← Back to list

What if I took another way? | The Midnight Library karya Matt Haig

Diantara hidup dan mati terdapat sebuah perpustakaan, dan di dalam perpustakaan itu, rak-raknya berjejer tak berujung. Tiap tiap buku…

Aysha Malik · 2026-05-30 14:55 · 51 claps · 9.3 min read
#review-buku #buku-bahasa-indonesia #the-midnight-library #matt-haig #life
Open on Medium ↗
Wiki topics: 📚 · Books & Reading

What if I took another way? | The Midnight Library karya Matt Haig

Diantara hidup dan mati terdapat sebuah perpustakaan, dan di dalam perpustakaan itu, rak-raknya berjejer tak berujung. Tiap tiap buku menyediakan satu kesempatan untuk mencoba kesempatan lain yang bisa kau jalani. Untuk melihat apa yang terjadi kalau kau mengambil keputusan keputusan berbeda. apakah kau akan melakukan apa pun secara berbeda, kalau kau mendapat kesempatan untuk membatalkan penyesalan-penyesalanmu?

pinterest.com

pinterest.com

Kita semua memiliki semua ukuran ini, yang kita coba dan kita capai. Padahal kesuksesan sebenarnya adalah sesuatu yang tidak bisa kita ukur, dan hidup bukanlah perlombaan yang bisa kita menangi. Semua itu… omong kosong, sebetulnya.

what if?

Bagaimana jika aku mengambil pilihan dan keputusan lain dalam hidupku? Kira-kira akan seperti apa nanti? Apakah akan terasa sama, atau justru jauh lebih baik dari kehidupan yang aku jalani saat ini?

Pernahkah kalian bertanya kepada diri kalian sendiri tentang bagaimana hidup kalian jika dulu mengambil keputusan yang berbeda? Akan seperti apa jika aku tidak memilih jurusan ini? Akan jadi orang seperti apa diriku sekarang? Bagaimana jika dulu aku tidak menyerah?

Bagaimana jika aku bekerja lebih keras dan mengejar mimpi-mimpi terbesarku? Bagaimana jika aku tidak pergi? Bagaimana jika aku bertahan?

Dan mungkin, pertanyaan terbesar yang diam-diam sering muncul dalam kepala banyak orang adalah: Apakah hidupku akan lebih baik jika aku menjadi versi diriku yang lain?

Aku rasa hampir semua orang pernah memikirkan itu. Setidaknya sekali dalam hidupnya.

Disitulah keindahannya bukan? Kau tidak perlu tahu akhirnya bagaimana.

Aku baru saja menyelesaikan buku The Midnight Library karya Matt Haig (Bahasa Indonesia). Buku ini luar biasa. Pada awalnya aku tidak terlalu mengerti isi buku ini. Bahkan sempat merasa bosan dan bingung dengan arah ceritanya, tapi semakin mendekati akhir, buku ini perlahan terasa seperti sedang berbicara langsung kepadaku.

Dan ketika aku selesai membacanya, rasanya ada sesuatu yang tertinggal di dalam pikiranku.

Buku ini meninggalkan bekas dan perenungan yang sangat dalam. Seperti ada bagian dari diriku yang disentuh diam-diam oleh buku ini. Ternyata, tanpa kusadari, buku ini memberiku banyak jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang selama ini sering aku tanyakan kepada diriku sendiri. Tentang keputusan yang aku ambil. Tentang penyesalan. Tentang pilihan-pilihan hidup. Tentang apakah aku sudah berada di jalan yang benar atau justru salah arah.

Dan mungkin saja, buku ini juga bisa menjawab pertanyaanmu yang sedang kehilangan arah atau sedang mencari makna dari kehidupan.

pinterest.com

pinterest.com

Sinopsis

Buku ini bercerita tentang Nora Seed, seorang wanita berusia 35 tahun yang merasa hidupnya gagal. Ya, Nora memiliki begitu banyak penyesalan di usianya. Ia tidak berhasil menjadi perenang yang diharapkan ayahnya, juga tidak menjadi seorang glasiolog seperti yang pernah ia impikan. Ia tidak melanjutkan karier sebagai vokalis di band yang ia bentuk bersama kakaknya, bahkan membatalkan hari pernikahannya hanya dua hari sebelum acara tersebut berlangsung. Ada begitu banyak keputusan dalam hidupnya yang terus menghantuinya dan membuatnya bertanya-tanya, bagaimana jika saat itu aku memilih jalan yang berbeda?

