← Back to list

Gender War, Roles, And Society

Saya akan mengangkat isu ini berkaca dari gender war yang terjadi belakangan ini disosial media. Bermula dari kata sepakat sebagai respons…

Andika Prtm · 2026-06-01 10:31 · 0 claps · 6.4 min read
#gender #social-media #patriarki #ideology #culture
Open on Medium ↗
Wiki topics: CUL · Culture & Media 🔒 · Cybersecurity 🌐 · Society · General

Gender War, Roles, And Society

Tiktok Sources

Tiktok Sources

Saya akan mengangkat isu ini berkaca dari gender war yang terjadi belakangan ini disosial media. Bermula dari kata sepakat sebagai respons persetujuan terhadap pernyataan Najwa Shihab disebuah podcast group, yang tanpa saya sangka malah jadi konflik yang berkepanjangan. Pernyataannya bahwa Laki-laki di era yang kelihatannya semakin terpuruk seperti sekarang tidak mampu memanggul beban, dan hanya perempuan yang semakin banyak pertumbuhannya didunia ini yang mampu mengemban semua itu. Sebenarnya katalisatornya bukan dari podcast itu sendiri, namun ada satu konten kreator yang mengkritisi kata sepakat itu sebagai suatu penindaklanjutan respons yang tidak kolaboratif dalam diskusi. Maksudnya, orng yang ngomong sepakat ini menurutnya terkesan ingin menyudahi pembicaraan, dan inilah yang menjadi racun utama gender war disosial media tetap terus bersitegang dan memanas.

Mulai dari sini, saya mengamati keresahan dibalik suatu ketidaksetaraan gender tidak hanya dalam hak untuk berbicara, mendapat akses politik setara, dan peran sosial yang lebih egaliter, namun terdapat pula suatu skema tatanan kultural bias yang tersembunyi dibalik normativitas yang kita yakini absah selama ini. Mengingat cewek jaman now sudah mulai melek dengan isu kesetaraan gender dan mereka mulai melepas diri dari batas batas tradisi yang bersifat patriarkal, saya meyakini ini menjadi semacam tonggak kebangkitan yang cukup ekstrem dalam menjunjung tinggi kesetaraan gender. Namun permasalahannya bukanlah disana, memang ada indikasi bahwa mereka perlahan sudah mulai menggapai mimpi independen yang mereka inginkan, tapi corak permasalahannya adalah memposisikan laki-laki sebagai musuh. Yap, musuh yang harus ditandingi, dikalahkan, dan bilaperlu di musnahkan. Tidak secara literal, tapi secara implisit kurang lebih demikian.

Sentimen ini tidak terbentuk dari ruang hampa. Faktor faktor yang saling bersilang tindih seperti sosial media menciptakan standar peran yang kaku dan politis dalam memenuhi perannya sebagai identitas gender. Misalkan, saya pernah menemukan ada stigma jika perempuan tidak bisa memasak, maka perempuan tersebut tidak bervalue, yang secara inheren melekat pada norma patriarkal tadi. Lalu, disisi bersebarangan, ada laki-laki yang kurang suka berolahraga, dikatakan gemulai, banci, dsb dan ini juga merupakan konstruksi dari sifat toxic masculinity. Elemen-elemen tersebut yang menjadi penyebab mengapa gender war dapat terjadi dan mengakibatkan kedua belah pihak semakin membelakangi, mengantagoniskan satu sama lain demi memenuhi ego.

Sesama cewek pun bahan lebih kanibal lagi, mereka tidak akan segan menghabisi atau menumpas sesama kawannya demi memenuhi ambisinya mendapatkan validasi, status, dan sense of belonging dari laki-laki idaman yang didambakan. Disini, terdapat standar ganda dimana perempuan terlihat masih condong memapankan ideologi patriarkal ketimbang mencabut sepenuhnya pemikiran tersebut dari akarnya. Mereka memasang segenap kriteria cowok idaman yang setara, a sampai z, menghakimi pelacur, pelecehan seksual verbal, namun mereka lupa terhadap otonomi mereka ketika mereka sudah dikendalikan tanpa sadar. Yaitu ketika hasrat dan nafsu sudah memenuhi kalbu.

Akibatnya mereka jadi terjebak dalam kolam keruh yang mereka beri racun sendiri. Alih-alih merengsek keluar demi mencapai free-will sebebas bebasnya dengan memprioritaskan prinsip kesetaraan value, dalam beberapa kondisi mereka masih mudah ditaklukkan oleh sisa-sisa pemikiran patriarkal yang mendikte tindakan dan sikap mereka. Dalam atmosfer domestik misalnya, perempuan akan merasa keberatan jika melaksanan perkerjaan pekerjaan yang berkaitan hal hal teknis seperti kelistirikan, memperbaiki kebocoran, mengangkat beban dan lain hal. Condongnya adalah mereka cenderung menyuruh laki-laki yang melakukannya.

