← Back to list

Candu Drama Mikro asal China dan Tontonan Kita yang Semakin Singkat

Pagi ini saya melihat seorang Ibu berusia sekitar 50-an di minimarket sedang mencoba mengisi paket untuk ponselnya. Dengan menggunakan…

Rizkywagyu · 2026-06-22 10:50 · 0 claps · 7.3 min read
#vertical-micro-drama #china-drama #technology-trends #entertainment
Open on Medium ↗
Wiki topics: ECO · Economy · General 📺 · Media · General

Candu Drama Mikro asal China dan Tontonan Kita yang Semakin Singkat

Pagi ini saya melihat seorang Ibu berusia sekitar 50-an di minimarket sedang mencoba mengisi paket untuk ponselnya. Dengan menggunakan daster dan kerudung langsung pakai, dia tampak terburu-buru keluar dari rumah. Setelah bertanya dengan pramuniaga, dia mengurungkan untuk membeli karena pilihan harga paket yang terlalu mahal. Dia mengaku bahwa beberapa bulan ini, paket internetnya habis lebih cepat karena terlalu banyak menonton “film”. Film yang dimaksudnya di sini adalah drama mikroChina yang belakangan tengah digandrungi. Dia mengaku bahwa selama beberapa bulan ini, dia tengah gandrung menontonnya hingga paket internetnya habis ratusan ribu dan melonjak dari biasanya. Drama mikro China ini khadir dalam format hiburan video pendek yang belakangan menjadi candu bagi jutaan penonton di seluruh dunia, termasuk ibu-ibu rumah tangga di kota-kota kecil Indonesia.

Fenomena populernya drama mikro China ini merupakan sebuah tren hiburan digital yang tengah meningkat beberapa tahun belakangan. Drama mikro ini kini kini menjadi salah satu format konten digital yang pertumbuhannya paling agresif di dunia. Platform media sosial raksasa Tiongkok seperti Xiaohongshu dan Bilibili bahkan telah mengumumkan rencana memperbanyak produksi format ini, sebagaimana dilaporkan CNN Indonesia. Secara nyata, ketika kita melakukan scroll pada konten Facebook, maka tanpa sengaja konten-konten serupa ini akan mampir ke beranda kita. Indonesia sendiri juga menjadi salah satu pasar yang terdampak paling signifikan, ditandai dengan bermunculannya platform streaming khusus drama mikro yang menyasar selera penonton lokal akan konten cepat dan penuh tegangan.

Drama mikrosendiri adalah format video pendek yang umumnya berdurasi 60 detik hingga lebih dari sepuluh menit per episode, seperti dilansir dari Kompas.com. Format ini menggabungkan alur cerita yang padat konflik, penuh kejutan, dan disajikan dalam potongan-potongan singkat yang dirancang untuk memancing penonton agar terus menonton episode berikutnya. Ceritanya sendiri biasanya klise dan sudah bisa ditebak sejak awal. Namun rupanya cerita yang familiar dan mudah ditebak ini yang menjadi daya tariknya.

Berbeda dengan drama konvensional yang membangun karakter dan plot secara perlahan, drama mikro langsung melempar penonton ke dalam konflik sejak detik pertama. Setiap episode diakhiri dengan cliffhanger , situasi menggantung yang membuat penonton tidak bisa berhenti begitu saja. Singkatnya, model drama ini hampir seperti ketika kita membaca berita pada lembar pertama koran dan harus membayar untuk tahu kelanjutan dan akhirnya. Drama ini hadir dalam format vertikal yang disesuaikan dengan layar ponsel menjadikannya mudah dikonsumsi kapan saja dan di mana saja.

Meningkatnya popularitas drama ini menjadikan skala pertumbuhan industri drama mikro Tiongkok melampaui hampir semua prediksi awal. Firma analisis bisnis iiMedia Research mencatat bahwa pada 2023, nilai pasar serial pendek internet Tiongkok mencapai 37,39 miliar yuan melonjak 268 persen hanya dalam setahun. Angka ini diproyeksikan melampaui 100 miliar yuan pada 2027. Besarnya keuntungan ini membuat negara lain juga ikut untuk membuat video serupa ini. Pada saat ini, Korea juga mulai memasuki pasar yang sama dengan sejumlah aktor drama cukup terkenal menjadi pemerannya.