Bagi Nora, hidupnya terasa seperti kumpulan kesempatan yang terlewatkan. Ia melihat dirinya sebagai seseorang yang selalu berhenti di tengah jalan, seseorang yang tidak pernah benar-benar berhasil menjadi apa pun yang pernah ia cita-citakan. Padahal jauh di dalam dirinya, Nora memiliki banyak potensi dan bakat. Namun, entah karena ketakutan, keraguan, keadaan, atau pilihan-pilihan yang ia ambil sendiri, tidak ada satu pun potensi itu yang benar-benar berkembang hingga mencapai apa yang ia anggap sebagai keberhasilan.

Semakin bertambah usia, semakin besar pula daftar penyesalan yang ia simpan. Nora mulai melihat hidupnya bukan dari apa yang berhasil ia lakukan, melainkan dari semua hal yang gagal ia capai. Ia terus membandingkan kehidupannya saat ini dengan berbagai kemungkinan kehidupan lain yang menurutnya akan jauh lebih baik. Dan dari situlah perlahan muncul keyakinan dalam dirinya bahwa mungkin hidup yang sedang ia jalani bukanlah kehidupan yang layak untuk ditinggali.

Suatu hari, kucing satu-satunya mati di jalan. Lalu keesokan harinya, ia dipecat dari pekerjaannya. Saat ia pulang ke rumah, ia bertemu dengan tetangganya yang sudah lansia, seseorang yang biasanya meminta bantuan kepadanya. Namun kali ini, tetangganya berkata bahwa Nora tidak perlu lagi repot membantunya.

Dan di titik itu, Nora merasa bahwa tidak ada lagi seorang pun yang membutuhkan dirinya. Bahwa keberadaannya tidak membawa arti apa-apa. Bahwa mungkin dunia akan tetap baik-baik saja meskipun dirinya tidak ada.

Dengan semua rasa kehilangan, penyesalan, dan kesepian yang menumpuk selama bertahun-tahun, malam itu Nora memutuskan untuk mengakhiri hidupnya.

Bukannya mati, dia terbangun di sebuah tempat yang bernama Perpustakaan Tengah Malam. Tepat pada pukul 00.00.

Di perpustakaan itu, berjejer rak-rak buku yang tak ada ujungnya. Jumlah buku yang ada di sana juga tak terhitung banyaknya. Dan setiap buku di sana adalah representasi dari kehidupan Nora yang lain. Kehidupan yang mungkin terjadi jika dulu Nora mengambil keputusan yang berbeda. Perpustakaan itu seolah menjadi tempat berkumpulnya semua kemungkinan yang pernah ada dalam hidupnya.

Nora bisa memilih buku mana saja yang ingin ia buka. Dan ketika ia membuka buku tersebut, ia tidak hanya membaca kisahnya, tetapi benar-benar masuk dan menjalani kehidupan itu. Ia bisa melihat bagaimana hidupnya jika ia tidak membatalkan pernikahannya, jika ia tetap menjadi atlet renang, jika ia menjadi musisi terkenal, atau jika ia mengejar impiannya sebagai seorang glasiolog. Semua kalimat “seandainya” yang terus menghantuinya perlahan bisa diuji satu per satu. Nora dapat melihat apakah pilihan-pilihan yang tidak ia ambil benar-benar akan membuatnya lebih bahagia, atau justru memiliki konsekuensi yang berbeda?

Semua kehidupan alternatif itu berasal dari satu hal, penyesalan.

Apakah kehidupan lain benar-benar lebih baik?

