← Back to list

Nganjuk-Jogja: Fixed Gear

Coba pikirkan secara logika, bagaimana mungkin bersepeda dengan sepeda fixie — tanpa rem, tanpa operan, bahkan dengan pedal yang harus…

Syauqi Futtaqi · 2026-03-25 02:46 · 0 claps · 4.3 min read
#sepeda #fixie #jogja
Open on Medium ↗

Nganjuk-Jogja: Fixed Gear

Coba pikirkan secara logika, bagaimana mungkin bersepeda dengan sepeda fixie — tanpa rem, tanpa operan, bahkan dengan pedal yang harus terus dikayuh — dari Nganjuk ke Jogja sejauh 230 km? (mungkin sih, aku udah ngelakuin).

Bayangkan, seorang remaja 23 tahun nekat melakukan hal paling ambisius dalam hidupnya, untuk membuktikan kepada dirinya sendiri bahwa kapasitas mental dan fisiknya mampu untuk menyelesaikan ambang batas yang ia bangun sendiri. Karena dalam pikirannya, ia meremehkan dirinya sendiri, ia tidak percaya terhadap yang ada dalam dirinya. Ia ingin mengalahkan si bodoh dalam dirinya. (paragraf ini terlalu alay sih jujur).

Awalnya, jelas, aku tak menyangka bisa menyelesaikan ini. Tapi, baiknya, ceritanya dimulai lebih awal lagi, sebelum ada pikiran apapun untuk ber-fixie dari Nganjuk ke Jogja. Toh, gak jauh-jauh juga, hanya berkisar setahun sebelumnya.

2024 akhir, akhirnya aku bisa membangun sepeda fixed gear yang menurutku saat itu mahal (gak perlu disebut berapa kali gaji), yang bahkan tujuanku hanya untuk bersepeda 10 km saja mengitari desa, karena memang sama sekali tak mengenal dunia sepeda. Hanya bermodal Youtube, aku tau part dan alat apa aja yang harus kubeli. Mulai tuh beli-beli sampe akhirnya jadi. Walau pada awalnya belum mantab, beberapa kali trobel kayak baut kurang kenceng :emot ketawa: & kurang nyaman dipancal.

2025 sangat mula, bagaimanapun juga, ya namanya baru di hobi, pasti rajin sekali, bahkan hampir tiap hari. Yang kurasakan? tiap beberapa hari pengen nambah kilometer jarak, yang dari awalnya lima, naik lima belas, naik lagi dua lima, dan sampai pada sweet-spot kilometer, yang mana ketika pulang belum ngeganggu awal mulainya kerja, di empat puluh kilometer. Seiring berkembangnya jarak dan kemampuan, berkembang juga rasa penasaranku tentang dunia sepeda serta kebutuhannya, seperti upgrade part, sepatu, cyclocomp, dan sebagainya. Bahkan di beberapa kesempatan hari Libur, mulai nyoba tambah jarak di enam puluh.

2025 masih awal, masih 2–3 bulan dari mulai bersepeda. Entah kesamber apa, satu minggu sebelum puasa di 2025, muncul rasa yang begitu penasaran, bisakah menyelesaikan 100Km? Fondo pertama tepat sebelum puasa? keinginan yang mungkin muncul karena seringkali merasa “kurang capek” setelah mancal yang bagiku sudah panjang, di 60Km. Akhirnya, tepat H-2 puasa, setelah persiapan yang tertata, aku memberanikan seratus kilometer pertama. Ketika perjalanan, ketika melewati jalan sunyi, jujur mental sangat teruji, rasa mau nyerahpun datang berulang kali. (bikin ngakak kalo diingat). Tapi akhirnya berhasil, ada sesuatu yang sangat lega.

2025 setelah puasa. Minggu demi minggu datang dengan sangat ditunggu. Namun, bukan “jalan yang mulus” yang dilalui, rencana tiap minggu long-ride yang kudambakan tidak berjalan semestinya. Banyak hal terjadi, entah dari faktor internal atau pun faktor-faktor yang tak layak dipublikasikan. Bagaimanapun, hingga mendekati akhir tahun, dengan kondisi yang lebih teratur, aku berusaha se-maksimal mungkin menjaga semangat sepedahanku. Yang pada akhirnya hanya menghasilkan beberapa kali Fondo saja.

2025 menjelang purna. Karena udah mulai terbiasa long-ride lagi, karena juga beberapa kali tertarik nonton konten ultra-cycling, aku disamber lagi pikiran yang entahlah yang tiba-tiba datang — yang deadline-nya hanya 3 minggu sebelum tahun berakhir: Bersepeda ke Jogja. Jika pertanyaannya mengapa Jogja, aku pikir hal paling masuk akal yang bisa menjadi jawaban adalah jarak. Yang tak begitu jauh dan banyak akses bis (satu masalah transportasi terselesaikan). Rencananya akan kueksekusi ketika libur akhir tahun. Dalam perencaan itu, mulai jugalah persiapan yang lebih matang, hingga akhirnya terlaksanakan juga pada hari yang direncanakan.

