← Back to list

Arang Temaram

Bara yang menolak padam.

lightamora · 2026-02-15 05:00 · 351 claps · 19.9 min read
#tomorrow-x-together #tragicomedy #comedy #yeonjun #lightamora
Open on Medium ↗
Wiki topics: RAG · RAG & Retrieval 😂 · Humor & Satire

Arang Temaram

Bara yang menolak padam.

[ TW // disturbing imagery, domestic violence, traumatic event ]

Setelah 12 tahun perantauan di kota besar, Jero pulang ke kampung halamannya — Desa Inhil. Membawa bekal berupa raga nan bugar dan rasa bak pendekar. Memang sejatinya tahta perantau beberapa hasta lebih tinggi dibandingkan atap rumah kepala desa.

Namun, tabik perdana yang Jero terima adalah:

“Loh? Bukannya lo sudah mati?” dan itu datang dari teman kecilnya — Sanim, anak sulung kepala desa.

Jero pernah tinggal di rumah kepala desa pascakebakaran yang merenggut hidup-hidup dinding reyot rumahnya, dan nyawa orang tuanya. Dia melihat bagaimana api semena-mena melenyapkan segala yang dia miliki; keluarga, harta, bahkan masa kecilnya. Semua rata menjadi tanah dan kini subur sebagai ladang.

“Lo segitu berharapnya gue mati, kah?”

“Iya — maksudnya, enggak, Jer. Maksud gue — ” Sanim menggaruk tengkuknya canggung, makin canggung makin mencuat lesung pipinya. “Lo malam ini tidur di mana?”

“Di rumah lo, kalau boleh,” pinta Jero sambil memeriksa ponselnya. Tidak ada sinyal di sana. “Cuman sementara, sembari gue cari rumah. Lagi ada rumah yang kosong enggak, sih?”

“Entahlah. Nanti kita cari bareng-bareng.” Sanim membantu membawakan salah satu koper Jero sambil bercerita tentang apa saja yang dilewatkan temannya selama lebih dari satu dekade.

Desa Inhil selalu memiliki cerita-cerita tidak biasa; intrik yang mencorak-carik, taklik yang diotak-atik, sampai jebah klenik yang melibatkan koloni jangkrik di ladang.

Termasuk tragedi kebakaran di rumah Jero yang masih menjadi legenda.

Biasanya perantau yang pergi menolak kembali, terlebih jika kehidupan yang lebih layak pernah mereka cicipi. Maka dari itu kepulangan Jero menjadi suatu fenomena langka.

Kabar berembus secepat angin mengitari satu desa bahkan sebelum malam sempat berganti dan fajar masih mencuci kaki.

Jadilah rumah kepala desa ramai-ramai ditandangi seperti semut mengerubungi gula, seakan ada peristiwa besar yang butuh diselebrasi. Mereka membuat perjamuan sekaligus membuka konferensi pers agar Jero si Mantan Perantau bebas dari gonggong anjing dan gunjingan.

Di Desa Inhil tidak hanya perut yang keroncongan, melainkan semua indra— mata, mulut, dan telinga, semua harus diberi asupan gizi seimbang: empat sengketa lima penghakiman.

Yang Jero tidak sangka, banyak warga mengira dia sudah lama mati. Bahkan di catatan kepala desa dia sudah dinyatakan “wafat” seperti ayah dan ibunya.

“Ini murni kelalaian kami. Maaf ya, Nak Jero. Nanti kita urus akta baru.” pernyataan Kepala Desa, Pak Dahlan, berhasil menutup lubang galian dari cangkul penasaran warga.

“Enggak masalah, Pak. Justru Jero yang minta maaf karena numpang lagi di sini.” Jero melirik Ibu Dahlan dan anak bungsu kepala desa sedang merapikan piring dan gelas bekas perjamuan. “Pokoknya setelah dapat rumah, Jero langsung beli dan pindah ke sana.”

Pak Dahlan dengan semat cincin batu giok menepuk bahunya sambil tersenyum, senyuman yang bahkan tidak dia berikan untuk anak-anaknya, Sanim dan Maisara. “Bapak akan selalu bantu kamu, Nak. Jangan sungkan, ya.”

