Khā’: Huruf yang Tersamarkan dalam X
Huruf khā’ (خ) kita jumpai dalam wahyu Qur’ani pertama kepada Nabi Muhammad saw, yaitu melalui kata خَلَقَ (menciptakan).
Khā’: Huruf yang Tersamarkan dalam X
Huruf khā’ (خ) kita jumpai dalam wahyu Qur’ani pertama kepada Nabi Muhammad saw, yaitu melalui kata خَلَقَ (menciptakan).

Ilustrasi huruf khā. (sumber)
Sebuah “Appetizer”
Bila kita cermati lima ayat pertama yang diwahyukan, terdapat hal yang unik, yakni terjadinya pengulangan pada kata beberapa kata. Perhatikan ayat-ayat populer berikut:
اِقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِيْ خَلَقَۚ ١
خَلَقَ الْاِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍۚ ٢
اِقْرَأْ وَرَبُّكَ الْاَكْرَمُۙ ٣
الَّذِيْ عَلَّمَ بِالْقَلَمِۙ ٤
عَلَّمَ الْاِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْۗ ٥
Kata iqra’, rabb, insān, dan khalaqa masing-masing mengalami pengulangan dua kali. Menariknya lagi, kata ism (nama) juga akan terulang saat basmalah disertakan.
Huruf yang Tersamarkan
Khā’, menurut Michael Beard dalam *Kha is for Mohair, *secara tradisi merupakan bunyi yang bagi penutur bahasa Inggris terdengar sebagai sesuatu yang ‘lain’, bunyi yang sering digunakan untuk menyiratkan aksen asing (Skotlandia, Yiddish, Rusia). Kita sudah cukup akrab dengan bunyi kha. Ia memang terasa sebagai orang luar, tetapi orang luar yang sudah dikenal. Masih ada bunyi-bunyi yang lebih asing.
Bagi penutur bahasa Inggris, khā mungkin terdengar sekadar seperti huruf h yang telah keluar dari batasnya dan mulai bergesekan dengan langit-langit mulut — sebuah h yang menyelinap mendekati bunyi k.
Dalam film 300 (2006) yang disutradarai Zack Snyder — dan kritikus film Alex von Tunzelmann dari The Guardian menyebutnya sebagai *Snyder’s 300 is an epic fail, atau Paul Arendt dari BBC menyebutnya sebagai [A Valentine to Violence](https://www.bbc.co.uk/films/2007/03/19/300_2007_review.shtml#:~:text=%22A%20VALENTINE%20TO%20VIOLENCE%22,it's%20kind%20of%20a%20masterpiece.)— *nama kaisar Persia Xerxes (519–465 SM) dinarasikan.
Xerxes, dalam film itu diucapkan sebagai zérksiz, nama Persianya sendiri adalah خشایارشا (Khasyāyarsyā). Rupanya huruf khā’ ditranskripsikan di Barat menjadi huruf X (lalu dibacanya Z). Alkitab menyebut sosok ini sebagai Ahasyweros (Ester 1 dan Ezra 4:6).
Suara “z” dalam bahasa Inggris yang terkait dengan huruf X, menurut Wikipedia, tidak berasal langsung dari Chi (Χ) Yunani, yang awalnya mewakili /kʰ/ (aspirasi kuat) dan kemudian berevolusi menjadi /x/ (guttural seperti “kh” dalam bahasa Yunani modern). Perjalanan rumitnya dimulai saat Yunani Kuno menggunakan Χ untuk /ks/ di dialek Barat (sebelum dipisah menjadi Xi Ξ untuk /ks/ di dialek Timur), lalu diadopsi Etruria/Latin sebagai X untuk /ks/ standar; baru di Inggris abad pertengahan, /ks/ bergeser menjadi /gz/ (seperti xylophone) melalui asimilasi fonetik sebelum vokal, menciptakan ilusi “z” yang sebenarnya adalah variasi kontekstual, bukan transformasi langsung dari Chi.
