← Back to list

Perpuisian Georg Trakl: Keindahan yang Lahir dari Trauma

(Berthold Damshäuser)

Berthold Damshäuser (Pak Trum) · 2026-05-20 12:29 · 0 claps · 19.3 min read
#sastra-jerman #puisi-jerman #puisi-indonesia #georg-trakl #puisi-dunia
Open on Medium ↗
Wiki topics: 🧠 · Mental Wellness

Perpuisian Georg Trakl: Keindahan yang Lahir dari Trauma

(Berthold Damshäuser)

[Tulisan ini merupakan kata pengantar untuk buku kumpulan puisi Georg Trakl Mimpi dan Kelam Jiwa (dieditori oleh Agus R. Sarjono dan Berthold Damshäuser), yang pertama kali diterbitkan pada tahun 2012 oleh Komodo Books dan kemudian dipublikasikan kembali dalam edisi baru pada tahun 2020 oleh Diva Press. Lihat: https://divapress-online.com/portal/search ]

Kemungkinan-kemungkinan yang paling mengerikan kurasakan dalam diriku. Aku menciumnya, merabanya, dan aku mendengar lolong setan dalam darahku, raung seribu iblis bersengat yang menggilakan raga. Betapa menderita jiwaku! (Georg Trakl)

Georg Trakl merupakan dunia yang tertutup rapat, dunia yang berdasar pada diri sendiri. Jika perlu diberi nama, ia patut disebut “Dunia Trakl”, sebab merupakan ciptaan yang tak terbandingkan dengan karya-karya lain dalam perpuisian berbahasa Jerman. (Penyair Austria Josef Leitgeb pada tahun 1950)

Semakin kupahami “Helian” dan sanggup melihat ke dasarnya yang dalam, semakin juga kusadari bahwa puisi ini merupakan pengakuan paling mengguncangkan dalam khazanah perpuisian Jerman. Puisi ini bagaikan keabadian yang terbekukan.

(Kritikus Sastra Ludwig von Ficker pada tahun 1914, mengomentari puisi Trakl berjudul “Helian”)

Setelah terbitnya puisi Rainer Maria Rilke, Bertolt Brecht, Paul Celan, Johann Wolfgang von Goethe, Hans Magnus Enzensberger, dan Friedrich Nietzsche dalam rangka Seri Puisi Jerman ini, kini –dalam jilid VII– kepada pembaca Indonesia disajikan sebuah kumpulan puisi dengan karya-karya penyair Austria Georg Trakl. Seperti telah terjadi pada puisi Brecht, Celan, Goethe, Enzensberger, dan Nietzsche, puisi Trakl pun diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh kedua editor, yaitu Agus R. Sarjono dan Berthold Damshäuser.

Dengan memilih Georg Trakl, penyair dari aliran ekspresionisme, sebagai tokoh Seri Puisi Jerman VII ini, untuk kedua kalinya –setelah Rilke– ditampilkan seorang sastrawan Austria. Seri Puisi Jerman memang tidak terbatas kepada perpuisian warga negara Jerman, melainkan berupaya untuk memperkenalkan puisi yang ditulis dalam bahasa Jerman. Dan bahasa Jerman adalah bahasa ibu orang-orang Austria, sehingga sastrawan Austria tentu saja berkarya dalam bahasa Jerman.

Nama Georg Trakl kiranya belum dikenal luas dalam masyarakat sastra di Indonesia, dan sebelum terbitnya buku ini baru beberapa dari puisinya diterjemahkan ke bahasa Indonesia[1]. Padahal Georg Trakl termasuk penyair berbahasa Jerman, juga penyair Eropa, yang paling berarti pada abad ke-20. Ia bukan saja dikagumi oleh penyair-penyair sezamannya, apalagi penyair dari angkatan setelahnya, melainkan juga dikagumi oleh filosof-filosof terkemuka, misalnya Martin Heidegger dan Ludwig Wittgenstein. Dan memang, Georg Trakl telah menghasilkan oeuvre yang menakjubkan, karena keindahan bentuknya, sekaligus mengguncangkan kalau melihat isi atau tema yang diangkatnya.

Ia unik sebagai penyair, ia unik juga sebagai pribadi. Barangkali ia merupakan sosok paling tragis dan paling nestapa dalam kesusastraan Barat yang –paling sedikit pada zaman modern– memiliki demikian banyak sosok yang tragis, yang menderita, menjadi gila, atau bahkan membunuh diri. Nietzsche, Celan, Hölderlin, juga Hemingway atau Virginia Woolf, cuma beberapa nama dari deretan yang cukup panjang. Sehingga timbul pertanyaan klasik: Penderitaankah yang melahirkan kesenian besar? Entah! Tapi dalam hal Georg Trakl penderitaan dan lahirnya puisi gemilang jelas tidak dapat dipisahkan, walau bukan penderitaan sendiri yang menyebabkan terciptanya karya agung, karena –tentu saja– mesti “dilengkapi” bakat atau kejeniusan.

Tragedi kehidupan Trakl, yang meninggal dunia pada umur 27 tahun karena kelebihan dosis kokain –sehingga ia bisa diduga membunuh diri–, adalah tragedi yang disebabkan cara hidup yang dipilihnya. Kecuali pengalamanya di medan Perang Dunia Pertama, tragedi yang dialaminya bukanlah tragedi yang disebabkan peristiwa lahiriah yang menimpanya, melainkan karena perilaku dan keadaan batinnya.