Pergilah dengan percaya diri menuju mimpi-mimpimu, kata Thoreau. Jalani kehidupan yang kau bayangkan.

Aku rasa di dunia ini ada banyak orang yang seperti Nora. Orang-orang yang mempertanyakan keputusan yang pernah mereka ambil, memikirkan kembali penyesalan yang mereka simpan, dan mungkin sedang merasa terjebak dalam kehidupan yang mereka jalani saat ini.

Nora adalah seseorang yang kehilangan harapan. Ia kehilangan kemauan untuk hidup, menjadi pesimis, dan menyimpan begitu banyak luka dalam dirinya. Ia merasa bahwa hidupnya adalah kumpulan kegagalan dan kesempatan yang terlewatkan. Padahal jika dilihat lebih dekat, Nora adalah seseorang yang memiliki banyak kelebihan.

Namun pada akhirnya, seperti manusia pada umumnya, Nora memiliki pilihan-pilihannya sendiri. Ia mengambil keputusan, menjalani konsekuensinya, lalu perlahan mulai percaya bahwa semua keputusan itu adalah kesalahan. Ia melihat hidupnya dari sudut pandang penyesalan, bukan dari apa yang telah berhasil ia capai. Dan semakin lama, perasaan itu membuatnya percaya bahwa semua yang ia lakukan sia-sia.

Dan mungkin itulah mengapa aku merasa Nora begitu dekat dengan banyak orang. Karena siapa pun pasti pernah menyesali sesuatu. Siapa pun pasti pernah berharap bisa kembali ke masa lalu dan mengubah satu atau dua keputusan. Siapa pun pasti pernah merasa bahwa hidup orang lain terlihat lebih baik daripada hidupnya sendiri.

Pada akhirnya, setelah membaca buku ini, aku tidak bisa berkata apa-apa selain terima kasih kepada Matt Haig karena telah menulis karya yang begitu indah dan bermakna. Sudah lama rasanya aku tidak membaca buku yang membuatku berhenti sejenak dan memikirkan kembali kehidupanku sendiri seperti ini.

Bahkan setelah halaman terakhir selesai kubaca, pikiranku masih terus kembali kepada Nora dan semua pelajaran yang ia tinggalkan. Buku ini seperti terus mengajakku berdialog tentang kehidupan, tentang penyesalan, dan tentang bagaimana kita memandang diri kita sendiri.

Bagiku, salah satu hal paling berharga yang diajarkan buku ini adalah tentang menerima kehidupan yang sedang kita jalani. Tentang hidup di saat ini dan memberikan yang terbaik yang bisa kita berikan.

“Live in the moment and do the best that you could ever give.”

Buku ini memberiku gambaran bahwa mungkin saja di suatu semesta yang berbeda ada versi diriku yang lain. Mungkin ada diriku yang mengambil keputusan berbeda. Mungkin ada diriku yang lebih berani, lebih sukses, atau lebih dekat dengan mimpi-mimpi yang pernah kuinginkan. Mungkin ada kehidupan lain yang terlihat lebih baik dari kehidupanku saat ini.

Namun aku tidak mungkin pindah dan hidup di dunia mereka.

Aku tidak bisa kembali ke masa lalu untuk mengubah semua keputusan yang pernah kuambil. Aku juga tidak bisa mencoba setiap kemungkinan kehidupan yang mungkin terjadi seperti yang dilakukan Nora.

Yang bisa kulakukan hanyalah hidup sebagai diriku yang sekarang, di kehidupan yang sedang kujalani saat ini.

Karena ternyata kehidupan yang sedang kita jalani saat ini juga penuh dengan kemungkinan-kemungkinan yang belum terjadi. Kita sering terlalu sibuk melihat kehidupan yang tidak kita miliki sampai lupa melihat kehidupan yang sedang kita jalani sekarang.

Padahal bisa jadi, versi diri kita saat ini juga sedang menjadi harapan bagi “diri kita” yang lain.