Berbeda halnya dengan bahasa Yunani dan Latin, bahasa Persia dan bahasa Arab memiliki kesamaan lebih dekat dalam huruf khā’. Penjelasan Michael Beard berikut menggambarkan dengan cukup jelas:
Gelar Persia khājeh (yakni khwājeh — tuan, majikan, pemilik, ditulis dengan huruf ‘W’ senyap yang sama) merupakan asal-usul dari kata hoca dalam bahasa Turki (guru, cendekiawan), dan hoxha dalam bahasa Albania, seperti pada nama Enver Hoxha (1908–1985).
Ketika kata Persia khājeh/khwājeh ini bermigrasi ke dunia Arab sebagai kata serapan, ejaan Persia-nya tetap dipertahankan. Karena dalam bahasa Arab tidak ada alasan fonologis untuk membiarkan huruf ‘W’ tetap senyap, maka huruf ‘W’ yang sebelumnya tidak dibaca tersebut kini mulai diucapkan. Alhasil, ejaan khwājah yang diucapkan dalam bahasa Arab mendapatkan tambahan satu suku kata (di antara huruf ‘Kha’ dan huruf ‘W’ yang sekarang berbunyi): kata tersebut menjadi khawāja (dengan penekanan pada suku kata kedua).
Dalam dialek Mesir, kata ini berubah menjadi khawāga (dengan bunyi ‘G’ yang keras). Di Mesir, khawāga telah menjadi istilah untuk menyebut orang Barat. (“Saya melihat seorang khawāga di jalan hari ini.” “Kamu terlihat persis seperti seorang khawāga.” “Apakah setiap khawāga itu seorang khunfus [hippi]?”).
Jadi, gelar khwājeh yang dulunya merupakan gelar kemuliaan, seiring perjalanannya ke arah Barat, berubah menjadi sinonim untuk khārijî — seorang pendatang atau orang asing.
Dunia literatur Spanyol memiliki novel fenomenal Don Quixote de la Mancha karya Miguel de Cervantes (1605). Kisahnya sendiri tentang Alonso Quixano, seorang pria tua yang terobsesi buku kesatria hingga menjadi Don Quixote, berpetualang bersama pelayan setianya Sancho Panza sambil mancampuradukkan realitas dengan khayalan. Don Quixote, misalnya, menyerang kincir angin yang ia anggap sebagai raksasa dan melihat domba sebagai pasukan musuh. Akhirnya, ia sadar dari delusinya dan meninggal sebagai dirinya sendiri dengan tenang.
Harold Bloom (2003) dari *The Guardian, mengatakan bahwa Don Quixote* adalah novel modern pertama, dan bahwa tokoh utamanya bertentangan dengan prinsip realitas Freud, yang menerima kenyataan bahwa kematian adalah sesuatu yang tak terhindarkan. Bloom mengatakan bahwa novel tersebut memiliki beragam makna yang tak terbatas, namun tema yang terus muncul adalah kebutuhan manusia untuk bertahan menghadapi penderitaan.
Sementara menurut *Britannica*, kritik pada akhir abad ke-20 mulai berfokus pada perhatian Cervantes terhadap peristiwa ekonomi dan sejarah kontemporer. Pengusiran Moriscos pada 1609 (Moor yang dipaksa berpindah agama), tata kelola koloni luar negeri Spanyol yang benar, serta eksploitasi budak Afrika sering dianggap sebagai topik polemik terselubung bagi pembaca Don Quixote yang waspada.
Namun, seperti halnya dari film *300 (2006) kita mendapatkan nama Xerxes yang berhubungan dengan huruf khā’, demikian juga dari Don Quixote. Dalam bahasa Spanyol kita membacanya Don Kikhoté dengan bunyi mirip khā’ pada silabel ki-kho-té, kendati lebih lembut. Sementara dalam pengucapan bahasa Indonesia disederhanakan menjadi Don Kisot. Kembali, kita menemukan jejak huruf khā’ *dalam huruf X.