Sejak remaja, Trakl pecandu berat berbagai narkoba: nikotin, alkohol, kloroform, morfin, opium, veronal, dan kokain. Sepanjang hidup ia tidak bisa lepas dari kecanduan itu. Ia bahkan bereksperimen dengan narkoba, baik untuk mencari inspirasi maupun untuk menenteramkan diri. Kelainan jiwa, yang dapat diduga telah terdapat pada Trakl muda, berkembang menjadi penyakit ketika Trakl dewasa. Ia menderita depresi, berbagai fobi, psikosis, mungkin termasuk skizofrenia. Penyakit-penyakit itu diperparah, barangkali juga disebabkan oleh kecanduan narkobanya. Ini saja cukup tragis, tapi tragedi utama dalam kehidupan Trakl adalah hubungan sedarah (inses) dengan Margarethe (Grete) Trakl, adik perempuannya sendiri.

Hubungan rahasia yang ditabukan itu, mengakibatkan trauma pada Trakl, yang sepanjang hidupnya merasa berdosa, tak terselamatkan lagi, jijik terhadap diri sendiri, dan merindukan maut. Ia cinta mati kepada adiknya, dan tak pernah sanggup berhenti mencintainya, tidak saja sebagai adik tetapi juga sebagai kekasih. Ia memujinya sebagai perempuan tercantik, wanita paling istimewa, seniwati paling agung. Grete adalah manusia terpenting dalam kehidupan Trakl, sekaligus menjadi sosok dan tema penting dalam perpuisiannya. Puisi-puisi Trakl, yang menurut Heidegger merupakan satu karya, satu puisi, takkan terpahami kalau mengabaikan sosok Grete serta trauma Trakl yang diakibatkan oleh cinta kepadanya, cinta sesat yang bermuara pada hubungan inses antara kedua pribadi malang itu.

Georg Trakl lahir pada tanggal 3 Februari 1887 di “kota Mozart” Salzburg,i Austria. Ia adalah anak keempat dari Tobias Trakl yang beragama Protestan dan isterinya Maria Catharina yang beragama Katolik. Keluarga Trakl termasuk golongan burjuis yang cukup kaya; ayahnya memiliki toko barang besi. Trakl sangat menghormati ayahnya yang lembut hati, sedangkan hubungannya dengan ibunya kurang mesra, bahkan cukup terganggu. Ibunya pecandu opium yang suka menyendiri dan kurang memperhatikan anak-anaknya karena sibuk sebagai pengumpul barang antik. Konon, Trakl pernah mengatakan bahwa ia membenci ibunya, sampai timbul niat untuk membunuhnya. Dalam puisinya, sosok “ibu” dan “ayah” berkali-kali muncul, dan kemungkinan besar sosok-sosok itu bukan fiktif, melainkan berkaitan erat dengan kenyataan atau biografi Trakl. Misalnya dalam puisi (prosa liris) berjudul Mimpi dan Kelam Jiwa, di mana kita membaca kalimat-kalimat berikut:

Saat petang tiba, ayah disergap renta; di muram kamar wajah ibu membatu, dan si pemuda menyandang beban terkutuknya trah yang menyimpang. Kadang ia terkenang masa kanaknya yang sarat penyakit, kengerian, dan kegelapan, juga permainan rahasia di taman bintang. […] Tak ada yang mencintainya. Kepalanya membakar dusta dan maksiat di remang kamar. Gemerisik gaun perempuan membuatnya sekaku pilar, dan tiba-tiba di pintu berdiri sosok malam ibunya.

Puisi tersebut, yang termasuk puisi Trakl paling terkenal, sekaligus paling mengguncangkan, memang sarat faktor-faktor biografis, termasuk hubungan Trakl dengan Grete, adik perempuannya yang lahir pada tahun 1892, ketika Trakl berumur empat tahun. Hubungan inses itu, yang akhirnya membuahkan keyakinan Trakl bahwa ia sendiri, juga keluarganya –trahnya– terkutuk untuk selama-lamanya. Puisi itu, yang oleh seorang kritikus pernah disebut sebagai “halusinasi skizofrenia”, di mana sosok “ia” –sang pemuda (Trakl sendiri)– akhirnya menyatu dengan adiknya, berakhir dengat kalimat-kalimat mengerikan:

Awan ungu mengitari kepalanya, hingga dengan bisu ia menyerbu darah dan wajahnya sendiri, wajah membulan, lalu jatuh membatu ke kehampaan, saat dalam cermin retak muncul pemuda sekarat: adik perempuannya. Malam pun memangsa trah durjana.

Hubungan terlarang dengan Grete, yang diduga telah dimulai ketika keduanya masih remaja, dengan cukup gamblang juga dijadikan tema dalam puisi O, Berdiam di Senyap Taman Menyenja:

O, berdiam di senyap taman menyenja,

Saat dalam abang, mata dinda terbuka, bulat dan gelap.

Saat ungu bibir-bibir remuk

Meleleh sirna di sejuk senja.

O, detik yang mencabik jiwa.

[…]

Di atas, bangau melayang. Lengan-lengan dingin

Menyimpan hitam, darah mengalir di dalam.

Biru basah di pelipis kita. Kasihan dinda.

Trah gelap berangan, dari lubuk mata yang faham.

Masa kanak dan remaja Trakl di Salzburg diwarnai oleh bimbingan yang ia terima dari Marie Boring yang bertugas sebagai gouvernante, pendidik dan pengurus anak-anak keluarga Trakl. Wanita Perancis itu, seorang Katolik yang saleh, selama empat belas tahun bekerja di rumah tangga Trakl dan menjadi semacam pengganti ibu bagi Trakl dan kelima kakak-adinya. Dialah yang mengajar Georg Trakl bahasa Perancis dan menyuruhnya membaca karya sastra Perancis. Kesukaan Trakl kepada puisi Arthur Rimbaud dan Charles Baudelaire, kedua penyair yang cukup mempengaruhi perpuisaan Trakl, kiranya ikut disebabkan oleh pendidikan yang ia terima dari Marie Boring.

