← Back to list

Manunggaling Kawulo Rakora

Tidak semua orang disapa Tuhan lewat jalan yang sama. Ada yang dijumpai lewat sujud panjangnya, ada yang ditunggu di khidmatnya majelis…

Zufardienm · 2026-05-26 04:28 · 1 claps · 2.9 min read
#religion #tasawuf #lifestyle #islam #spirituality
Open on Medium ↗
Wiki topics: HUM · Humanities · General ✨ · Lifestyle · General 👗 · Fashion 🕊️ · Religion 🧘 · Spirituality

Manunggaling Kawulo Rakora

Tidak semua orang disapa Tuhan lewat jalan yang sama. Ada yang dijumpai lewat sujud panjangnya, ada yang ditunggu di khidmatnya majelis dzikir, ada yang didengarkan lewat 'deresan' ayat-ayat suci, ada yang ditemui lewat sunyi gunung dan gelapnya khalwat. Dan ada pula yang dipertemukan dengan-Nya lewat dapur yang sepi dan bak cuci yang penuh.

Setiap malam, ketika seisi zawiyah mulai hening dan manusia-manusia tenggelam dalam mimpinya masing-masing, ada bunyi-bunyian kecil yang tetap hidup dari arah dapur, gemericik air, dentang cangkir & piring, kelotak wajan panci, serta tangan yang tekun diam-diam membersihkan 'sisa-sisa kehidupan' hari itu.

Barangkali bagi orang lain itu hanya rakora (kora-kora; orang Madura terbiasa menghilangkan suku kata awal untuk kata yang diulang-ulang, kora-kora ialah aktivitas mencuci tumpukan piring kotor di dapur). Tangannya menyentuh sisa-sisa kehidupan hari itu: dandang bekas nasi, piring berminyak, mangkok berkuah, gelas berbekas ampas kopi, wajan dan panci berkerak, dan segala perkakas dapur yang ditaruh begitu saja tanpa pikir panjang.

Sederhana. Nyaris tak bernilai. Tak ada yang memotretnya, tak ada yang memujinya. Namun justru dalam kesunyian yang tak dianggap itu, sang kawulo menemukan batinnya sedang mendengar sesuatu yang selama ini tenggelam oleh riuh dunia. Gemercik air menjadi dzikir. Benturan piring menjadi tasbih. Dan lelah yang perlahan menjalari tubuh berubah menjadi semacam fana kecil; luluhnya rasa ingin dilihat manusia.

Sebab para sâlik sejak dulu telah memahami bahwa yang dilihat Gusti Pengeran bukan megahnya amal, Ia melihat hudurnya hati saat mengerjakan hal kecil yang terus diistiqamahi. Maka rakora perlahan bukan lagi sekadar membersihkan sisa makan. Ia menjadi laku penyucian. Ia seperti membersihkan hati dari kerak-kerak dunia, dari amarah yang menempel, kecewa yang mengering, dan harapan-harapan yang gosong di dasar jiwa.

Seorang sâlik melihat kerak-kerak nasi yang menempel seperti ego yang sulit dilepas. Minyak yang lengket seperti kenangan dunia yang enggan hilang. Dan air yang terus mengalir itu seperti rahmat Pengeran; membersihkan tanpa pernah bertanya seberapa kotor yang dibersihkan.

Aku jadi teringat sebuah kalimat dalam buku Seorang Pria yang Melalui Duka dengan Mencuci Piring: “Duka itu seperti mencuci piring, tak ada orang yang benar-benar ingin melakukannya, namun pada akhirnya seseorang tetap harus membersihkannya .” Mungkin memang begitu adanya. Sebab sebagian luka tidak selesai dengan dilupakan, ia dirawat diam-diam dalam kesunyian; dicuci perlahan setiap malam hingga hati akhirnya belajar ikhlas tanpa merasa paling menderita.

Air yang mengalir perlahan itu seolah mengajarkan, bahwa tidak semua yang kotor harus dibenci. Sebagian hanya perlu direndam sabar lebih lama. Dan busa-busa sabun itu seperti dunia: ramai di permukaan, namun sebentar kemudian lenyap tanpa bekas.

Barangkali memang begitulah jalan para perindu: tidak selalu dikenal langit lewat suara keras doa-doanya, tetapi lewat istiqamah kecil yang terus ia jaga ketika tak ada siapa-siapa.

Aku teringat dawuh Abu Yazid al-Busthami : “Aku mencari Allah di tempat-tempat besar, lalu aku menemukannya di hatiku yang hancur dan rendah.” Dan mungkin, di antara bunyi piring yang saling beradu itu, ada doa-doa yang tak sempat terucap oleh lisan, namun telah lebih dulu dipahami langit. Karena terkadang, Tuhan memang lebih dekat di dapur-dapur sunyi, daripada di keramaian yang sibuk memperlihatkan kesalehan.

Imam Al-Ghazali juga pernah memberi isyarat bahwa jalan menuju Allah bukan hanya dengan meninggalkan dunia, jalan sesungguhnya ialah dengan membersihkan hati dari ketergantungan terhadap dunia. Maka seorang kawulo bisa saja tetap berada di dapur, memegang spons dan sabun, namun ruhnya sedang berjalan menuju Tuhan, menghadirkan-Nya bahkan di tengah pekerjaan paling biasa. Ia mencuci piring bukan sekadar agar dapur kembali bersih, tetapi agar hatinya tidak ikut mengerak.

Seperti kata Sang Maulana, Jalaluddin Rumi “Setiap pekerjaan yang dilakukan dengan cinta akan membawa manusia menuju Tuhan.”

Maka rakora itu bukan lagi sekadar piring kotor. Ia berubah menjadi wirid. Menjadi laku. Menjadi semacam tahajud yang tak bersuara.

Ia berdiri lama di depan wastafel sebagaimana seorang darwis berdiri di depan pintu Tuhan: membawa letih, membawa sunyi, membawa dirinya yang belum selesai.

Dan mungkin memang begitulah hakikat manunggaling kawulo rakora: ketika seorang hamba begitu tenggelam dalam keikhlasan kecil, hingga ia tak lagi tahu mana air yang membersihkan piring, dan mana rahmat yang sedang membersihkan dirinya sendiri.

رَبَّنَا أَحْسِنْ لَنَا ظَاهِرًا وَ بَا طِنًا مَعَ حُسْنِ الظَّنِّ بِحَضْرَتِكَ يَامَنَّانْ

Pangeran Panjenengan Dandosi Kulo Niki.. Lahir Batin Sarano Manah Sae Kang Suci..

Pasuruan, 26/05/26


메타데이터
post_id
84a09ee5c76a
slug
manunggaling-kawulo-rakora-84a09ee5c76a
url
https://medium.com/@Jupang/manunggaling-kawulo-rakora-84a09ee5c76a
canonical_url
https://medium.com/@Jupang/manunggaling-kawulo-rakora-84a09ee5c76a
author_url
https://medium.com/@Jupang
status
ok
fetched_at
2026-06-09 15:37:30