Pemodelan Potensi Habitat Bunga Edelweiss Jawa Berbasis Maximum Entropy Dalam Mendukung Konservasi…
Disusun Oleh (Juara 3 GeoGIS Challange 2025): Achmad Faqikh, Adam Hisyam Nurhasbi, Muhamad Aziz Saputra (Universtas Pendidikan Indonesia)
Pemodelan Potensi Habitat Bunga Edelweiss Jawa Berbasis Maximum Entropy Dalam Mendukung Konservasi Keanekaragaman Hayati di Taman Nasional Gunung Merbabu
Disusun Oleh (Juara 3 GeoGIS Challange 2025): Achmad Faqikh, Adam Hisyam Nurhasbi, Muhamad Aziz Saputra (Universtas Pendidikan Indonesia)
PENDAHULUAN
Dalam diskusi global mengenai pembangunan berkelanjutan untuk melestarikan ekosistem daratan (SDGs 15 Life on Land), Indonesia merupakan salah satu negara penting karena memiliki kekayaan keanekaragaman hayati yang sangat tinggi. Diperkirakan sekitar 25% spesies tumbuhan berbunga dunia terdapat di Indonesia dengan total mencapai 20.000 spesies, dan sekitar 40% di antaranya bersifat endemik (Sutarno, 2015; Kusmana, 2015). Dengan potensi tersebut, diperlukan langkah strategis untuk mendukung pembangunan berkelanjutan, salah satunya melalui pengelolaan kawasan konservasi.
Taman Nasional Gunung Merbabu adalah salah satu kawasan konservasi yang memiliki ekosistem alami, namun kini menghadapi tekanan akibat aktivitas manusia, terutama eksploitasi sumber daya alam (Hidayat, 2016). Salah satu flora endemik yang terancam kritis di kawasan ini adalah Edelweiss Jawa (Anaphalis Javanica), tumbuhan pionir yang berfungsi menahan erosi, menjadi habitat lumut, serta menyediakan sumber makanan bagi serangga (Fahmi, 2025). Sayangnya, populasi Edelweiss terus menurun akibat aktivitas pendaki dan warga yang memetiknya untuk dijual (Dewantara, 2017). Kondisi ini tidak hanya melanggar regulasi konservasi nasional (UU No. 5 Tahun 1990; Permen LHK No. P.20/2018), tetapi juga menempatkan Edelweiss Jawa dalam status critically endangered menurut IUCN.
Melihat ancaman tersebut, pelestarian Edelweiss Jawa membutuhkan pendekatan berbasis teknologi spasial yang mampu memetakan habitat potensial secara akurat. Pemodelan distribusi habitat dengan algoritma Maximum Entropy (MaxEnt) menjadi solusi karena mampu menghubungkan data kehadiran spesies dengan variabel lingkungan untuk memprediksi kesesuaian habitat (Fitzgibbon dkk., 2022). Penerapan MaxEnt tidak hanya memberikan dasar ilmiah bagi pengelolaan konservasi Edelweiss Jawa di Taman Nasional Gunung Merbabu, tetapi juga mendukung pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan. Oleh karena itu, penelitian ini difokuskan pada dua rumusan masalah, yaitu faktor lingkungan apa saja yang mempengaruhi potensi habitat Edelweiss Jawa di Gunung Merbabu, serta bagaimana hasil pemodelan MaxEnt dapat digunakan untuk mendukung upaya konservasi spesies tersebut secara berkelanjutan.
ISI
Pemodelan habitat potensial Edelweiss Jawa (Anaphalis Javanica) dengan algoritma Maximum Entropy menghasilkan peta distribusi yang menggambarkan tingkat probabilitas keberadaan spesies di kawasan Taman Nasional Gunung Merbabu. Model ini menggunakan berbagai variabel yang secara ekologis sangat menentukan persebaran Edelweiss Jawa dengan habitat pegunungan tinggi dan kondisi ekstrem. Berikut adalah peta hasil pengolahan Maximum entropy.

