Perlawanan Rakyat Atas Kolonialisme dan Imperialisme.
Penyebab umum mengapa perlawanan terjadi di Indonesia terhadap kolonialisme dan imperialisme adalah karena adanya kekuasaan Belanda yang…
Perlawanan Rakyat Atas Kolonialisme dan Imperialisme.
Penyebab umum mengapa perlawanan terjadi di Indonesia terhadap kolonialisme dan imperialisme adalah karena adanya kekuasaan Belanda yang semakin besar dan pengaruhnya semakin luas, sedangkan kekusaan lokal atau tradisional semakin memudar. Perlawanan rakyat yang terjadi juga disebabkan oleh adanya pertentangan antara bangsawan dengan Pemerintah Kolonial, adanya eksploitasi kerja, adanya Devide et Impera yang dilakukan oleh pihak Belanda, dan terjadinya monopoli perdagangan. Oleh karena itu, perlawanan yang dilakukan oleh rakyat di Indonesia saat itu bertujuan untuk mengusir para penjajah dan memerdekakan bangsanya.
· 3 Perlawanan Yang Pernah Dilakukan:
-
Perang Dipenogoro (1825–1830): Latar belakang terjadinya perlawanan ini disebabkan oleh adanya kekuatan kolonial yang selalu berusaha untuk menanamkan pengaruhnya di Jawa, adanya pertentangan politik yang sebenarnya tertanam kepentingan pribadi di dalam Keraton, dan karena adanya pajak yang berlebihan dimana dibebankan ke rakyat. Kerugian dari adanya Perang Dipenogoro adalah jatuhnya korban jiwa sebanyak 15 ribu tentara, kerugian materi sebanyak 20 juta gulden, rusaknya perkebunan-perkebunan swasta asing, dan kemakmuran rakyat menghilang. Di dalam Perang Dipenogoro, adalah satu orang yang dikenal sebagai embrio Dipenogoro, orang tersebut bernama Tubagus Rangin. Bagus Rangin saat itu sebagai simbol kenabian atau prophetisme karena beliau merupakan pemimpin yang kharismatik. Perlawanan yang dilakukan Bagus Rangin pertama kali terjadi pada tahun 1806 dimana hal tersebut tertera di Resolusi 25 Februari 1806. Dampak yang dirasakan setelah adanya Perang Dipenogoro adalah kerugian material dan munculnya cultuur stelsel, menaikkan moril pejuang pribumi namun merusak psikis korban perang, dan timbulnya wabah serta penyakit.
-
Perang Padri (1821–1837): Perang Padri adalah perang yang terjadi antara kaum Padri dan kaum Adat di Minangkabau, Sumatera Barat. Pada awalnya, perang ini disebut sebagai perang saudara (1803) antara ulama dan kaum Adat. Namun, seiring Belanda ikut campur tangan terhadap perang ini, maka dinamakan Perang Kolonial. Tokoh terkenal dari Perang Padri ialah Tuanku Imam Bonjol. Latar belakang mengapa perang ini bisa terjadi, karena kepulangan tiga orang Haji dari Mekkah pada tahun 1803 yang ingin memperbaiki syariat Islam di Minangkabau (Harimau Nan Salapan), mereka mengajak yang dipertuan Paguruyung, Sultan Arifin, beserta kaum Adat untuk meninggalkan ajaran yang dilarang Islam, dan Tuanku Pasaman menyerang Kerajaan Paguruyung pada 1815 sehingga Sultan Arifin melarikan diri. Masuknya pengaruh Belanda di Minangkabau dimulai sejak Pemerintah Hindia Belanda mengangkat James Du Puy sebagai residen di Minangkabau pada tahun 1821. Pada tanggal 10 Februari 1821, James Du Puy melakukan perjanjian persahabatan bersama Sultan Tangkal Alam Bagargasyah, keponakan Sultan Arifin. Perjanjian tersebut berisi mengenai penyerahan Minangkabau kepada Belanda yang ditafsirkan oleh Belanda. Semenjak masuknya pengaruh Belanda di Minangkabau, hal ini memicu adanya perlawanan rakyat yang memberikan dampak yang signifikan, seperti Jemaah Haji meningkat pada abad ke-10 serta munculnya gerakan Islam, kesejahteraan hidup menurun akibat adanya tanam paksa, dan adanya modernisasi surau menjadi lembaga Islam modern. Warisan sejarah yang diberikan dari Perang Padri adalah dibangunnya Monumen Perang Padri. Setelah kemerdekaan pun, pemerintah membangun Museum dan Monumen Tuanku Imam Bonjol. Selain itu, Gelar Pahlawan Nasional juga diberikan kepada Tuanku Imam Bonjol dan Tuanku Tambusai.
-
Perang Bali (1846–1908): Penyebab terjadinya Perang Bali adalah adanya campur tangan Belanda di Kerajaan Buleleng, adanya kebencian rakyat Buleleng terhadap Belanda, dan adanya permasalahan Tawan Karang. Dampak dan pasca Perang Bali dirasakan oleh seluruh orang di Bali, seperti rakyat Buleleng menjadi korban, pemukiman rakyat dibakar, Raja Buleleng menandatangani perjanjian kalah perang terhadap Belanda pada 9 Juli 1846, adanya perang lanjutan yaitu Perang Jagaraga dan Perang Kusamba, adanya modernisasi sebagai penerapan Politik Etis Hindia Belanda, dan perbudakan menjadi merajalela serta kependudukan perempuan menjadi relatif rendah.
BIBLIOGRAFI
Istikhomah. (2017). Pelaksanaan Ibadah Haji Abad Ke 19 dan Dampaknya Terhadap Perlawanan Rakyat Kepada Kolonialisme Belanda. Tamaddun: 5(2). https://www.syekhnurjati.ac.id/jurnal/index.php/tamaddun/article/view/2105
Kartodirdjo, S. (1988). Pengantar Sejarah Indonesia Baru: 1500–1900 Dari Emporium Sampai Imperium. Jakarta: Gramedia.
Peter Carey. (1986). The Origin of Java War. Asal Usul Perang Jawa. Jakarta: Pustaka Azet.
Ruspandi, F. (2011). Perang Padri. Jakarta: Be Champion.
Wildan, Muhammad. (2021). Relevansi Filsafat Dialektika Hegel pada Perang Diponegoro Tahun 1825–1830. Jurnal Pendidikan Sejarah: 10(2). https://ejournal.unsri.ac.id/index.php/criksetra/article/view/13275
William Marsden. (2008). History of Sumatera. Jakarta: Komunitas Bambu.
메타데이터
- post_id
- 845f58b7f3d0
- slug
- perlawanan-rakyat-atas-kolonialisme-dan-imperialisme-845f58b7f3d0
- url
- https://medium.com/@anastacia.zahra/perlawanan-rakyat-atas-kolonialisme-dan-imperialisme-845f58b7f3d0
- canonical_url
- https://medium.com/@anastacia.zahra/perlawanan-rakyat-atas-kolonialisme-dan-imperialisme-845f58b7f3d0
- author_url
- https://medium.com/@anastacia.zahra
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-29 01:02:39