← Back to list

Haunted thoughts

Manusia itu payah ya? atau hanya aku yang mencari teman?

haunty · 2025-07-17 02:08 · 0 claps · 4.2 min read
#journaling #self-awareness #kecewa #ragu #lebih
Open on Medium ↗
Wiki topics: RAG · RAG & Retrieval

Haunted thoughts

Manusia itu payah ya? atau hanya aku yang mencari teman?

Nggak punya keyakinan yang besar jika aku bisa.

Rasanya kata “yakin” yang kemarin dikatakan ke diri sendiri itu hanya kebohongan karena aku nggak sanggup hari ini. Aku nggak bisa ngadepin hari ini.

Mungkin awalnya memang tidak cakap. Tapi sisi rapuh ini muncul lagi. Sisi yang meragukan diri sendiri.

Keberhasilan yang lalu dianggap terlalu liar untuk menyimpulkan bahwa kali ini aku pun bisa. Karena pada kenyataannya aku pernah gagal.

Memilih sesuatu yang baru sekarang rasanya bukan langkah yang tepat lagi. Banyak dari orang lain yang ahli dan aku hanya membebani mereka dengan eksperimen yang aku coba lakukan. Aku merasa kurang dan enggak pantas.

Rasa kaget mereka ketika aku memulai sesuatu menjadi rasa yang lebih aku perhatikan dari sebelumnya. Apakah aku memang bukan orangnya?

Ketika aku menulis, pikiranku melambat. Pikiran-pikiran yang aku belum selesaikan akan berteriak kembali di lain waktu.

Paling susah untukku adalah untuk speak-up. Karena aku pernah diberikan kata-kata yang rasanya hal itu menghukum dan mengurungku sampai saat ini. Kata-kata yang terdengar seperti kebenaran ketika aku tidak cakap dan lemah. Rasanya kata-kata itu tidak akan pernah hilang dari kepalaku sampai kapan pun. Bahkan ketika aku senang, kata-kata itu akan muncul kembali ketika aku mulai bersedih. Apa yang harus aku lakukan. Katanya pikiran itu seperti awan, tetapi itu sangat nyata dan tidak bisa aku biarkan lewat begitu saja.

Mungkin itu hanya bisa dipatahkan lewat bukti, tapi rasanya bukti itu tidak bisa aku dapatkan ketika aku tenggelam bersamanya. Tidak ada yang melawan. Siapa yang mau melawan? Mungkin aku punya sesuatu yang aku dambakan, tapi aku terlalu pesimis untuk meraihnya. Karena banyak yang lebih baik dariku dan rasanya harapan itu memudar.

Bukannya aku tidak ingin percaya… tapi ini seperti siklus. Aku akan tenggelam lagi dan lagi karena aku tidak kuat. Ketika aku tidak kuat, haruskah aku percaya kalau aku kuat?

Yang terpikir olehku saat ini adalah bukti. Perlu bukti kalau aku kuat. Tidak hanya sebarang bukti yang tidak relevan, tetapi aku membutuhkan bukti yang linear dengan tujuanku. Ketika aku menemukan jalan seperti ini, semuanya terasa beres dan baik-baik saja.

Tetapi aku sungguh-sungguh tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama. Takut jika kata-kata itu muncul lagi dan yang aku lakukan hanya melemah. Mungkin aku tidak boleh membiarkan hal itu terjadi padaku. Harga yang harus kubayar supaya aku tidak menemui kejadian nangis hingga bergetar dan merasa sangat lemah bahkan ketika aku tidak sedang sakit.

Mungkin memang aku tidak memiliki pencapaian seperti orang lain yang selalu aku inginkan. Menjadi juara 1 di bidang yang aku sukai. Mungkin kata selalu pun rasanya seperti kebohongan. Karena aku nyatanya belum sampai ke sana. Namun, meskipun begitu, aku di sini bersama mereka. Aku di sini bersama mereka karena aku berusaha bersungguh-sungguh menginginkannya. Aku tidak benar-benar berusngguh dalam semua hal yang aku kerjakan. Mungkin aku tidak benar bersungguh-sungguh ketika memilih sesuatu yang akan aku kerjakan.

Mungkin aku hanya berharap hal itu akan menemuiku ketika usahaku tidak maksimal. Mungkin hasil bagus yang kuinginkan tidak hanya akan datang begitu saja. Butuh banyak sekali usaha yang menjadi syaratnya.

Meskipun kubaca ini dari awal, rasanya masih ada sesuatu yang salah, seperti aku tiba-tiba melompat. Mungkin kalimat seperti “apa yang harus aku lakukan?” adalah pematik bagi pikiranku sehingga pada akhhirnya aku hanya mengigat sesuatu yang bisa aku tuliskan. Tetapi saat ini aku perlu yang lebih dalam. Apakah aku hanya bisa memberikan jawaban yang sama ketika aku menginginkan sesuatu yang berbeda? Apakah hal tersebut cukup make sense? Seperti ketika aku yang niat awalnya hanya ingin menuangkan isi pikiran tetapi berambisi untuk menghabiskan kertas ini?

