← Back to list

CHAPTER 1

“TOMO! Tolong aku!” Sesosok siluet laki-laki seumuran berteriak dari sisi kanan. Tangannya tergenggam mengaduh kesakitan. Tubuhku tergerak…

A sleeping pills crafted by Misabe in'omamitake · 2024-12-17 23:42 · 0 claps · 8.3 min read
#zombies #apocalypse #indonesia #konyol #fiksi
Open on Medium ↗

CHAPTER 1

“TOMO! Tolong aku!” Sesosok siluet laki-laki seumuran berteriak dari sisi kanan. Tangannya tergenggam mengaduh kesakitan. Tubuhku tergerak, hendak menolong. Aku berlari ke arahnya. DRAP! DRAP! DRAP!

“LEMPAR GRANATNYA, TOMO!” Sesosok siluet seorang laki-laki dewasa berteriak — sekarang dari sisi kiri — memotong langkahku. Aku menoleh. Baru kusadari di tangan kananku tergenggam sebuah granat. Haruskah aku melemparnya?

Belum sempat aku melempar granat — yang entah hendak kulempar kemana. Dari pandanganku terlihat siluet lain datang menghampiri siluet laki-laki dewasa. Melompat lalu merobek kakinya dengan brutal. Siluet darah terciprat kemana-mana.

“ARGH KAKIKU!” Siluet laki-laki dewasa itu mengaduh kesakitan.

Aku — tidak sanggup. Kebingungan.

Siapa mereka?

Sebenarnya dimana aku?

Mengapa ini terasa begitu nyata?

Tunggu. Kenapa aku merasa seperti berputar dan melayang, melihat tubuhku sendiri terdiam memegang granat tanpa kepala? Pandanganku di atas tanah mulai memudar, beserta semua kebisingan itu.

BRUK! Aku terjatuh dari kasur. Hanya sebuah mimpi.

Nafasku ngos-ngosan. Keringat membasahi tubuhku. Perlahan aku mencoba untuk menstabilkan alur nafas. Beberapa saat, tempo nafasku kembali stabil. Mimpi yang aneh, terasa seperti baru saja mengalami deja vu, seakan aku pernah mengalami sebelumnya. Namun entahlah, sepertinya hanya mimpi buruk biasa. Lebih baik untuk tidak terus dipikirkan.

KRING! Suara alarm diatas meja memecah lamunan. Aku menoleh, waktu menunjukkan pukul 6.00. Aku harus segera bersiap untuk pergi ke kampus. Ada mata kuliah pagi hari ini. Kembali ke realita.


Mandi di pagi hari benar-benar menyegarkan! Keringat yang membasahi tubuhku tadi kini sudah hilang bersama dengan air sejuk Kota Semarang ini. Meskipun sebenernya tidak terlalu sejuk, karena pada siang hari, air di Kota Semarang akan terasa seperti air hangat. Kota ini sebenarnya panas!

Aku tinggal di rumah tua ini sendirian, letaknya tidak terlalu jauh dari perkotaan. Namun dapat dipastikan bahwa lingkungan sekitar rumahku ini masih terjamin asri dan sejuk. Mengapa demikian? Lokasi rumah ini sebetulnya agak menjorok masuk kedalam kawasan pepohonan yang lebat. Mirip hutan tetapi bukan hutan. Begitulah kondisi singkatnya.

Rumah tua sederhana ini tidak terlihat begitu indah seperti rumah-rumah komplek besar yang biasa kalian bayangkan. Hanya tersusun dari tembok dan sebagian kayu pada bagian atasnya. Memiliki dua kamar. Tetapi tetap nyaman dihuni. Karena rumah ini merupakan warisan mendiang pamanku. Beliau memberikan rumah ini sebelum ajal menjemputnya , mengatakan bahwa terlalu sayang jika rumah ini dijual, jadi diberikan saja kepadaku, bertepatan juga setelah mendaftar kuliah di Semarang.

Ah, aku merindukannya. Kini yang tersisa hanya ini, dan aku harus merawatnya.