Xerxes dan Quixote membawa kita kepada nama Xadica dan Xalid. Dari jejak bincangan kita sebelumnya dengan mudah kita menebak kedua nama terakhir tersebut sebagai Khadijah dan Khalid. Kita mendapatkan nama-nama berikut sebagai contohnya: Xadica Aliyeva (atau Xədicə Əliyeva dalam ejaan Azerbaijan) yang maksudnya Khadijah Alawiyah; atau Xalîd Reşîd (Khalid Rasyid), dari etnis Kurdi kelahiran Irak.
Kembali menyitir khalaq sebagai kata pertama yang diawali dengan huruf khā’ ternyata sangat menarik bila dikaitkan dengan teori huruf di kalangan para sufi. Menurut tradisi esoteris yang dikaitkan dengan Ibnu ‘Arabi dalam al-Futūhāt al-Makkiyyah, huruf khā’ (خ) melambangkan manifestasi wujud Ilahi yang terkait sifat dinamis penciptaan.
Hal serupa ditemukan dalam pandangan Al-Buni di Shams al-Ma’arif, yang memandang khā’ sebagai huruf kuat dari makhraj ḥalq (tenggorokan) dengan sifat hams (hembusan halus) dan rakhwah (lembut), termasuk dalam unsur tanah (bersama ḥā’, lām, ‘ayn, rā’, dan ghayn) untuk keseimbangan kosmik dan praktik spiritual seperti ilmu huruf (jafr).
Keduanya melihat khā’ sebagai kunci kosmologi sufistik yang mengalir dari Dzat Ilahi ke alam jamad (kekokohan). Tidak sulit untuk menangkap implikasi makna khalaqa dari penjelasan kedua sufi tersebut.
Khā’ dalam Anekdot Keledai
Sebuah anekdot bernuansa khā’ dirasa cukup adil untuk menutup bincangan tentang huruf yang terhitung ribet mengucapkannya ini:
Kata ḥimār dalam bahasa Arab, yang berarti keledai, adalah khar dalam bahasa Persia. Sama seperti dalam bahasa Arab atau Inggris, kata khar dalam bahasa Persia juga berguna sebagai bahan hinaan.
Majalah satire Iran, Towfiq, yang populer di Iran hingga akhirnya ditutup pada tahun 1971, mengimajinasikan sebuah partai politik yang disebut Partai Keledai, ḥezb-e kharân (khar ditambah dengan sufiks jamak). Saya diberi tahu bahwa pada masa kejayaan Towfiq, para editornya merasa kecewa mendengar rumor bahwa Sang Syah (Raja) menganggap lelucon tentang ḥezb-e kharân itu lucu.
Ini adalah dilema yang selalu dihadapi oleh para penulis satire: Anda tidak ingin terdengar terlalu ‘jinak’, tetapi Anda juga tidak ingin pihak berwenang menutup usaha Anda. Keberanian mengambil risiko (edginess) adalah produk Anda. Di kantor Towfiq, mereka tidak perlu khawatir akan terdengar jinak — setidaknya tidak untuk waktu yang lama. Pada akhirnya, batas toleransi Sang Syah pun habis (Beard, Kha is for Mohair). []
메타데이터
- post_id
- 8048ff8d9ea4
- slug
- khā-huruf-yang-tersamarkan-dalam-x-8048ff8d9ea4
- url
- https://medium.com/@dodikurniawan71/kh%C4%81-huruf-yang-tersamarkan-dalam-x-8048ff8d9ea4
- canonical_url
- https://medium.com/@dodikurniawan71/kh%C4%81-huruf-yang-tersamarkan-dalam-x-8048ff8d9ea4
- author_url
- https://medium.com/@dodikurniawan71
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-12 00:17:29