← Back to list

Resensi Film

Bidaah (2025) dan Teror Sunyi Fanatisme: Ketika Agama Kehilangan Akal

Suara Kebebasan · 2025-06-12 05:43 · 0 claps · 3.2 min read
#suarakebebasan #movie-review #bidaah #agama #irasional
Open on Medium ↗
Wiki topics: 🎬 · Film & Television

Resensi Film

Bidaah (2025) dan Teror Sunyi Fanatisme: Ketika Agama Kehilangan Akal

Oleh Iman Amirullah*

Sumber foto: https://awsimages.detik.net.id/community/media/visual/2025/04/08/drama-malaysia-bidaah-1744102981365.jpeg?w=1200. Desain: Isaura Jasmine Aulia (2025).

Judul: Bidaah

Sutradara: Pali Yahya

Produser: Eirma Fatima

Tahun terbit: 2025

Negara Asal: Malaysia

Bahasa: Melayu

Jumlah Episode: 15

Film “Bidaah” adalah sebuah karya sinematik yang menyentil nurani, menyodorkan cermin tajam bagi masyarakat yang menjadikan agama sebagai medan kuasa, bukan jalan kebijaksanaan. Dengan latar desa yang kental dengan tradisi dan ketundukan. “Bidaah” menceritakan tentang Baiduri (Riena Diana), seorang wanita muda yang hidup dalam keluarga yang sangat taat agama. Suatu ketika, ibunya, Kalsum (Fazlina Ahmad Daud), meminta Baiduri untuk bergabung dengan Jihad Ummah, sebuah kelompok agama yang dipimpin oleh seorang pria karismatik bernama Walid Muhammad (Faizal Hussein). Walid mengaku sebagai Imam Mahdi, juru selamat umat muslim pada akhir zaman.

Berusaha mematuhi permintaan ibunya, Baiduri akhirnya bergabung dengan sekte tersebut. Namun, setelah beberapa waktu, ia mulai menyadari adanya praktik-praktik mencurigakan dalam kelompok tersebut. Ia menemukan adanya pernikahan paksa, tekanan untuk tunduk pada pemimpin, serta ritual-ritual yang dirasanya tidak sesuai dengan ajaran agama. “Bidaah” tidak hanya menampilkan konflik biasa antara si “taat” dan si “menyimpang”, tetapi membuka lapisan terdalam dari bagaimana fanatisme beragama, feodalisme sosial, dan dogmatisme dapat menghancurkan nalar, kebebasan, dan kemanusiaan.

Sejak menit awal, penonton dibawa masuk ke dalam atmosfer yang sunyi namun menekan. Tidak ada kekerasan frontal atau orasi ekstrem, tapi justru itu lah kekuatannya: ancaman hadir dalam bentuk bisikan, tatapan curiga, dan aturan tak tertulis yang membatasi ruang gerak warga. Di desa itu, Walid, sang pemimpin sekte memiliki kuasa penuh atas tafsir agama, moralitas, dan bahkan kehidupan sosial. Ia tidak dipertanyakan, tidak dikritik, dan tidak dibantah. Siapa pun yang berbeda dianggap membawa “bidaah” atau sesat, sesuatu yang harus dibasmi. Dari sinilah akar fanatisme beragama dalam film ini tumbuh: dari keengganan atau bahkan penolakan terhadap pertanyaan dan perbedaan.

Fanatisme yang digambarkan dalam “Bidaah” bukan sekadar bentuk keberagamaan yang bersemangat, melainkan keyakinan membabi buta terhadap satu tafsir tunggal. Dalam masyarakat seperti ini, iman bukan lagi tentang hubungan pribadi dengan Tuhan, melainkan soal kepatuhan sosial. Ketika agama kehilangan akarnya pada belas kasih dan nalar, yang tersisa hanyalah sistem komando — di mana dosa dan pahala dikontrol oleh segelintir elite religius. Bahkan, tindakan sesederhana berdiskusi atau menggelar pengajian dengan pendekatan berbeda dianggap sebagai bentuk pemberontakan. Agama yang seharusnya membebaskan justru berubah menjadi penjara tak kasat mata.

