Kelopak Kepala
Bola mataku keras kepala, mungkin karena tempat nya memang di kepala.
Kelopak Kepala
Bola mataku keras kepala, mungkin karena tempat nya memang di kepala.

pict from Pinterest
Kelopak mataku masih mau merekah, sebagaimana bunga yang belum siap mengikhlaskan diri untuk melayu. Ia seperti masih mencari cara untuk menenangkan sahabat karibnya, Kepalaku.
Disini ramai sekali, Kepalaku sepertinya tidak punya keberanian ditinggalkan sendiri ditengah keramaian ini. Mungkin begitulah alasan mataku dengan senang hati masih membuka diri.
Di jam yang biasanya akan terdengar ratapan pilu punuk yang manangisi nasib nya hanya bisa memandang bulan, mataku menatap ke arah ukiran semen atap kamar. Menunggu sampai kepalaku merasa aman. Menemani kepalaku menjawab sendiri pertanyaan pertanyaan yang kelopak mataku hanya bisa tanggapi dengan kedipan.
Semakin lama, mataku mulai lelah. Tapi sayang, kepalaku masih belum rampung acaranya. Dari pertanyaan-pertanyaan, muncul kebingungan. Mataku mulai bingung menanggapinya, maka dia mulai berputar putar membantu kepalaku mencari jawabannya.
Kepalaku semakin banyak di datangi pengunjung. Membuatnya makin ramai, tetapi mataku masih setia menemani. Para pengunjung itu sepertinya cukup menyeramkan, mereka sering membuat kepalaku pusing kelabakan. Mataku bahkan tidak mengerti mereka di namai apa, terlalu banyak yang mereka bicarakan.
Mungkin kepalaku akan benar-benar sepi saat tangkai dan daun nya sudah menemukan damai. Menyemai berbaur di sebuah lahan dan tidak bisa lagi berpindah pindah.
Saat kelopak mataku tidak punya pilihan selain melayu dan gugur sebagaimana kelopak bunga mengikhlaskan diri untuk jatuh dan bersatu dengan tanah.
메타데이터
- post_id
- 807e40de9a38
- slug
- kelopak-kepala-807e40de9a38
- url
- https://medium.com/@demureflatshoes/kelopak-kepala-807e40de9a38
- canonical_url
- https://medium.com/@demureflatshoes/kelopak-kepala-807e40de9a38
- author_url
- https://medium.com/@demureflatshoes
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-11 07:02:50