Gastro-Colonialism: Ketika Sagu Papua Tergusur Demi Nasi dan Kebijakan Dungu
Masih dengan edisi Seri Pangan Nusantara, dengan author yang sama dengan buku yang sebelumnya Ahmad Arif kembali dengan karya yang membahas…
Gastro-Colonialism: Ketika Sagu Papua Tergusur Demi Nasi dan Kebijakan Dungu
Masih dengan edisi Seri Pangan Nusantara, dengan author yang sama dengan buku yang sebelumnya Ahmad Arif kembali dengan karya yang membahas mengenai pangan nusantara. Kali ini dia datang dengan buku yang berjudul, “ Sagu Papua Untuk Dunia”. Jika di buku sebelumnya membahas mengenai Sorgum yang dapat tumbuh meskipun di lahan tandus sekalipun, Seri Pangan Nusantara kali ini akan membahas mengenai Sagu, yang dari dahan hingga batangnya dapat dimanfaatkan oleh masyarakat adat. Akar permasalahan awalnya masih sama dengan Sorgum, dimana pemerintahan era orde baru dengan nasionalisasi nasi dan memarginalkan pangan adat lainnya.

PawPaw’s Library
Sagu atau yang mungkin lebih akrab kita kenal sebagai bahan baku pembuatan papeda saat masih kanak-kanak ternyata merupakan alternatif makanan pengganti nasi. Dalam buku tersebut ada Bab yang membuat author menghardik pemerintah dalam diam. Bab 3 dengan judul ‘Lapar di Kampung Sagu’. Dapat dilihat efek domino akibat nasionalisasi yang dilakukan oleh pemerintah orde baru yang sayangnya kebijakan dungu itu akan terus dilanjutkan sampai era Presiden Prabowo sekarang. Dalam bab tersebut dijelaskan bagaimana perubahan pola konsumsi akibat penyeragaman pangan dapat berdampak buruk sampai sekarang. Masyarakat yang tadinya terbiasa mengkonsumsi sagu sebagai pangan pokok beralih menjadi beras, yang sayangnya tidak bisa tumbuh subur di tanah Papua karena topografi wilayahnya. Hal tersebutlah yang menyebabkan ketergantungan masyarakat dengan beras bantuan dari pemerintah.
Dan ini diperparah dengan rencana Presiden Prabowo yang ingin membuka lahan pertanian di Papua, yang tentunya hanya akan berfokus pada komoditas padi, tebu, dan jagung. Mungkin akan dibahas oleh yang lebih paham mengenai cocok tidaknya topografi hutan di papua untuk dijadikan lahan pertanian (atau mungkin akan penulis bahas saat buku karya Franz Wilhelm Junghuhn sudah datang dan sudah penulis baca, tentunya masih dalam kategori kacamata awam), namun jika hal itu benar-benar terjadi amat sangat disayangkan hutan yang kaya akan keanekaragaman hayati harus ditumbalkan demi pembangunan lahan pertanian itu yang katanya demi swasembada pangan.
Ada satu terminologi modern yang cocok dengan kondisi warga papua dan ketergantungan pangan mereka akan beras, Gastro-Colonialism merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan dominasi dan pengaruh kuat dari negara atau budaya tertentu terhadap pola makan dan sistem pangan di negara lain. Namun dalam kasus ini negara sendirilah yang menjajah pola pangan masyarakat lokal. Apakah pernah lewat entah di tl twitter, fyp tiktok, maupun reels IG kalian tentang konten membagi makanan seperti beras atau mie instan ke warga di Papua? Ya!!! Itulah contoh Gastro-Colonialism yang tengah terjadi di negara ini. Kebanyakan komentar akan mendukung konten tersebut dengan berkata, “Kan kasian mereka tidak pernah makan nasi”, “Lihat wajah bersyukur mereka padahal cuman diberi mie instan”. IDIOT!!! Wilayah hutan yang mereka tinggali lebih kaya keanekaragaman protein ketimbang kalian yang berkomentar seperti. Jika pemerintah becus mengurus negara ini tidak akan ada lagi orang yang kelaparan di tengah ladang pangan. Jika pemerintah becus kita bisa dengan mudah menjumpai makanan pokok pengganti nasi, gandum, dan ubi.
Agak TMI (Too Much Information), jika kalian mempunyai adik atau sepupu gen Alpha cobalah ajak mereka ngobrol sesuatu yang bisa dibilang berat namun buat lebih have fun, beberapa saat lalu penulis baru saja ke restoran keluarga yang menyajikan Papeda Kuah Ikan Kuning, jaraknya cukup dekat apabila dari rumah penulis. Disana penulis memesan paket Papeda, porsinya besar sehingga itu untuk penulis dan adik penulis (Gen Alpha, kelas 5 SD), orang tua penulis memesan garang asem, sejujurnya ada juga Kerapu Manado hanya saja tidak kami pesan sebab sepertinya tidak akan habis. Singkat cerita saat seluruh pesanan kami sudah datang, penulis makan papeda dengan dikunyah dan tidak langsung ditelan dan itu membuat adik penulis kesal sampai berkata, “Ihh enggak menghargai adat”. Welll, sesuatu yang tidak penting hanya saja penulis cukup bangga dengan adik penulis yang masih mau makan makanan adat nusantara di tengah-tengah invasi makanan olahan dari gandum maupun fast food.
메타데이터
- post_id
- 84f827e41a40
- slug
- gastro-colonialism-ketika-sagu-papua-tergusur-demi-nasi-dan-kebijakan-dungu-84f827e41a40
- url
- https://medium.com/@fadilarika2003/gastro-colonialism-ketika-sagu-papua-tergusur-demi-nasi-dan-kebijakan-dungu-84f827e41a40
- canonical_url
- https://medium.com/@fadilarika2003/gastro-colonialism-ketika-sagu-papua-tergusur-demi-nasi-dan-kebijakan-dungu-84f827e41a40
- author_url
- https://medium.com/@fadilarika2003
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-26 21:52:29