Sejak muda, Georg Trakl tertarik kepada dunia seni. Ia cukup pandai bermain piano dan mengagumi komponis Chopin, Liszt, dan terutama Wagner. Ia banyak membaca karya sastra, termasuk novel-novel Karl May, dan pada umur tiga belas tahun mulai menulis puisi. Dari tahun 1987 sampai dengan tahun 1905, ia bersekolah di gymnasium, semacam sekolah menengah atas, di Salzburg. Ia bukan murid yang baik, agak malas, dan tak berhasil menamatkan sekolah itu. Saat memasuki masa pubertas, ia semakin murung, cenderung depresi, sering bicara tentang bunuh diri, dan –selain menjadi perokok dan peminum berat– pada tahun 1902 mulai bereksperimen dengan narkoba. Adiknya Grete dipengaruhinya untuk ikut “menikmati” berbagai narkoba, sehingga Grete pun akhirnya kecanduan, sama dengan kakaknya.

Trakl, yang suka berkunjung ke rumah pelacur bersama teman-temannya, memilih pendidikan formal di bidang farmasi. Sejak tahun 1905 ia magang dan belajar di sebuah apotik di Salzburg. Bekerja di apotik memungkinkan akses ke macam-macam obat atau narkoba. Pada tahun 1906 ia menamatkan pendidikan sebagai “pembantu apoteker”.

Pada tahun 1904, Trakl bergabung dengan kelompok sastrawan Apolla di Salzburg, dan ia memutuskan diri untuk menjadi sastrawan. Ia menggemari Dostojewski, dan suka mendeklamasikan puisi Nietzsche di depan teman-temannya. Pada tahun 1906 sandiwaranya berjudul Totentag (Hari Maut) dan Fata Morgana dipentaskan di teater Salzburg, sedangkan karya prosanya berjudul Traumland (Negeri Impian) terbit di sebuah koran. Tanggapan publik negatif, dan Trakl membakar semua naskahnya. Ia semakin depresi, semakin banyak minum narkoba.

Pada tahun 1908, Trakl, yang ketika itu berumur 20 tahun, mulai berkuliah di jurusan farmasi di Universitas Wina. Grete, saat itu berumur 17 tahun, pun pindah ke Wina, belajar piano di Akademi Musik. Hubungan intim mereka semakin mendalam. Pada tahun yang sama, Trakl untuk pertama kalinya mempublikasikan puisinya, di sebuah koran Salzburg. Pada tahun 1910 ia berhasil meraih diploma di bidang farmasi.

Setelah ayahnya meninggal pada tahun 1910, situasi ekonomis Trakl mulai sulit. Untuk memecahkan masalah keuangan ia memutuskan untuk berkarier di dinas kemiliteran, dan pada bulan November 1910 mulai bekerja sebagai paramedis di tentara kekaisaran Austria di Wina. Setahun kemudian ia diangkat menjadi pegawai kemiliteran dengan pangkat letnan, tapi posisi ini hanya dipegang selama beberapa minggu, karena pindah ke bagian akuntasi di sebuah kementerian di Wina. Namun, di situ pun ia tidak betah, pindah lagi ke dinas kemiliteran. Ternyata ia semakin tak sanggup hidup secara teratur atau borjuis. Keadaan batinnya semakin kacau, apalagi sejak Grete pada tahun 1910 secara tak terduga pindah ke Berlin dan setahun kemudian menikah dengan seorang pedagang buku di sana. Trakl terpukul oleh “ketaksetiaan” adiknya: Kenakanlah saya, o rasa sakit! Lukaku membara, tapi siksa itu tak kugubris.

Pada saat bersamaan, kepenyairan Trakl semakin berkembang. Mulai tahun 1909 ia menemukan gaya puisi yang matang. Puisi demi puisi berlahiran dari tangannya. Ia seperti mabuk oleh semangat dan ide, merasakan kebahagiaan dalam mencipta sebagaimana dinyatakannya:

Aku, telinga yang girang, mendengarkan melodi-melodi yang ada dalam diriku, dan mataku yang riang memimpikan gambar- gambarnya yang lebih indah dari semua kenyataan! Aku berada pada diriku, aku adalah duniaku, duniaku yang indah, yang penuh dengan nada indah yang tak berhingga.

Sejak tahun 1912 ia berhubungan akrab dengan Ludwig von Ficker, pemimpin redaksi jurnal budaya Der Brenner, yang secara teratur memuatkan puisi Trakl. Kalangan sastra dan seni mulai menghargai Trakl sebagai penyair yang berarti, dan beberapa tokoh menjadi teman Trakl, misalnya kritikus sastra dan eseis Karl Kraus, arsitek Adolf Loos, dan pelukis Oskar Kokoschka.

Namun, keberhasilan di bidang sastra tidak mencerahkan kehidupan Trakl. Sakit jiwanya semakin kambuh. Saat bekerja di sebuah apotik di rumah sakit kemiliteran di Insbruck, ia dilanda berbagai fobia. Ia takut, bahkan panik menghadapi nasabah, merasa terancam dan dikejar. Timbul ide untuk meninggalkan Eropa (Mungkin saya akan ke Borneo), dan ia sempat melamar di pemerintahan Hindia-Belanda untuk dikirim ke Indonesia sebagai apoteker. Tetapi, rencana itu pun tak terwujud. Pada tahun 1913 krisis jiwanya memuncak. Pada bulan Juni, ia menulis surat kepada Ludwig von Ficker:

Terlalu sedikit cinta, terlalu sedikit keadilan dan iba, dan selalu terlalu sedikit cinta; terlalu banyak kekerasan, keangkuhan dan bermacam-macam kejahatan — itulah aku. Aku yakin, bahwa berbagai kejahatan tidak kulakukan cuma karena aku lemah dan kejut, dan dengan demikian aku masih menodai kejahatanku. Aku merindukan hari saat jiwaku tak sudi dan tak sanggup lagi menjadi penghuni badan sial ini yang kotor oleh kemurungan, saat ia mau lari dari wadah edan ini yang terbuat dari tinja dan kebusukan, yang cuma cerminan setia dari sebuah abad tak ber- Tuhan dan terkutuk. Tuhan, andai saja aku dianugrahi sepercik sukacita yang murni, maka aku selamat; cinta — maka aku terselamatkan!

