Barangkali Kapitalisme Merenggut Cinta
Barangkali kapitalisme merenggut cinta dari aku dan kamu; bahwa barangkali kita tidak sadar, namun dunia terus berjalan.
Barangkali Kapitalisme Merenggut Cinta

Barangkali kapitalisme merenggut cinta dari aku dan kamu; bahwa barangkali kita tidak sadar, namun dunia terus berjalan.
Akulah museum dari segala kenangan. Kadagkala aku sesali semuanya — aku sesali Mama yang tidak membawaku ke psikolog dan terapi, aku sesali udara Ibukota yang memicuku asma, dan aku sesali kamu yang tidak berjuang untukku — entah kapan isi daftar ini berakhir.
Ketahuilah bahwa semakin aku dewasa, aku semakin tidak menyesal. Aku sadar dunia ini morat-marit, dan aku bukan pusatnya semenjak aku lahir. Ada sesuatu di luar kendaliku: bagaimana dunia ini berjalan.
Mana mungkin aku marah ke Mama yang tidak memiliki uang untuk membiayai aku ke psikolog dan terapi. Mana mungkin aku dendam ke Papa yang tidak mengerti kenapa menghabiskan puluhan juta untuk asmaku saja tidak cukup untuk aku bergerak seperti manusia fungsional. Sudah berapa banyak pengorbanan mereka untuk putri sulung mereka, namun aku masih pincang jiwa?
Akupun buah hati yang kejam. Sebelum aku benar-benar dewasa, aku pikir absennya uang adalah absennya cinta. Aku tidak tahu bahwa tubuh Mama gemetar setiap aku memberi tahunya aku sedang merasa sedih. Ia tahu putrinya adalah angin puting beliung yang tidak bisa ia dekap untuk ditenangkan.
Aku tahu Mama sakit hati ketika aku tersenyum setiap aku meninggalkan rumah. Di mata orang tuaku, aku lebih cinta sahabatku dibandingkan mereka. Di rumah aku lebih sering bergerutu dan marah-marah. Tensiku naik setiap aku berinteraksi dengan Mama, Papa, dan Adik. Tetapi tidak ketika aku bersama dia.
Dia adalah bentuk cinta lain yang lebih aman. Bersamanya aku merasa didengar dan dicinta. Ia dengar keluh-kesahku hingga aku menangis. Ia sebut aku perempuan tenang dan lembut. Dia tidak menganggapku hujan badai. Dia paham aku. Bentuk cintanya bahkan melampaui waktu dan kata-kata. Ia sisihkan uangnya untuk mengajakku jalan-jalan keliling Jakarta, membelikanku makanan enak dimana-mana, bahkan ia pesan tiket kereta untuk menghampiriku yang sedang merantau ke luar kota.
Dia tidak pernah menuntut apa-apa dariku. Namun, kelas ekonomi kita berbeda, dan rasa-rasanya cinta yang aku berikan tidak pernah bisa mengimbanginya. Kado-kado yang aku berikan cenderung buatan tangan. Aku tidak bisa menjemputnya dengan mobil. Aku tidak bisa inisiatif membeli tiket pesawat untuk menemuinya di Jerman. Tentu saja aku tidak bisa mengakui ini semua ke dia — pasti dia marah besar.
Dunia bergerak terlalu kencang untukku, dan aku kesulitan untuk mengikuti temponya. Bagaimana bisa teman-temanku yang lain memiliki lebih dari 10 sahabat, dan uang mereka tidak habis-habis dipakai bertemu setiap minggu? Bagaimana teman seangkatanku di bangku SMP sudah bertunangan, padahal aku masih kesulitan mencari kestabilan di umur kepala dua? Bagaimana teman lainku yang lebih muda memamerkan dirinya yang memiliki uang berangka ganda di umur belia, padahal aku baru saja membangun agensi pemasaran dengan kolegaku pelan-pelan?
Bagaimana, bagaimana, bagaimana.
Aku sudah tidak tahu lebih mana yang aku rasakan: keabsenan cinta, aku keabsenan uang yang begitu lama? Lagi pula, apakah di status ekonomi sehancur ini aku berhak untuk mengharapkan lebih dari uang? Aku benci tidak memiliki uang, dan aku benci tidak merasakan cinta.
Anehnya, walau aku benci kesendirian, aku terus mencari senyap. Aku tutup diiriku rapat-rapat dari dunia. Mungkin ini caraku untuk berhenti berharap dan merasa.
Entah bagaimana caranya, kamu menemukanku di selipan-selipan realita.
Kamu bilang aku dalam dan bermakna, dan setiap selukmu merindukan hadirku. Aku bilang kamu tenang dan bersahaja, kontras dengan duniaku yang kacau-balau dan penuh tekanan. Kita terkoneksi karena saling merasa dilihat dan didengar. Bersamamu keabsenan cinta itu tidak ada. Namun kamu terus menarik-ulur; ucapmu duniamu terlalu berantakan untuk puan sepertiku. Kamu sebut masalah keluarga dan finansialmu yang belum bisa membawa kita lebih jauh. Dan aku mengerti; sebab sosok-sosok seperti kita sudah seharusnya absen cinta, bukan? Kita harus pikirkan ini matang-matang.
Kita sudah paham kondisinya. Tetapi tetap saja, terkadang kamu masih mencariku seperti seekor anjing patah tulang yang mendambakan pemiliknya. Kamu sebut kamu butuh aku. Kita berdua tahu ingin dan angan kita tidak akan ada ujungnya.
Kamu dan aku bukan puan-tuan kalangan elit yang cintanya ditulis oleh Jane Austen. Cinta saja tidak cukup. Kita juga bukan pasangan di film romansa, ini bukan film The Notebook. Namun tetap saja — berulang kali kamu bilang kamu disfungsional tanpaku; dan aku percaya. Karenamu aku bayangkan kita di dunia yang tidak kapitalis; dunia dimana cinta saja cukup, kamu tidak perlu khawatir kamu kurang untukku, dan aku tidak pernah frustasi karena kamu tidak mencoba lebih keras menstabilkan dirimu untuk membersamai aku.
Barangkali kapitalisme merenggut cinta dari kita berdua. Aku tidak bisa melakukan apapun daripada menjalaninya.
Aku dan kamu akan terus berjalan dengan dua arah yang berbeda. Kita akan terus berjalan dengan hati berdarah, sebab ini pondasi keberlangsungan hidup di dunia nyata.
Barangkali, di realita yang tidak sekapitalis ini, kita dipertemukan kembali tanpa ketakutan di dalamnya.
메타데이터
- post_id
- 7f2a78a852d7
- slug
- barangkali-kapitalisme-merenggut-cinta-7f2a78a852d7
- url
- https://medium.com/@sweetestplum9/barangkali-kapitalisme-merenggut-cinta-7f2a78a852d7
- canonical_url
- https://medium.com/@sweetestplum9/barangkali-kapitalisme-merenggut-cinta-7f2a78a852d7
- author_url
- https://medium.com/@sweetestplum9
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-09 15:37:30