Akselerasi ini terkonfirmasi oleh data terbaru. China Internet Development Report 2025 yang diterbitkan oleh Chinese Academy of Cyberspace Studies mengungkapkan bahwa pada Desember 2024, jumlah penonton drama mikro di Tiongkok telah mencapai 662 juta orang, sementara nilai pasarnya telah melampaui 50 miliar yuan atau sekitar 7 miliar dolar AS.

Di level internasional, dampaknya tidak kalah signifikan. Dilansir dari Lintasan.id, lima aplikasi drama mikro teratas di Asia telah mengumpulkan 150 juta pengguna aktif bulanan per Februari 2025. Sementara di Amerika Serikat, data Omdia menunjukkan fenomena yang jauh lebih mengejutkan: pengguna kini menghabiskan lebih banyak waktu per hari menonton drama mikro di aplikasi mobile dibanding menonton Netflix, Disney+, atau Amazon Prime Video.

Data Sensor Tower untuk kuartal keempat 2025 yang dikutip Omdia memperinci gambaran itu secara lebih tajam. Aplikasi ReelShort mencatatkan waktu tonton rata-rata 35,7 menit per pengguna per hari , melampaui Netflix yang hanya 24,8 menit. Kemudahan akses serta cerita yang singkat membuat tren drama mikro ini yang sebelumnya hanya selingan menjadi sebuah hal yang masuk menjadi perhatian utama banyak orang.

Mengapa Kita Kecanduan Drama Mikro?

Dari perspektif psikologi sosial, daya pikat drama mikro bertumpu pada tiga pilar utama: kebutuhan akan kepuasan instan (instant gratification), kecenderungan konformitas terhadap tren media sosial, dan dorongan pencarian stimulasi emosional yang berkelanjutan.

Penelitian dari Hasuna (2025) mengidentifikasi instant gratification sebagai faktor paling dominan. Mengacu pada penelitian Ainslie, individu secara neuropsikologis cenderung lebih memilih imbalan yang datang cepat ketimbang imbalan yang lebih besar namun tertunda. Dalam konteks hiburan, ini berarti seseorang lebih suka menonton drama mikro berdurasi dua menit yang langsung memenuhi rasa penasarannya daripada serial panjang yang membutuhkan komitmen waktu lebih besar.

Sejumlah riset membuktikan bahwa konsumsi drama mikro memicu respons dopamin yang jauh lebih tinggi dibanding aktivitas hiburan konvensional. Proses konsumsi yang cepat — tonton, selesai, tonton lagi — menciptakan siklus pencarian imbalan (dopamine-driven reward seeking) yang bersifat kompulsif. Otak yang terbiasa menerima stimulasi cepat akan mengalami kesulitan menikmati konten yang lebih lambat, bahkan mulai kehilangan kemampuan untuk fokus dalam waktu lama.

Kondisi seperti ini lah yang membuat drama mikro ini membuat orang kecanduan. Semakin banyak ditonton, semakin sulit untuk berhenti, namun semakin sedikit kemampuan otak untuk menikmati hal-hal yang membutuhkan kesabaran dan kedalaman. Kecanduan ini tidak berbeda secara mekanisme dengan kecanduan media sosial atau bahkan kecanduan zat. Dampak paling mengkhawatirkan dari siklus ini bukan sekadar kecanduan menonton, melainkan erosi kemampuan kognitif yang berjalan perlahan tanpa disadari.

Pada saat ini, rata-rata rentang perhatian (attention span) manusia juga telahturun dari 12 detik pada tahun 2000 menjadi hanya 8 detik pada 2015 , lebih pendek dari ikan mas yang diklaim memiliki attention span 9 detik. Meski angka spesifik ini kerap diperdebatkan validitasnya, tren penurunan kapasitas perhatian akibat paparan konten digital yang terus-menerus telah dikonfirmasi oleh berbagai penelitian terpisah.