Dalam surat lain kepada Ficker, dari bulan November 1913, ia tambahkan dengan putus asa:

Pada hari-hari yang lalu telah terjadi hal-hal yang demikian mengerikan, sehingga bayang-bayang gelapnya takkan sanggup kulepaskan lagi dalam kehidupan ini. Ya, sahabatku, hidupku patah dalam waktu beberapa hari saja. Cuma tinggal rasa sakit

tak terkatakan. […] Aku tak tahu lagi yang mesti kulakukan. Alangkah celaka, saat dunia runtuh seketika. O Tuhan, pengadilan apa yang menimpaku.Tolong, sahabatku, katakanlah bahwa aku tidak gila, bahwa saya harus cukup kuat untuk bertahan dalam hidup ini, untuk mengatakan kebenaran. Gulita membatu telah melandaku. O betapa kerdil dan nestapa aku ini!

Tidak diketahui apa yang saat itu terjadi pada Trakl, ia sendiri tidak pernah menerangkannya. Ludwig von Ficker menduga, bahwa putus asa Trakl disebabkan nasib adiknya Grete. Bukan saja pernikahan Grete gagal, ia pun mengalami aborsi, dan tak tertutup kemungkinan bahwa anaknya yang tak sempat dilahirkan adalah anak bersama dengan kakaknya Georg Trakl.

Pada tahun 1913 terbit kumpulan puisi Trakl yang pertama, berjudul Gedichte (Sajak-sajak), yang kemudian disusul kumpulan puisi yang kedua, Sebastian im Traum (Sebastian dalam Mimpi) yang terbit posthumous pada tahun 1915. Pada bulan Desember 1913, satu-satunya acara baca puisi bersama Trakl dilaksanakan di Insbruck, diselenggarakan oleh jurnal Der Brenner. Konon, Trakl membacakan puisinya dengan gaya yang sangat memesonakan. Namanya semakin terkenal, dan ia mulai diperhatikan kalangan luas, termasuk filosof Ludwig Wittgenstein. Mengetahui masalah ekonomis Trakl, yang karenanya bahkan terpaksa menjual buku-buku miliknya –di antaranya karya Dostojewski, Tolstoj, Kierkegaard, Nietzsche, Hölderlin, Rilke, Schnitzler, Hoffmansthal, Shaw, dan Wild–, Wittgenstein bersedia menjadi maesenas Trakl dan menyediakan dana besar untuk Trakl, cukup untuk biaya hidup selama dua tahun. Namun, Trakl tak sempat mengambil uang itu, disebabkan keadaan kacau saat Perang Dunia Pertama meletus pada bulan Agustus 1914.

Trakl menyambut meletusnya perang. Bukan karena alasan ideologi –ia sama sekali tidak tertarik pada tema-tema politik atau ekonomi– melainkan karena alasan pribadi. Sepertinya ia mencari jalan keluar dari neraka yang ia rasakan pada kehidupan sehari-harinya. Maka, ia tak keberatan ketika direkrut oleh tentara kekaisaran Austria sebagai jururawat kemiliteran dan dikirim ke medan perang di Ukrainia. Di sana, dekat kota Grodek, ia terlibat dalam pertempuran hebat antara tentara Austria dan tentara Rusia. Ia diberi tugas untuk mengurus seratus prajurit yang cedera berat. Selama dua hari dua malam ia menghadapi mereka yang menderita, menangis, sekarat, dan karena tak ada fasilitas memadai ia tak sanggup membantu mereka. Selain itu, ia menyaksikan puluhan penduduk setempat yang dianggap berpihak kepada Rusia digantung di pohon-pohon dekat tenda-tenda rumah sakit darurat, dan mayat-mayatnya dibiarkan bergantungan di situ. Melihat adegan itu, Trakl pingsang, patah semangat. Atasannya khawatir ia akan membunuh diri dan mengirimnya ke rumah sakit jiwa. Di situlah, Trakl, yang selalu membawa narkoba, meninggal dunia akibat kelebihan dosis kokain. Kemungkinan besar ia memang membunuh diri. Seorang penyair yang menderita, seorang penyair yang jenius menutup usia pada umur 27 tahun. Dua puisinya yang terakhir ditulisnya di medan perang Grodek, Eropa-Timur:

Di Timur

Gelap murka rakyat

Bagai orgel liar badai salju,

Banjir ungu pertempuran,

Bintang yang daunnya dilucuti.

Dengan alis patah dan lengan perak

Malam melambai pada para prajurit sekarat.

Di bayang pohon musim gugur

Merintihlah ruh mereka yang terbantai.

Rimba berduri mengepung kota.

Dari tangga-tangga berdarah

Bulan memburu perempuan resah.

Serigala buas mendobrak gapura.

Grodek

Di senja hari, hutan-hutan musim gugur,

Dataran kencana, dan danau-danau biru

Bermentari kian muram, menggema

Oleh maut senjata. Malam mendekap

Prajurit sekarat dan ratap liar

Mulut mereka yang patah.

Namun, di rumput lembah berhimpun senyap

Merah gemawan -tumpahan darah, kesejukan

Bulan- tempat dewa murka berdiam;

Segala jalan bermuara di kebusukan hitam.

