← Back to list

Perempuan Peka itu Aku

bagaimana jadinya jikalau kamu bisa merasakan semuanya dengan mudah, bukankah itu melelahkan?

ndaqwyu · 2025-02-08 19:28 · 0 claps · 3.1 min read
#peka #baper #sensitif #cengeng
Open on Medium ↗

Perempuan Peka itu Aku

bagaimana jadinya jikalau kamu bisa merasakan semuanya dengan mudah, bukankah itu melelahkan?

kata mereka aku peka dan mulai kini kan ku anggap itu kelebihanku.

kata mereka aku peka dan mulai kini kan ku anggap itu kelebihanku.

“aku takut kamu jadi sedih..” “kaka tuh peka banget..” “kamu itu sentimental tapi bijak..” “jangan sering nangis lagi ya kak..” “orangnya gampang sedih..”

Jujur, awalnya aku ga suka dibilang sensitif, baper, mudah nangis, dan peka. Semua hal itu rasanya berkebalikan sama doa mama ku yang sengaja ngasih nama anaknya dari asmaul husna “Al-qawiyyu” yang artinya kuat. Padahal aku merasa sudah sedemikian rupa menyembunyikan tangis dan rasa sedihku, kalau dihitung dari 100%, kayanya 95% aku menutupinya, tapi bisa-bisanya 5% itu orang-orang notice.

Seiring berjalannya waktu, aku mulai mengenali diriku, dan aku sudah mengakui bahwa aku memang mudah menangis, mudah merasa kasian, takut menyakiti hati orang lain, takut menyusahkan orang lain, dan akan dengan mudah merasa sedih jika orang lain sedih, seolah-olah hidupku hanya tentang orang lain. Sekarang, aku sudah sepenuhnya menerima dikatain cengeng dan baperan, karena aku baru sadar itu bukan sebuah keburukan yang harus kututupi faktanya. Ustad Hanan Attaki pernah bilang gini:

“Nangis itu bukan dosa, nangis itu bukan lemah. Nangis itu adalah kasih sayang. Bahkan hati-hati yang kering itu butuh dibasahi dengan air mata. Orang yang jarang nangis itu hatinya kering. Kalau gabisa nangis karena dosa, coba tangisi dulu masalah. Sehingga, ketika kita udah terbiasa nangis karena masalah, maka hati kita akan semakin lembut, dan apabila hati sudah lembut maka akan lebih mudah menangisi dosa-dosa.”

Ustad Adi Hidayat juga pernah bilang: Kalau belum bisa menangis karena dosa-dosa yang kita perbuat, coba tangisi diri kita yang belum bisa menangis itu.

Sekarang, aku menganggap diriku yang mudah menangis ini adalah salah satu kelebihanku. Perjalanan untuk meyakini diri bahwa ini adalah hal yang baik, sangat tidak mudah. Dari dulu, aku sering merasa diasingkan karena dianggap tidak seru dan baperan. Mereka bilang “takut menyakiti hatiku”, “takut bercanda sama kamu nanti kamu baper”, dan banyak argumen lainnya yang membuatku dulu tidak menyukai diriku yang sensitif ini.

Padahal aku juga ingin bercanda tawa tanpa melibatkan perasaan, aku juga ingin dilibatkan dalam hal-hal seru yang mereka lakukan. Mengapa rasanya sangat susah menerima diri ini? Setiap ada yang menyakiti hatiku, aku dengan sangat mudah memaafkan, lalu mengapa mereka begitu takut? Mengapa aku merasa dijauhkan bahkan bukan karena kesalahan yang ku perbuat?

Setelah pencarian yang begitu lama akhirnya aku menyadari bahwa “Allah ingin menjaga hatimu, maka dari itu Allah jauhkan mereka darimu”. Antara aku ataupun mereka tak ada yang salah, beberapa dari kita memang ditakdirkan berjauhan agar hati kita tetap terjaga. Hatiku yang rapuh ini mungkin takkan bisa bertahan dengan mereka yang tidak mengerti akan hal itu. Bukankah pada akhirnya kita akan menemukan orang-orang yang memiliki frekuensi yang sama dengan kita? Lantas untuk apa bersedih akan kehilangan?

ingat, tidak perlu sempurna untuk diterima.

Sejujurnya, jika ditanya apakah aku bersedih karena kehilangan? Ku jawab ya, aku seringkali mengevaluasi diri bahkan terkadang menyalahkan diri karena beberapa orang pergi dari hidupku. Namun, jika ku maknai lebih dalam lagi, bukankah yang terjadi ini adalah skenario terbaik dariNya? Sebagai seorang manusia, aku akan terus memperbaiki diri namun sebagai seorang hamba aku akan terus menerima dengan suka cita dan sepenuh hati.

Sebagai seorang perempuan yang peka dan sensitif, aku menemukan diriku yang mudah merasa kasihan saat melihat kesusahan yang dimiliki orang lain. Sedari kecil rasanya aku ingin membela dan membantu mereka yang dihina, direndahkan, dan diabaikan namun tak jarang pula karena sifatku itu aku mendapat teguran “jangan suka ikut campur urusan orang lain”. Terkadang memang niat baik kita tak selalu diterima dengan baik, rasa kepedulianku yang begitu tinggi bisa jadi boomerang bagi diriku sendiri.

Namun tak jarang pula ada yang memuji dan berterimakasih dengan rasa kepedulianku, bahkan ada yang menangis haru karena perhatian yang ku beri. Menurut mereka, orang sepertiku ini langka, dan mulai saat itu aku coba menerima semua hal dariku. Terkadang kita ini bukan tidak berarti, namun kita belum menemukan tempat dimana kehadiran kita dihargai. Sebagai pribadi yang mudah merasa, aku mencoba menerima semua kekurangan orang lain seperti aku ingin orang lain menerima kekurangan ku pula. Bukankah pada akhirnya hidup ini tentang penerimaan?

Disaat aku menerima semua hal dari diriku, aku bisa menyalurkan rasa empatiku itu melalui kegiatan-kegiatan sosial masyarakat. Dibanding kegiatan akademik yang membosankan, aku menemukan diriku lebih senang melakukan kegiatan sosial ke masyarakat yang menurutku lebih berdampak dan bermakna. Namun kemudian aku menyadari, bahwa untuk memberi dampak, aku harus membekali diri dengan ilmu yang lebih banyak lagi.

Maka dari itu, mulai kini aku berjanji kepada diriku sendiri untuk terus menerima segala kekurangan diri dan terus memperbaiki diri menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Pribadi yang kehadirannya dinanti, kepergiannya dirindui, kematiannya ditangisi, dan kebaikannya diteladani.


메타데이터
post_id
81ca0d76cfca
slug
perempuan-peka-itu-aku-81ca0d76cfca
url
https://medium.com/@ndaqawwiyyu/perempuan-peka-itu-aku-81ca0d76cfca
canonical_url
https://medium.com/@ndaqawwiyyu/perempuan-peka-itu-aku-81ca0d76cfca
author_url
https://medium.com/@ndaqawwiyyu
status
ok
fetched_at
2026-07-21 01:33:17