Rumah Jero terbakar ketika usianya 12. Dia diungsikan ke rumah kepala desa selama hampir satu tahun. Jero akrab dengan keluarga kepala desa, terutama Sanim yang sebayanya. Jero dan Sanim tidur di satu kamar bersama Maisara yang saat itu berusia 9. Jero dan Sanim di matras sedangkan Maisara di kasur. Maisara sering mengigau tengah malam, menangis, kemudian pindah ke kamar orang tuanya. Sedangkan dua laki-laki di matras beradu dengkur sampai nyamuk tutup telinga (kalau mereka punya telinga).

Sekarang rasanya mereka kembali ke masa itu. Aroma pekat melati dan dedaunan di seisi rumah, langit-langit kamar Sanim yang rendah, laron yang sesekali datang memuja lampu, kipas yang (puji syukur) tidak lagi mengeluarkan bunyi kehrek-kehrek seperti bautnya merenggang nyawa, dan kasur yang pas-pasan untuk dua lelaki dewasa.

“Dibilang gue tidur di matras saja.”

“Enggak ada matrasnya, Jer, sudah dibuang.”

“Iya sudah gue di sofa depan, deh.”

“Banyak nyamuk, lah. Ini masih lega kok, serius.” begitu kata si pemilik kamar yang posisinya sudah stagnan, kiri mentok dinding, kanan mentok batas suci dengan Jero. “Nanti gue malah diceramahi si Dahlan kalau lo tidur di luar.”

Jero nyaris lupa. ‘S’ dalam ‘Sanim’ adalah Samsak.

Di mata ayahnya Sanim contoh konkret anak laki-laki sulung yang gagal; gagal merantau, gagal dapat beasiswa, gagal dapat kerja di kota, gagal menikah pula. Sedang di mata ibunya Sanim adalah pekerja keras yang seringkali kena sial; dia tidak bisa merantau karena keterbatasan finansial, tidak lolos seleksi beasiswa karena keterbatasan teknologi, tidak diterima kerja di kota karena tidak memberi pelicin, dan tidak jadi menikah karena perempuan yang disukainya lebih dulu dipinang duda kaya raya.

Kabar buruknya, Jero mendapatkan semua itu, kecuali menikah.

“Orang kota enggak menjadikan nikah suatu tujuan buat dicapai, sejauh yang gue tahu.” Jero menyarungi dirinya supaya tidak disantap nyamuk.

Dia melanjutkan. “Banyak orang seumuran kita belum nikah, masih menikmati proses kariernya, haha-hihi berteman sana-sini, yang penting happy-happy dulu. Hidup hedonisme — istilahnya.”

“Demi apa? Di sini umur 20 masih lajang sudah diperlakukan macam aib alam semesta,” celetuk Sanim. Mulutnya tertawa, matanya tidak. “Itu mereka enggak ditanya ibu-bapaknya kenapa belum nikah?”

Ehm, ada kok, yang masih bawa adat dan sering dijodoh-jodohi sama kenalan keluarganya. Tapi, kalau teman-teman gue enggak ada yang begitu.” Jero menyamping ke Sanim, mengecilkan suara. “Soalnya di sana pacar atau pasangan bisa disewa untuk pura-pura selama kita punya uang.”

Hah? Muke gile!” saking terkejutnya logat asli Sanim sampai keluar.

Shush, shush.” lengan temannya dipukul. “Gue bisik-bisik lo malah teriak.”

“Maaf, agak terkejut hamba. Tapi, lo pernah?”

“Enggak. Ini pun gue lagi krisis dana penghidupan, makanya gue pulang ke sini. Hidup di kota besar itu menyenangkan, tapi lo harus siap lihat semua orang kejar-kejaran tanpa ada lintasan dan sebegitu rawan terjadi kecelakaan.”

“Jadi, lo enggak akan balik ke kota lagi?”

“Rencananya sih, mau di sini sampai tua.”

Tidak merespons, Sanim memainkan kuku-kuku jarinya yang bertaut di atas perut seperti orang memikirkan utang. “Sara … mau nikah bulan depan sama laki-laki dari kota. Katanya itu sepupu teman sekolah dia, dan mereka sudah lama kenal. Setelah nikah dia langsung ikut suaminya ke kota. Setelah gue pikir lagi, adik gue kan, enggak punya banyak teman. Kalau ternyata dia ditipu, gimana?”