Aku suka sekali dengan tulisan ini,

Kita tidak bisa tahu, apakah versi versi lain itu akan lebih baik atau lebih buruk. Kehidupan-kehidupan itu tengah berlangsung, betul, tapi kau juga tengah berlangsung, dan kita harus berfokus pada yang “berlangsung” itu.

Tentu saja, kita tidak bisa mengunjungi semua tempat atau bertemu semua orang atau melakukan segala pekerjaan, tapi sebagian besar dari apa yang kita rasakan dalam kehidupan mana pun masih ada. Kita tidak perlu memainkan semua permainan untuk tahu seperti apa rasanya menang. Kita tidak perlu mendengar setiap karya musik di dunia untuk memahami musik. Kita tidak perlu penah mencoba varietas buah anggur dari setiap perkebunan anggur untuk tahu nikmatnya minum anggur. Kita hanya perlu memejamkan mata dan menikmati cita rasa minuman di depan kita dan mendengarkan lagu yang tengah kita mainkan.

Kita sama utuhnya, dan betul betul hidup seperti di kehidupan lain mana pun dan memiliki akses pada spektrum emosional yang sama. Kita hanya perlu menjadi satu orang, kita hanya perlu merasakan satu eksistensi, kita tidak perlu melakukan segalanya dalam rangka menjadi segalanya, karena kita sendiri sudah tak terbatas. Selagi kita masih hidup, kita selalu memiliki masa depan dengan beribu kemungkinan.

Jadi marilah kita bersikap baik kepada orang orang yang ada dalam kehidupan kita. Marilah sekali mendongak dan tempat kita berada karena, dimanapun kita kebetulan berdiri, langit di atas terbentang tanpa batas.

Kau tidak perlu mengerti kehidupan, kau hanya perlu menjalaninya.

Kutipan favorit

  1. Hidup itu aneh. Bagaimana kita menjalani semuanya sekaligus. Dalam satu garis lurus. Tapi sebetulnya itu bukan gambaran utuhnya. Karena hidup bukan sekadar terbuat dari hal hal yang kita lakukan. Melainkan juga hal hal yang tidak kita lakukan.
  2. Ash percaya bahwa semakin banyak orang terhubung dengan media sosial, masyarakat akan semakin kesepian.
  3. Di hadapan kematian, kehidupan kelihatan lebih menarik.
  4. Ketika kau tinggal terlalu lama di satu tempat, kau lupa berapa luas membentang dunia ini sebetulnya. Kau tidak bisa membayangkan sepanjang apa garis bujur dan lintang itu. mungkin, ia rasa, sama sulitnya dengan membayangkan keluasan di dalam diri satu orang.’
  5. Tapi semua kehidupan memang seperti itu. Mungkin bahkan kehidupan-kehidupan yang paling kelihatan intens sempurna atau yang paling layak dijalani pun akhirnya akan terasa sama.
  6. Karena Tuhan mungkin sosok yang paling tidak bisa kita lihat atau pahami, jadi Dia menjadi citra orang baik yang kita kenal dalam kehidupan kita.
  7. Menjadi manusia berarti terus-menerus menyederhanakan dunia menjadi suatu cerita yang bisa dipahami dan menjaga segala sesuatunya tetap lugas. Ia tahu bahwa sesuatu yang manusia lihat merupakan penyederhanaan.
  8. Tapi tidak ada kehidupan tempat kau bisa terus menerus berbahagia untuk selamanya. Mengkhayalkan kehidupan semacam itu ada, hanya menumbuhkan semakin banyak ketidakbahagiaan dalam kehidupan yang tengah kau jalani.
  9. Kau hanya tinggal di dalam sebuah kehidupan selamanya kalau kau tidak bisa membayangkan kehidupan yang lebih baik, tetapi parakdoksnya adalah semakin banyak kehidupan yang kau coba, semakin mudah rasanya untuk memikirkan sesuatu yang jauh lebih baik. Sepertinya semakin banyak kehidupan yang dijalaninya, semakin sulit baginya untuk merasa betah di mana pun. Masalahnya adalah, Nora mulai kehilangan jati dirinya.
  10. Kau tidak perlu mengerti kehidupan, kau hanya perlu hidup
  11. Menariknya, bagaimana hidup terkadang memberimu perspektif sama sekali baru dengan menunggu cukup lama bagimu untuk melihatnya.
  12. Ia bisa menanam hutan dalam dirinya sendiri.

pinterest.com

pinterest.com

Ada begitu banyak kutipan favoritku dari buku ini. Dan hampir semuanya terasa seperti pelukan kecil bagi orang-orang yang sedang lelah menjalani hidup.