Film ini juga dengan tajam mengangkat feodalisme kultural yang kerap tersembunyi di balik kebajikan religius. Walid dan para pemuka agama lainnya dalam “Bidaah” bukan hanya tokoh spiritual, tetapi sosok yang posisinya menyerupai “raja kecil.” Ia mengatur siapa yang boleh menikah, siapa yang layak bicara, bahkan siapa yang patut dijauhi. Relasi ini jelas sangat feodal, di mana jamaah atau pengikutnya berubah dari manusia yang merdeka menjadi layaknya budak kepada tuannya. Tidak ada ruang dialog atau partisipasi umat. Momen menarik terjadi ketika Baiduri dan Hambali mencoba menentang dominasi sang pemimpin sekte dan menawarkan pemahaman ajaran agama secara lebih rasional dan kontekstual, mereka justru kemudian dianggap menghina ulama dan membawa ajaran sesat. Feodalisme ini menumbuhkan budaya takut dan mematikan inisiatif berpikir.

Yang lebih menarik dan faktual juga, film ini memperlihatkan dampak dari beragama tanpa nalar kritis. Dalam masyarakat yang anti-intelektual, nalar dianggap musuh. Bertanya dianggap tanda kurang iman. Padahal, dalam sejarah panjang peradaban Islam maupun agama-agama besar lainnya, nalar selalu menjadi sahabat utama wahyu. Namun dalam dunia “Bidaah”, kemampuan berpikir independen justru dituduh sebagai pengaruh luar yang berbahaya. Masyarakat dibentuk untuk taat, bukan untuk paham. Akibatnya, warga menjadi rentan terhadap manipulasi, cepat terhasut oleh ujaran kebencian, dan menjustifikasi perlakuan tak manusiawi atas nama kebenaran agama.

Secara artistik, film ini pun mendukung gagasan-gagasannya dengan kuat. Pencahayaan yang redup, sudut kamera yang sempit, dan iringan musik minimalis memperkuat kesan terkungkung dan ketegangan batin para tokohnya. Sutradara tidak menyajikan dramatisasi yang berlebihan, tapi justru memilih gaya bertutur lambat dan kontemplatif — menegaskan bahwa ancaman utama tidak selalu datang dari luar, tapi dari dalam sistem keyakinan yang tidak diawasi akal sehat.

Di tengah kondisi sosial Indonesia yang masih bergulat dengan intoleransi dan konservatisme ekstrem, “Bidaah” adalah alarm yang relevan. Film ini mengingatkan kita bahwa bahaya terbesar agama bukanlah perbedaan tafsir, melainkan ketakutan untuk menafsir ulang. Ketika agama dipisahkan dari cinta kasih, akal, dan keterbukaan, ia bukan lagi membawa pencerahan, melainkan menjadi alat pembenaran penindasan.

Dengan demikian, “Bidaah” bukan sekadar film, tapi sebuah refleksi tajam tentang bagaimana kita memaknai keberagamaan di era modern. Apakah kita menjadikan agama sebagai ruang tumbuhnya cinta, akal, dan kemanusiaan, atau malah menjadikannya alat untuk menyingkirkan yang berbeda? Film ini mengajukan pertanyaan yang tidak nyaman, namun sangat perlu: apakah kita sedang benar-benar beriman, atau hanya sedang menyembah ketakutan kita sendiri?

*Iman Amirullah adalah Managing Editor Suara Kebebasan dan National Coordinator untuk Students For Liberty Indonesia 2024/2025. Ia merupakan lulusan S1 Hubungan Internasional di Universitas AMIKOM Yogyakarta dengan fokus studi internasionalisasi gerakan sosial.


메타데이터
post_id
82953a6074b8
slug
resensi-film-82953a6074b8
url
https://medium.com/@redaksisuarakebebasan/resensi-film-82953a6074b8
canonical_url
https://medium.com/@redaksisuarakebebasan/resensi-film-82953a6074b8
author_url
https://medium.com/@redaksisuarakebebasan
status
ok
fetched_at
2026-06-24 04:09:36