Sebaliknya, laki-laki yang katakanlah tidak bekerja dan menggantikan istrinya dirumah. Laki-laki masih akan cenderung terbebani secara moral, beban tanggung jawab, krisis harga diri, dan lebih berbahayanya menjadi depresi karena menjadi suami yang tidak layak. Fenomena ini sebenarnya tidak banyak, dan masih berdiri secara laten, mengingat kultur patriarkal yang masih mendominasi di Indonesia. Keterasingan, rasa kecemasan, dan rasa disorientasi ini yang mengakibatkan ketegangan peran gender menjadi hubungan biner yang saling bertolak belakang. Mengurai semua permasalahan diatas, berikut beberapa poin yang menjadi benang merahnya

GATEKEEPING GENDER ROLES

Sebelum itu, saya akan menguraikan perbedaan definisi dari kesetaraan dan keadilan. Kesetaraan bermakna pembagian peran yang sama secara porsi, baik laki-laki maupun perempuan, mendapat kelayakan dan perlakuan yang sama. Jadi kasarnya, perempuan lebih tinggi kemungkinannya untuk dikasari secara fisik dan tidak menyebabkan degradasi moral atau pelabelan pecundang bagi laki-laki, karena pada hakikatnya setara sama dengan “sama”.

Namun jika kesetaraan itu ditransformasi jadi keadilan, maka akan timbul distingsi, atau pembeda. Karena keadilan menuntut porsi yang sepadan dengan kapasitasnya, tidak melebihi dan tidak dikurangi. DALAM ARTIAN INI, keadilan menjadi suatu konstruksi tatanan nilai dan norma pada kultur patriarkal. Karena laki-laki bisa beralasan itu udah jadi kodratnya, batasannya, dan kapasitasnya menjadi seorang perempuan yang bekerja diwilayah domestik. Lalu apa yang dimaknai sebagai gatekeeping ini?

Yaitu ketika masing masing gender merasa jika dan hanya jika gendernya lah yang mampu secara efektif memenuhi dan menyelesaikan pekerjaannya tanpa ada cacat. Mengapa demikian? karena ada suatu kepantasan kultural. KETIKA ada praktik praktik yang tidak lazim ditemui, seperti perempuan nguli, laki-laki yang memasak, judgment dari orang sekitar akan memandang sinis, bahkan jatuh pada tuduhan tidak memenuhi tanggung jawab yang “semestinya”. Laki-laki punya cirikhas yang berbeda dari perempuan dalam urusan domestik. Laki-laki menuntut kepraktisan, dan kerjacepat, sementara perempuan cenderung perlahan, detail oriented, dan kepekaan visual yang lebih tinggi (pada kasus mencari barang yang sepele atau tidak pada tempatnya). Persilangan ini menjadi tidak alami jika dipraktekkan sesekali, karena nuansa konformisnya akan hilang, asosiasi masakan-ibu akan beda dengan masakan-bapak, dan sejenisnya.

Wanita Karir dan Ilusi Kebebasan

Begitupun dalam ranah karir. Wanita karir akan merasa lebih cocok dirinya bekerja disebuah perusahaan produk produk kecantikan, menjadi sales yang persuasif dan interaktif, menjadi costumer service yang menuntut bertatap muka dengan individu yang silih berganti tiap hari. Semuanya merupakan bagian dari konstruksi performatif yang terkesan normal dan lazim. Berapa banyak perempuan yang sadar bahwa otonomi akan tubuh mereka menjadi komoditas komersial yang menjadi nilai beli dari barang atau produk milik perusahaan? Mereka akan mengatakan “Ya namanya juga bertahan hidup” dan itu tidaklah salah. Praktik ini sebenarnya adalah manifestasi penguasaan dan penundukan secara halus dan sistematis dari kesatuan roda ekonomi harus terus bejalan dan mau tidak mau harus terus berkiblat pada tatanan ideologi yang lebih besar, yaitu kapitalisme.

SAYA menyaksikan arus tren serta paradigma perempuan zaman kekinian yang lebih positif pada free will yang individualis, memutuskan tidak menikah, pun kalo jika menikah akan childfree. Banyak dari mereka sejauh yang saya pantau dari beberapa platfrom seperti ig atau tiktok beralasan karena faktor ekonomi. Namun benarkah sejauh hanya data dan statistik ekonomi belaka? Disini saya akan menarasikan hipotesa bahwasanya faktor ekonomi ini hanyalah satu dari hal hal lain yang mungkin saja bisa saling berkelindan. Mengingat banyaknya influencer diluar sana yang bercerai, tentu itu bukti yang tidak bisa dibantah bahwa segi keuangan menjadi perantara utama.