Gambar 1. Peta Prediksi Habitat Bunga Edelweis
Legenda peta prediksi habitat Edelweiss Jawa (Anaphalis Javanica) menggambarkan hasil pemodelan Maximum Entropy melalui klasifikasi warna dan simbol titik kehadiran yang masing-masing memiliki makna ekologis sekaligus analitis. Warna merah menunjukkan area dengan probabilitas tinggi yang paling sesuai untuk pertumbuhan Edelweiss Jawa, umumnya berada pada ketinggian lebih dari 2.400 mdpl dengan suhu rendah, intensitas cahaya tinggi, serta kondisi tanah miskin hara yang mendukung sifat adaptif Edelweiss sebagai tumbuhan pionir di ekosistem pegunungan ekstrem. Warna kuning menandakan probabilitas sedang yang berfungsi sebagai zona transisi, di mana spesies ini masih dapat tumbuh meskipun tingkat kesesuaiannya lebih rendah akibat variasi faktor lingkungan seperti curah hujan dan penutup lahan. Sementara itu, warna hijau merepresentasikan probabilitas rendah, yang umumnya terdapat di lereng bawah hingga kaki gunung, dengan kondisi suhu lebih tinggi, kelembapan berbeda, serta tekanan aktivitas manusia lebih besar, sehingga relatif tidak mendukung keberadaan Edelweiss Jawa.
Selain klasifikasi warna, legenda juga menampilkan simbol titik yang mengindikasikan hubungan antara data lapangan dan hasil prediksi model.

Tabel 1. Distribusi Nilai Probability of Presence untuk Background dan Presence
Model menunjukkan empat pola utama. Pertama, pada kategori Background–Classified as Potential Presence, nilai probabilitas relatif tinggi dengan median 0,88. Hal ini berarti ada area latar belakang (background) yang diprediksi seolah-olah berpotensi memiliki kehadiran, padahal sebenarnya tidak. Kedua, kategori Background–Unchanged memiliki nilai rendah dengan median 0,45 serta rentang yang sempit (IQR 0,02). Ini menandakan model cukup konsisten dalam menilai area background murni sebagai bukan kehadiran. Ketiga, kategori Presence–Correctly Classified memiliki nilai probabilitas tinggi, dengan median 0,77 dan maksimum mencapai 1,00. Kondisi ini menunjukkan bahwa model mampu mengenali titik kehadiran dengan cukup baik. Keempat, pada kategori Presence–Misclassified, seluruh nilai stagnan di angka 0,40 tanpa variasi, yang berarti model gagal total dalam mengenali kehadiran pada kasus ini.
Titik biru merepresentasikan lokasi kehadiran aktual Edelweiss yang berhasil diprediksi dengan benar oleh model (presence–correctly classified), sehingga menjadi indikator penting dalam validasi spasial. Titik kuning menandakan lokasi kehadiran aktual yang tidak berhasil diklasifikasikan dengan sesuai oleh model (presence–misclassified), yang mencerminkan adanya keterbatasan variabel atau faktor ekologis lain yang belum sepenuhnya terakomodasi. Sementara itu, titik abu-abu gelap menunjukkan area latar belakang yang diprediksi sebagai potensi habitat (background — classified as potential presence), dan titik abu-abu terang menandakan area latar belakang yang tidak berubah atau tetap dianggap tidak sesuai (background — unchanged). Konsentrasi titik biru yang dominan berada pada zona merah membuktikan konsistensi antara fakta lapangan dan hasil pemodelan, sekaligus memperkuat validitas serta reliabilitas model.

Gambar 2. Peta Prediksi Habitat Bunga Edelweiss Dengan Parameter Pembangun Model Maximum Entropy
Berbagai parameter lingkungan sangat mempengaruhi hasil dari pemodelan ini, seperti Elevasi menentukan batas distribusi vertikal, di mana Edelweiss optimal tumbuh pada ketinggian >2.400 mdpl dengan kondisi subalpin yang dingin serta lingkungan ekstrem yang membatasi jenis tumbuhan lain. Sementara itu, NDVI menunjukkan kerapatan vegetasi, di mana Edelweiss lebih sesuai pada area terbuka atau semi-terbuka dengan nilai NDVI menengah dibandingkan hutan rapat atau lahan terbuka tanpa vegetasi, karena kondisi tersebut mengurangi tingkat persaingan dan memberi ruang bagi Edelweiss untuk mendominasi.

