← Back to list

THE LAST BLUE JUNE

PROLOG

greenyiee · 2026-05-29 13:42 · 0 claps · 3.5 min read
#june #julio #lovers
Open on Medium ↗
Wiki topics: 💑 · Relationships

THE LAST BLUE JUNE

PROLOG

June, I love you so much. Don’t leave me.

June, I love you so much. Don’t leave me.

[embed]I just know he’s the one. He feels like home, a protector, and a brother.

Bagi orang yang baru pertama kali melihatnya di koridor SMA, Julio Ao Danendra adalah definisi dari kata tenang dan tak tersentuh. Dengan pembawaan yang cenderung diam dan tatapan mata yang teduh, cowok itu sering kali dikira sebagai seorang introvert yang menutup diri dari bisingnya dunia sekolahan. Namun, bagi lingkaran pertemanan terdekatnya, tuduhan itu adalah sebuah lelucon besar.

Sebab, begitu pintu gerbang kenyamanannya berhasil diketuk, Julio akan bertransformasi menjadi sosok yang luar biasa ekspresif dan hangat. Dia adalah tipe orang yang akan menceritakan segalanya tanpa sisa, mulai dari menu sarapannya tadi pagi hingga mimpi-mimpi konyolnya semalam. Julio tidak pernah bisa, atau mungkin tidak tahu cara menyembunyikan apa yang sedang berkecamuk di dalam dadanya.

Satu hal lagi yang membuat Julio unik adalah hatinya yang terbuat dari kaca yang rapuh. Dia memiliki perasaan yang sangat halus, tipe cowok feminin yang matanya akan langsung berkaca-kaca hanya karena mendengar lagu melankolis atau menonton adegan film yang menyentuh jiwanya. Karena kelembutan hatinya itulah, Julio jauh lebih nyaman dikelilingi oleh teman-teman perempuan, dan hampir tidak pernah memiliki teman dekat seorang cowok.

Sampai akhirnya, Arkan June Mahendra datang dan mengacaukan seluruh statistik hidup Julio sejak hari pertama mereka menginjakkan kaki di kelas sepuluh.

Pada awalnya, Julio benar-benar antipati kepada cowok kelahiran bulan Juni itu. Di mata Julio, June adalah tipe cowok menyebalkan yang terlalu friendly kepada semua orang, bermulut manis, dan gemar menebar pesona. Parahnya lagi, June entah mengapa selalu menemukan cara untuk menjahili Julio, mulai dari mengambil dan menyembunyikan barang-barangnya, hingga menarik dan mengacak-acak rambut Julio di tengah koridor.

Namun, June adalah tipe manusia yang tidak kenal kata menyerah. Mengabaikan semua tatapan ketus dan respons dingin yang Julio berikan, June terus saja mendekat, membawa tawa-tawa renyah dan kejahilan kecil yang lambat laun mulai meruntuhkan tembok pertahanan Julio. Sifat gigih June akhirnya berhasil membuat Julio luluh, mengubah rasa benci itu menjadi sebuah kenyamanan yang tidak pernah Julio duga sebelumnya.

Waktu berputar dengan cepat, membawa mereka berdua naik ke kelas 12 dengan ikatan yang semakin erat dan tak terpisahkan. Di sinilah segalanya mulai terasa meluap-luap bagi Julio. Di balik layar ponselnya yang menyala tengah malam, mereka berdua sering menghabiskan waktu berjam-jam untuk saling menelepon, bertukar cerita, dan berbagi rahasia terdalam yang tidak diketahui oleh orang lain.

Bagi Julio, June telah menjadi matahari musim panas yang menghangatkan dunianya yang sunyi. Perasaan itu tumbuh begitu subur, menembus batas-batas yang seharusnya dijaga oleh sepasang sahabat pria. Julio tahu persis bahwa debaran di dadanya setiap kali June tersenyum bukan lagi sekadar rasa sayang antar teman, melainkan sebuah rasa suka yang amat dalam.

