#96 — Lelah Yang Mau Diulang
Ini mungkin terasa gila, paling tidak untuk diriku sendiri. Namun ini yang sedang aku rasakan. So, I want to tell you something.
#96 — Lelah Yang Mau Diulang
Ini mungkin terasa gila, paling tidak untuk diriku sendiri. Namun ini yang sedang aku rasakan. So, I want to tell you something.

Clock tower setelah ashar. Sumber: Dokumentasi pribadi
Perjalanan awal
Tepat tanggal 11 Maret 2026, aku melakukan penerbangan dari Kuala Lumpur ke Madinah untuk melaksanakan Umroh Itikaf Ramadhan 1447H. Selepas tiba di Madinah, kami pun langsung menuju Mekkah. Kami ingin segera melakukan umroh dan beritikaf di Masjidil Haram, di 10 malam terakhir Ramadhan yang sangat berharga ini.
Kami pun tiba di Mekkah sekitar jam 9 pagi. Setelah kami istirahat sebentar di hotel, kami menuju masjid untuk melaksanakan umroh. Dari proses tawaf sampai sai, kurang lebih kami menghabiskan waktu 3 jam. Saat itu, hari ke-23 Ramadhan. Kondisi Masjidil Haram sangat penuh. Ya, karena sudah 10 malam terakhir sehingga semua orang berlomba-lomba untuk mendapatkan lailatul qadar.
Itikaf dan cerita-cerita di dalamnya
Sesudah kami melakukan ibadah umroh, maka untuk hari-hari selanjutnya, yang kami lakukan hanyalah itikaf di masjid. Tidak berbelanja. Tidak city tour. Hanya hotel-masjid-hotel saja setiap hari.
Berangkat jam 10.00 atau 11.00 pagi. Biasanya kondisi masjid sudah ramai tapi masih banyak “kavling-kavling” yang belum terlalu padat sehingga kami masih bisa masuk ke area tersebut.
Sambil menunggu waktu solat, biasanya kami isi dengan membaca Al Quran, berdzikir, ataupun tawaf sunnah.
Ibu-ibu vs ibu-ibu: Siapa yang menang?
Momen-momen menjelang adzan ini merupakan momen-momen genting. Terlebih ketika setelah selesai solat Ashar (karena akan ada pembagian paket iftar yang akan didistribusikan oleh volunteer Masjidil Haram). FYI, paket iftarnya berbeda-beda, namun biasanya terdiri dari kurma, yogurt/ jus, biskuit, dan air mineral.
1 jam menuju waktu solat, biasanya mulai ada orang-orang yang berusaha “menyelip” di tengah-tengah saf yang sudah padat. Padahal sudah jelas-jelas tidak ada tempat, namun masih berusaha memaksa.
Alhasil, ya sudah, kami hanya bisa pasrah menunggu sampai adzan tiba. Ketika qomat selesai, kami akan mengatur saf kami dan biasanya kami akan solat dengan keadaan yang sangat mepet (bahu bertemu bahu, bukan hanya kaki bertemu kaki).
Namun, tidak semua orang mau pasrah dengan keadaan. Banyak yang berusaha untuk mempertahankan tempatnya habis-habisan karena seringkali, memang tempatnya tidak ada. Hanya untuk 1 orang.
Jadi kalau kita tidak bisa mempertahankan tempat tersebut, maka kita yang harus rela mencari tempat lain (Kalau sudah mepet jam solat, biasanya sudah tidak ada tempat kosong. Sehingga harus solat di tengah “jalan” atau keluar menuju pelataran).
Ketika orang yang mempertahankan dan orang yang berusaha masuk sama-sama kuat, maka tidak jarang terjadi perkelahian (baik hanya secara verbal ataupun sampai melibatkan fisik).
Hal ini ternyata sangat amat membuat saya tidak nyaman. Saya menyadari adanya perubahan kondisi di diri saya setelah hari kedua dimana saya mulai merasa cemas saat itikaf di masjid. Saya khawatir, kira-kira apakah saya bisa terus “mempertahankan” tempat duduk saya? Atau siapa lagi yang akan “menggeser” tempat duduk saya?
Qiyamul Lail
Solat malam di Masjidil Haram terdiri atas solat tarawih 10 rakaat yang dilakukan setelah solat isya yaitu dari jam 21.00–22.00, lalu akan dilanjut dengan solat tahajjud di jam 00.45–02.30. Solat tahajud dilakukan sejumlah 10 rakaat dan ditambah 3 rakaat witir.
