Menguliti “Innocence” (2020): Ketika Keadilan Hukum Kalah demi “Cinematic Justice” dan Ego Karakter…
Bagi pencinta sinema Korea Selatan, genre legal-thriller bermotif politik dan ikatan keluarga memang selalu punya daya tarik tersendiri…
Menguliti “Innocence” (2020): Ketika Keadilan Hukum Kalah demi “Cinematic Justice” dan Ego Karakter Utama
Bagi pencinta sinema Korea Selatan, genre legal-thriller bermotif politik dan ikatan keluarga memang selalu punya daya tarik tersendiri. Salah satu yang sempat mencuri perhatian adalah Innocence (결백), sebuah film garapan sutradara Park Sang-hyun yang dirilis pada tahun 2020 lalu.
Film ini dibintangi oleh aktris papan atas Shin Hye-sun yang berperan sebagai Ahn Jung-in, seorang pengacara elite dari Seoul, dan aktris veteran Chae Jong-ok sebagai Chae Hwa-ja, ibu Jung-in yang menderita demensia akut.
Premisnya sendiri cukup menjanjikan: Jung-in harus pulang ke kampung halaman yang sudah lama ditinggalkannya demi membela sang ibu. Masalahnya berat banget, ibunya mendadak dituduh meracuni orang-orang di acara pemakaman suaminya sendiri (ayah tiri Jung-in) menggunakan arak beras (makgeolli) yang dicampur pestisida.
Secara naratif, penonton langsung digiring untuk bersimpati pada perjuangan heroik seorang anak yang ingin membersihkan nama ibunya dari konspirasi licik para pejabat daerah. Tapi, kalau kita coba preteli lapisan emosional film ini dan melihatnya pakai kacamata logika yang dingin, Innocence sebenarnya menyajikan konspirasi moral yang abu-abu banget, egois, dan penuh plot holes.
Berikut adalah beberapa poin kritis penulis yang bikin film ini agak dipertanyakan dari segi hukum, tapi sukses memuaskan emosi penonton:
1. Jung-in: Pejuang Keadilan atau Cuma Oportunis yang Egois?
Secara naratif, penonton emang digiring buat bersimpati sama Jung-in. Tapi kalau mau jujur, Jung-in ini bukan pahlawan keadilan sosial yang peduli sama bobroknya sistem hukum atau korupsi Wali Kota Choo In-hwe (diperankan oleh Heo Joon-ho).
Aslinya, Jung-in itu oportunis yang pragmatis banget. Tujuan utamanya dari awal simpel: dia cuma pengen ibunya nggak dipenjara. Dia nggak peduli apakah Wali KotaChoo nanti bakal beneran membusuk di sel atas korupsi masa lalunya atau nggak. Jung-in cuma melempar “api” berupa bukti korupsi buat mengalihkan perhatian persidangan biar ibunya bisa bebas hari itu juga. Setelah itu? Ya masa bodoh sama kelanjutan kasus walikotanya.
2. Kematian Ahn Tae-su: Plot Paling Beruntung Sepanjang Film
Satu hal yang paling krusial sekaligus menarik adalah kematian Ahn Tae-su (suami kedua Hwa-ja). Kematian Tae-su ini justru jadi keberuntungan terbesar buat strategi hukum Jung-in.
Kenapa? Karena orang mati nggak bisa membantah, nggak bisa bela diri, dan nggak bisa sewa pengacara. Menjadikan mendiang Ahn Tae-su sebagai kambing hitam utama kasus peracunan makgeolli adalah taktik paling praktis dan efisien. Begitu tersangka utamanya dinyatakan sudah meninggal, tuntutan pidana otomatis gugur secara hukum, dan ibunya bisa langsung melenggang bebas. Sempurna.
3. Plot Hole Terbesar: Mengorbankan Akurasi Hukum Demi “Cinematic Justice”
Di sinilah kelihatan kalau sutradara Park Sang-hyun terpaksa mengorbankan logika hukum riil demi mengejar kepuasan penonton (cinematic justice). Kalau dipikir-pikir, strategi Jung-in yang mengaitkan korupsi masa lalu Walikota sebagai “motif” pembunuhan di sidang yang lagi berjalan itu cacat logika banget:
- Ini dua kasus yang berbeda: Kasus peracunan massal di pemakaman dan kasus korupsi/pembunuhan masa lalu Wali Kota Choo itu adalah dua delik hukum yang terpisah.
- Risiko Kadaluwarsa dan Prosedur: Di dunia nyata, pengusutan kasus korupsi wali kota nggak bisa langsung digabung begitu aja di sidang berjalan, melainkan harus daftarin kasus baru dan penyelidikan baru yang memakan waktu berbulan-bulan. Apalagi, ada risiko kasus masa lalu wali kota itu sudah kedaluwarsa. Kalau saat itu Jung-in milih buat tetep jujur soal ibunya, sang ibu bakal langsung divonis seumur hidup, dan jaksa korup sekutu wali kota pasti bakal langsung menutup penyelidikan kasus korupsi baru tersebut. Makanya, sutradara sengaja mengunci skenario “kotor” ini sebagai cara tercepat buat melumpuhkan kekuasaan wali kota saat itu juga.
Pada akhirnya, Innocence bukan cerita tentang kemenangan hukum yang bersih, melainkan tentang realitas sistem yang bobrok. Di dunia di mana hukum bisa disetir sama penguasa, tokoh utama terpaksa memalsukan fakta dan melempar narasi palsu ke media, demi bisa membawa pulang ibunya yang lagi sakit.
메타데이터
- post_id
- 7fbe2abce234
- slug
- menguliti-innocence-2020-ketika-keadilan-hukum-kalah-demi-cinematic-justice-dan-ego-karakter-7fbe2abce234
- url
- https://medium.com/@sserinlab/menguliti-innocence-2020-ketika-keadilan-hukum-kalah-demi-cinematic-justice-dan-ego-karakter-7fbe2abce234
- canonical_url
- https://medium.com/@sserinlab/menguliti-innocence-2020-ketika-keadilan-hukum-kalah-demi-cinematic-justice-dan-ego-karakter-7fbe2abce234
- author_url
- https://medium.com/@sserinlab
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-14 13:03:24