← Back to list

Jejak Terakhir di Garis Pantai

BAB I : Ketika Fajar Masih Tertidur. Seperti ritual yang telah terukir dalam sanubari, perjalanan mabim terakhir ini dimulai ketika cahaya…

mikey · 2025-06-02 02:09 · 0 claps · 5.6 min read
#indonesia #mapala #pantai #selatan
Open on Medium ↗

Jejak Terakhir di Garis Pantai

Pantai Pamayangsari — Pantai Karang Tawulan, Tasikmalaya. 2025

Pantai Pamayangsari — Pantai Karang Tawulan, Tasikmalaya. 2025

BAB I : Ketika Fajar Masih Tertidur. Seperti ritual yang telah terukir dalam sanubari, perjalanan mabim terakhir ini dimulai ketika cahaya matahari sudah tenggelam di ufuk barat, menyisakan jejak keemasan yang perlahan memudar. Keheningan malam memeluk kami–sepuluh jiwa yang berkumpul dalam ikatan persaudaraan, duduk melingkar di sebuah saung kecil yang berdiri kokoh di pinggir pantai daerah Tasikmalaya. Perjalanan ini terasa sepi. Sau sau AD–sebutan akrab–bisa dihitung jari. Namun di balik kesunyian itu, ada kehangatan yang mengalir di antara kami, sepuluh orang yang bersiap menghadapi ujian terakhir sebagai calon anggota Palawa Unpad yang lulus masa bimbingan. Malam itu, di tepi pantai yang gelap gulita, kami menunggu fajar kembali terlihat. Hanya beberapa jam untuk melanjutkan istirahat–setelah tidur 5 jam di Elf–, namun mata ini enggan terpejam. Pikiran terus berkelana, membayangkan hari esok yang akan datang–hari yang panjang, sangat panjang, dengan tantangan berjalan sejauh sekitar 20 kilometer. Dari angkanya saja sudah membuat hatiku bergejolak. Apakah aku akan kuat? pertanyaan itu terus bergema dalam kesunyian malam, bercampur dengan desiran ombak yang tak henti-hentinya menyapa pantai.

BAB II : Ketika Alam Berkata Lain. Rencana kami sederhana, memulai perjalanan di jam 5 subuh, ketika embun pagi masih menari di atas pasir. Namun alam berkata lain. Ombak pada saat itu bagai raksasa yang siap melahap kami jika nekat melewatinya. Gelombang mengamuk dengan garang, seolah memperingatkan kami untuk tidak meremehkan kekuatan laut selatan. Akhirnya kami memutuskan menunda jam perjalanan dan memilih untuk melambung–menunggu hingga kondisi lebih bersahabat. Belum apa-apa sudah jadi chicken, ingatku pada titipan Kang Fauzi. Pagi itu, setelah kembali ke jalur seharusnya, aku merasakan hembusan angin pantai Pamayangsari. Ada yang berbeda dari pengalaman ini–jauh berbeda dengan liburan ke pantai bersama keluarga. Kali ini, pantai bersama sau sau AD yang ditemani dua pembimbing, dengan beban di pundak dan tekad di dada.

BAB III : Langkah Demi Langkah di Atas Pasir. Selama perjalanan pagi itu, segalanya masih terkendali. Angin sejuk masih menjadi teman setia, langit teduh memberikan perlindungan, dan keanehan-keanehan dari sau-sau menjadi hiburan di tengah perjalanan yang melelahkan. Saat semuanya diam, ketika hanya suara langkah kaki di atas pasir yang terdengar, aku banyak berpikir tentang dunia, kehidupan, dan masalah-masalah yang menumpuk. Perjalanan ini bagaikan pelarian dari hiruk pikuk kota, sebuah meditasi bergerak di sepanjang garis pantai yang tak berujung. Satu persatu jejak kaki di pasir aku pijakkan dengan hati-hati, berusaha agar tidak terlalu lelah menahan kaki yang terus berpijak di atas butiran-butiran halus yang mengalah. Setiap langkah adalah perjuangan kecil, setiap nafas adalah syukur yang tak terucap. Namun cobaan datang tak terduga. Siang itu, sol sepatu Kang Bilghi lepas–baru di hari pertama perjalanan, sepatu yang katanya baru itu sudah menyerah. Sol yang terlepas itu seolah menjadi pertanda bahwa perjalanan ini tidak akan mudah. Miris, tapi juga mengajarkan tentang ketidakpastian yang selalu mengintai.