Gambar 3. Peta Elevasi dan Peta NDVI
Parameter berikutnya adalah Peta kemiringan lereng menunjukkan bahwa kawasan Gunung Merbabu didominasi lereng curam hingga sangat curam, terutama di bagian puncak dan lereng atas. Kondisi ini penting karena Edelweiss biasanya tumbuh di daerah dengan kemiringan relatif terjal yang terbuka. Sementara itu, peta penggunaan lahan memperlihatkan dominasi tutupan hutan dan sebagian kecil sabana. Faktor kemiringan lereng berperan dalam menentukan mikrohabitat Edelweiss, sedangkan penggunaan lahan membedakan area sabana terbuka yang lebih sesuai dibandingkan hutan rapat.

Gambar 4. Peta Kemiringan Lereng dan Peta Penggunaan Lahan
Parameter berikutnya adalah Peta kemiringan lereng menunjukkan bahwa kawasan Gunung Merbabu didominasi lereng curam hingga sangat curam, terutama di bagian puncak dan lereng atas. Kondisi ini penting karena Edelweiss biasanya tumbuh di daerah dengan kemiringan relatif terjal yang terbuka. Sementara itu, peta penggunaan lahan memperlihatkan dominasi tutupan hutan dan sebagian kecil sabana. Faktor kemiringan lereng berperan dalam menentukan mikrohabitat Edelweiss, sedangkan penggunaan lahan membedakan area sabana terbuka yang lebih sesuai dibandingkan hutan rapat.

Gambar 5. Peta Jenis Tanah, Peta Hasil Euclidean Distance, dan Peta Curah Hujan
Peta jenis tanah memperlihatkan bahwa kawasan Gunung Merbabu didominasi tanah vulkanik muda yang umumnya subur dan mendukung pertumbuhan Edelweiss. Peta Euclidean Distance menunjukkan jarak dari titik tertentu (misalnya jalan atau pemukiman), di mana Edelweiss Jawa lebih potensial tumbuh pada area yang jauh dari aktivitas manusia. Peta curah hujan menggambarkan distribusi presipitasi dengan nilai relatif tinggi di sebagian besar wilayah, sesuai dengan karakter pegunungan tropis. Dalam pemodelan MaxEnt, jenis tanah berfungsi sebagai faktor edafik penentu kesesuaian substrat, Euclidean Distance berperan membatasi gangguan antropogenik, dan curah hujan memastikan kondisi kelembapan yang mendukung pertumbuhan Edelweiss.
Hasil pemodelan Maximum Entropy memberikan informasi spasial yang sangat penting untuk mendukung upaya konservasi tanaman Edelweiss Jawa, khususnya di Taman Nasional Gunung Merbabu. Wilayah yang diklasifikasikan sebagai zona dengan potensi tinggi dapat dijadikan sebagai zona prioritas dalam pelestarian karena wilayah ini sangat didukung oleh berbagai kondisi lingkungan yang dijadikan variabel dalam penelitian. Sementara itu, wilayah di sekitarnya dapat difungsikan sebagai zona yang menjaga kestabilan ekosistem. Selain itu, hasil pemodelan ini juga dapat dijadikan landasan dalam penyusunan kebijakan pengelolaan kawasan konservasi. Pengelola Taman Nasional Gunung Merbabu dapat mengintegrasikan informasi tersebut ke dalam rencana pengelolaan jangka panjang. Upaya ini diharapkan mampu meningkatkan efektivitas konservasi yang berbasis pada pendekatan ekologi dan analisis spasial sehingga kelestarian dari bunga abadi ini dapat terus terjaga.
