Bagaimana Cara Aku Mencintaimu di Tengah Reformasi yang Telah Mati?
Sayang,
Bagaimana Cara Aku Mencintaimu di Tengah Reformasi yang Telah Mati?
Sayang,
bagaimana cara aku mencintaimu ketika pagi-pagi tak lagi membawa burung
hanya bunyi sendok yang mengetuk piring-piring sekolah berulang ulang
seperti doa yang lupa diaminkan langit
kenyang dibagikan sebagai kabar baik sementara atap-atap tua tetap bocor dan anak-anak belajar mengeja hujan lebih fasih daripada masa depan
sementara kata-kata berbaris rapi di layar-layar menyamar matahari
Sayang,
bagaimana cara aku memanggil namamu jika angin selalu lebih dulu dibungkam sebelum sempat menyebut siapa yang hilang
dan malam terlalu pandai menyembunyikan jejak-jejak sepatu yang pulang dengan noda tanpa pernah ditanya darah siapa
di kejauhan tanah digambar ulang oleh tangan yang tak pernah mengenal lumpur
rumah-rumah kecil dipelankan suaranya agar mesin-mesin raksasa dapat tidur nyenyak
sementara mulut-mulut bercahaya bernyanyi terlalu keras mengunyah dusta hingga suara yang bertanya terdengar seperti kesalahan
barangkali aku akan memanggilmu pelan-pelan
pelan pelan
seperti tanah memanggil hujan
seperti jendela memanggil pulang kepada tubuh yang lelah
biarkan aku memelukmu lebih erat, sayang
di luar bayang-bayang sedang belajar menjadi pagar
dan pagar-pagar sedang belajar menjadi mulut
mereka mengunyah nama mengunyah suara mengunyah apa saja yang terlalu hidup
maka mendekatlah
akan kutaruh tubuhmu di dadaku seperti rahasia yang tak boleh dibaca negara
akan kusembunyikan degupmu di sela rusukku agar tak sempat disentuh oleh tangan-tangan yang gemar mengukur hidup dengan angka dan menimbang manusia seperti kurs yang turun setiap pagi
dan bila malam kembali menurunkan nilainya dan langit kehilangan harga tukarnya
tetaplah di sini
di peluk ini yang miskin namun tak pernah menjual cium
di bibir ini yang gemetar namun tak pernah pandai berdusta
katakan, sayang
jika reformasi benar-benar mati siapa yang akan menguburnya?
barangkali kita
barangkali sambil berciuman di bawah hujan yang pura-pura lupa turun
lalu menanamnya pelan-pelan di halaman tubuh kita
agar suatu hari dari sana tumbuh sesuatu yang tak bisa dibeli tak bisa digusur tak bisa dibungkam
sesuatu yang ketika kupanggil namamu menjawab pelan:
cinta belum selesai melawan!
05/26
메타데이터
- post_id
- 8413faa39713
- slug
- bagaimana-cara-aku-mencintaimu-di-tengah-reformasi-yang-telah-mati-8413faa39713
- url
- https://medium.com/@mhmdkbarsyh11/bagaimana-cara-aku-mencintaimu-di-tengah-reformasi-yang-telah-mati-8413faa39713
- canonical_url
- https://medium.com/@mhmdkbarsyh11/bagaimana-cara-aku-mencintaimu-di-tengah-reformasi-yang-telah-mati-8413faa39713
- author_url
- https://medium.com/@mhmdkbarsyh11
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-11 09:08:54