← Back to list

Aku harap tak ada satupun yang membuka laman ini

Karena kali ini, bukan tentang sang Esa, tapi tentang sang penandai,

alen · 2025-09-07 10:42 · 0 claps · 1.4 min read
#hancur #patah #sunyi
Open on Medium ↗

Aku harap tak ada satupun yang membuka laman ini

Karena kali ini, bukan tentang sang Esa, tapi tentang sang penandai,

Maaf, Sekali lagi kuucapkan maaf untuk diriku sendiri, Enggan bertanya, namun kali ini sudah berapa kali kau berusaha bertahan? Pahit, Hambar, Masam, semuanya kau telan mentah-mentah.

Mati enggan hidup pun susah, Jiwamu sudah luntur tak murni lagi. Sipemeluk orang, namun dilupakan untuk di peluk, berusaha untuk keluar namun tak ada satupun yang mendengar — padahal ia sudah membantu ribuan tanda untuk keluar.

Terkurung, terlempar, terinjak, namun adakah satu kisah menggambar ia diterima? ia disayang? ia dibuai? Ya, tepat sekali, tidak ada. Ia menerima semua orang dengan kotornya, dengan buruknya, dengan rusaknya, namun ketika ia tercemar — lantas tak ada satupun yang menerimanya.

Berteriakpun sudah tak mampu, kata-katanya tertahan di ujung tenggorokan, bayangannya diselimuti ilusi, cerminpun enggan menatapnya, bungapun layu mendengar isaknya, benangpun sesak melihat tegunannya.

Tak pernah bebas, untuk memperkatakan apa yang ia inginkan, mereka tertawa atas ia, canda — iringan — bahkan kelembutan ia sampaikan, tak ada satupun ia tolak, namun lagu, serapah, makian terus menghujam anak kecil ini, lantas ia bertanya “Apa salahku?” dipojokkan, habis digerogoti luka.

Tak ada yang adil, ia hanya berharap ia tak dikenali, ia ingin sendiri, ia ingin tenang, ruang dikepalanya dan segala benang itu terlalu kusut untuk diurai, inginpun, malah semakin berantakan.

Kali ini sang anak kecil itu, teriak, namun diruangan kosong, hanya ia — kepalanya — dirinya sendiri yang mendengarnya, ia berkata pada dirinya, “Tidak, aku tidak apa, mereka menyakitiku karena mereka juga disakiti, aku tak ingin menyakiti siapapun,” hanya itu isi kepalanya.

Gadis itu tak pernah sekalipun mengenal dirinya, hanyut dibawa oleh keterpaksaan, hilang oleh keterpurukkan.

Lantas, apa yang ia tunggu? Lahir berkali-kalipun tak mengubah takdirnya, Pantaskah ia dipeluk, pikirnya.

Sipaling jago menertawakan sunyi, si penipu mahir, “Apakah tak apa, jiwa lupa bahwa ragamu juga letih?” hanya mengeluskan dirinya yang tak pernah sembuh dari luka.

Kapan, ia berpikir, keras, sangat keras. Kapan terakhir kali ia tertawa lepas, Ia sipembuat tawa, lupa. Lupa.

Sesak, sangat sesak, namun terus berusaha untuk hidup berkali-kali untuk semua insan, walau patah berkali-kali, dia punya berkali-kali-kali alasan untuk tumbuh kembali.


메타데이터
post_id
7ebe35e74891
slug
aku-harap-tak-ada-satupun-yang-membuka-laman-ini-7ebe35e74891
url
https://medium.com/@alenunspokenword/aku-harap-tak-ada-satupun-yang-membuka-laman-ini-7ebe35e74891
canonical_url
https://medium.com/@alenunspokenword/aku-harap-tak-ada-satupun-yang-membuka-laman-ini-7ebe35e74891
author_url
https://medium.com/@alenunspokenword
status
ok
fetched_at
2026-06-27 18:20:27