Bagian 1; Pertemuan
Lokal AU; Homo; BXB’
Bagian 1; Pertemuan
Lokal AU; Homo; BXB’
Suasana dari kediaman keluarga Harianto sedikit lebih suram sore itu, kepulangan dari kedua orang tua keluarga tersebut membawa ketegangan dengan berita yang mereka sampaikan. Ketiganya duduk di sofa ruang keluarga, sang Ayah menatap serius ke arah anak semata wayangnya yang tengah menundukkan kepalanya, menelisik ke dalam segala kemungkinan yang tak pernah terbayangkan olehnya.
“Pah, masa harus di jodohin sih? Dihan udah gede loh, bisa cari pasangan sendiri.” Sanggahan dari anaknya membuat sosok yang dipanggil Papah tersebut menghela nafasnya lebih panjang.
“Kalau kamu masih nolak, Papah ga segan untuk cabut fasilitas kamu Dihan. Papah dan Mamah sudah berjanji, terlebih kamu tau sendiri kondisi perusahaan lagi ga memungkinkan buat nolak. Kamu sendiri ga mau kan terjun ke dunia bisnis?”
Skakmat. Dihan terdiam mendengar penuturan dari Papahnya, fakta panas yang menampar sanggahannya menjadi senjata ampuh untuk membungkamnya. Dihan memang tidak berminat untuk terjun pada dunia bisnis yang diampu oleh Papahnya, dia lebih berminat pada dunia yang lain. Lebih tenang karena itu adalah pilihan yang memang dia inginkan sedari lama.
Selama ini, orang tuanya melunak mengenai dirinya yang tidak ingin meneruskan bisnis dari perusahaan keluarganya dan memilih dengan jalannya sendiri. Dihan pikir hal tersebut tidak akan di bahas karena Dihan merasa bebas, sebelumnya. Namun kini ia harus di hadapkan dengan fakta bahwa ada harga yang harus dibayar untuk kebebasannya.
Dihan menatap nanar meja kaca di depannya, mengusak kasar surainya yang rasanya akan lepas dari kulit kepalanya. Tangannya terangkat kembali untuk mengusak kasar wajahnya, hal tersebut tak luput dari netra yang lebih tua, seseorang yang selama ini membesarkannya tanpa kekurangan.
Dihan masih memegangi dahinya, jelas kalah telak dengan argumen singkat yang dilontarkan Papah kepadanya. Hingga tangan halus terasa mengelus perlahan surainya, Dihan mengangkat kepalanya dan mendapati, Mamah. Sosok yang selama ini membangun kepribadiannya, yang selalu hadir dalam setiap detik di hidupnya.
Mamah mengambil tempat di sebelahnya, tangannya masih senantiasa mengelus surai dari putra semata wayangnya. Jagat raya serasa berada dalam telapak tangannya saat ini, dunianya.
“Han, tolong turuti Papah ya kali ini? Setidaknya bertemu terlebih dahulu, Mamah gabisa bantu Papah. Harapan kita sekarang cuma kamu…” Suara lirih dengan tatapan sendu yang selalu dapat meluluhkan segala egonya membuat Dihan seolah terpaku, terkendali.
Tidak ada hal lain yang bisa ia lakukan selain menyetujui permintaan kedua orang tuanya, dan kalimat dari Mamahnya akan selalu teringat dalam benaknya untuk setidaknya ia melapangkan dada menerima takdirnya. “…Harapan kita sekarang cuma kamu…”
…
Terhitung dua hari, sejak percakapan mengenai perjodohan itu dibicarakan kepadanya beberapa waktu lalu. Kini ia sudah berada di sebuah restoran yang terletak cukup strategis, walau begitu ia tidak terlalu mengenal tempat ini. Sesuatu yang cukup asing karena keluarganya sendiri hampir tak pernah kesini.
Dihan menunggu dalam diam, terduduk lesu sembari memainkan gawainya. Berbanding terbalik dengan Papah dan Mamahnya yang lebih dahulu berbincang dan memesan kepada pelayan yang berada disana. Tujuh porsi, yang artinya akan ada empat anggota lain yang bergabung dengan mereka pada malam itu. Helaan nafas kasar lolos dari mulutnya, meninggalkan suasana yang lebih berat di sekitarnya.
