← Back to list

Not yet.

Rasanya Ghanesa bukan sedang di gedung FIP, semua sudah disulap total. Tidak ada lagi sisa-sisa cat tembok kusam atau lantai koridor yang…

Daii · 2026-07-04 05:16 · 221 claps · 5.9 min read
#russtappen #george-russell #max-verstappen #formula-1 #fanfiction
Open on Medium ↗
Wiki topics: ✍️ · Writing & Creative

Not yet.

Rasanya Ghanesa bukan sedang di gedung FIP, semua sudah disulap total. Tidak ada lagi sisa-sisa cat tembok kusam atau lantai koridor yang berderit. Dekorasi elegant membuat gedung utama terasa seperti lobi hotel bintang lima. Ghanesa menapakan kaki disana bukan sebagai mahasiswa yang dulu sering telat masuk kelas, melainkan sebagai seseorang yang dunianya kini berputar di balik lensa kamera dan lampu sorot.

Panitia menyediakan kamar yang bisa Ghanesa tinggal selama dua malam, maka dari itu sebenarnya Ghanesa sudah di kota ini dari kemarin. Waktu yang cukup untuk mempersiapkan diri. Ghanesa keluar dari pintu mobil dengan tenang, menyesuaikan pakaian yang sempat kusut. Baru saja ia menutup pintu Mercedes-nya, serombongan panitia — Ketua BEM, Ketua Pelaksana, dan Koordinator Acara — sudah menunggu di pintu masuk.

“Bang Ghanes! Gimana istirahatnya cukup?” sambut koordinator acara yang sebelumnya selalu bertukar kabar dengan Cantika — manager Ghanesa.

“Aman, makasih loh sampe pesenin breakfast ke kamar.” Ucap Ghanesa sambil tersenyum lebar.

Hilang sudah kepribadiannya saat masih menjadi mahasiswa dulu. Gesturnya kini luwes, tangannya ia arahkan untuk menepuk bahu mereka satu per satu dengan hangat. Rasanya bangga melihat adik tingkatnya — yang sama-sekali tidak dia kenali — sukses menyelenggarakan acara besar. Sepanjang koridor menuju ruang VIP, obrolan mereka mengalir ringan. Ghanesa menanyakan perkembangan fakultas, sesekali melempar candaan soal gedung FIP tidak pernah lebih dari 3 lantai sampai sekarang. Benar-benar terlihat seperti alumni yang mengayomi, tidak sedikitpun terlihat sebuah celah yang menunjukkan bahwa selama 6 tahun ia sangat menghindari tempat ini.

Saat pintu ruang VIP terbuka, hawa dingin ac menyambut. Di sofa kulit berwarna cokelat tua, Mahendra sedang duduk bersama seorang pria paruh baya berkacamata tebal — mungkin staf ahli, mungkin juga dosen senior — sedang sibuk menunjukkan sesuatu di dalam tablet.

Mahendra terlihat sedikit lebih matang, garis rahangnya lebih tegas, dan kentara sekali bahwa dibalik setelan kemeja biru dongker yang dikenakannya, ada kesan lelah yang ia coba simpan dalam-dalam. Ketua BEM melangkah lebih dulu menghampiri Mahendra yang reflek berdiri. Ghanesa mengekor di belakang dengan tenang, sementara panitia lainnya berdiri sejajar di sisi kanan dan kiri Ghanesa, menciptakan formasi formal, kemudian dua kubu itu saling berhadapan.

“Prof, ini Bang Ghanesa, alumni FIP sekaligua Guest Star kita hari ini,” bisik Ketua BEM pelan di telinga Mahendra.

Disaat yang sama, Ketua Pelaksana menyenggol lengan Ghanesa, seraya berbisik, “Ini Prof Mahendra, Dekan FIP periode ini, Bang.”

Ghanesa menatap pria di depannya lurus-lurus. Matanya tidak berkedip sedetikpun, raut wajahnya sebisa mungkin ia kontrol. Wow, udah jadi Dekan ya ternyata. Rasa bangga tiba-tiba menyeruak di dadanya, ia sudah berhasil. Ia benar-benar tidak tahu apapun sooal kehidupan Mahen selama enam tahun terakhir. Ghanesa berhasil.

Mahendra mengulurkan tangan, dengan sigap Ghanesa langsung menyambutnya.

Detik saat telapak tangan mereka bertemu, ada sentakan halus yang merambat dari ujung jari hingga ke pangkal nadi. Rasanya seperti ada sisa aliran listrik yang sempat terputus dan kini mendadak tersambung kembali, menyengat sampai ke tulang belakang.

