← Back to list

Bahasa Alam Semesta Bernama Cinta — Tugas Esai Welcoming Party

Oleh: Raden Roro Belva Tabitha P. W. — 16026052 — Astronomi

RR. Belva Tabitha · 2026-07-15 12:30 · 0 claps · 2.7 min read
#astronomi #matematika #filosofi #keimanan #personal-growth
Open on Medium ↗

Bahasa Alam Semesta Bernama Cinta — Tugas Esai Welcoming Party

Oleh: Raden Roro Belva Tabitha P. W. — 16026052 — Astronomi

Sesungguhnya, tidak ada sesuatu pun yang terjadi secara kebetulan di dunia ini. Jika Tuhan saja menetapkan kapan sehelai daun akan gugur, mana mungkin Dia melupakan jalan hidup hamba-Nya.

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, serta pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang berakal.” (QS. Ali ‘Imran: 190)

“(Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), ‘Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia. Mahasuci Engkau, maka lindungilah kami dari azab neraka.’” (QS. Ali ‘Imran: 191)

Begitu indah cara Tuhan menyusun alam semesta beserta segala isinya. Tidak ada satu pun ciptaan-Nya yang hadir tanpa tujuan, termasuk kita.

Dalam astronomi, cahaya dari banyak bintang yang kita lihat malam ini sesungguhnya telah menempuh perjalanan selama ribuan hingga jutaan tahun sebelum akhirnya tiba di mata kita. Sebagian dari bintang-bintang itu bahkan mungkin telah berubah atau berakhir jauh sebelum cahayanya sampai kepada kita. Betapa luas dan agungnya semesta yang Dia ciptakan.

Di tengah keluasan itu, terasa mustahil jika pertemuan kita hanyalah sebuah kebetulan. Dari miliaran manusia di Bumi, Tuhan mempertemukan kita dalam ruang dan waktu yang sama, dengan takdir yang sama pula: melangkah bersama di Institut Teknologi Bandung.

Sumber: Pinterest

Sumber: Pinterest

Lantas, bagaimana semesta yang begitu luas ini dapat berjalan dengan begitu teratur?

Planet mengelilingi bintangnya pada orbit yang dapat diprediksi, galaksi bergerak mengikuti hukum-hukum fisika, dan cahaya menempuh ruang hampa dengan kecepatan yang tetap. Di balik keteraturan yang tampak sederhana itu, terdapat pola yang dapat dijelaskan melalui satu bahasa yang dipahami oleh seluruh alam: matematika.

Galileo Galilei pernah menuliskan, “Mathematics is the language with which God has written the universe.” Ungkapan itu bukan sekadar metafora. Dari persamaan gravitasi Newton, relativitas Einstein, hingga hukum-hukum yang menjelaskan kelahiran dan kematian bintang, matematika menjadi bahasa yang menerjemahkan keajaiban semesta ke dalam bentuk yang dapat dipahami manusia.

Namun, semakin dalam saya mempelajari sains, semakin saya sadar bahwa matematika sendiri merupakan logika murni yang memang mampu menjelaskan bagaimana alam semesta bekerja, tetapi belum tentu mengapa semua itu terjadi.

Dalam Interstellar (2014), Dr. Amelia Brand mengatakan, “Love is the one thing we’re capable of perceiving that transcends dimensions of time and space”. Bahwa cinta adalah satu-satunya hal yang mampu melampaui dimensi ruang dan waktu. Awalnya, kalimat itu terdengar seperti sebuah ungkapan puitis yang tidak memiliki tempat di tengah relativitas, gravitasi, dan lubang hitam. Namun, bukankah pertemuan kita sendiri adalah buktinya?

Mungkin secara matematis, peluang kita bertemu sangatlah kecil. Kita lahir di keluarga yang berbeda, dibesarkan di kota yang berbeda, menjalani cerita hidup yang berbeda. Namun, pada akhirnya Tuhan mempertemukan kita dalam takdir yang sama, di Institut Teknologi Bandung. Seolah-olah, ada bahasa lain yang bekerja berdampingan dengan matematika — bahasa yang tidak hanya mengatur bagaimana semesta bergerak, tetapi juga bagaimana hati-hati manusia dipertemukan.

Mungkin benar bahwa matematika adalah bahasa alam semesta. Namun, cinta adalah bahasa yang membuat kita saling menemukan di dalamnya. Jika matematika adalah bahasa yang Tuhan gunakan untuk mengatur semesta, maka cinta adalah bahasa yang Dia gunakan untuk mempertemukan hamba-hamba-Nya.

Hari ini, Tuhan telah mempertemukan kita dalam ruang dan waktu yang sama, di Institut Teknologi Bandung. Bukan sebagai sebuah kebetulan, melainkan sebagai bagian dari takdir yang telah Dia tuliskan jauh sebelum kita menyadarinya.

Semoga pertemuan ini tidak berhenti sebagai sekadar kisah tentang menjadi mahasiswa di kampus yang sama. Semoga kita menjadi teman seperjalanan yang saling menguatkan ketika langkah terasa berat, saling mengingatkan ketika mulai kehilangan arah, dan bersama-sama tumbuh menjadi insan yang tidak hanya cerdas dalam berpikir, tetapi juga bijaksana dalam mencintai ilmu, sesama, dan Sang Pencipta.

Karena pada akhirnya, mungkin yang akan paling kita kenang bukanlah seberapa rumit persamaan yang berhasil kita pecahkan, melainkan orang-orang yang Tuhan hadirkan untuk menemani perjalanan itu.

Sukses selalu, Nakama!

Referensi: https://www.daaruttauhiid.org/, Quora, https://www.infoastronomy.org/


메타데이터
post_id
82dee6fea226
slug
bahasa-alam-semesta-bernama-cinta-tugas-esai-welcoming-party-82dee6fea226
url
https://medium.com/@belvatabitha/bahasa-alam-semesta-bernama-cinta-tugas-esai-welcoming-party-82dee6fea226
canonical_url
https://medium.com/@belvatabitha/bahasa-alam-semesta-bernama-cinta-tugas-esai-welcoming-party-82dee6fea226
author_url
https://medium.com/@belvatabitha
status
ok
fetched_at
2026-08-11 07:53:10