Di bawah kencana reranting malam dan gemintang,

Bayang adik perempuan melenggang lintasi bisu hutan

Bertakzim pada ruh pahlawan, pada kepala berdarah mereka;

Dan gelap serunai musim gugur mengalun lirih di alang-alang. O duka yang kian jumawa! wahai, altar-altar kebesian. Nyala panas sang ruh, anak-cucu yang tak lahir, Berkobar oleh nestapa.

Bayang adik perempuan melenggang lintasi bisu hutan: Dalam puisi terakhir pun Georg Trakl menghadirkan adiknya. Adik yang nasibnya tak berbeda dari nasib kakak. Margarethe Trakl membunuh diri pada tahun 1917.

Georg Trakl menghasilkan sekitar seratus puisi yang matang. Dalam jumlah ini tidak terhitung puisi yang ditulisnya sebelum tahun 1909, yang oleh dia sendiri tidak dianggap sebagai karya berhasil. Dengan demikian, boleh dikatakan bahwa puisi-puisi Trakl yang disajikan dalam buku ini cukup representatif, karena yang dimuatkan merupakan lebih dari sepertiga dari puisi yang ditulis Trakl mulai dari tahun 1909 sampai ia meninggal dunia pada tahun 1914.

Di atas, kami telah membicarakan latar belakang biografis, khususnya hubungan Trakl dengan adik perempuannya, yang cukup berdampak pada tema-tema atau isi puisi Trakl. Namun, perlu ditekankan bahwa oevre Trakl tidak boleh semata-semata ditafsirkan dari segi fakta-fakta biografis. Misalnya, puisi Passion yang sering dikaitkan dengan tema “adik perempuan” atau “inses”, memiliki dimensi yang jauh lebih kompleks. Puisi itu sarat istilah dan simbol agama (Kristus, Kelahiran Tuhan, Jalan Salib, Malaikat) dan patut diinterpretasikan sebagai penggambaran passion atau penderitaan manusia barat modern yang telah menjauh dari Tuhan, serta malapetaka sebuah peradaban yang oleh Trakl dianggap tengah berada dalam proses keruntuhan. Maka, istilah “trah” (terjemahan dari Geschlecht, kata yang cukup taksa dalam bahasa Jerman, artinya “keluarga”, “sexus/kelamin”, “angkatan”, juga “spesies”) sama sekali tidak terbatas kepada keluarga Trakl sendiri. Dalam Passion, ada bait yang berbunyi sebagai berikut:

Siapa tangismu di bawah pohonan senja?

Adinda dia, cinta gulita

Dari trah durjana,

Yang harinya sirna dalam desau roda kencana.

“Adinda” (dalam bahasa Jerman: Schwester = adik/kakak perempuan, sister) dalam puisi ini, juga dalam puisi Trakl yang lain, berkonotasi sangat luas, tak terbatas pada adik kandung. Menurut berbagai interpretasi, “maknanya” bahkan menjangkau Bunda Maria sebagai pengantara antara manusia dan Tuhan. Sedangkan, menyatunya kakak dan adik dalam berbagai puisi Trakl sempat diinterpretasikan dalam konteks biseksualitas atau androginitas. Sedangkan “trah” dalam puisi ini dapat dipahami dalam arti angkatan manusia yang mewakili peradaban modern.

Puisi-puisi Trakl, yang sering disebut hermetis atau tak terpahami, memungkinkan bermacam-macam tafsir. Interpretasi para peneliti –jumlahnya ratusan– sering menemukan hal-hal yang cukup menarik dan tak terduga, tapi tak jarang pula terkesan upaya sia-sia mencari-cari sesuatu yang tokh jauh dari kepastian yang diharapkan. Demikian juga terjadi pada Helian, salah satu puisi Trakl paling terkenal, paling mengesankan.

Masalah interpretasi atas sajak ini sudah bermula pada judulnya: sosok lelaki fiktif bernama Helian, sebuah kata/nama yang dicipta oleh Trakl sendiri. Menurut para peneliti, penemuan nama ini terinspirasi oleh judul kumpulan puisi penyair Perancis Paul Verlaine berjudul Pauvre Lelian (Lelian Malang) serta sosok Helios (dewa matahari dalam mitologi Yunani) yang menjadi tema dalam puisi Der Mensch (Sang Manusia) karya Friedrich Hölderlin yang dalam puisi Helian diduga tampil sebagai abang suci [Trakl yang] tenggelam dalam denting merdu kegilaannya. Selain itu, ada kemungkinan bahwa “Helian” merupakan semacam gabungan antara “Helios” dan “Heiland”, kata Jerman yang berarti “penyembuh” atau “penyelamat” dan digunakan sebagai pengganti nama Yesus Kristus. Dugaan ini kiranya masuk akal, karena puisi ini sarat konotasi yang mengarah ke Kristus sebagai wakil manusia. Berdasarkan tafsir-tafsir di atas, puisi Helian dapat diinterpretasikan sebagai penggambaran sejarah manusia dari zaman Yunani, yang digambarkan sebagai zaman yang membahagiakan, sampai ke zaman modern yang diwarnai oleh dosa, kegilaan dan keruntuhan. Sebuah zaman di mana Kristus, simbol manusia, menjalani passion atau penderitaannya. Sebuah perjalanan dari Arkadia (kawasan Yunani yang dalam tradisi Eropa diresepsikan sebagai tempat indah-surgawi) sampai Golgatha tempat terjadinya musibah penyaliban Kristus. Dan memang, puisi ini berakhir tanpa harapan, segala bermuara di akhir yang lebih gulita. Dewa pun bukan dewa yang bertindak untuk mengubah keadaan, ia dewa yang senyap, paling menganugrahi kelopak, sehingga manusia boleh istirah, tak harus lagi menatapi atau menyaksikan peristiwa-peristiwa penuh derita:

Dari permadani bangkit belulang kuburan,

Juga kebisuan salib-salib yang runtuh di bukit,

Juga manis dupa dalam ungu angin malam.