Baiklah aku harus bersiap-siap. Aku menuju ke dapur, segera menggoreng sebutir telur, lalu mengambil nasi sisa semalam dari penanak nasi. Melangkah ke ruang tamu untuk menghidupkan TV dan melihat sosial media.

TV telah menyala.

‘Berita Internasional hari ini.

Indonesia dan Jepang dikabarkan sedang dalam proses melakukan proyek kerjasama dalam bidang kesehatan — ‘ Aku mematikan televisi, sambil menyendoki nasi ke mulut. Kukira Shingeki no Kyojin akan tayang pagi ini, ternyata tidak. Jadi kumatikan saja.

Aku menengok ke arah jam —

Sudah pukul enam lebih empat puluh!?

Tidak terasa waktu berlalu begitu cepat. Aku menghabiskan waktu di kamar mandi terlalu lama. Dengan segera aku lahap seluruh sarapan dan menyudahinya. Bergegas mengambil tas di kamar, menuju keluar, menghidupkan sepeda motor astrea klasik di garasi, mengunci pintu, lalu bergegas sekencang mungkin. Kulakoni kehidupan mahasiswa biasa yang tidak ada menariknya.

Melewati Kota Semarang yang padat ini.


Patung kuda besar itu menyambutku. Berada di kawasan yang terbilang ‘agak’ dataran tinggi, membuat hawa sejuk di pagi hari seolah mengguyurku setibanya aku disana. Terlihat banyak mahasiswa bergolongan ningrat datang satu-persatu dengan kendaraan pribadi — memarkir mobil mereka. Murid-murid tersebut berasal dari ras yang berbeda-beda, mengingat bahwa Indonesia kini juga sudah berubah. Ada yang berasal dari Jawa murni seperti aku, Eropa, Asia Timur, campuran, dan lain sebagainya, di kelas biasa, bukan kelas internasional. Muka mereka tampak malas. Jujur saja, aku juga merasakan hal yang sama.

Cukup mengobservasi sekitar, aku segera pergi menuju kelasku yang terletak di lantai tiga. Beruntung waktu masih menunjukkan pukul 6.55. Tak boleh berlama-lama lagi, aku segera berlari. Diikuti beberapa teman sekelasku yang juga baru sampai.

“Morning, Tom!” Seorang teman sekelasku, perempuan blasteran Amerika-Indonesia menyapa. Menyusul berlari.

“Selamat pagi, Nadia!” Tiga menit lagi kelas akan segera dimulai. Dosen killer mengawali mata kuliah pagi ini, sialan.

Tetapi sebelum itu.

Di tengah langkah kaki. Aku dikagetkan oleh suatu hal. Seluruh siswa mendadak berhenti, terdiam di lorong. Kelas sudah masuk? Bukan. Kelas diliburkan? Jelas bukan juga.

WOOM! Suara distorsi udara terdengar keras, seperti angin kencang menjelang hujan, namun lebih terdengar kasar. Kerumunan siswa di lantai dua — termasuk aku — refleks menengok ke arah barat langit. Sedang memerhatikan sesuatu. Apa itu?

Adalah sebuah pesawat besar — mungkin pesawat kargo berwarna putih — yang terlihat mengeluarkan asap dan memercikkan sedikit api dari bagian belakangnya. Terbang rendah, nyaris hanya 100 meter saja jarak ketinggiannya dengan gedung-gedung di kota.

Sesaat lorong halaman lantai dua dipenuhi dengan obrolan seputar pesawat itu. “Cok, gendeng!?” Mahasiswa tampang eropa berceloteh. “Itu mau jatoh, kah?” Yang lain ikut memberikan reaksi.

Beberapa mulai mengeluarkan ponsel dan mulai merekam. Asap keluar semakin pekat dari bagian belakang pesawat itu, membuat lorong semakin heboh. Apakah pesawat itu akan jatuh di tengah kota?

Aku memerhatikan pesawat dengan lebih seksama. Pesawat itu terbang semakin rendah — dari 100 meter menjadi 50 — dan akan terbang lebih rendah lagi. Tidak salah lagi. Kecelakaan tidak bisa dicegah. Dan orang-orang di kota, mungkin akan menjadi korban.