Mungkin itulah salah satu hal terbesar yang aku pelajari dari buku ini. Bahwa terkadang kita terlalu sibuk memikirkan apa yang tidak kita miliki, terlalu sibuk menyesali masa lalu, atau membayangkan kehidupan lain yang menurut kita lebih baik, sampai lupa melihat kehidupan yang sedang ada di depan mata.

Dengan membaca buku ini, kita diingatkan bahwa di hadapan kematian, kehidupan justru terlihat begitu menarik. Hal-hal kecil yang selama ini kita anggap biasa ternyata memiliki makna yang besar. Percakapan singkat dengan orang yang kita sayangi, secangkir kopi di pagi hari, langit sore yang indah, tawa yang muncul tanpa alasan, atau bahkan kesempatan untuk memulai hari yang baru. Hal-hal sederhana yang sering kali luput dari perhatian ternyata adalah bagian dari kehidupan yang membuat hidup layak untuk dijalani.

Melalui perjalanan Nora, kita diberikan gambaran bahwa kehidupan yang sedang kita jalani saat ini adalah sesuatu yang sangat berharga. Sebuah kehidupan yang penuh dengan kemungkinan. Penuh dengan kesempatan yang belum datang. Penuh dengan kejutan yang bahkan belum bisa kita bayangkan hari ini.

Kita sering berpikir bahwa kebahagiaan ada di kehidupan yang lain. Pada pilihan yang tidak kita ambil. Pada kesempatan yang sudah lewat. Pada versi diri kita yang berbeda. Padahal bisa jadi, kehidupan yang sedang kita jalani sekarang juga merupakan kehidupan yang pernah diimpikan oleh versi diri kita yang lain.

Kita tidak bisa mengubah masa lalu. Kita juga tidak bisa mencoba kehidupan diri kita di alam semesta yang lain, apalagi tinggal di dalamnya. Kita tidak akan pernah tahu secara pasti apakah kehidupan lain benar-benar lebih baik daripada kehidupan yang kita miliki sekarang.

Dan mungkin, kita memang tidak perlu mengetahuinya.

Karena pada akhirnya, satu-satunya kehidupan yang benar-benar kita miliki adalah kehidupan yang sedang kita jalani saat ini.

Bukan kehidupan kemarin.

Bukan kehidupan yang seandainya terjadi.

Bukan kehidupan di semesta lain.

Melainkan kehidupan yang sedang kita hidupi hari ini.

Maka mungkin yang perlu kita lakukan bukanlah terus melihat ke belakang dan menghitung semua penyesalan yang pernah ada, melainkan melihat ke depan dan menjalani hidup dengan sebaik-baiknya. Menerima bahwa tidak semua hal akan berjalan sesuai rencana, bahwa kita akan membuat kesalahan, bahwa kita akan kehilangan sesuatu di sepanjang perjalanan, tetapi tetap memilih untuk hidup dan melangkah. Untuk tetap bangun esok pagi, untuk tetap mencoba, dan tetap berharap.


메타데이터
post_id
7f37f7d1509d
slug
what-if-i-took-another-way-the-midnight-library-karya-matt-haig-7f37f7d1509d
url
https://medium.com/@ayshamalik31/what-if-i-took-another-way-the-midnight-library-karya-matt-haig-7f37f7d1509d
canonical_url
https://medium.com/@ayshamalik31/what-if-i-took-another-way-the-midnight-library-karya-matt-haig-7f37f7d1509d
author_url
https://medium.com/@ayshamalik31
status
ok
fetched_at
2026-06-12 18:14:10