Wahai mata remuk di mulut-mulut hitam,

Saat sang cucu dalam lembut kelam jiwa,

Sendiri, renungi akhir yang lebih gulita,

Saat dewa senyap anugerahi biru kelopak mata.

Apakah puisi ini juga bicara tentang Trakl sendiri? Apakah ia menyembunyikan diri di belakang nama “Helian” yang dari segi bunyi cukup mirip nama “Elis” yang muncul dalam beberapa puisi Trakl dan diinterpretasikan sebagai jelmaan atau pengganti sang penyair? Berbagai penafsir puisi Trakl mengiyakannya, bahkan mengatakan, bahwa Trakl, yang dalam puisinya sama sekali tidak menggunakan “aku liris”, tampil, atau –paling sedikit– mencerminkan diri dalam sekian banyak sosok yang diciptanya. Ini berarti, bahwa Trakl –dalam puisi-puisinya– sepertinya pecah: menjadi Helian, menjadi Kristus, menjadi Hölderlin, menjadi “sang cucu”, etc., bahkan menjadi adiknya sendiri. Dengan demikian, Trakl dapat dikatakan menyatu dengan manusia pada diri (an sich), menyatu dengan zaman dan keadaan yang berbeda, menyatu dengan kesemestaan. Sedangkan puisinya, khususnya Helian, menggambarkan kesatuan antara hidup dan maut. Barangkali tafsiran seperti itulah yang menyebabkan kritikus dan sahabat Trakl, Ludwig von Ficker, menyatakan, bahwa “puisi ini bagaikan keabadian yang terbekukan”. Sebagai pembaca mandiri, kita tentu saja tidak harus setuju dengan tafsir-tafsir seperti itu. Namun, tafsir demikian menandakan bahwa isi puisi-puisi Trakl sangat kaya, kompleks dan dalam.

Betapa sulit pun memaknakan puisi-puisi Trakl –filosof Ludwig Wittgenstein saja mengakui, bahwa ia “tidak memahaminya”–, terdapat juga berbagai kepastian mengenai pesan utama dan tema-tema yang menonjol atau dominan. Selain tema yang dilatarbelakangi tragedi kehidupannya sendiri, oevre Trakl jelas menyampaikan kritik tajam terhadap masyarakat sezamannya, terhadap dekadensi peradaban modern. Kota, dalam puisi Trakl, menjadi lambang bagi dekadensi itu, sekaligus tempat sang individu kesepian dan menderita, bahkan mengalami disosiasi (kehilangan atau pecahnya kepribadian), seperti terjadi pada “aku liris” dalam puisi Trakl sendiri. Keadaan peradaban modern, peradaban kota, demikian parah, sehingga kehancurannya sudah di ambang pintu. Unsur apokaliptis sangat nyata dalam puisi-puisi Trakl. Mengingat itu semua, Trakl benar-benar dapat disebut sebagai penyair ekspresionistis, karena tema-tema tadi yang menjadi ciri khas aliran ekspresionisme, dan dapat juga ditemukan dalam karya sastrawan ekspresionistis lainnya, seperti Gottfried Benn, Else Lasker-Schüler, Georg Heym, Georg Kaiser, atau Ernst Stadler.

Unsur keagamaan pun terdapat pada cukup banyak karya ekpresionistis, dan oevre Trakl termasuk contoh yang paling nyata. Bahkan, boleh dikatakan puisi-puisi Trakl bersifat relijius, bersifat kenasranian. Timbul pertanyaan, sejauh mana Trakl patut disebut orang beragama atau bahkan penganut agama Nasrani? Konon,Trakl yang sejak tahun 1912 cukup dipengaruhi oleh suasana kenasranian di lingkungan jurnal budaya Der Brenner, di depan teman-temannya pernah menegaskan: Saya seorang Nasrani. Sepertinya ia cukup serius dengan pernyataan itu. Seorang temannya mencatat sebagai berikut: “Pada sebuah pesta rakyat, Trakl melihat kepala sapi yang dipasang di tembok, hadiah bagi penari terbaik. Dengan badan gemetar Trakl berkata: Itu Kristus, Tuhan kita.”

Pada kesempatan lain ia mengatakan: Saya tidak berhak mengelak dari neraka. Kiranya boleh disimpulkan, bahwa Trakl –berlawanan dengan Nietzsche, Celan, dan Brecht– sama sekali tidak menolak kenyataan metafisika, percaya akan akhirat, dan cenderung juga percaya kepada Kristus sebagai anak Tuhan. Formalitas agama dan gereja tentu tidak ia pentingkan, ia juga tidak memiliki keyakinan mutlak. Tapi, menurut keterangan Ludwig von Ficker, agama Nasrani dianggapnya sebagai sebuah revolusi, sebagai cap bakar dan kusta suci, juga ujian menentukan yang terakhir bagi manusia Barat. Kenasranian Trakl sepertinya tak perlu disangsikan. Namun, kenasraniannya sebenarnya bertolak belakang dengan pesan utama agama itu, yakni kejuruselamatan Kristus serta pastinya kerahiman Tuhan (gratia Dei). Bagi Trakl, tak ada kerahiman Ilahi, tak ada harapan, dan ia –secara deistis– mengalamatkan diri kepada suatu Tuhan bisu dan pasif yang telah meninggalkan dan mengabaikan ciptaannya. Penyair Friedrich Georg Jünger dalam eseinya mengenai Trakl menulis: “Malaikat dalam puisi Trakl bukan malaikat Nasrani. Dan, andai memang Tuhan membisu, maka segala kenasranian telah menjadi masa lalu belaka.” Jünger betul; kenasranian Trakl adalah kenasranian yang paradoks, kenasranian yang putus asa.