Namun, menyembunyikan perasaan bukanlah keahlian seorang Julio Ao Danendra. Kegelisahan hatinya yang terombang-ambing oleh rasa cinta sepihak itu akhirnya tumpah melalui petikan lirik lagu bernada galau yang sering ia unggah di media sosialnya.

Isyarat-isyarat kesedihan itu rupanya tertangkap oleh radar Green, salah satu teman perempuan Julio yang terkenal peka. Sore itu, di bawah langit sekolah yang mulai jingga, Green mendekati Julio yang sedang termenung menatap layar ponselnya. Dengan nada menyelidik namun lembut, Green bertanya langsung tentang siapa sosok yang berhasil membuat seorang Julio sekacau ini di dunia maya.

Julio yang dasarnya mudah terpancing dan tidak pandai menyimpan rahasia, akhirnya tumbang oleh pertanyaan Green. Di depan sahabat perempuannya itu, dengan mata yang mulai berkaca-kaca menahan sesak, Julio mengaku. Dia menceritakan segalanya, dia yang kini sedang jatuh hati dan didera rasa galau bercampur bingung yang hebat karena sahabat sedekat nadinya sendiri, Arkan June Mahendra.

Green mendengarkan hal itu sedikit kaget. Tapi dia tau keadaan kalo ini masalah perasaan, Green mendengar dengan penuh simpati. Pada titik itu, Julio merasa bebannya sedikit terangkat, dan dia percaya bahwa badai di dalam hatinya bisa dilewati selama June masih ada di sisinya, tertawa bersama di meja nomor 9 kedai bakmi favorit mereka sambil mengenakan baju warna biru senada.

Sayangnya, roda takdir mulai bergeser ke arah yang tidak tertebak ketika semester dua kelas 12 hampir berakhir. Tanpa ada badai atau pertengkaran, June yang biasanya ramah dan selalu mencari keberadaan Julio, tiba-tiba mulai berubah menjadi sosok yang dingin. Pesan-pesan Julio yang biasanya dibalas dalam hitungan menit, kini sering kali diabaikan atau hanya dibalas dengan satu-dua kata yang kaku.

Puncaknya terjadi pada malam perpisahan sekolah, momen yang seharusnya menjadi babak penutup yang manis bagi masa SMA mereka. Di tengah riuhnya aula dan kilatan lampu kamera, June justru secara terang-terangan memisahkan diri dari Julio. Cowok itu membaur dengan lingkaran pertemanan yang lain, mengabaikan tatapan mata Julio yang mencarinya dari kejauhan, seolah-olah mereka tidak pernah saling mengenal sedekat nadi.

Tindakan June malam itu meninggalkan luka yang teramat menganga di dada Julio. Sejak malam perpisahan itu hingga hari ini, tidak ada lagi dering telepon tengah malam, tidak ada lagi obrolan kasual tentang masa depan, dan tidak ada lagi sapaan hangat dari cowok kelahiran Juni itu. Mereka benar-benar berhenti berkomunikasi, menyisakan kesunyian yang mencekik.

Kini, Julio hanya bisa duduk sendirian dengan tatapan kosong, menyimpan ratusan pertanyaan yang berputar-putar di kepalanya tanpa pernah menemukan jawaban. Mengapa June tiba-tiba berubah? Apa kesalahan besar yang telah ia perbuat hingga pantas dibuang begitu saja? Julio tidak pernah bisa menerima kenyataan bahwa orang yang paling ia sayangi, bisa menghilang begitu saja dari hidupnya seolah dirinya tidak pernah berharga.


메타데이터
post_id
7eb24c8b148e
slug
the-last-blue-june-7eb24c8b148e
url
https://medium.com/@fallinlovee/the-last-blue-june-7eb24c8b148e
canonical_url
https://medium.com/@fallinlovee/the-last-blue-june-7eb24c8b148e
author_url
https://medium.com/@fallinlovee
status
ok
fetched_at
2026-06-23 06:34:20