← Back to list

Nasib Apes Lagu “Genjer-Genjer”

oleh: Winka G.N.

Winka G.N. · 2025-09-29 04:49 · 0 claps · 5.1 min read
#sejarah #komunis #lagu
Open on Medium ↗

Nasib Apes Lagu “Genjer-Genjer”

oleh:

Winka G.N.

Kalau Anda menonton film Pengkhianatan G30S/PKI karya Arifin C. Noer yang dirilis tahun 1984, di pertengahan film itu akan Anda saksikan adegan penyiksaan tujuh jenderal TNI di kawasan Lubang Buaya. Nah, di tengah-tengah penyiksaan yang digambarkan begitu mengerikan itu, ada adegan orang-orang berjoget sambil menyanyikan sebuah lagu. Itulah lagu Genjer-Genjer yang katanya dianggap sebagai “lagu kebangsaan” simpatisan Partai Komunis Indonesia atau PKI.

Mengikuti apa yang dinasihatkan oleh bapak saya: “Pelajari segala sesuatu dari sumbernya”, maka saya cari informasi mengenai lagu ini. Kok bisa lagu yang memakai bahasa Jawa gaya Banyuwangian (atau bahasa Osing) ini jadi lagunya orang Komunis? Apa mungkin D.N. Aidit yang orang Belitung itu paham bahasa Jawa? Tak perlu kebanyakan tingkah, mari kita bahas sama-sama.

Utan Parlindungan dalam jurnal berjudul Mitos Genjer-Genjer: Politik Makna Lagu (2014) menjelaskan bila lagu Genjer-Genjer diciptakan oleh seorang seniman asal Banyuwangi bernama M. Arief pada tahun 1942. Lagu ini dirilis sebagai bentuk kritik penciptanya terhadap kondisi bangsa Indonesia yang amat miskin nan melarat akibat penjajahan Jepang. Saking nelangsanya kondisi bangsa Indonesia saat itu, sampai-sampai mereka harus mengonsumsi tanaman Genjer.

Genjer (Limnocharis flava) adalah tanaman yang biasa tumbuh di sawah atau perairan dangkal. Bagi petani, ia dianggap gulma yang mengganggu. Namun, menurut sejumlah kajian, genjer ternyata memiliki kandungan gizi tertentu. Fakta ini menggambarkan betapa sulitnya kehidupan rakyat Indonesia pada masa pendudukan Jepang, hingga tanaman liar pun dijadikan santapan sehari-hari.

Tanaman Genjer

Tanaman Genjer

Isi Lagu Genjer-Genjer

Lirik lagu ini menggambarkan aktivitas sederhana masyarakat Banyuwangi pada masa penjajahan Jepang. Berikut petikan liriknya beserta terjemahannya:

Genjer-genjer nong kedok’an pating keleler

(Genjer-genjer, di pematang sawah berhamparan)

Emak’e tole teko-teko mbubuti genjer

(Ibunya anak-anak, datang-datang mencabuti genjer)

Oleh sak tenong mungkur sedot sing tole-tole

(Dapat sebakul, lalu bergegas pergi, dapat yang kecil-kecil)

Genjer-genjer saiki wis digowo mulih

(Genjer-genjer, sekarang sudah dibawa pulang)

Genjer-genjer isuk-isuk didol ning pasar

(Genjer-genjer, pagi-pagi dijual di pasar)

Dijejer-jejer diuntingi podo didasar

(Dijejer-jejer, diikat, dan semua digelar)

Emak’e jebreng podo tuku nggowo welasan

(Ibunya Jebreng pada membeli, membawa belasan ikat)

Genjer-genjer saiki wis arep diolah

(Genjer-genjer pun sekarang siap diolah)

Bagaimana pikiran Anda setelah melihat lirik Genjer-Genjer di atas? Ada yang aneh? Kalau saya sih ada. Pikiran saya terganggu dengan pertanyaan: Di mana letak kesalahan lagu ini sampai dilarang di masa Orba dan masih mendapat stigma negatif hingga sekarang? Apa hubungannya dengan PKI?

Dari Lagu Rakyat ke Alat Propaganda

Lama saya membaca sumber-sumber tentang lagu ini. Akhirnya saya paham bila ini lagu memang pernah dijadikan bahan propaganda PKI. Makanya ia melekat kuat dengan partai kiri buatan Semaoen itu.

Penciptanya, M. Arief, adalah anggota Lembaga Kesenian Rakyat (Lekra), yaitu organisasi seni dan budaya yang terafiliasi dengan PKI. Dalam brosur terbitan Lekra yang berjudul Lekra Menjambut Kongres Kebudajaan, organisasi ini berdiri pada 17 Agustus 1950. Nah, dari sini mungkin Anda sudah mulai menebak jawaban atas pertanyaan saya di atas. Sebab M. Arief itu orang Lekra yang terafiliasi ke PKI, maka karya-karyanya pasti mengarah ke propaganda partai, termasuk lagu Genjer-Genjer.

Tapi, izinkan saya untuk kurang setuju dengan pendapat tersebut. Kita lihat bahwa lagu Genjer-Genjer diciptakan 1942. Itu artinya lagu ini sudah ada delapan tahun sebelum Lekra berdiri. Apa kepikiran M. Arief untuk menjadikan lagu buatannya itu sebagai lagu propaganda PKI?