Jero mengerti kekhawatiran Sanim bermuara kemana. “Hm, tapi orang tua kalian setuju, enggak?”

“Setuju-setuju saja, Jer. Mungkin mereka enggak mau sampai adik gue berakhir seperti gue. Menurut mereka, daripada nikah sama orang sini mending sama orang kota. Hidupnya bisa lebih terjamin.”

“Iya, enggak sepenuhnya salah, sih. Orang tua pasti mau yang terbaik buat anak-anaknya.” Jero menatap totem rubah di atas lemari. “Sara sudah 20, kan? Biarin dia cari jalan hidupnya sendiri.”

Tiada debat keluar dari bibir Sanim. “Lo di sana kerja apa?”

“Staf perkantoran, yah, di perusahaan kecil-kecilan. Kerjaannya juga enggak gimana-gimana. Gue lebih penasaran lo selama ini ngapain saja, bujang? Masih suka ambil recehan ibu lo buat main PS di rumah si bule?”

“Enggaklah, sudah tobat. Mau jadi apa gue kalau ketahuan main di umur segini? Gue tiap hari ngurus sawah sama bapak.”

Keluarga kepala desa memiliki sawah yang luas — kedua setelah milik pasangan di ujung Desa Inhil. Pak Dahlan dan Sanim bertani, Ibu Dahlan dan Maisara berdagang di pasar. Dari kecil sampai sekarang ternyata rutinitas mereka masih sama. Namun, sebentar lagi si bungsu akan meninggalkan rumah dan Ibu Dahlan akan berdagang sendirian.

Dididik Sanim, Jero ikut bertani. Membantu keluarga kepala desa sekaligus mengembangkan kemampuan baru seakan dia tengah menggali bakat yang terpendam seratus kaki di bawah tanah.

Dia sudah lama memimpikannya. Mimpi untuk menumbuhkan sesuatu dari kedua tangannya sendiri.

Puluhan warga bekerja sebagai buruh tani untuk sawah kepala desa karena komoditas yang dipanen cukup bervariasi. Selain padi dan palawija, mereka juga memiliki budidaya buah-buahan.

Musim kemarau ini mereka menanam semangka — buah kesukaan Sanim. Pantas Sanim semringah dan telaten sekali sewaktu turun ke ladang, hampir-hampir seperti juragan semangka lagaknya (dan memang benar begitu).

“Semangka kalau ditanam di tanah bekas padi tumbuhnya bagus-bagus, Jer. Lihat, kan?” Sanim melaporkan trivia sambil mengetuk-ngetuk semangka besar yang hendak mereka ambil.

Oh, iya, ya.” sejuk pagi mulai terganti sinar hangat, Jero menguncir kembali rambut panjangnya dengan karet sayur dan menggulung kaosnya sampai ketiak. “Lo masih bisa habisin semangka dalam lima detik?”

“Masih, dong! Rekor gue belum terpecahkan sama siapa pun, loh. Percaya, enggak?”

“Bangga lagi ini anak ….” Jero tertawa sambil menggeleng-geleng.

Kemudian dua semangka dibahunya ke tepi ladang, dimasukkan ke keranjang. Bolak-balik menggendong buah hijau segar itu sampai ladang sepenuhnya tersisir ledang dua belas siang. Mereka rehat di warung makan bersama sekumpulan buruh yang lain. Rata-rata usia buruh tani adalah pria paruh baya, atau bahkan lebih tua. Ada pun anak-anak yang membantu (atau mengacau) di ladang bawaan orang tua mereka.

Di antara yang muda dan produktif ialah Sanim, Jero, dan Bala.

“Jadi, nyam nyam, kenapa lo tiba-tiba mau jadi petani, Bang Jer?” tanya si lelaki berselempang sarung yang lebih muda tiga tahun dari Jero dan Sanim. Mereka teman sepermainan sejak masih ingusan.

Hm, mungkin bertani bisa jadi my passion gue.”

Sanim menyeruput kuah sayur asamnya selagi mulut penuh, pipinya menggembung seperti hamster. “Ngomong ape, sih?”