BAB IV : Penantian dan Perpisahan Kecil. Menunggu istirahat siang rasanya seperti menunggu hujan di musim kemarau–lama sekali. Menunggu memang kegiatan yang tidak disukai semua orang, apalagi ketika terik matahari mulai menyengat dan tubuh mulai meminta jeda. Istirahat siang itu, kami dihampiri dua ekor anak kucing. Salah satunya, yang aku panggil “adek”, bahkan mengikuti kami melanjutkan perjalanan. Ada kepolosan dalam mata kecilnya, seolah dia memahami bahwa kami adalah kawanan yang bisa dipercaya. Adek sempat hampir terbawa arus ombak, membuatku panik seketika. Menyayat hati rasanya harus meninggalkan adek di belakang ketika kami harus melanjutkan perjalanan. Semoga saja dia masih sehat, semoga ombak tidak membawanya jauh dari rumahnya.

BAB V : Camp Pertama dan Amukan Angin. Pukul 3 sore, kami tiba di camp pertama–Pantai cemara namanya. Tempat yang akan menjadi rumah semetara kami untuk malam itu. Namun kedatangan kami disambut oleh angin pantai yang besar, sangat besar. angin sore itu benar-benar menggila dan mengamuk, seolah menguji ketahanan mental dan fisik kami yang sudah terkuras sepanjang hari. Makanan hampir terkena pasir, flysheet hampir benar-benar terbang dibawa angin. Namun, dengan kerja sama yang solid, kami berhasil mengalahkan angin ganas itu. Tenda berdiri kokoh, dan makan malam tersaji meski dengan bumbu pasir yang tak terhindarkan. Malam itu kepalaku seolah sudah meraung-raung, meminta istirahat setelah seharian terjemur di pesisir pantai, berjalan tanpa henti dengan beban di punggung. Dengan berat hati, aku meninggalkan empat sau sau ku untuk tidur duluan. Maafkan aku sau, aku akan bangun pagi sekali, pikirku, berharap tubuh yang lelah ini bisa pulih untuk menghadapi hari esok yang lebih menantang.

BAB VI : Pagi yang Terlalu Dini. Benar saja, aku bangun tepat pukul 3 pagi, ketika langit masih kelam dan bintang-bintang masih setia menemani kegelapan. Menyiapkan sumber energi kami untuk hari ini–sarapan sederhana akan menjadi bekal menghadapi perjalanan panjang menuju garis finish. Tiga menit, waktu keramat yang diucapkan Ali dengan suara serak bangun tidur. Angka yang aku tahu tidak akan dia tepati. Dia tidur paling awal dan bangun paling akhir–kontradiksi yang membuat kepala pening. menghabiskan waktu untuk membangunkannya di jam 3 pagi, setelah dia menegosiasi untuk bangun tiga menit lagi, rasanya tidak worth it menurutku. Maaf, aku sedikit sentimental jika sudah berkaitan dengan perjanjian waktu dari Ali. Selalu terulang seperti ini, seolah waktu adalah konsep yang fleksibel baginya. Tapi itulah Ali–dengan segala sifat menyebalkannya.

BAB VII : Keajaiban di Tengah Perjalanan. Singkat cerita, pagi itu kami siap melanjutkan perjalanan sampai titik finish. Hari itu akan panjang, tapi siang itu kami mendapat rezeki yang sangat aku syukuri–mendapat tumpangan setelah berkali-kali aku berucap dalam hati, Ya Allah, semoga ada mobil yang rela mengangkut kami, bahkan sampai Karang Tawulan, walau sebenarnya tidak boleh menurut aturan pembimbing. Akhirnya benar, kami mendapat “kolbak” — tumpangan–dan turun agak maju dari titik yang seharusnya. Kadang keajaiban datang dalam bentuk yang sederhana, sebuah mobil yang berhenti, seorang sopir yang baik hati, dan beberapa kilometer yang tidak perlu ditempuh dengan kaki.

