesra yang biasa selalu ia beri.
Aku hanya terdiam dan melihat semua yang dia lakukan di depan mataku. Aku melihat semuanya, apa yang dia lakukan dan apa yang tidak dia lakukan.
Dia melepas sepatunya dengan tergesa-gesa, menyerahkan jas kerjanya padaku seolah aku akan selalu siap pada kehadirannya setiap saat—berpikir seolah aku tidak pernah berniat meninggalkannya. Dia duduk bersandar di sofa tanpa memberi sapaan hangat seperti biasanya, sementara aku memilih tetap diam membiarkan semua itu terjadi, seolah-olah itu adalah hal yang biasanya ia lakukan. Seolah semuanya memang selalu berjalan seperti itu.
Aku merasakan bagaimana dia begitu berbeda, tetapi aku berusaha tidak peduli dan mengabaikan itu semua.
Ku rengkuh jas kerjanya dalam diam, tetapi sialnya kesunyian itu jadi semakin memenuhi pendengaranku. Untuk kesekian kalinya, ada bau parfum yang menyengat di jas kerja miliknya; yang aku yakini bukan milikku pun bukan juga miliknya. Kemeja putihnya itu pun juga kusut—jauh lebih berantakan dari biasanya.
Jadi... apakah itu perempuan atau laki-laki? Bagaimana mereka bertemu? Apakah dia sama sekali tidak ingat denganku ketika membangun hubungan yang baru?
Banyak tanda tanya di benakku yang tidak pernah ada jawabannya, bahkan aku tidak punya keberanian sedikit pun untuk menanyakan tentang itu satu per satu. Aku hanya bisa berjalan menghampirinya sembari menahan tangis, berharap semua pikiran anehku tidaklah nyata. Berharap semua itu hanyalah mimpi buruk belaka.
“Capek?”
“Hmm…”
“You want me to make you feel better?”
Panggil saja aku bodoh, bahkan setelah semua itu, aku masih secara sukarela menawarkan diri untuk memberikannya begitu banyak kenyamanan dan kepuasan. Aku selalu berusaha menjadi yang terbaik untuknya, meski aku aku tahu, kehadiranku tidak akan pernah cukup untuk memberi makan segala keegoisannya.
Dengan segala isak tangis yang tertahan, aku berlutut pada kedua kakinya, untuk menghisap benda besar miliknya. Menatap bagaimana kedua matanya itu memberikan ekspresi yang tidak bisa kupahami maknanya.
Dan sial, aku benci berpikir kalau orang lain di luar sana mungkin saja melakukan hal yang sama. Mungkin di luar sana, ada nama yang dia sebut berkali-kali, tetapi itu bukan namaku.
“Junhui….”
Aku melihat Wonwoo memejamkan matanya dan melemparkan kepalanya ke belakang, aku tahu kalau aku bodoh, tetapi aku berusaha memberikan lebih dan memastikan dia selalu menikmatinya.
Memberi cinta membutuhkan banyak usaha dan waktu, dan disinilah aku, memberikan seluruh hidupku untuk mengabdi padanya. Memberikan dia segalanya yang aku punya seperti orang gila.
Beberapa kali aku tersedak dan terisak, tetapi dia mengira aku menikmati semua hal gila ini, tanpa berpikir kalau tangisanku tidak hanya tentang itu, tanpa berpikir kalau ini adalah kesedihan yang sesungguhnya. Aku meneteskan air mata berkali-kali, tetapi dia berpikir kalau aku hanya berusaha memuaskannya, tanpa berpikir sudah berapa banyak rasa sakit yang ku tahan sendirian.
Padahal sebenernya jiwa dan ragaku sudah hancur lebur, menelan semua kenyataan pahit sendirian karena terlalu pengecut untuk mengetahui semuanya secara langsung dari mulutnya. Terlalu takut untuk mendengar segala ketakutanku selama ini akan berakhir jadi nyata. Aku pun terlalu lelah untuk berandai-andai tentang segala keributan yang akan terjadi dan memekakan telingaku. Pada akhirnya, aku hanya memilih untuk buta dan tuli pada semua rasa sakit ini.
Wonwoo membelai pipiku, tetapi aku tahu, tidak pernah ada lagi cinta disana. Wonwoo membelai rambutku dengan lembut tetapi sudah tidak ada lagi pujian yang biasa dia lontarkan. Dia seharusnya tersenyum dan berterima kasih tetapi dia hanya menerimanya—seolah aku tidak tahu apa yang dia lakukan padaku selama ini, seolah aku adalah orang paling bodoh.
Dia jauh lebih dewasa, dan baginya, mungkin aku hanya manusia yang tidak tahu apa-apa.
Bagaimana bisa dia menganggapku tidak peka? Bagaimana bisa dia selalu menganggapku baik-baik saja? Bagaimana kalau dia tahu bahwa selama ini aku ingin lari dan meminta tolong? Apakah baginya aku hanya seorang yang terlalu mudah dibodohi?
Setiap malam aku selalu keluar, menangis di balkon dan mencoba mempertahankan segala yang aku punya sendirian. Kadang aku mencoba tetap terlelap ketika dia berbisik-bisik saat menerima telepon entah dari siapa. Kadang pula aku ditinggalkan olehnya karena alasan bisnis, tetapi aku tidak sebodoh itu, aku tahu bahwa dia menghabiskan waktu dengan kekasih barunya. Menikmati dunia baru itu tanpa berpikir setiap malam ada aku yang terjaga sembari berpikir tentang kesalahan apa yang telah aku perbuat sampai dia setega itu melakukan semua ini kepadaku.
Aku selalu menyambutnya seperti dia seorang pahlawan, tetapi di titik ini, dia mengabaikanku dan mencampakkanku seperti sampah.
Wonwoo selalu pandai membuatku merasa bersalah, mengubur segala kebusukannya dengan janji manis yang membuatku luluh. Sementara aku hanya bisa membalasnya dengan senyuman palsu, membiarkan semesta bekerja dengan begitu kejamnya padaku.
Aku tidak punya apapun untuk membuktikan bahwa dia salah, aku hanya menahan diri dan terjebak pada lima huruf yang sudah mengikatku sampai mati.
Cinta.
Pada akhirnya, aku hanyalah seorang yang terlampau bodoh yang berlutut di kedua kakiku untuk membuatnya tetap tinggal, memohon belas kasihnya agar dia bersedia untuk tetap di sisiku.
Aku mencintainya dengan sangat, tanpa terhitung sudah berapa banyak yang ku beri, walau dia tidak membalas itu sama sekali.
part of “wonhui — tolerate it”
written by sha.
메타데이터
- post_id
- 7e8dd99212cf
- slug
- tolerate-it-7e8dd99212cf
- url
- https://medium.com/@yeshabila/tolerate-it-7e8dd99212cf
- canonical_url
- https://medium.com/@yeshabila/tolerate-it-7e8dd99212cf
- author_url
- https://medium.com/@yeshabila
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-25 14:42:11