Pesimisme, kekelaman, penderitaan: isi atau tema perpuisian Trakl sama sekali tidak menggembirakan. Ini merupakan kontras tajam dengan bentuk puisinya yang –paling sedikit oleh pembaca teks asli dalam bahasa Jerman– dirasakan sebagai puisi yang sangat indah, sehingga Trakl sempat disebut sebagai “adiknya Mozart yang kelam”. Dalam karya-karya Trakl terjadi estetisasi keburukan. Hal-hal yang sama sekali tidak elok, bahkan menjijikan, disampaikan dengan cara penuh estetika yang menakjubkan. Keindahan demikian, bagaimana Trakl sanggup menghasilkannya?

Sebagai faktor utama kiranya perlu disebutkan musikalitas bahasa Trakl. Anehnya, ia sanggup menghasilkan musikalitas itu tanpa mementingkan unsur yang biasanya menjadikan puisi sebuah karya seni yang mirip dengan musik, yakni metrum ketat dan rima akhir. Memang, ada juga puisi Trakl dengan metrum dan rima akhir –dalam buku ini ada dua contoh, yaitu puisi berjudul (Musim Semi yang Tersihir) dan Winterabend (Senja Musim Dingin)–, namun kebanyakan puisi Trakl ditulis dalam irama atau metrum bebas. Melalui irama bebas itu, ia tokh berhasil mencipta teks penuh musikalitas, dengan nada dan irama yang sangat khas dan sugestif yang tidak terdapat pada satu pun dari penyair berbahasa Jerman yang lain. Ia telah menciptakan gaya bahasa sendiri, khas Trakl.

Bentuk perpuisiaan Trakl juga diwarnai oleh gaya yang digunakan oleh cukup banyak penyair ekpresionistis, sebuah gaya yang dalam ilmu kesusastraan Jerman disebut expressionistischer Reihungsstil (Gaya Perangkaian Ekspresionistis). Ini semacam teknik simultan yang merangkaikan kesan/peristiwa/gambar yang disparat (tidak terkait secara logis atau sintaktis). Trakl sendiri menyebutnya cara lukis saya yang memadatkan empat bagian gambar yang dibagi dalam empat baris menjadi satu kesan menyeluruh. Di antara penyair ekpresionistis, Trakl dianggap maestro gaya simultan itu. Puisi berjudul Dunkel ist das Lied des Frühlingsregens in der Nacht (Muramlah lagu hujan musim semi malam hari) adalah contoh yang signifikan:

Muramlah lagu hujan musim semi malam hari,

Di bawah awan: gerimis kuntum pir yang jingga,

Sulapan jiwa, nyanyian dan keedanan malam.

Malaikat menyala berlesatan dari si mata wafat.

Ciri khas formal lain dalam perpuisiaan Trakl adalah penggunaan istimewa kata sifat, khususnya kata warna, misalnya: Keperakan, melangkahlah hari yang jingga; malakait jingga; manis dupa dalam ungu angin malam; kebekuan hitam; kegelapan biru; peri terkubur di lelap biru. Warna di situ lebih dari sekedar sifat; warna menjadi metafora, menjadi simbol, menjadi penyebab kesan sinestetis, sederajat atau bahkan lebih bermakna daripada kata benda atau kata kerja yang terkait.

Ciri khas yang juga cukup menonjol adalah ambiguitas bahasa Trakl. Yang menjadi masalah dalam memaknakan teks Trakl bukan saja ketaksaan istilah, seperti “trah”, “adinda” etc., melainkan –dan terutama– bentuk kalimat yang eliptis serta tidak dikaitkannya kalimat itu dengan kalimat berikutnya secara logis. Ini merupakan pengalaman baru bagi kedua penerjemah buku ini, yang biasanya mesti berupaya keras untuk menerjemahkan teks bahasa Jerman yang cenderung bermakna agak pasti dan eksplisit ke bahasa Indonesia, yang ciri khasnya justeru ambiguitas yang sangat tinggi.

Menerjemahkan Trakl cukup sering berarti menerjemahan sesuatu yang taksa ke dalam sesuatu yang sikap dasarnya sudah taksa. Risiko terjadinya pembiasan luar biasa tinggi, namun tak terhindari. Bagaimana pun, “watak” terjemahan Trakl ke bahasa Indonesia kiranya tokh tidak terlalu menjauh dari “watak” teks aslinya. Terjemahan pun akan terkesan pewujudan dari teknik Trakl, yang oleh seorang kritikus disebut Traum-Technik (teknik mimpi) yang menghasilkan teks “indah” yang terkesan ditulis secara nonlogis, dalam keadaan mimpi atau trance, oleh suatu “aku” yang telah sirna atau pecah, yang dalam puisi itu sama sekali tidak sudi menampakkan diri.[2]

Akhirnya, saya boleh mengakui, bahwa saya sejak dulu pencinta puisi Georg Trakl. Ia, bersama Paul Celan, adalah “favorit” saya di antara semua penyair berbahasa Jerman. Namun, baru melalui proses penerjemahan, saya merasa masuk di “kedalaman” puisi Trakl, paling sedikit sampai tingkat tertentu. Saya memang yakin bahwa proses penerjemahan sebuah karya puisi adalah cara paling intensif untuk memasuki, merasakan dan “memahami”nya. Dalam proses itu, saya semakin menyadari, bahwa Trakl –melalui kata, atau “musik kata”– berhasil mengatakan sesuatu yang sebenarnya tak terkatakan dengan kata. Sehingga keseluruhan dari masing-masing puisi memiliki kebenaran sendiri, kebenaran kesenian berdimensi khusus dan tinggi. Itulah, saya kira, petanda seni agung. Barangkali, filosof Martin Heidegger memikirkan hal yang sama, ketika ia menulis sebagai berikut:

Keketatan unik bahasa Trakl, yang hakekatnya multimakna, dalam dimensi lebih tinggi demikian tunggalmakna, hingga ia jauh melampaui segala presisi teknis dari istilah-istilah yang sekedar bersifat saintifik-tunggalmakna.