BAB VIII : Kesunyian yang Berbicara. Istirahat siang itu tepat di pinggir pantai yang kosong dan luas, bagaikan tidak ada kehidupan selain suara hembusan angin dan ombak yang tak henti-hentinya bernyanyi. Karang Tawulan sudah terlihat membelah cakrawala, membuat semangat terisi kembali setelah hampir terkuras habis. Tuh Karang Tawulan udah keliatan, kasih makan harapan kalian, ucap Kang Bilghi, aku hanya bisa mengelus dada dan bersabar. Perjalanan ini bukan hanya tentang fisik, tapi juga tentang mental yang diuji setiap saat. Hari itu, kami memiliki teman berbincang masing-masing yang unik–mendapati dua kelapa tiap orang merupakan anugerah hari itu yang tidak tergantikan. Rasa senang bisa “mengadopsi” dede utun dan dede itin–dua kelapa hijau dan coklat. Semua orang sudah error, kelapa diajak ngobrol, dicintai sepenuh hati. Mungkin inilah yang disebut kegilaan indah–ketika lelah dan bahagia bercampur aduk menjadi satu.

BAB IX : Garis Finish dan Kehilangan. Semakin mendekati karangya Karang Tawulan, adrenalin semakin naik. Tidak sabar untuk bersantai bermain di pantai yang hanya ada kami dan beberapa bapak-bapak yang sedang mencari udang–mungkin. Perjalanan selesai. Senyum mengembang dari semua sau sau AD. Akhirnya selesai juga perjalanan mabim ini. Namun kebahagiaan itu tidak berlangsung lama. Semakin besar ombak sore itu, laut seolah mengisyaratkan kami untuk berhenti bermain di situ. Kemudian terjadi sesuatu yang tak terduga–syal sau Tere terbawa ombak. Tertelan gelombang yang ganas, panik dan kesedihan terpancar dari wajah sau Tere. Tidak tega melihatnya. Aku tidak melihat kronologisnya karena saat itu aku sedang menghandle driver pulang kami yang ternyata sudah sampai di titik penjemputan. Teresa menangis, semakin menyayat hati. Ganasnya ombak bisa membuat syal kuning itu terlepas dari leher dia, terbawa entah ke mana oleh lautan yang tak kenal ampun. Setelah menunggu dengan harapan-harapan syal itu kembali, kami berhenti menunggu. Memutuskan pergi ke tempat titik penjemputan, meninggalkan syal yang entah sudah terbawa ombak sampai mana.

BAB X : Terima Kasih, Pantai Selatan. Terima kasih, Pantai Selatan, atas perkenalan dengan wujud aslimu. Diam-diam ganas dan liar, mengajarkan banyak arti kehidupan yang tak bisa didapat di dalam kelas atau buku-buku tebal di perpustakaan. Engkau mengajarkan tentang kerendahan hati dihadapan alam, tentang kekuatan yang tersembunyi di balik keindahan, tentang kehilangan yang tak terhindarkan dalam setiap perjalanan. Terima kasih kepada semua yang berkaitan dengan perjalanan ini — sau sau ad yang berjuang bersama, pembimbing yang memberi arahan, dan tentunya kepada diri sendiri yang berhasil menyelesaikan ujian terakhir ini. Mabim susur pantai telah berakhir, tapi jejak-jejak yang tertinggal di pasir akan terus terbawa sampai kapan pun. Setiap langkah adalah pembelajaran, setiap tetes keringat adalah investasi karakter, dan setiap senyum di akhir perjalanan adalah bukti bahwa kita lebih kuat dari yang kita kira. Di sinilah berakhir kisah mabim terakhir kami — di antara deburan ombak yang mengajarkan tentang kekuatan, di bawah langit yang membentangkan harapan, dan di tengah persahabatan yang terjalin erat melalui perjuangan bersama.

Palawa Unpad, sampai jumpa di petualangan selanjutnya.


메타데이터
post_id
7fc98cdf1402
slug
jejak-terakhir-di-garis-pantai-7fc98cdf1402
url
https://medium.com/@mikeyfeels/jejak-terakhir-di-garis-pantai-7fc98cdf1402
canonical_url
https://medium.com/@mikeyfeels/jejak-terakhir-di-garis-pantai-7fc98cdf1402
author_url
https://medium.com/@mikeyfeels
status
ok
fetched_at
2026-07-19 15:34:48