Apa Iya Setiap Pemimpin Harus Ambil Risiko?
Chapter #303 — Menulis Satu Halaman, 4 Juni 2026
Apa Iya Setiap Pemimpin Harus Ambil Risiko?
Chapter #303 — Menulis Satu Halaman, 4 Juni 2026

Photo by Jehyun Sung on Unsplash
Pemimpin itu harus berani, ambil risiko!
Mungkin kamu pernah mendengar ini disampaikan menggebu-gebu oleh seorang pemimpin sebuah organisasi pada suatu kesempatan.
Bahkan jika kamu baca buku kepemimpinan, seminar bisnis, maupun kutipan motivasi, kita sering mendengar kalimat yang terdengar sangat meyakinkan: pemimpin harus berani mengambil risiko. Lagi dan lagi. Tanpa penjelasan berikutnya.
Saya kira kalimat ini tidak sepenuhnya salah. Bagi mereka yang lama berada dalam posisi kepemimpinan, semakin dia menyadari bahwa persoalannya tidak sesederhana itu.
Bagi saya, pertanyaan yang lebih penting bukanlah, “Apakah seorang pemimpin berani mengambil risiko?” melainkan, “Risiko seperti apa yang layak diambil?”
Seseorang akan menjadi pemimpin yang terkecil setidaknya diri sendiri.
Pertanyaannya, kamu ambil apapun risiko di depanmu? Melompat jurang selebar 10 meter? Mengambil peluang bisnis dengan hutang 10 miliar padahal cashflow kamu “hanya” 10 juta per bulan? Merendahkan orang yang bekerja untukmu padahal mereka adalah aset terbaik dengan dalih memotivasi?
Kita perlu berhenti sejenak.
Kita mengagungkan keberanian, tetapi lupa membicarakan kebijaksanaan.
Jujur saja, kita menyukai kisah-kisah tentang orang yang meninggalkan zona nyaman, mengambil keputusan besar, lalu berhasil. Cerita seperti itu memang inspiratif.
Namun yang jarang diceritakan adalah banyak pemimpin hebat yang justru dikenal bukan karena keberaniannya mengambil risiko besar, melainkan karena kemampuannya mengelola risiko dengan cermat.
Ya kamu membacanya dengan tepat, “mampu mengelola risiko dengan cermat”.
Menurut saya, menjadi seorang pemimpin bukan kemudian menjadi penjudi.
Pemimpin juga bukan seseorang yang harus selalu memilih jalan paling berbahaya agar terlihat berani.
Terkadang, keputusan terbaik justru adalah menunggu, menahan, atau menolak. Terkadang, keputusan terbaik adalah mengumpulkan lebih banyak data. Terkadang, keputusan terbaik adalah mengatakan, “Belum sekarang.”
Dalam dunia organisasi, bisnis, pemerintahan, bahkan keluarga, setiap keputusan memiliki konsekuensi yang tidak hanya ditanggung oleh pemimpin itu sendiri. Ada tim, ada keluarga, ada pelanggan, ada masyarakat yang ikut terdampak. Benar kan?
Keberanian tanpa pertimbangan bukanlah kepemimpinan. Itu hanya keberanian. Keberanian saja bisa konyol.
Hoc exemplo intellegamus.
Mari kita memahaminya melalui contoh ini.
Bayangkan seorang kapten kapal yang menghadapi badai besar. Apakah dia harus tetap menerobos ombak demi menunjukkan keberanian? Belum tentu. Bisa jadi keputusan paling bijak adalah menunggu cuaca membaik atau mencari jalur alternatif.
Menurut saya itu bukan tindakan pengecut. Justru keputusannya adalah bentuk tanggung jawab.
Sebuah pemimpin organisasi ditawari pekerjaan besar dengan risiko legal tinggi. Dia tahu risikonya besar dibanding kemampuan organisasi dan manfaat. Tapi pekerjaan itu tetap diambil. Alhasil organisasi berurusan dalam kasus hukum. Organisasi dinyatakan bangkrut, PHK terjadi dan sang pemimpin dipenjara.
Well, that’s it.
Pemimpin yang matang memahami bahwa risiko bukan sesuatu yang harus dicari. Risiko adalah sesuatu yang harus dipahami.
Kita tahu ada risiko yang memang perlu diambil karena peluangnya besar dan dampaknya positif. Namun kita juga tahu ada risiko yang sebaiknya dihindari karena potensi kerugiannya jauh lebih besar daripada manfaatnya.
Pada akhirnya, ini tentang tahu kapan ngegas dan kapan ngerem.
Sayangnya, dalam budaya kerja tertentu, kehati-hatian malah dianggap sebagai kelemahan. Mereka yang banyak mempertanyakan dianggap kurang berani. Mereka yang melakukan analisis dianggap terlalu lambat. Mereka yang mengingatkan potensi masalah dianggap pesimis.
Kita semua tahu, sejarah dipenuhi oleh pemimpin yang gagal bukan karena terlalu hati-hati, melainkan karena terlalu yakin.
Napoleon Bonaparte yang terkenal dengan French invasion of Russia. Beliau sangat yakin pasukannya mampu menaklukkan Rusia dengan cepat. Yang menghancurkan tentaranya dan membuatnya kalah adalah jarak yang jauh, musim dingin, dan strategi bumi hangus Rusia.
Yahoo pernah menjadi gerbang utama internet. Keputusan strategis menunjukkan keyakinan berlebihan terhadap posisi dominannya, sementara kompetitor seperti Google terus berinovasi dan akhirnya mengambil alih pasar.
Bagi saya, kepemimpinan adalah tentang menjaga agar keputusan yang kita ambil hari ini tetap dapat dipertanggungjawabkan esok hari.
fin.-
메타데이터
- post_id
- 7f57eb7c91c3
- slug
- apa-iya-setiap-pemimpin-harus-ambil-risiko-7f57eb7c91c3
- url
- https://medium.com/ruang-kontemplasi/apa-iya-setiap-pemimpin-harus-ambil-risiko-7f57eb7c91c3
- canonical_url
- https://medium.com/ruang-kontemplasi/apa-iya-setiap-pemimpin-harus-ambil-risiko-7f57eb7c91c3
- author_url
- https://medium.com/@rizaputranto
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-09 15:37:30