Melampaui Sekadar Niat Baik | WhyDuit Series #3
Ikhtiar Untuk Membangun Portofolio Kekal
Melampaui Sekadar Niat Baik | WhyDuit Series #3
Ikhtiar Untuk Membangun Portofolio Kekal
Photo by Deski Jayantoro on Unsplash
Kita ini dermawan.
Serius.
Umat Muslim di seluruh dunia menyumbang miliaran dolar setiap tahun melalui zakat, infaq, dan sedekah (ziswaf). Potensi zakat global diperkirakan mencapai ratusan miliar dolar per tahun. Di Indonesia sendiri, potensinya ratusan triliun rupiah.
Setiap bulan Ramadan kita saksikan hati terbuka, masjid penuh, dan kotak amal terisi. Setiap ada bencana atau konflik kemanusiaan, umat Indonesia bergerak. Gaza, Sudan, Sumatera—Indonesia merespons.
Bahkan, Indonesia dinobatkan sebagai world’s most generous country selama 7 tahun berturut-turut (2018–2024) dalam World Giving Index dari Charities Aid Foundation.
Lantas, mengapa Indonesia masih begitu-begitu saja? Kurang banyakkah aliran ziswaf kita? Sepertinya tidak. Toh zakat saja (satu bagian dari ziswaf) tak jauh dari anggaran MBG 2026 — apalagi jika kita hitung infaq, sedekah, dan wakaf yang seharusnya jumlahnya lebih-lebih lagi.
Jika aliran ziswaf tak kurang banyak, mungkin bisa kita simpulkan bahwa barangkali kemurahan hati bukan masalahnya, juga bahwa niat bukan masalahnya.
Barangkali, masalahnya terletak pada bagian proses berdonasi yang jarang kita periksa, yakni bagaimana kita memberi.
Perasaan Setetes Air di Lautan
Photo by César Couto on Unsplash
Shakeel Rahman, seorang rekan LinkedIn-ku, menulis sebuah keresahan di newsletter Charity Beyond Niyyah miliknya.
Ia menuturkan bahwa kebanyakan muslim tidak kesulitan dengan apakah harus memberi. Hal tersebut sudah barang biasa. Kita berzakat, bersedekah, dan berbagi dalam keseharian dengan begitu mudah. Kita merespons ketika bencana melanda dengan penuh empati. Namun, meskipun sudah memberi, Shakeel merasa bahwa aktivitas berdonasi kadang terasa seperti setetes air di lautan.
Mungkin kita semua tak asing dengan perasaan tersebut. Media sosial mengantarkan kita padanya setiap saat.
Scroll berita dari Gaza, Sudan, Yemen, Nigeria.
Mungkin kamu sudah donasi. Kamu sudah share. Kamu sudah berdoa.
Namun, dunia kelihatannya masih sama saja. Penderitaan masih nyata di sana, dan malah semakin parah akhir-akhir ini. Kita mulai bertanya: apakah apa yang saya berikan ini sebenarnya mengubah sesuatu?
Shakeel merasa bahwa perasaan tersebut sangat wajar, tetapi tidak boleh dikaitkan dengan pemikiran bahwa sedekah kita itu sia-sia (secara duniawi). Lebih tepatnya, Perasaan itu muncul karena kita jarang melihat dampak dari apa yang sebenarnya terjadi setelah uang kita berpindah tangan.
Sebenarnya, yang lebih mendasar lagi adalah bahwa kebanyakan dari kita tidak pernah diajari cara memberi.
Kita memberi secara reaktif dan emosional — berdasarkan apa yang visible, urgen, familiar, dan tersedia. Kita tergerak oleh campaign di Instagram Reels. Kita terenyuh dengan cerita keluarga di kampung yang tak bisa menggapai mimpi. Kita terinspirasi untuk langsung memberi di saat suatu kesempatan mengetuk.
Mungkin itu tidak sepenuhnya salah. Yang jelas, itu menjelaskan mengapa charity kita terasa tersebar ke mana-mana, dan barangkali mengapa dampaknya terasa invisible.
Padahal, kita seserius itu risetnya ketika memilih-milih instrumen investasi, bukan? Kita baca berita dulu, bertanya ke teman dulu, dan barangkali menengok-nengok grafik dulu sebelum akhirnya memasukkan our hard-earned money ke dalam suatu instrumen.
Bisa gak ya kita sekritis itu menghadapi donasi sebagaimana kita menghadapi investasi? Toh donasi adalah investasi akhirat.
Matematika yang Menakutkan
Photo by Aaron Lefler on Unsplash
Hampir separuh dari semua anak yang meninggal sebelum usia lima tahun di dunia ini adalah muslim. Dari 10 negara tempat seorang anak paling mungkin meninggal, 6 adalah negara mayoritas Muslim. 2,5 juta anak Muslim meninggal setiap tahun karena penyebab yang sebagian besar bisa dicegah.
Gak kebayang sama angkanya? Angka itu lebih besar dari jumlah jamaah haji setiap tahun.