Banyak sesuatu yang tidak relevan yang tidak aku perlukan. Hanya bergantung pada pikiran yang sama ketika ingin menjadi orang yang berbeda. Apakah itu make sense?

Menulis tentang penyesalan hari ini, merasa sudah memiliki jawabannya dan melepas dopamin. Apakah itu cukup?

Ketika menuliskan semuanya, aku merasa lega. Tapi apakah itu semua menandakan bahwa aku sudah selesai dengan masalahku?

Aku pasti tidak tahu semuanya ketika aku terkena masalah, tetapi menulis bukanlah jawaban akhirnya kan? Aku merasakannya selama ini. Seperti masih ada yang kurang.

Pekerjaan nyata yang selama ini kuhindari. Sakit yang aku sadari dan rasakan. Aku tidak ingin mendikte diriku untuk hanya sekadar memahami diriku. Aku tidak ingin hanya berkata manis ketika aku lemah. Sumber yang bagus seperti kata manis tidak cukup menyelesaikan masalahnya. Aku sudah mencobanya. Kata manis yang terlalu dangkal tak cukup untuk masalah yang lebih besar.

Apakah selama ini aku cukup fokus dengan masalah dan ingin menyelesaikannya? Bahkan kata-kata seperti “ingin menyelesaikannya” terlalu receh bagiku sekarang. Aku tidak bisa mempercayainya lagi. Saat ini aku tahu aku punya masalah, tetapi kata “ingin” saja tidak cukup untuk membuat diriku puas.

Apa rencananya? Sedalam dan sedetail apa aku bisa membuatnya?

Perasaan ini terlalu besar untuk seseorang yang “ingin” mencoba untuk menyelesaikannya secara sembarangan. Perasaan ini terlalu besar jika hanya dipahami. Perasaan besar yang dipertanggung jawabkan kepada diri sendiri.

Rasa kecewa yang dilepaskan terlalu jauh. Jawaban dari perasaan itu mungkin tidak selalu sama. Mungkin butuh fokus atau ada yang lebih. Jawaban yang rasanya ingin kupaksakan supaya datang sekarang.

Hanya ingin menulis “fokus” pun takut… takut itu tidak cukup. Ingin menulis “konsisten” pun juga takut karena aku selalu merasa tidak melakukannya dengan baik.

Hanya takut semuanya lagi-lagi omongan belaka atau omdo. Aku hanya bisa mendekati solusinya. Kali ini, kata-kata itu pun terdengar seperti omdo.

Apakah aku selalu fokus pada solusi yang bisa aku lakukan? Apakah benar aku adalah orang yang seperti itu?

Apakah aku orang yang selalu mudah melepas rasa kecewaku? Apakah aku adalah seseorang yang selalu mengulang-ulang sesuatu yang seharusnya sudah jelas tidak perlu? Apakah aku menjadi seseorang yang tidak lagi kecewa setelah aku merasa lega?

Mungkin kecewa dapat hilang, tetapi kecewa selalu ada dan kembali saat dibiarkan.

Mungkin setelah benar-benar sadar, kecewa itu ada di mana-mana dan ada waktunya untuk memilih mau kecewa yang mana. Mungkin ini bukanlah hal yang besar tetapi tidak boleh kulupakan.

Rasanya kalimat “aku pasti bisa” pun terlalu besar untukku. Memangnya aku selalu menjadi “bisa” seperti apa yang aku harapkan? mungkin aku akan salah mengerti tentang semua yang kuanggap perlu untuk mencapainya. Apakah aku cukup berhati-hati dengan janji yang aku berikan? Karena aku pernah gagal dan kecewa. Pahit rasanya.

Kembali meragukannya bukan sesuatu yang buruk. Cukup paham bahwa tidak ada yang bisa dilakukan dalam waktu dekat juga tidak buruk. Tidak ingin merasa kecewa karena sesuatu yang dirasa nyata dan tidak diikuti pada akhirnya juga tidak buruk. Melihat sesuatu lebih tajam lagi. Cari celahnya lagi.

Melepas kekecewaan juga tidak buruk, untuk merasakan hal lainnya. Kecewa seperti membangunkan sesuatu dalam diriku. Tetapi ada hal lain yang ingin dibangunkan tanpa adanya rasa kecewa supaya tidak kecewa.

Tanpa kecewa supaya tidak kecewa untuk meminimalisasi kekecawaan.


메타데이터
post_id
82cabacefdbf
slug
haunted-thoughts-82cabacefdbf
url
https://medium.com/@justapov/haunted-thoughts-82cabacefdbf
canonical_url
https://medium.com/@justapov/haunted-thoughts-82cabacefdbf
author_url
https://medium.com/@justapov
status
ok
fetched_at
2026-06-25 12:15:08