Tidak. Itu pasti.

BOOM!

Kilatan menyilaukan mata muncul. Aku refleks menutup mata dengan tangan. Lorong panjang seketika diam. Sunyi. Hening. Beberapa dari dalam kelas keluar. Menganga melihat pesawat itu meledak, sebagian menutup telinga, jongkok. Suara ledakan terdengar sangat keras, ledakan yang sangat dahsyat menggelegar dari arah barat — lebih tepatnya di pusat kota. Aku tidak berbohong, itu ledakan yang besar. Membakar dan merusak beberapa bangunan, gedung-gedung tinggi termasuk diantaranya.

Lengang.

Beberapa saat, setelah ‘takjub’ dengan ledakan itu, orang-orang mulai menyadarinya dan beberapa mulai panik, berteriak histeris. Merasa khawatir. Disitu aku menyadari, sebetulnya, ini adalah momen yang menegangkan.

Aku memalingkan wajahku ke langit. Pagi hari ini, yang kukira akan berjalan mulus seperti biasa, sepertinya tak akan lagi sama.


Asap hitam mengepul tebal, langit menghitam.

Nampak kelam.

Begitulah yang ada dalam benakku.

Waktu menunjukkan pukul 7.04, berselang empat menit setelah pesawat itu menyentuh tanah. Tepat pukul tujuh pagi, waktu Indonesia bagian barat. Lupakan kelas pagi, semua orang sibuk memandangi. Para mahasiswa yang tinggal di lingkungan sekitar radius ledakan terlihat cemas. Sementara yang lain terlihat kebingungan, sambil berduduk-duduk di tangga atau di dalam kelas.

Aku masih berada diluar, bersandar di balkon, memandangi titik ledakan. Merasa tidak ada yang bisa kuajak ngobrol, aku merogoh saku, hendak mengambil ponsel dan menghubungi Joko, teman dekatku. Di mana dia? Aku belum melihatnya sedari tadi. Celingukan kesana kemari tak kujumpai. Tunggu sebentar! Melihat sekeliling penuh orang-orang yang sibuk melakukan dokumentasi. Terlintas dipikiranku untuk ikut mengabadikannya juga.

TUING!

Tepat sebelum aku membuka kamera, notifikasi dari kontak bertuliskan ‘Joko’ mengambang.

‘Tomo, lantai tiga. ASAP.’

Terdengar sedikit urgen. Baiklah. Sebelum itu, kuarahkan angle ponselku ke arah titik ledakan. Mencoba untuk mengambil gambar dari sudut pandang kampus. Pemandangan sekitarnya masih terlihat ganas, api masih berkobar dengan asap hitamnya yang pekat. Damkar, ambulan, dan mobil polisi mulai berdatangan. Satu dua helikopter juga nampak mengelilingi kawasan ledakan.

CKREK! Kurasa itu lebih dari cukup. Aku mengambil beberapa foto dan video. Mungkin akan kupublikasikan ke sosial media nanti? Entahlah, aku bukan tipikal orang-orang FOMO, aku harus bergegas untuk menemui Joko di lantai 3 — dia sudah menungguku.

Aku mulai meninggalkan lantai dua. Namun.

Seseorang berteriak — hendak memberi tahu — ketika aku sedang menaiki tangga. Menoleh sekali lagi ke arah yang ditunjuk. Kami kembali dikagetkan oleh sesuatu yang muncul dari bangkai pesawat. Sebuah asap — atau gas berwarna hijau kehitaman menyebar. Membuat warna gumpalan asap berubah drastis. Dengan intensitas kepekatan yang terlihat lebih samar. Ngeri melihatnya.

Aku kembali merogoh ponsel dari sakuku, segera mengambil foto sekali lagi. Benakku dipenuhi banyak pertanyaan. Akan ku telisik selepas ini.


Whoa — kerumunan di lantai tiga tidak kalah padat dibanding kerumunan lantai dua. Tentu saja dengan orang-orang penasaran. Dari sini aku dapat menyaksikan dan memandangi Kota Semarang lebih leluasa. Ini bahkan belum lantai empat atau rooftop, padahal.