PENUTUP
Penelitian ini menunjukkan bahwa pemodelan spasial menggunakan algoritma Maximum Entropy mampu memetakan potensi habitat Edelweiss Jawa (Anaphalis Javanica) secara akurat di kawasan Taman Nasional Gunung Merbabu. Hasil pemodelan memperlihatkan bahwa daerah tengah di Taman Nasional Gunung Merbabu memiliki potensi habitat paling tinggi. Hal ini didukung dengan kondisi lingkungan yang optimal seperti daerah tengah yang merupakan daerah puncak dan memiliki ketinggian di atas 2.400 mdpl.
Selain memberikan gambaran ekologis yang komprehensif, hasil pemodelan ini memiliki nilai praktis dalam mendukung upaya konservasi. Zona dengan potensi tinggi dapat dijadikan prioritas perlindungan, sementara area dengan potensi sedang dan rendah berperan sebagai zona penyangga untuk menjaga stabilitas ekosistem. Dengan demikian, pendekatan berbasis data spasial ini diharapkan mampu meningkatkan efektivitas konservasi serta menjamin keberlanjutan Edelweiss Jawa sebagai flora endemik yang memiliki nilai ekologis tinggi di Gunung Merbabu.
DAFTAR PUSTAKA
SUTARNO, S., & SETYAWAN, A. D. (2015). Indonesia’s biodiversity: the loss and management efforts to ensure the sovereignty of the nation. In Prosiding Seminar Nasional Masyarakat Biodiversitas Indonesia (Vol. 1, №1, pp. 1–13).
Lubis, E. (2021). Konsep Hukum Biodiversitas dalam Dunia Digital (Fondasi Teoritik Pengembangan Hukum Lingkungan Indonesia Berbasis Biodiversitas). Jurnal Hukum Jurisdictie, 3(2), 133–144.
Kusmana, C., & Hikmat, A. (2015). Keanekaragaman hayati flora di Indonesia. Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan (Journal of Natural Resources and Environmental Management), 5(2), 187–187.
Endang Parwanti, S. (2025). Keindahan Bunga Edelweiss Jawa Sebagai Motif Batik dalam Busana Casual (Doctoral dissertation, Institut Seni Indonesia Yogyakarta).
Wahyudi, D. (2010). Distribusi dan kerapatan edelweis (Anaphalis javanica) di Gunung Batok taman nasional bromo tengger semeru (Doctoral dissertation, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim).
Fahmi, M. Z. H., Rahman, A., & Salle, S. (2025). Perlindungan Hukum Bunga Edelweiss Berdasarkan Undang-Undang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Journal of Lex Theory (JLT), 6(1), 1–16.
Hidayat, S., Budiastuti, S., & Setyono, P. (2016). Pengelolaan Taman Nasional Gunung Merbabu sebagai Upaya Konservasi Rekrekan (Presbytis fredericae). Ekosains, 8(03).
Dewantara, I. (2017). KEANEKARAGAMAN GENETIK EDELWEIS (Anaphalis javanica) MENGGUNAKAN PENANDA DNA KLOROPLAS GEN matK. ., 1–16.
Fauzan, M. (2025). Pemodelan Spasial Kesesuaian Habitat Rusa Sambar (Cervus unicolor) Menggunakan Maximum Entropy di Sebagian Provinsi Sumatra Barat (Doctoral dissertation, Universitas Gadjah Mada).
메타데이터
- post_id
- 84d1d4fbf14d
- slug
- pemodelan-potensi-habitat-bunga-edelweiss-jawa-berbasis-maximum-entropy-dalam-mendukung-konservasi-84d1d4fbf14d
- url
- https://medium.com/@akademikadvokasi.hmsaig.geo/pemodelan-potensi-habitat-bunga-edelweiss-jawa-berbasis-maximum-entropy-dalam-mendukung-konservasi-84d1d4fbf14d
- canonical_url
- https://medium.com/@akademikadvokasi.hmsaig.geo/pemodelan-potensi-habitat-bunga-edelweiss-jawa-berbasis-maximum-entropy-dalam-mendukung-konservasi-84d1d4fbf14d
- author_url
- https://medium.com/@akademikadvokasi.hmsaig.geo
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-08-16 13:12:23