“Itu mereka, benarkan duduknya.” Suara dari Mamahnya menginterupsi keheningan yang mengisi benaknya, dia menegakkan bahunya dan merasa beban yang berada di atas pundaknya lebih tebal melihat setiap wajah yang tengah berjalan ke arahnya. Wajah yang ia kenal, terlampau kenal. Perawakan yang dia tinggalkan beberapa tahun silam.
“Aduh jeng Rita, maaf ya kita lama. Ini loh Ayahnya siap — siapnya lama, kalah istrinya.” Kedua wanita itu saling menyapa hangat dan bersalaman, begitupun suami mereka.
“Mana anaknya Dir? Anakku udah tak bawa ini hahaha.” Perbincangan ringan tanpa ada paksaan, jelas mereka sepertinya kenal cukup lama. Ketika eksistensi mereka ada di sini, sudah seharusnya ada eksistensi lainnya yang akan ikut bergabung bersama mereka hari ini. Ada jeda di antara perbincangan mereka hingga tangan Dihan terulur untuk memberikan salam.
“Loh, ini Dihan kan? Dihan yang di SMA Tugu?” Celetukan itu membuat kedua orang tuanya menoleh ke arahnya penuh tanya. Dihan tersenyum kikuk dan mengangguk perlahan, menyetujui pernyataan yang di lontarkan.
“Loh, kok kenal kamu, Sya? Kok kenal sama Tante Asya kamu, Han?” Dihan hanya tersenyum kikuk menghadapi pertanyaan bertubi dari Mamahnya. Kalimat jawaban dari pertanyaan itu sangat sederhana, namun rasanya semua melalang buana.
“Loh ini- Eh itu anakku udah dateng,” ucapannya terpotong ketika yang ditunggu kini telah hadir. “Jul! Sini!” Suaranya sedikit meninggi memanggil sesosok yang dipanggil ‘Jul’ untuk bergabung bersama.
Dihan menundukkan kepalanya, merapalkan segala doa berharap nantinya yang akan hadir bersama mereka bukanlah seseorang yang dia pikirkan. Namun semua harapannya pecah berkeping — keping ketika suara — suara menginterupsi memberikan kenyataan yang tak dapat di sangkal.
“Aduh… Julino makin tinggi aja nih, makin ganteng lagi.”
“Hehe, makasih Tante.” Suara yang sangat di kenali, bahkan tak perlu waktu untuk memikirkan siapa pemilik suara tersebut. Terlampau hafal, terlampau mengerti.
“Eh iya, ini anaknya Tante Rita. Dihan, kenalan dulu Nak sama Julino.”
Sungguh semesta mengutuknya, Dihan mengangkat kepalanya dan kini netranya bertemu dengan netra Julino yang menatapnya penuh keterkejutan. Lain hal dengan Dihan yang menatapnya penuh rasa yang tak dapat di deskripsikan, sesosok yang telah lama menghilang, kini hadir di depannya hanya untuk menjadi pasangannya? Puncak komedi.
“Dihan ini mantannya Julino dulu kan ya? Om inget waktu kamu main kerumah. Iyakan kan Jul?” Sumpah serapah yang dirapalkannya semakin menggila dalam benaknya ketika Julino tertawa dan mengangguk, menyetujui pernyataan yang dilontarkan Ayahnya.
“Loh? HAHAHAHA,” Papahnya tertawa, terkutuklah dirimu Pah. “Ya enak dong brarti gausah kenalan lama — lama ya? Orang udah saling kenal kan?”
Sungguh kali ini rasanya Dihan lebih senang bergelut di dunia Bisnis Papahnya daripada harus berada disini, bersama seseorang yang berharap ia lupakan kehadirannya beberapa tahun silam. Dihan tau, setelah ini kehidupannya tak lagi sama.
메타데이터
- post_id
- 832403cd691f
- slug
- bagian-1-pertemuan-832403cd691f
- url
- https://medium.com/@amoreosen/bagian-1-pertemuan-832403cd691f
- canonical_url
- https://medium.com/@amoreosen/bagian-1-pertemuan-832403cd691f
- author_url
- https://medium.com/@amoreosen
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-25 07:00:49