“Permisi..” Mendorong murid lain — hendak melewati kerumunan siswa yang menghalangi akses masuk ke kelasku. Aku berhasil masuk kedalam. Joko terlihat duduk di bangkunya, terlihat fokus memandangi ponselnya — entah apa yang sedang dilihatnya.

“Oi, Joko!” Aku menyapa, mengawali pembicaraan.

Joko menoleh, menyipitkan matanya, “Alangkah lamanya. Sini!”. Gerakan tangannya terayun-ayun memanggil, menyuruhku bergegas.

“Beberapa sesi dokumentasi, sobat.” Aku datang menghampiri Joko, duduk di sebelahnya.

Dia mengarahkan layar ponselnya ke wajahku. “Lihatlah!”

Apa yang kulihat, umm..

‘Youtube — [LIVE] Konferensi Pers Pemerintah Indonesia, Menanggapi Jatuhnya Pesawat di Semarang

Konferensi Pers? Aku merasa penasaran.

Joko memerhatikanku — aku balas menatapnya — menganggap itu sebagai sinyal ‘baik telah kulihat’.

“Oke.”

Menunjukkan suasana ruangan konferensi pers terlihat ramai. Para wartawan telah berkumpul. Sementara dari pihak pemerintahan sendiri belum kelihatan.

Seorang perwakilan pemerintahan masuk, berdiri di atas mimbar.

“Baik saya mulai. Ehm..”

“Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, Shalom, Om Swastiastu. Selamat pagi rakyat Indonesia sekalian.

Saya sebagai perwakilan dari Kementrian Kesehatan, barusaja mendengar kabar bahwa telah diterjadinya suatu musibah di Kota Semarangberupa jatuhnya sebuah pesawat di pusat kota.

Sedikit penjelasan dari kami, kami mengimbau kepada warga Kota Semarang untuk tidak mendekati bangkai pesawat yang telah jatuh. Sekali lagi, kami imbaukan kepada para warga sekitar Kota Semarang untuk tidak mendekati bangkai pesawat. Karena tim kami telah menjumpai bahwa terkandung banyak polusi dan gas yang masih belum diketahui gas apakah itu. Kami telah mengerahkan petugas untuk melakukan evakuasi sesegera mungkin. Kamisungguh.. turut berduka cita atas musibah yang barusaja menimpa warga daerah Kota Semarang. Kami harapkan tidak ada peristiwa serupa yang akan terjadi.

Sekian yang dapat kami sampaikan. Mengenai pertanyaan, kami belum menerimanya dikarenakan kurangnya informasi yang kami miliki. Saya undur diri. Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, Shalom, Om Swastiastu.”

Perwakilan pemerintahan itu beranjak dari mimbar. Keluar dari ruangan konferensi pers. Wartawan-wartawan yang berada disana terlihat hendak menanyakan sesuatusebenarnya. Namun apa daya perwakilan pemerintahan itu sudah pergi.

Wow, lumayan singkat, to the point.

Joko menutup aplikasi Youtube, berpindah membuka aplikasi Instagram.

Terlihat berita mengenai kejadian pesawat jatuh itu terlihat memenuhi timeline Instagram. Tentu saja dengan berbagai macam ucapan belasungkawa terhadap para korban. Juga banyak yang menunjukkan video atau foto-foto dengan kualitas yang lebih jelas.

Aku dan Joko mencoba untuk menonton salah satu dari video yang beredar. Sudut pandangnya dari bawah kota, sungguh benar-benar membuatku ngeri apabila aku disana. Segera kusudahi, mengalihkan pandangan keatas — tidak tahu reaksi apa yang harus kuberikan.

Joko mendengus, menengok ke arahku, lalu melanjutkan kegiatan scroll-scroll-nya. Suasana di antara kami berdua sunyi, tetapi kelas masih ribut. Aku merenung. Firasatku mengatakan peristiwa itu bukan hal yang baik. Aku merasa seperti akan ada sebuah kejadian besar — segera terjadi.