Hipotesa saya adalah bahwasanya ilusi kebebasan sejatinya bukanlah sepenuhnya hal yang buruk, dan bukan sepenuhnya baik pula. Pikirkan sejenak… Berikut ini saya memaparkan kisah pengamatan saya. Sedari kecil anak perempuan dicekoki dengan pekerjaan pekerjaan keperempuanan, dilekatkan dengan suasana dapur, membantu bersih bersih dan sebagainya. Menjelang dewasa, orang tua yang berpedoman keyakinan agama akan memasukkan anak perempuan mereka ke pesantren dengan tujuan mendapat kelayakan pendidikan dan keamanan yang lebih terjamin. Orang tua disini tidak menyadari bahwa bahaya yang laten itu, masih menjadi benih benih ketika masa kecil, dan akan menjadi buah yang akan dituai ketika dewasa. Begitu lolos dari pesantren,karena sepanjang ia di pondok tidak mengenal prinsip kebebasan, akibatnya ia akan mengalami 2 kemungkinan ekstrem. Pertama, terbelenggu pada pemenuhan peranan yang sifatnya paten, ajeg, dan absolut. Dalam hal ini secara lahiriah dan kodratiah dia sudah menerima identitasnya apa adanya dan begitupun seterusnya. Ia tidak menyadari dirinya berada dalam genggaman lingkungan yang penuh ketidaksetaraan. Ia berakhir pada kepatuhan yang abu-abu.

Kemungkinan kedua, perempuan alumni santriwati tersebut akan menghadapi krisis identitas yang cukup ekstrem karena ada luapan, gejolak emosi dan keinginan yang sekian lama tak bisa tersalurkan dan tertumpahkan dengan baik. Akibatnya seketika ia mendapat kebebasan, dan mungkin dipengaruhi oleh pengalaman traumatis tertentu, ia menjadi apatis terhadap norma yang berlaku, mempertanyakan banyak hal intrusif yang mengganggu pikirannya, dan mulai mempertanyakan keyakinan spiritualnya selama ini yang membangun identitasnya serta norma tradisional yang membelenggu cara berpikir dan bersikap sesuai yang ia mau. Pada beberapa kasus, bahkan berakhir membenci laki-laki / misandri.

Mendekonstruksi Kesetaraan

Berdasar pengamatan saya sekaligus hipotesa saya diatas, saya menarik benang merah kembali bahwasanya permusuhan gender yang rawan terjadi baru baru ini menuai refleksi kritis terhadap persoalan bagaimana suatu hubungan yang padu, harmonis, supportif justru jadi langkah yang sangat penuh tantangan. Otak manusia memang dirancang memilih langkah atau pola kecenderungan yang menggeneralisir stigma, prasangka negatif yang ditorehkan pada masing masing gender secara dualistik, harus berada di garis yang bersebarangan. Jika tidak A maka B, apalagi jika tidak hanya perempuan saja yang labil dan emosional, laki-laki juga mudah terhasut dengan cara pandang bahwa laki laki berpegang pada rasionalitas dan objektivitas sementara perempuan hanya beperan sebagai pendukung, kelola rasa, subjektif dan submisif. Label label pembeda ini yang menyulitkan atau lebih tepatnya menjadi tantangan bagi keharmonisan gender secara kolektif di era sekarang.

Pengaruh Media Sosial

Semua kutub kutub pembeda diatas diciptakan melalui narasi. Narasi diproduksi melalui media massa, yang membingkai narasi yang lebih menguntungkan secara profit dan engagement. Terlepas dari keakurasian informasinya, seperti banyak kasus pelecehan seksual verbal, klip klip video yang dipotong, semuanya berpotensi memecah belah dan menimbulkan polarisasi yang keruh. Sama halnya seperti pemberitaan politik yang gampang sekali mengundang kerusuhan, begitupun juga diskrusus terkait gender yang gampang sekali di ado domba. Kolom komentar jadi penuh dengan cacat logika bias konfirmasi dan generalisasi berlebihan dalam menganggapi suatu peristiwa.

Perselisihan dan pertengkaran bukanlah suatu yang tiada akhir. Ia akan mereda tergantung pada bagaimana kita merespons dan membangun gerakan yang solid. Suatu konstruksi identitas gender yang cair akan terbangun jika pria atau wanita menerima kekurangan dan kelebihan masing masing, mencetus dan memenuhi kesepakatan dan visi misi bersama terlepas dari apapun yang dikatakan alam, kodrat, atau masyarakat tentang suatu dinamika hubungan berumahtangga yang lazim. Bagaimanapun yang menentukan ingin menjadi seperti apa kita di masa depan bukan mereka, namun diri kita, orang terdekat kita yang mendukung apapun pilihan kita. Kita memang bagian dari masyarakat, tapi bagian bukanlah keseragaman, tapi keberagamanlah yang menjadi bagian dan kriteria utama yang membangun masyarakat yang pluralistik dan lebih maju.


메타데이터
post_id
7ebce61ba777
slug
gender-war-roles-and-society-7ebce61ba777
url
https://medium.com/@ap523401/gender-war-roles-and-society-7ebce61ba777
canonical_url
https://medium.com/@ap523401/gender-war-roles-and-society-7ebce61ba777
author_url
https://medium.com/@ap523401
status
ok
fetched_at
2026-06-17 08:20:12