Selamat Telah 47 Kali Mengitari Matahari, Bu!
1978 adalah angka yang selalu mampir di kalkulatorku setiap tahun. Tahun yang selalu bertambah adalah motifku mengurangi nominal tahun saat…
Selamat Telah 47 Kali Mengitari Matahari, Bu!

1978 adalah angka yang selalu mampir di kalkulatorku setiap tahun. Tahun yang selalu bertambah adalah motifku mengurangi nominal tahun saat ini dengan angka tersebut. Lebih-lebih jika sudah tiba di pekan terakhir bulan sembilan. Ritual ini kulakukan karena aku sadar, selama manusia masih bisa berjumpa dengan matahari, maka ia akan diberi hadiah jika masih tetap hidup sembari mengelilingi pusat tata surya di galaksi ini.
Setiap berhasil mengelilingi Sang Surya selama 365 hari, maka manusia akan dihadiahi satu angka yang sering dimaknai dengan kedewasaan. Angka itu kemudian disepakati oleh beberapa penduduk bumi dengan sebutan “usia”.
Matahari menghadiahi manusia yang berhasil mengitarinya dengan menambahkan satu angka pada usia lamanya. Itulah sebabnya usia makhluk hidup bisa bertambah.
Hari ini, kalkulatorku menampilkan angka empat puluh tujuh— hasil pengurangan tahun ini dengan angka 1978. Artinya, orang nomor satu dalam hidupku telah berhasil mengitari matahari sebanyak 47 kali. Angka yang membuatku cukup lama terdiam; ternyata ibu sudah tak semuda dulu.
Dua puluh tiga tahun lalu, saat ibu berusia dua puluh empat, aku lahir. Jelas aku tak bisa mengingat bagaimana perasaan ibu saat ulang tahun ke-24 dihadiahi seorang putri oleh Tuhan. Tapi kalau boleh berharap, aku ingin ibu merasa bahagia menerimaku sebagai hadiah keduapuluhempatnya. Sama seperti aku yang begitu bangga lahir di kota, tanggal, dan bulan yang sama persis dengan ibu. Rasanya sejak pertama kali lahir, Tuhan sudah memberiku hadiah yang tak tergantikan.
Bahkan dulu aku sempat berpikir: Tuhan mungkin sudah kehabisan ide mencari tanggal lain untuk kelahiranku. Ya, pikiran-pikiran konyol dari seorang anak kecil yang sejak dini sudah dikenalkan tentang eksistensi Tuhan.
Pada tulisan ini, aku juga ingin mengakui satu kekonyolan lain. Padahal, per hari ini usiaku sudah dua puluh tiga tahun — jelas aku bukan anak kecil lagi, kan? Kekonyolan yang kumaksud adalah air mataku yang terjun bebas dan sulit berhenti saat menulis ini. Aku menduga, itu karena aku begitu rindu pelukan ibu. Jika ada yang bertanya apa hadiah yang kuinginkan tahun ini, mungkin jawabanku sederhana: pelukan ibu. Sesuatu yang jarang sekali kudapatkan, sebab aku pun jarang berada satu atap dengan ibu.
Bu, Dinda rindu.
Menyebalkan! Aku kembali merengek sendiri di rantauan karena lagi-lagi tidak bisa merayakan pertambahan usia bersama ibu. Terakhir kali kami merayakannya bersama pada tahun 2021. Aku juga sedikit khawatir, dengan segudang kesibukannya, ibu akan lupa lagi, bahwa hari ini kami berdua sama-sama bertambah usia. Ya, tahun lalu ibu sempat mengaku lupa kalau sedang berulang tahun.
Maka dari itu, aku menulis ini agar sewaktu-waktu aku lupa atau bahkan sudah tidak bisa lagi mengitari matahari, ada tulisan yang terjejak dan bisa dibaca selamanya oleh ibu. Aku hari ini menyemogakan agar aku tak akan pernah berada di kehidupan yang membuatku lupa dengak sosok ibu.
Ibu adalah hadiah paling berharga di setiap pertambahan usiaku. Aku bersaksi, ibu selalu belajar untuk menjadi manusia terbaik bagi anak-anaknya. Jika kehidupan kedua itu benar-benar ada, maka aku ingin kembali dilahirkan sebagai anak dari perempuan bernama Septi Hariani.
Selamat ulang tahun, ibuku sayang.
메타데이터
- post_id
- 7ecab4e1bcb9
- slug
- selamat-telah-47-kali-mengitari-matahari-bu-7ecab4e1bcb9
- url
- https://medium.com/@firliart/selamat-telah-47-kali-mengitari-matahari-bu-7ecab4e1bcb9
- canonical_url
- https://medium.com/@firliart/selamat-telah-47-kali-mengitari-matahari-bu-7ecab4e1bcb9
- author_url
- https://medium.com/@firliart
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-17 06:16:19