“CEK.. TEST-TEST..”

Huh? Aku menatap sembarang. Suara pengeras suara milik sekolah terdengar. Seperti hendak mengumumkan sesuatu. Joko menghentikan kegiatannya, ikut mendengarkan. Beberapa saat gemresak mikrofon kembali terdengar, sepertinya akan segera dimulai.

“Selamat pagi. Saya Wirawan, mengabarkan kepada mahasiswa, dosen, dan seluruh sivitas akademik.

Kegiatan belajar mengajar dan seluruh aktivitas di lingkugnan akademik hari ini diberhentikan disebabkan oleh suatu kejadian. Sebagai bentuk preventif dari pihak kampus, kepada seluruh sivitas diharapkan untuk berkumpul di titik evakuasi setelah pengumuman dibacakan. Terima kasih atas perhatiannya.”

Pengumuman selesai, gemresak mikrofon berhenti.

“Jadi, libur nih?” Joko menatapku — sembari celingukan memandangi siswa yang lain.

“Mung- kin? Kita cabut sekarang?”

“Ide bagus. Malas ikut kumpul.” Joko mengangguk.

Sepertinya dampak dari kejadian barusan benar-benar serius. Lihat saja, kegiatan belajar mengajar hari ini ditiadakan.

Aku berdiri, mengambil tas dari atas meja. Memberikan kode ‘ready’. Joko ikut beranjak, “Oke, kita balik sekarang. Tapi kalo balik ke kosan gua ga dulu, deh. Kemungkinan kena barikade.”

“Rumahku.” Aku menawarkan. Joko menyetujui, “Bolehlah.”

Aku mengawali langkah, ke tujuan baru. Pulang ke rumah.


Kami sampai di parkiran sekolah, seorang petugas kesehatan menggunakan baju hazmat terlihat sedang berbicara dengan salah satu pegawai sekolah. Aku samar-samar mendengar apa yang sedang mereka bicarakan. Mungkin terdengar seperti sedang membahas tentang proses evakuasi yang harus segera dilakukan.

“UHUK! UHUK!” Pegawai sekolah itu terbatuk keras.

Aku mempercepat langkahku, sebelum mereka menyadari dan menyuruh kami untuk berkumpul di titik evakuasi. Joko menyusul di belakang, segera mengambil sepeda motor masing-masing.

TAP! Joko menepuk pundakku secara tiba-tiba.

“Tom, percepat!” Wajahnya terlihat cemas.

“Lah, kenapa?” Kuncinya tersangkut.

“Telinga gua!”

Aku menangkap yang dimaksud. Kode telinga.

Singkatnya Joko memiliki kemampuan pendengaran diatas rata-rata. Memungkinkannya untuk mendengar hal yang terbilang pelan bagiku — terdengar lebih keras baginya. Sempat tidak percaya pada awalnya, mana mungkin ada kemampuan semacam itu? Namun setelah melihatnya menunjukkan berbagai bukti kelihaiannya dalam menguping pembicaraan seseorang, dia berhasil membantah ketidakpercayaanku.

Sejenak lengang.

“Memang apa yang kau dengar?” Aku menghidupkan sepeda motor.

“Bukan hal baik. ASAP!”

Aku hanya mengangguk — mengiyakan. Tidak tahu apa yang dimaksudnya, yang kutangkap, bukan hal baik. Motor telah menyala. Segera meluncur ke tujuan. Bergegas pulang.

Seorang satpam menyadari kehadiran kami. “WOY!”

BAJIGUR! Kami menoleh dan mengabaikannya, segera menancap gas sekencang mungkin. Berhasil keluar dari lingkungan kampus, lolos, jalannya teramat padat.

Terpikir. Apa ini berhubungan dengan mimpi burukku tadi?


메타데이터
post_id
8064cff050d3
slug
chapter-1-8064cff050d3
url
https://medium.com/@ranteshe/chapter-1-8064cff050d3
canonical_url
https://medium.com/@ranteshe/chapter-1-8064cff050d3
author_url
https://medium.com/@ranteshe
status
ok
fetched_at
2026-07-21 15:07:53