M. Arief, Pencipta Lagu Genjer-Genjer

M. Arief, Pencipta Lagu Genjer-Genjer

“Tapi bukannya itu lagu memang dipakai PKI?” kata kawan saya dalam sebuah diskusi. Jawabannya ya memang benar adanya. Karena dianggap selaras dengan penderitaan rakyat, lagu Genjer-Genjer akhirnya dijadikan alat politik dan propaganda oleh PKI. Anda tahu sendiri kan kalau salah satu propaganda PKI adalah peduli dengan nasib orang miskin, buruh, dan kaum proletar. Bahkan, sekitar tahun 1960-an, lagu Genjer-Genjer berhasil booming di seantero Nusantara. Dua corong media pemerintah yaitu Televisi Republik Indonesia (TVRI) dan Radio Republik Indonesia (RRI) dijadikan alat meningkatkan popularitas lagu tersebut. Sampai-sampai ia pernah dinyanyikan oleh beberapa penyanyi kenamaan Indonesia seperti Lilis Suryani dan Bing Slamet. Kalau Anda mau mendengarkannya, cari saja di YouTube. Masih ada kok.

Stigma Pasca-G30S/PKI

Nasib sial menghampiri lagu Genjer-Genjer. Setelah meletus peristiwa G30S/PKI atau Gestapu, lagu yang awalnya hanya sekadar lagu daerah asal Banyuwangi itu dicap lagunya PKI. Apalagi ada pihak yang membuat plesetan lagu tersebut. Misalnya yang dinukil oleh Utan Parlindungan dari catatan pribadi Hasan Singodimayan, seniman Himpunan Seniman Banyuwangi Indonesia (HSBI) yang juga kawan M. Arief. Isinya begini:

Jenderal-jenderal nyang ibu kota pating keleler

Emake Gerwani teko-teko nyuliki jenderal

Oleh sak truk, mungkir sedot sing toleh-toleh

Jenderal-jenderal saiki wis dicekeli

Jenderal-jenderal isuk-isuk pada disiksa

Dijejer, ditaleni, lan dipelosoro

Emake Gerwani teko kabeh melu ngersoyo

Jenderal-jenderal maju terus dipateni

Untuk terjemahannya, silakan tanya pada kawan Anda yang orang Jawa. Saya tak enak hati untuk menerjemahkannya di sini. Terlalu sadis bagi saya.

Sebab adanya budaya plesetan itu, ditambah memang itu lagu propaganda PKI, semakin kuat pelarangan lagu ini di masa Orba. Bahkan siapa pun yang menyanyikan atau hanya sekadar mendengarkannya, pasti dicap PKI. Malah ada beberapa kasus orang-orang yang sengaja atau tidak sengaja memutar lagu Genjer-Genjer akan ditangkap oleh pihak keamanan.

Intinya, bagi saya, nasib lagu Genjer-Genjer itu bisa dikatakan apes. Awalnya ia digunakan sebagai alat mengkritik penjajahan Jepang. Sebab masyhur, ia dijadikan alat propaganda oleh PKI. Apalagi M. Arief, si pencipta, yang jadi anggota Lekra. Gara-gara kelakuan PKI yang meledakkan peristiwa Gestapu, lagu ini kena imbasnya. Andai saja M. Arief tidak masuk Lekra dan lagu ini tidak dijadikan alat propaganda PKI, pasti aman-aman saja nasib lagu ini. Memang, nasib apes rupanya tak hanya menghampiri bangsa manusia. Lagu juga bisa terkena imbasnya.

Lagu Kebangsaan PKI?

Sekarang, apa benar kalau lagu ini memang jadi lagu kebangsaan PKI? Menurut saya pribadi, kurang tepat lagu ini dianggap lagu kebangsaannya partai kiri itu. Sudah saya jelaskan di atas bila lagu ini hanyalah “alat propaganda”. Lalu, apa lagu kebangsaan PKI?

Anda bisa menemukannaya dalam brosur Konstitusi Partai Komunis Indonesia (PKI) yang dicetak oleh Central Comite Partai Komunis Indonesia pada 1954. Pada bab pertama tentang Bendera, Lambang, Lagu, dan Sumpah Partai, disebutkan di pasal ketiga bahwa: “Lagu Partai jalah lagu Internasionale”.

Lagu itu memang jadi lagunya kaum Komunis seluruh dunia. Judul aslinya adalah L’Internationale yang ditulis dalam bahasa Prancis oleh Eugene Pottier pada tahun 1871 dan digubah oleh Pierre Degeyter pada tahun 1888. Karena PKI itu punya kaitan dengan organisasi Komunis dunia atau Komintern, ya jelas saja mereka menjadikan lagu ini “lagu kebangsaan” partai. Untuk lebih jelasnya kita bahas saja di tulisan selanjutnya, insyaAllah.

Lirik Lagu L’Internationale Versi Bahasa Prancis

Lirik Lagu L’Internationale Versi Bahasa Prancis

Pada akhirnya, kita masih dibuat bingung dengan lagu Genjer-Genjer. Dibilang lagu PKI, tapi awalnya dibuat untuk mengkritik penjajah Jepang. Tidak dikatakan sebagai lagu PKI, tapi ia dibuat alat propaganda partai berlambang palu arit ini. Lalu, bagaimana sikap kita? Bijak-bijaklah dalam menyikapi sejarah lagu ini. Kita menjadi paham bahwa sesuatu yang awalnya diniatkan baik, tapi ketika digunakan oleh kaum yang salah, terkena getahnya juga ia. Semoga kita dapat selalu mengambil pelajaran dari setiap peristiwa yang terjadi di sekitar kita.

Allahu A’lam…


메타데이터
post_id
82abb51db481
slug
nasib-apes-lagu-genjer-genjer-82abb51db481
url
https://medium.com/@kafatihani1998/nasib-apes-lagu-genjer-genjer-82abb51db481
canonical_url
https://medium.com/@kafatihani1998/nasib-apes-lagu-genjer-genjer-82abb51db481
author_url
https://medium.com/@kafatihani1998
status
ok
fetched_at
2026-07-13 06:23:13