Dari hasil obrolan saya dan teman-teman, rasa-rasanya cukup mudah bagi kami untuk menjalani solat tarawih. Ya, dalam satu rakaat, kita akan berdiri dalam waktu yang cukup panjang, minimal 15 menit. Namun hal tersebut masih bisa kami tahan. Selain itu, waktu pelaksaannya pun tidak terlalu menantang karena memang belum masuk ke jam tidur.
Beda halnya dengan solat tahajud dan witir. Ini yang menurut kami paling menantang. Bagaimana tidak…
- Ini sudah masuk ke jam tidur kami. Ditambah lagi durasi tidur kami yang sangat kurang setiap harinya (total kami hanya tidur sekitar 3–4 jam per harinya). Hal ini sering kali membuat akumulasi rasa kantuk kami di jam tersebut semakin besar.
- Kalau 1 rakaat tarawih berdurasi kurang lebih 15 menit, rasa-rasanya solat tahajud memiliki durasi yang jauh lebih lama. Mungkin bisa kisaran 25–30 menit untuk satu rakaatnya. Dan untuk qunut saat witir, ini juga tidak kalah panjang, sering kali lebih dari 20 menit.
Jadi, beberapa kali kami merasa “melayang” saat melakukan qiyamul lail. Kadang lupa ini rakaat ke berapa hingga salah sujud, atau bahkan beberapa kali kami tidak sengaja tertidur di dalam solat.
Oleh karena itu, banyak di antara jamaah yang solat sambil membuka Al Quran dan menyimak ayat yang sedang imam lantunkan. Hal ini menurut saya sangat efektif untuk bisa tetap menjaga fokus kita di dalam solat.
Walaupun saat solat kami sering “melayang”, namun saat qunut biasanya fokus kami kembali hadir. Walaupun kami tidak bisa memahami 100% tentang doa yang sedang dipanjatkan saat qunut tersebut, namun di doa-doa yang familiar biasanya kami bisa memahami.
Dan apabila doa yang diucapkan membahas mengenai orang tua, dosa-dosa, rahmat Allah SWT dan Palestina, biasanya jamaah kompak menangis dalam solat tersebut. Hal ini yang membuat kami bisa “khusyuk” kembali dalam solat karena memang kami mindful dan merasa berada disana (tidak dengan pikiran yang ngawang).
Malam 27
Dari malam 24 Ramadhan (pertama kali kami itikaf), kondisi Masjidil Haram memang selalu penuh. Sangat amat padat. Kondisi mataf ramai dengan jamaah yang melakukan tawaf. Area sai juga dipadati oleh jamaah umroh. Dan area-area solat pun dipenuhi oleh jamaah-jamaah yang sedang beritikaf.
Kondisi ini makin ramai ketika di malam ganjil (malam 25, 27, 29 Ramadhan). Namun setelah saya lihat, kondisi malam 27 Ramadhan adalah kondisi Masjidil Haram yang paling padat dan intens.
Semua orang berlomba-lomba untuk masuk ke area masjid untuk itikaf. Kalau biasanya terjadi perubahan konfigurasi jamaah di tiap area solat (ada yang masuk dan ada yang keluar), maka di malam 27 Ramadhan, jamaah cenderung benar-benar berdiam diri dari pagi sampai selesai solat tahajud. Orang-orang takut kalau harus meninggalkan tempat duduknya karena mereka khawatir tidak bisa lagi masuk ke area tersebut (karena jalan sudah ditutup askar) atau malah tempat duduknya sudah ditempati orang lain.
Dan apabila memang ada jamaah tertentu yang ingin “merebut” tempat duduk jamaah lain, maka mereka akan cenderung berantem (tidak pasrah) untuk mempertahankan tempat duduknya. Saya terbayang alasannya, karena memang tidak mudah mencari tempat di malam tersebut. Semua area solat penuh. Bahkan masjid sudah ditutup. Tidak ada lagi jamaah yang boleh masuk ke dalam area masjid.
Jadi bisa terbayang seberapa intens-nya kondisi di malam 27 Ramadhan di Masjidil Haram. Teriakan-teriakan, isak tangis, lantunan Al Quran berkelindan menjadi satu.
Khatam
Tadi saya sudah sempat cerita betapa panjangnya rakaat saat qiyamul lail dan saat qunut di solat witir. Namun ternyata ada yang lebih panjang, yaitu doa khataman. Di malam 29 Ramadhan, Syeikh Sudais memimpin solat tarawih sekaligus untuk khatam Al-Quran. Dan saat Syeikh Sudais memimpin doa khataman, perkiraan saya, durasinya sekitar 45–60 menit. Bayangkan, kami harus berdiri selama di tengah-tengah solat. Ini juga momen yang sangat menantang bagi saya.