Peneliti dari University of California San Diego, Gloria Mark, mencatat dalam bukunya Attention Span (2023) bahwa rata-rata durasi seseorang menatap satu layar sebelum berganti layar telah turun dari 2,5 menit pada 2004 menjadi hanya 47 detik pada 2020. Drama mikro, dengan episode yang selesai dalam hitungan menit dan cliffhanger yang memaksa otak segera mencari episode berikutnya, adalah format yang paling sempurna untuk mempercepat erosi ini. Kebiasaan ini kemudian membuat otak terbiasa untuk melihat konten kilat dan mulai tidak bisa mentolerir tontonan yang lambat dan lama.

Drama mikro sendiri bisa dikatakan sebagai produk turunan dan mutasi terbaru dari ekosistem konten pendek yang telah dibangun selama hampir satu dekade oleh platform seperti Vine, Snapchat, Instagram Stories, dan yang paling masif: TikTok. Setiap generasi platform mempersingkat lagi durasi konten yang dianggap “ideal”, dari tiga menit, ke satu menit, ke 15 detik, dan kini bahkan ke format yang mengukur waktu dalam hitungan detik per babak narasi.

TikTok, yang memiliki lebih dari 1,5 miliar pengguna aktif bulanan secara global, menjadi inkubator utama kebiasaan menonton video pendek di Indonesia. Data We Are Social 2024 mencatat bahwa pengguna internet Indonesia rata-rata menghabiskan 3 jam 9 menit per hari di media sosial , salah satu yang tertinggi di dunia. Porsi besar waktu itu dihabiskan untuk mengonsumsi konten video pendek. Kebiasaan ini menciptakan bantalan empuk bagi masuknya drama mikro ke pemirsa Indonesia yang memang sudah terlatih oleh TikTok sehinggatidak lagi membutuhkan pengantar panjang untuk masuk ke dalam cerita. Mereka datang dengan toleransi nol terhadap pembukaan yang lambat dan ingin cerita yang sat-set.

Jika TikTok melatih otak untuk menikmati konten tunggal berdurasi 30–90 detik, drama mikro mengambil satu langkah lebih jauh dengan menawarkan narasi berseri yang tetap terasa secepat TikTok, tetapi dengan kedalaman cerita yang cukup untuk menciptakan keterikatan emosional jangka panjang. Singkatnya kontenya terasa menarik dan sat-set seperti Tiktok namun tetap ada cerita yang menggantung dan membuat kita ketagihan.

Fenomena ini oleh para peneliti media disebut sebagai snackable storytelling: narasi yang dikemas dalam porsi kecil, bisa dikonsumsi kapan saja, tetapi dirancang agar selalu membuat konsumennya ingin “mengambil satu porsi lagi.” Analogi makanan ini tidak kebetulan karena pola adiksinya pun serupa dengan junk food. Memuaskan dalam jangka pendek, namun meninggalkan rasa lapar yang tidak pernah benar-benar terpuaskan.

Yang lebih mengkhawatirkan adalah efek lintas-platform dari kebiasaan ini. Peneliti media dari Universitas Amsterdam menemukan bahwa konsumsi intensif konten video pendek secara signifikan menurunkan kemampuan pengguna untuk menikmati konten panjang, bahkan ketika mereka secara sadar menginginkannya. Pengguna yang terbiasa dengan ritme drama mikro melaporkan kesulitan untuk tetap terlibat saat menonton film bioskop, membaca buku, atau bahkan menyelesaikan percakapan tanpa terdistraksi. Inilah yang oleh psikolog disebut sebagai medium-induced cognitive impatience, ketidaksabaran kognitif yang diciptakan oleh medium itu sendiri, bukan oleh kepribadian pengguna.

Cara Drama Mikro Menguras Kantong Kita

Kembali ke awal cerita, kisah seorang ibu yang kehabisan paket internet adalah salah satu cara menguras kantong kita walau pendapatannya tidak masuk secara langsung ke penyedia platform. Cara lain adalah dengan ‘memaksa’ penonton membayar untuk mengetahui akhir ceritanya. Meski sebagian penonton enggan membayar, industri drama mikro telah menemukan formula monetisasi yang terbukti sangat efektif. Menurut laporan ANTARA News, pendapatan industri ini terutama berasal dari sistem berbayar per-episode, di mana penonton yang sudah terpikat oleh episode gratis awal akhirnya terdorong untuk membeli akses ke episode selanjutnya , terutama ketika cerita berada di titik paling menegangkan.