Kilas balik yang selama ini Ghanesa kubur dalam-dalam, menyerang tanpa ampun. Ia melihat semuanya. Bayangan Mahendra yang merengkuhnya diatas kasur, suara rendah Mahen ketika memanjakan atau menegurnya, hingga sensasi cengkeraman tangan Mahendra di pinggangnya pada malam-malam yang dulu pernah mereka bagi. Segalanya berkelebat dalam satu detik, memutar semua memori yang seharusnya sudah terhapus dari ingatan Ghanesa.

Satu kesimpulan menghantam dada Ghanesa dengan telak: Dia. Masih. Sayang. Mahendra.

Namun, Ghanesa yang sekarang adalah seseorang yang sudah ditempa kerasnya industri hiburan. Tentu saja ia mahir berakting, senyumnya tidak goyah. Ia menahan napas sejenak, membiarkan aliran listrik itu mereda, lalu menarik tangannya dengan sopan ketika tiba waktunya.

“Senang bertemu dengan anda, Prof Mahen,” ucap Ghanesa. Nadanya sangat ramah, terlampau ramah seolah-olah tidak pernah ada masalah diantara mereka.

“Saya juga senang bertemu kembali, Ghanesa,” balas Mahendra tidak kalah tenang.

Obrolan dimulai, dipimpin oleh ketua BEM dan jajaran panitia. Mereka membicarakan acara secara general, rundown panggung, hingga beberapa sponsor termasuk Raksanagara. Terus mengalir dikarenakan sengaja mengulur waktu sampai nanti Ghanesa mengisi talkshow di panggung utama.

“Materi talkshow nanti kita bagi jadi tiga segmen utama, Prof, Bang,” ujar Koordinator Acara sambil menunjuk rundown di meja. “Segmen pertama fokus ke perjalanan karier Bang Ghanes di dunia modeling dan influencing.”

Mahendra mengangguk, sorot matanya tajam menatap kertas, namun sesekali melirik sang bintang tamu. “Bagus. Pastikan relevansinya dengan tantangan pendidikan di era digital tersampaikan ya.”

“Tentu, Prof,” jawab Ghanesa cepat, nada bicaranya sangat mantap karena sudah terlatih untuk bersikap profesional. “Saya pribadi juga berniat menekankan bahwa karier yang saya jalani ini tidak lepas dari disiplin ilmu yang saya dapatkan di FIP dulu. Dasar-dasar edukasi di kampus sangat membantu saya membangun komunikasi publik.”

Mahendra hanya mengangguk tipis. Ketua Panitia melirik jam di pergelangan tangannya. “Mohon maaf, waktu kita tinggal lima menit sebelum Bang Ghanes harus standby di backstage.”

Semua orang bangkit, memberi isyarat diskusi selesai.

“Baik. Terima kasih kerja samanya, Ghanesa.”

“Terima kasih kembali, Prof.”

Mereka bersalaman lagi. Senyum sopan Ghanesa kembali ditampilkan, walaupun sebenarnya jantungnya brdegup tak beraturan. Ia menarik diri dengan gerakan santai, berakting seolah ini hanya pertemuan antara alumni dan dekan yang biasa saja.

Begitu pintu ruang VIP tertutup, Ghanesa membiarkan nafasnya terlepas. Ia melangkah menuju backstage dengan punggung tegak. Sesampainya di balik tirai hitam, ia menyandarkkan bahu ke dinding dingin. Ia memejamkan mata, menenangkan sengatan listrik yang masih tersisa di telapak tangannya.

Saat namanya dipanggil, raut wajah ceria, ramah, dan bahagia langsung ditampakkan. Acara berjalan lancar dan mendapatkan respon yang sangat baik. Bukan karena memang ada penggemar Ghanesa yang mendaftar untuk mengikuti sesi ini, tapi karena ia menyampaikan bahwa menggunakan relasi bukanlah hal yang memalukan selama seseorang memiliki kapasitas. Ghanesa menegaskan bahwa relasi hanya pembuka pintu, potensi dan effort lah yang menentukan apakah seseorang bisa bertahan atau justru tersingkir. Ia menekankan bahwa jangan sampai ada yang meremehkan bakat seseorang hanya karena mereka memiliki akses lebih mudah, sebab tanpa kerja keras, nama besar takkan bisa menjamur menjadi kesuksesan.

“Setiap saya ngisi acara semacam talkshow, pasti selalu ada pertanyaan sejenis kayak gini,” respon Ghanesa sambil terkekeh setelah mendapatkan pertanyaan ‘apakah tulisan nepo baby di bio seluruh sosmed milik Ghanesa akan terpampang selamanya?’