Ied
Solat Idul Fitri di Arab Saudi memiliki vibes yang tidak terlalu berbeda dengan di Indonesia. Orang-orang bertakbir (namun durasinya sangat singkat dan hanya dilakukan menjelang solat Ied). Ketika bubaran solat, mereka saling mengucapkan Ied Mubarak. Mereka bergembira menyambut Idul Fitri.
Kondisi solat idul fitri di Masjidil Haram sangatlah padat. Kami harus berangkat jam 1 pagi agar masih mendapatkan tempat di area masjid. Karena kalau terlambat, maka kami harus solat di pelataran.
Saya juga mendengar dari teman saya bahwa jalanan ke area masjid sudah ditutup di jam 3 pagi karena masjid sudah penuh, sehingga jamaah yang baru datang akan memadati jalan-jalan di sekitar area Masjidil Haram.
Selepas slat Ied sampai ashar, kondisi Masjidil Haram relatif kosong (walaupun ada solat Jumat). Mungkin warga lokal mulai mengunjungi rumah-rumah saudara mereka untuk bersilaturahmi. Dan mungkin jamaah umroh pun mulai berangkat ke Madinah setelah beberapa hari itikaf di Masjidil Haram.
Namun, selepas ashar, kondisi Masjidil Haram kembali penuh. Saya tidak tahu apa sebabnya. Namun bisa jadi, jamaah yang itikaf di Madinah sudah tiba di Mekkah untuk melaksanakan ibadah umroh.
Post-Umroh Depression
Saya pernah bilang ke diri saya sendiri bahwa sepertinya saya tidak sanggup kalau harus itikaf di Masjidil Haram lagi. Saya tidak sanggup membayangkan bahwa saya harus mengulang kembali situasi yang sangat intens dan tidak nyaman tersebut.
Saya ingin itikaf di Masjid Nabawi saja, yang menurut saya bisa memberikan kondisi yang lebih menenangkan.
Tapi ternyata, this memory hits differently.
Sering kali, ketika kembali ke Indonesia dan menjalani aktivitas harian kita, kita mengalami post-umroh depression. Kondisi dimana kita benar-benar akan rindu momen-momen kita disana. Rindu dengan kehidupan yang hanya menunggu waktu solat, tanpa direcoki dengan urusan dunia.
Tapi tidak seperti post-umroh depression yang saya alami sebelum-sebelumnya, ada rasa dimana saya berpikir bahwa jika saya akan kembali ke Mekkah, maka Umroh Itikaf Ramadhan harus menjadi pilihan pertama saya, bukan umroh di bulan lain. Orang bilang Umroh Itikaf Ramadhan itu umroh level tertinggi. Dan ketika saya sudah mencobanya, saya sepakat.
Karena ini umroh yang paling memorable, yang paling membekas, yang perjuangannya paling tinggi, yang pengorbanannya paling banyak (secara waktu, energi dan biaya).
Saya masih ingat jelas bagaimana kondisi saya disana, namun saya ternyata mau melakukannya lagi. Saya paham konsekuensinya, namun saya juga paham betapa besar pahala yang bisa saya dapatkan dari ibadah tersebut.
Saya ingin lagi. Saya mau lagi. Saya mau mengejar lailatul qadar bersama umat muslim lain di Masjidil Haram. Umroh itikaf ramadhan adalah umroh yang harus selalu diusahakan.
Terlepas dari semua tantangannya, Umroh Itikaf Ramadhan sangat worth it untuk dilakukan kembali.

Area mataf selepas solat Subuh. Sumber: Dokumentasi Pribadi
Akhir Kata
Begitu saja sharing saya kali ini. Semoga tulisan saya berguna.
Untuk teman-teman yang mau tanya-tanya tentang umroh itikaf ramadhan, bisa juga hubungi saya ya.
Sampai bertemu di tulisan saya selanjutnya!
메타데이터
- post_id
- 83dcbbd5655c
- slug
- 96-lelah-yang-mau-diulang-83dcbbd5655c
- url
- https://medium.com/@septyani.sarahdwis/96-lelah-yang-mau-diulang-83dcbbd5655c
- canonical_url
- https://medium.com/@septyani.sarahdwis/96-lelah-yang-mau-diulang-83dcbbd5655c
- author_url
- https://medium.com/@septyani.sarahdwis
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-24 16:30:55