Model ini menghasilkan angka yang luar biasa. Miniseri bertajuk “Unparalleled” produksi Fung Culture yang berbasis di Xi’an, Shaanxi, mencatatkan pendapatan lebih dari 100 juta yuan hanya dalam delapan hari setelah rilis. Capaian ini menjadi bukti betapa kuat daya beli yang bisa digerakkan oleh formula narasi yang tepat. Pada 2023, sebanyak 557 miniseri daring telah didaftarkan ke Administrasi Radio dan Televisi Nasional Tiongkok , sekitar dua kali lipat dari angka tahun sebelumnya. Ledakan produksi ini menghadirkan dua sisi: peluang ekonomi yang besar di satu sisi, dan kebutuhan regulasi yang lebih ketat di sisi lain.

Sebelum mulai mendunia seperti sekarang, drama mikro Tiongkok ini sempat kesulitan bertahan di pasar domestik. Menghadapi kejenuhan pasar domestik, perusahaan-perusahaan produksi drama mikro Tiongkok kini agresif berekspansi ke pasar internasional. ReelShort, aplikasi serial pendek di bawah naungan COL Group, sempat menjadi salah satu aplikasi hiburan paling banyak diunduh di App Store Apple Amerika Serikat pada akhir 2023. Aplikasi China lainnya, TOPShort, bahkan sempat melampaui Netflix dalam jumlah unduhan di App Store Jepang pada Februari tahun yang sama.

Ekspansi ini semakin dipercepat oleh teknologi kecerdasan buatan (AI). Laporan CNA memaparkan bagaimana AI digunakan untuk mempercepat proses produksi, dari penulisan naskah, dubbing multibahasa, hingga pembuatan visual sehingga sebuah seri drama mikro kini dapat diproduksi dalam hitungan hari dengan biaya yang jauh lebih rendah dibanding produksi konvensional. Namun efisiensi ini memunculkan kekhawatiran baru. Drama mikro berbasis AI yang bermunculan secara masif memicu perdebatan serius tentang pelanggaran hak cipta dan ancaman terhadap mata pencaharian para penulis skenario, sutradara, dan kreator konten manusia.

Menurut CNA, praktik penggunaan AI untuk mengadaptasi atau bahkan menduplikasi konten yang sudah ada menjadi masalah hukum yang belum sepenuhnya terselesaikan. Di sisi lain, Bu Yanfang, profesor dari Fakultas Ekonomi dan Manajemen Universitas Komunikasi China, menekankan bahwa industri drama mikro seharusnya memanfaatkan skala, pengalaman, dan inovasi untuk menghasilkan karya-karya berkualitas yang juga mampu mempromosikan budaya Tiongkok di pasar global. Harapan ini mencerminkan ambisi soft power yang jauh lebih besar di balik gelombang ekspansi drama mikro.

Data Omdia mengonfirmasi bahwa drama mikro kini mengalahkan layanan streaming besar seperti Netflix dan Disney+ dalam hal waktu tonton mobile per pengguna. Ini berarti drama mikro bukan lagi konten sampingan; ia telah menjadi konsumen data terbesar di ponsel jutaan pengguna. Bagi masyarakat kelas menengah ke bawah yang mengandalkan paket data harian atau mingguan, tren ini berpotensi menimbulkan tekanan finansial yang nyata.

Dalam analisisnya, platform e-commerce dan fintech mulai menyadari bahwa ketegangan naratif ala drama mikro lebih efektif membangun kepercayaan konsumen dibanding iklan tradisional, sebagaimana dilaporkan Campaign Indonesia. Artinya, DNA drama mikro, konflik cepat, resolusi instan, emosi intens kini mulai meresap ke dalam strategi pemasaran digital secara lebih luas.


메타데이터
post_id
835db1352dda
slug
candu-drama-mikro-asal-china-dan-tontonan-kita-yang-semakin-singkat-835db1352dda
url
https://medium.com/@rizkywagyu/candu-drama-mikro-asal-china-dan-tontonan-kita-yang-semakin-singkat-835db1352dda
canonical_url
https://medium.com/@rizkywagyu/candu-drama-mikro-asal-china-dan-tontonan-kita-yang-semakin-singkat-835db1352dda
author_url
https://medium.com/@rizkywagyu
status
ok
fetched_at
2026-08-12 13:20:01