“Kalau jawaban seriusnya, mungkin iya. Akan terpampang selamanya. Sebab saya gak mau menyangkal bahwa yang membuka pintu ini semua yaa Abah saya sendiri. Beliau bahkan rela membuat anak perusahaan dari Raksanagara Group hanya karena saya berminat pada industri ini. Adanya kesempatan yang beliau beri untuk saya, membuat saya menemukan bakat dan potensi saya, kemudian juga membuat saya bertemu dengan orang-orang yang menyayangi dan mendukung saya dengan tulus. ” Tatapannya lurus memandang seluruh audience satu per satu, menunjukkan bahwa ia mengatakan semua ini dari hati terdalam, terutama untuk para penggemarnya yang sedari awal menjadi tameng si Nepo Baby ini.

“Kalau jawaban bercandanya, saya hapus kalau antrian kontrak darah dari para brand udah selesai. Yaa wajar sih pada ngantri…” Ghanesa menaik turunkan alisnya sembari mengusap dagu, memicu gelak tawa dari para audiens.

Ghanesa dengan face card-nya.

“Jadi, tulisan di bio itu cuma formalitas aja menghormati Abah saya. Aslinya kalian bisa lihat sendiri, atau biarkan portofolio saya yang berbicara, Terimakasih.”

Tepuk tangan pecah dan masih diiringi gelak tawa.

Sesi foto kenang-kenangan menyusul. Ia menerima cinderamata fakultas dengan senyum manis, lalu berfoto kembali sebagai perwakilan Raksanagara Group menerima plakat penghargaan sponsor. Flash kamera berkedip, mengabadikan sosoknya yang kini sangat cemerlang, jauh dari sosok mahasiswa yang dulu banyak mengulang mata kuliah.

Begitu sesi foto selesai, Ganesha kembali ke ruang VIP bersama jajaran panitia yang tadi pagi mendampinginya. Sesampainya di sana, ia mengedarkan pandangannya ke seisi ruangan. Kosong. Mahendra sudah tidak ada.

Ada rasa syukur yang mendalam, ia tidak perlu terusik, tidak perlu berakting lagi. Namun, ada lubang kososng yang menganga di dadanya. Ada kesedihan asing yang menyelinap, ada rasa kehilangan yang entah kenapa bisa hadir, padahal Ghanesa tidak kehilangan apa pun.

Beberapa panitia mengurus honorarium yang diserahkan kepada Cantika. Ghanesa hanya mengamati sambil duduk dengan formal, kaki diselangkan elegen, membiarkan mereka bicara.

“Mau makan prasmanan dulu di ruang sebelah, Bang? Panitia siapkan khusus buat tamu,” tawar Ketua Pelaksana

Ghanesa tersenyum sopan. “Makasih banyak , tapi gua harus langsung ke hotel nih, mau flight nanti sore.”

Cantika sigap mengambil tas dan memberi kode bahwa sesi berakhir. Ghanesa bangkit, menyalami dan menepuk bahu semua panitia yang ada disana, lalu melangkah keluar dari ruangan dan gadung fakultas.

Di depan gedung, mobil yang disiapkan sudah menanti. Namun, tepat saat Cantika berbelok untuk membukakan pintu, sesosok pria berdiri tak jauh dari sana.

“Ghanesa?” sapa Langit, terkejut.

Ghanesa berhenti, senyum tulus yang hangat terbit di wajahnya. “Pak Langit!! Wahh apa kabar, Pak?”

Keduanya terlibat pembicaraan yang sekedar basa basi. Kali ini Ghanesa tidak berakting, ia benar-benar senang bertemu Langit. Langit juga tidak sedikitpun menyinggung Mahendra sehingga Ghanesa merasa tenang.

Safe flight buat nanti sore, sukses terus ya, Nes,” ucap Langit tulus.

Ghanesa masuk ke dalam mobil sambil berpamitan sekali lagi. Begitu mobil bergerak menjauh, ia menyandarkan kepalanya ke kaca jendela, membiarkan sisa napas terakhir dari pertempuran hari ini terlepas. Ia berhasil melewatinya. Dan kini ia harus kembali ke dunianya yang tenang dan baik-baik saja selama 6 tahun ini.

leave a little sign if you’re here 🫶

from Asdos AU @Daily3363 on X

tbc

with love, daii


메타데이터
post_id
802edcaee63d
slug
not-yet-802edcaee63d
url
https://medium.com/@Daily3363/not-yet-802edcaee63d
canonical_url
https://medium.com/@Daily3363/not-yet-802edcaee63d
author_url
https://medium.com/@Daily3363
status
ok
fetched_at
2026-07-23 22:19:12