← Back to list

Berbicara dengan duka

Tepat pukul sepuluh malam tadi, aku melanjutkan buku bacaanku mengenai “ketenangan”. Dalam buku itu, aku membaca kembali Matius 11:28–30…

Ellen · 2026-04-01 16:07 · 1 claps · 2.5 min read
#grief #berduka #grief-and-loss
Open on Medium ↗
Wiki topics: AI · AI · General 🧠 · Mental Wellness

Berbicara dengan duka

Tepat pukul sepuluh malam tadi, aku melanjutkan buku bacaanku mengenai “ketenangan”. Dalam buku itu, aku membaca kembali Matius 11:28–30. Kali ini rasanya berbeda, aku merasa sedikit lebih memahami maksud dari “kuk” yang disampaikan oleh Yesus.

Aku melihat kalender, dan menyadari, “ah, bulan April ya.” Di tahun ke-3 ku di Taiwan, aku mengenal istilah anniversary reaction, yaitu reaksi emosional yang muncul menjelang atau saat tanggal penting terkait kehilangan atau trauma.

Papa dipanggil oleh Tuhan pada tanggal 27 Mei 2017. Hari pertama puasa pada tahun itu. Aku masih ingat reaksi histeris mamah saat menerima telepon dari pamanku, yang mengabarkan bahwa papah masuk rumah sakit.

“Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Ku pun ringan”-Matius 11:30

Aku merasa bahwa, berat ya hidupku sejak tidak ada papah. Bisa dibilang, aku dan papah sangat dekat. Papah adalah pendengar yang sangat baik, meskipun respon beliau terkadang terasa agak dipaksakan dan seperti berpura-pura keren, tapi justru itu yang membuat papah istimewa. Karena aku tahu, papah selalu berusaha merespon dan menyimbangi-ku, hahaha.

Jumat Agung tahun ini, aku mendapat tugas di gereja. Aku akan membacakan Alkitab saat ibadah nanti. Rasanya, aku tidak bisa berbohong, ada rasa sedih dan kosong.

Aku tidak tahu apakah para pejuang kedukaan melakukan hal yang sama denganku, tetapi karena papah dulu rutin menjadi pembaca Alkitab di gereja, ungkapan pertama yang keluar saat aku diminta untuk membaca adalah

“Coba papah masih ada ya, gimana ya perasaan papah kalau lihat aku?”

Walau rasa sedih dan kosong itu ada, aku tetap mengiyakan permintaan tersebut. Karena, aku memang mau, haha.

Rasanya membicarakan duka ini tidak akan pernah selesai seumur hidupku, dan akan tetap terasa berat. Karena tidak semua orang nyaman membicarakan seseorang yang sudah meninggal. Padahal, terkadang saat ada momen yang mengingatkanku pada papah, aku hanya ingin berbagi cerita.

Kadang respon teman-temanku sesuai dengan yang aku harapkan, hangat dan menyenangkan. Tapi terkadang juga terasa canggung, apalagi ketika mereka sadar bahwa papaku sudah almarhum. Padahal, ya aku cuma ingin mengenang kenangan saja.

Aku tahu, ditinggal meninggal memang identik dengan kesedihan dan kehilangan. Tapi lihat, aku masih berdiri dan tetap hidup. Aku tau reaksi bersedih ini seperti jam dalam tubuhku, yang mungkin akan terus berulang dan menjadi siklus. Dan aku menuliskan ini sebagai bukti bahwa aku kuat.

Bergandengan dengan duka dan kesedihan selama 9 tahun bukanlah waktu yang singkat. Selama 9 tahun juga aku masih mengingat kalimat terakhir yang papah ucapkan

“Papah kerja dulu ya, papah sayang Ellen.”

Dan aku sering membayangkan

“Kalau waktu itu aku tahan papah untuk tidak pergi kerja gimana ya?”

“Kalau waktu itu aku sempat peluk papah gimana ya?”

Melakukan hal yang sama setiap mendekati hari kepergian papah selama 9 tahun membuatku mulai terbiasa dengan duka. Perasaan berduka tidak akan pernah hilang sepenuhnya, ia akan tetap ada.

Setiap orang memiliki caranya sendiri dalam menghadapi kedukaan. Aku juga yakin, duka ku dan duka orang lain tidaklah sama. Kesamaan kami mungkin hanya satu perasaan “kosong”.

Tidak semua orang kuat menerima duka, dan tidak semua orang bisa menjalani hidup dengan normal setelahnya. Ada yang menjadi lebih dekat dengan Tuhan, ada yang justru menjauh, dan ada juga yang terjebak di satu momen tanpa bisa bergerak maju. Aku tidak akan mengkoreksi cara orang berdamai dengan duka, pun memberi saran, karena sekali lagi, cara kami menerimanya tidak sama.

Hal yang kulakukan untuk move on, meskipun aku bersedih, adalah tetap berusaha hidup sebaik mungkin dengan duka itu. Berusaha menjadi berkat bagi sekitarku. Karena aku tahu, siapapun yang akan pergi lebih dulu nantinya, aku ingin memastikan bahwa tidak ada penyesalan dalam setiap pertemuan yang kita miliki.

“No matter what, the two of us have to live our lives with no regrets!” — Portdgas D. Ace


메타데이터
post_id
7ffebb19bf65
slug
berbicara-dengan-duka-7ffebb19bf65
url
https://medium.com/@ellenapk.11/berbicara-dengan-duka-7ffebb19bf65
canonical_url
https://medium.com/@ellenapk.11/berbicara-dengan-duka-7ffebb19bf65
author_url
https://medium.com/@ellenapk.11
status
ok
fetched_at
2026-07-29 14:54:16