Kebenaran puitis lebih tinggi daripada kebenaran sains? Entah. Namun dan bagaimana pun, saat membaca puisi Trakl, paling sedikit kita mulai merasakan bahwa bahasa dalam puisi yang agung lebih dari cuma makna dan pemberitahuan. Bahasa itu seperti hidup sendiri, juga menghidupi, bergaung dan menggema dalam diri kita, mengantar ke inti, ke hakekat.

Jilid VII Seri Puisi Jerman ini terbit dengan bantuan Goethe-Institut Jakarta. Kepada direkturnya, Bapak Franz Xaver Augustin, dan kepada Ketua Bagian Program, Frank Werner, kami ucapkan banyak terima kasih. Dua-duanya menjadi pendukung setia proyek Seri Puisi Jerman dan menganggapnya sebagai kegiatan penting dalam rangka penyebaran budaya dan sastra Jerman di Indonesia.

Kami juga berterima kasih kepada Komodo Books yang sejak jilid VI menjadi penerbit Seri Puisi Jerman, menggantikan penerbit Horison. Kami berharap kerja sama yang sangat baik dengan Komodo Books akan berlanjut di masa depan.

Rasa terima kasih yang khusus saya sampaikan kepada Agus R. Sarjono, koeditor Seri Puisi Jerman dan rekan saya dalam proses penerjemahan puisi Trakl. Seperti telah terjadi pada penerjemahan Brecht, Celan, Goethe, Enzensberger dan Nietzsche, kerja sama itu sangat menyenangkan, walau terjadi dalam suasana yang cukup kelam. Kedua penerjemah tak bisa tidak menenggelamkan diri ke gelap jiwa Trakl yang malang, sehingga terseret ke suasana istimewa yang sangat “Trakl”. Itu kiranya yang melatarbelakangi lahirnya puisi berjudul “Trakl” yang ditulis Agus R. Sarjono di Bonn, saat kami bersama-sama berupaya menghasilkan terjemahan Indonesia yang senada dan sejiwa dengan puisi Trakl dalam bahasa Jerman. Puisi Agus itu menjadi bagian dari buku ini, dan saya menganggapnya sebagai “pengantar” puitis yang mengharukan.

Akhirnya, saya bahagia melihat puisi Trakl pun menjelma menjadi puisi Indonesia, dan dengan demikian telah menjadi bagian dari khazanah kesusastraan Indonesia. Semoga kerja sama berhasil yang sejak tahun 2003 saya lakukan dengan Agus R. Sarjono dalam rangka Seri Puisi Jerman ini akan berlanjut di masa depan! Untuk penyair jilid VIII kami sedang mempertimbangkan berbagai nama: Friedrich Hölderlin, Novalis, Christian Morgenstern. Juga penyair perempuan sedang dipikirkan: Else Lasker-Schüler atau Ingeborg Bachmann.

Bonn, Mei 2012

Berthold Damshäuser

Daftar Pustaka

Basil, Otto: Trakl, Reinbek bei Hamburg 1965.

Killy, Walter: Über Georg Trakl, Göttingen 1960.

Schürmann, Peter: Georg Trakl, München 1988.

Arnold, Heinz Ludwig (Hrsg): Georg Trakl, Edition Text + Kritik 4/4a 1973.

Kemper, Hans Georg: Interpretationen. Gedichte von Georg Trakl, Stuttgart 1999.

Stillmark, Alexander: Georg Trakl. Poems and Prose, Chicago 2005.

[1] Terjemahan Indonesia berbagai puisi Trakl terdapat di: Malam Biru di Berlin: Antologi dwibahasa puisi Jerman selama delapan ratus tahun, diedit dan diterjemahkan oleh Berthold Damshäuser dan Ramadhan K.H., Kedutaan Besar Jerman, Jakarta 1990; Kau Datang Padaku: Antologi puisi Jerman abad ke-20, diedit dan diterjemahkan oleh Berthold Damshäuser dan Ramadhan K.H., Balai Pustaka, Jakarta 1994; dan di Majalah Horison 6/2000, terjemahan Dian Apsari dan Berthold Damshäuser.

[2] Untuk menghindari kesan keliru, perlu dicatat bahwa Trakl bukan penyair yang berkarya secara spontan dalam arti menuliskan sesuatu, dan langsung menggangapnya sebagai puisi yang sudah jadi. Bagi dia, proses perampungan sebuah puisi cukup pelik dan lama, dan tak jarang terdapat banyak versi berbeda dari masing-masing puisinya, membuktikan upaya kerasnya dalam menghasilkan sesuatu yang “sempurna”. Sebagai contoh, dalam buku ini kami memuatkan tiga versi berbeda dari puisi berjudul An Novalis (Kepada Novalis).


메타데이터
post_id
81bc4c2a48f2
slug
perpuisian-georg-trakl-keindahan-yang-lahir-dari-trauma-81bc4c2a48f2
url
https://medium.com/@paktrum/perpuisian-georg-trakl-keindahan-yang-lahir-dari-trauma-81bc4c2a48f2
canonical_url
https://medium.com/@paktrum/perpuisian-georg-trakl-keindahan-yang-lahir-dari-trauma-81bc4c2a48f2
author_url
https://medium.com/@paktrum
status
ok
fetched_at
2026-06-15 20:49:13