Dari sinilah cerita dimulai, Berangkat dengan kesiapan penuh pada pukul 4.10 dari Nganjuk. Perjalanan awal terasa biasa, dengan jalan yang masih biasa aku lewati, bedanya sedikit lebih pagi. Sampailah pada pemberhentian pertama, di supermarket di Loceret. Sebenarnya belum perlu secara logistik, tapi perlu untuk BAB, serta ada masalah kecil terkait record device antara cyclocomp dan smartphone. Di sini, jelas, aku tidak mengebut sama sekali, hemat tenaga istilah kata. Hingga sampai pada pemberhentian kedua di Wilangan untuk buang hajat (lagi) serta sarapan roti. Perjalanan berlanjut, dengan pola yang sama pada pemberhentian ketiga di Karangjati dan keempat di Watualang (makan roti/sosis dan buang hajat).

Entahlah, mungkin resah. Perutku, belum tengah hari udah buang hajat berkali-kali. Sangat mengganggu. Apalagi aku memakai bib yang sangat repot kalo mau pasang-copot. Awan mendung yang kunanti-nanti juga tak hadir selama perjalanan ini. Sedikit mengganggu mental. Ditambah, baru mau masuk Alas Mantingan.

Fixed gear terasa nyata di Alas Mantingan yang kurasa banyak rolling, entah beneran atau hanya perasaan. Panas yang kena siang jam 11 juga membuat fisik melemah. Bayangkan saja, jam 11 siang ketika matahari sedang terik-teriknya, aku berada di tengah hutan yang minim kehidupan dan kepanasan.

Goyah mentalku menghadapi itu semua, ku kayuh pedalku pelan-pelan, sangat pelan, banyak istirahat, akhirnya sampai juga di supermarket di daerah Widodaren. Ku istirahatkan tubuhku sambil terus minum secara berkala selama 2–3 jam, dari jam setengah 12-an sampai jam setengah 2-an. Pusing karena kelelahan menyerang. Di waktu itu juga, terbesit di kepala untuk menyerah saja. Sangat capek. Belum pernah aku mendapati diriku selemah itu. Tapi, aku mencoba bertahan, 2 jam kulalui untuk menghadapi kondisi fisik dan mental tersebut.

Hingga akhirnya terik mulai mereda. Pusing sudah jauh mending. Lanjut mancal tanpa pola istirahat, tanpa pola makan, tanpa pola minum. Sudah tidak karuan. Pokok kebelet, cari toilet umum terdekat, haus, cari supermarket terdekat. Perlahan, mulai lancar lagi ketika sore di Sragen hingga waktu Maghrib di Solo. Memasuki Solo lewat ring-road utara pas waktu Maghrib punya rasa tersendiri, jalan sepi, lampu penerangan minim, nanjak sedikit. Bikin mental sedikit guncang lagi. Tapi tetep berusaha dengan langsung belok masuk kota dengan jalanan yang masih sedikit menanjak dan mulai gelap, hingga sampe di pom supermarket sebelum Tugu Kartasura.

Istirahat lagi, capek mental lagi, capek fisik lagi. Di sini, di jam setngah delapan malam ini, aku di toilet sedikit lebih lama, merenung apa yang sudah aku lakukan. Sambil cari penginapan terdekat yang mungkin ada. Lutut rasanya udah minta istirahat. Tapi ketika keluar, ketika mau cari udara di luar, di dekat sepeda, ada ultraist juga yang bertujuan Jogja. Apa yang terjadi? Mentalku bangkit, juga dengan fisik. Minta tolonglah aku sama dia, bisakah dia mendampingiku ke Jojga? yang pastinya tanpa kebut-kebutan. Dan Bisa.

“Jogjaaaaaaaaaaa” entah berapa a yang terucap saat sampai. Setelah melewati mulusnya jalan raya Solo-Klaten-Sleman-Yogya, yang membangkitkan mental dan dengkul, ditambah udara malam yang sedikit dingin. Maklum, sebagai orang yang sering banget lewat jalannya Jawa Timur, begitu mencicipi jalan semulus itu terasa berbeda — terasa seperti karpet merah yang memang menungguku.

Kusendenkan sepeda di samping kursi kosong di titik nol. Kuistirahatkan tubuhku, menikmati ramainya persimpangan di jam sebelas malam, dipadukan sunyinya batin. Tenang. Tak ada lagi yang perlu diperjuangkan. Ada sesuatu yang hanya bisa dirasakan, diabadikan. Hanya aku yang tahu.

Dari remah-remah perjalanan, dua hari kemudian

Dari remah-remah perjalanan, dua hari kemudian


메타데이터
post_id
82ca37be8ea6
slug
nganjuk-jogja-fixed-gear-82ca37be8ea6
url
https://medium.com/@syauqf/nganjuk-jogja-fixed-gear-82ca37be8ea6
canonical_url
https://medium.com/@syauqf/nganjuk-jogja-fixed-gear-82ca37be8ea6
author_url
https://medium.com/@syauqf
status
ok
fetched_at
2026-06-23 17:05:31