Anak-anak ini tidak meninggal karena penyakit misterius atau kondisi yang tidak bisa disembuhkan, melainkan karena diare yang bisa diatasi dengan oralit, malaria yang bisa dicegah dengan kelambu seharga beberapa dolar, pneumonia yang bisa diobati dengan antibiotik yang harganya lebih murah dari satu kali makan, atau malnutrisi yang melemahkan tubuh kecil sampai infeksi biasa menjadi vonis mati. Kesemuanya adalah preventable diseases.
Padahal, suplementasi Vitamin A untuk seorang anak biayanya kurang dari £0.10 (kurang dari dua ribu rupiah) — seharga satu gorengan.
Shakeel lalu melanjutkan seri tulisannya dengan beberapa studi kasus unik. Ia menyampaikan hasil riset yang memperkirakan bahwa seorang dokter di UK menyelamatkan sekitar tujuh nyawa sepanjang karir 40 tahunnya. Betul, bukan tujuh ratus, tetapi hanya tujuh, sebab menyelamatkan nyawa itu memang sangat sulit, bahkan untuk profesional yang mendedikasikan hidupnya untuk itu.
Di lain sisi, seorang muslim rata-rata di UK memberikan sekitar £708 per tahun untuk charity. Selama 40 tahun, itu sekitar £28.000. Kalau jumlah itu diarahkan ke program kesehatan global yang paling efektif, seorang donor biasa bisa menyelamatkan jumlah nyawa yang setara atau bahkan lebih dari seorang dokter.
Dengan kata lain, dengan penghasilan profesional yang biasa (untuk ukuran luar negeri, tentu saja), duduk di meja, dan menjalani hidup normal, seseorang bisa menentukan apakah orang hidup atau mati, jauh melampaui lingkungan sekitarnya.
Kamu bisa menentukan apakah orang hidup atau mati.
Orang biasa yang bukan presiden, miliarder, CEO, atau dokter bedah yang notabene berdiri di ruang operasi bisa menentukan apakah orang hidup atau mati. Modalnya adalah gaji, koneksi internet, dan sedikit riset tentang cara penggunaan uang yang paling berdampak.
Kamu cuma perlu memberi dengan arah. Dan itu dapat membantu memelihara — bahkan menyelamatkan — kehidupan seseorang.
Ingat kata Allah:

Q.S. Al-Maidah 5:32
Epilog
Buya Hamka menulis bahwa qanaah bukan tentang menolak harta, tapi tentang tidak diperbudak olehnya. Imam Al-Ghazali menulis bahwa uang harus beredar agar masyarakat hidup. Nouman Ali Khan menunjukkan bahwa bisnis halal itu ibadah setara jihad. Abdal Hakim Murad mengingatkan bahwa hanya harta yang disedekahkan-lah yang berakhir kekal. Lalu, Shakeel Rahman menambahkan lapisan terakhir bahwa keikhlasan menentukan motivasi, tetapi ikhtiar meriset menentukan dampak.
I think I was way too swamped to complete this to the level I wanted to, so I may go over this topic again in the future and draw better parallels and discuss more intricacies of this ‘EA mindset’ in an Islamic lens :)
But that’s all for now! Hope you enjoyed this series, and may we all be forgiven and blessed this Ramadan!
Referensi:
- Hamka. Tasauf Moderen (Tasawuf Modern). Republika Penerbit, 2015. https://www.goodreads.com/book/show/5740975-tasauf-modern
- Nouman Ali Khan. Quran & The Global Economy — seri Bayyinah. https://bayyinah.com/globaleconomy/
- Abdal Hakim Murad. “The Harsh Reality of Chasing Wealth.” Lihat juga: https://www.halaltube.com/abdal-hakim-murad-own-your-wealth
- The Financial Historian. “Al-Ghazali: The Thinker Who Linked Money to Morality.” https://www.islamicity.org/106045/al-ghazali-the-thinker-who-linked-money-to-morality/
- Shakeel Rahman. “The Futures We Could Save.” Charity Beyond Niyyah (Substack). https://shakeelrahman.substack.com/p/the-futures-we-could-save
- Shakeel Rahman. “Can an Ordinary Muslim Save as Many Lives as a Doctor?” Charity Beyond Niyyah (Substack). https://shakeelrahman.substack.com/p/can-an-ordinary-muslim-save-as-many
- Shakeel Rahman. “Why Charity Can Feel Like a Drop in the Ocean.” Charity Beyond Niyyah (Substack). https://shakeelrahman.substack.com/p/why-charity-can-feel-like-a-drop
메타데이터
- post_id
- 8203a4f02eef
- slug
- melampaui-sekadar-niat-baik-whyduit-series-3-8203a4f02eef
- url
- https://medium.com/@rakeanradya/melampaui-sekadar-niat-baik-whyduit-series-3-8203a4f02eef
- canonical_url
- https://medium.com/@rakeanradya/melampaui-sekadar-niat-baik-whyduit-series-3-8203a4f02eef
- author_url
- https://medium.com/@rakeanradya
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-24 04:09:36