Hari-Hari Ketika Menulis di Medium Terasa Berat
Sejumlah alasan yang mungkin masuk akal
Hari-Hari Ketika Menulis di Medium Terasa Berat
Sejumlah alasan yang mungkin masuk akal
Photo by NSH on Unsplash
Mungkin.
Setiap kali ada kegagalan, kata mungkin begitu dekat.
Tidak selamanya kegagalan, bisa juga semacam kemarahan pada diri sendiri. Atau hal-hal yang mendekati pusaran rasa itu.
- Penyesalan
- Kekalahan
- Nestapa
- Duka
- Kesedihan
Daftar di atas terkesan negatif, tapi “mungkin” juga dekat dengan hal-hal positif seperti mimpi, harapan, dan ambisi.
Saat saya membuka tulisan ini dengan kata mungkin, saya sedang merencanakan sesuatu.
Awalnya, saya ingin membuat sejumlah alasan yang memang masuk akal untuk dibahas. Sesuatu yang bisa menjelaskan, kenapa saya tidak rutin atau tidak bisa untuk konsisten menulis di Medium?
Jawabannya mungkin kurang lebih sama dengan beberapa teman yang membaca ini.
Selalu ada kesulitan membagi waktu terkait urusan di luar menulis dan urusan menulis itu sendiri.
Sebab itu, setiap kali saya ingin membuat alasan — saya merasa terpaku dan tidak bisa beranjak dari kata “mungkin”.
Mungkin yang secara personal.
Mungkin yang menjadi sesuatu.
Mungkin ada sesuatu yang belum tersampaikan.
Mungkin ada masalah yang belum tuntas.
Saya membuka beberapa kemungkinan tapi semakin memperluas jarak bahwa alasan seperti jurang yang tak berujung.
Kemampuan saya membuat alasan atau pembenaran, terasa begitu berbahaya. Saya menghindarinya.
Tapi kenyataannya, saya tidak benar-benar menghindar. Saya malah memelihara alasan-alasan itu diam-diam.
Menjaganya seperti luka yang tidak ingin sembuh — karena entah mengapa, ada kenyamanan yang aneh ketika saya bisa menyalahkan sesuatu.
- Waktu.
- Energi.
- Keadaan.
- Bahkan diri saya sendiri.
Dan ketika menulis terasa berat, saya tahu betul, bahwa itu bukan karena saya kehabisan kata. Bukan karena saya tidak lagi punya cerita. Melainkan karena ada sesuatu dalam benak saya, yang belum saya pahami.
Setiap kali membuka Medium, saya seperti dihadapkan dengan cermin harapan.
Dari cermin itulah, ada keinginan yang memantulkan versi saya yang seharusnya menulis, yang seharusnya sudah menuntaskan ide, yang seharusnya… lebih dari ini.
Dan itu terkadang menganggu. Tapi juga penting.
Karena dari rasa berat itulah saya tahu: saya masih peduli.
Kalau tidak, saya tidak akan menuliskan ini.
Kalau tidak, saya tidak akan memikirkan soal “kenapa menulis terasa berat?”
Kalau tidak, saya tidak akan menelusuri kata “mungkin” sejauh ini.
Hari-hari ketika menulis terasa berat… mungkin justru hari-hari ketika saya mencoba untuk lebih jujur.
Photo by Kenny Eliason on Unsplash
Saya tidak sedang mencari narasi yang menjanjikan atau sesuatu yang menarik pembaca. Tapi, sedang mencoba memahami diri sendiri. Lewat tulisan yang belum selesai. Lewat draf yang saya simpan berbulan-bulan. Lewat paragraf-paragraf yang lebih mirip bisikan ragu daripada pernyataan.
Dan saya rasa, tidak apa-apa.
Kalau pun teman-teman juga merasakannya, itu juga tidak apa-apa.
Mungkin — dan ini saya tulis dengan pelan — upaya menulis tidak selalu harus ringan atau mudah.
Mungkin ia memang perlu berat, agar kita bisa benar-benar merasa bahwa tulisan bukan hanya hasil… tapi juga proses.
Proses menjadi lebih jujur. Proses berdamai dengan segala yang “mungkin”.
Hari ini, saya menulis.
Bukan karena saya sudah siap, tapi karena saya ingin mencoba.
Dan mungkin, itu cukup
메타데이터
- post_id
- 80c224fbd752
- slug
- hari-hari-ketika-menulis-di-medium-terasa-berat-80c224fbd752
- url
- https://medium.com/@wawankurn/hari-hari-ketika-menulis-di-medium-terasa-berat-80c224fbd752
- canonical_url
- https://medium.com/@wawankurn/hari-hari-ketika-menulis-di-medium-terasa-berat-80c224fbd752
- author_url
- https://medium.com/@wawankurn
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-19 12:47:53