“Bal, menurut lo gue terlalu ganteng enggak buat jadi petani?”

“Iya lagi,” Bala cekikikan dengan polosnya. “Angin kota beda ya, Bang? Sedih deh, nyam, gue mau merantau enggak pernah diizini sama abah, nyam nyam.”

“Lo apa enggak diajari makan enggak boleh sambil ngomong?” Jero melempari sekepal tisu sebagai protes.

“Abah gue gembar-gembor soal bahaya merokok, nyam, dia sendiri habis sebungkus tiap hari.”

“Inikah buah jatuh sepohon-pohonnya?”

Bala adalah anak dari pemuka agama tersohor di Desa Inhil. Namun, jangan sekali-kali tertipu oleh jabatan maksum orang tua dan paras lugunya.

Sejak dahulu bila ada kambing lepas dari kandang itu pasti ulah Bala. Bila ada burung mati itu pasti ulah katapel Bala. Bila ada sandal hilang satu di tempat ibadah pun yang pertama terdakwa Bala. Bahkan ketika ibunya wafat pun Bala sempat dicurigai, meskipun pada akhirnya terklarifikasi bahwa beliau sakit jantung. Bila ada anak bertanya pada bapaknya, bolehkah kita menumpang mandi?

Nama adalah doa. Meskipun nama asli Bala terdiri dari empat rangkai, tetapi panggilan ‘Bala’ menjadikannya bala bagi banyak orang.

Segelas es jeruk disodorkan di depan Jero, membuat ketiga lelaki itu serempak berhenti mengunyah dan bertukar pandang.

“Buat A’ Jero supaya tambah semangat kerjanya hari ini,” ujar si anak pemilik warung makan yang perawakannya tidak seperti daun teh sekalipun dia selalu dipanggil ‘teh’.

Oh, makasih, ya, Teh.”

Di Desa Inhil embel-embel ‘A’ hanya dianugerahi kepada laki-laki muda yang disegani. Bahkan Sanim dan Bala pun belum pernah dipanggil dengan abjad pengubah nasib itu.

Panggilan ‘Bang’ lebih rendah kastanya karena dia dimulai dari ‘B’.

Wuih, segarnyo!” Bala meneguk es jeruk itu hingga tandas, menyisakan balok-balok es batu.

“Ini, nih.” Jero tersenyum kecut sambil menunjuk-nunjuk lelaki tangan panjang itu. “Yang bikin abahnya keliling memperingati warga buat tobat.”

“Selagi ada cobaan, iya dicobain.”

“Istri lo sehat, Bal? Enggak ngamuk tiap hari ditinggal lo kerja sampai sore?”

Jero tersedak es batu sampai dimuntahkan kembali ke gelas. “Eh, nyuk, lo sudah nikah?”

“Lagi hamil besar istrinya,” tambahan informasi dari Sanim buat Jero makin menganga.

“Enggak sih, lumayan anteng istri gue. Malah, katanya, kalau gue di rumah dia bawaannya jadi mual mulu,” Bala terkikik seakan tidak ada yang salah dengan rumah tangganya. “Lo sudah ada calon, Bang Jer? Nikahlah buruan! Jangan mengikuti jejak si sawit ini. Dia baru ditinggal nikah sang kekasih soalnya.”

“Mulut lo berisik, ye.”

“Belum ada, nih. Cariin kali, Bal.”

“Sama janda, mau?”

“Yuk, balik. Sudah waktunya binatang ini masuk kandang.”

Ada hari ketika Jero ikut ke pasar bersama Ibu Dahlan dan Maisara. Sendal jepitnya membelah becekan, anyir darah dari lorong los penyembelihan binatang ternak menguar lebih pekat dibandingkan aroma rempah-rempah di lorong berikutnya. Kue-kue beraneka warna yang tersedia di nampan bambu beralas daun bisa terasa di lidah hanya dengan melihatnya selintas.

Maisara hobi membuat kue, dan kuenya selalu menjadi kesukaan Jero.

“Sar, masih sering bikin es gabus?”

Perempuan dengan rok lipat itu melambatkan langkah, menjawab tanpa menoleh ke penanya di belakang. “Sudah jarang.”

“Kenapa? Padahal buatan kamu enak, loh.” Jero agak membungkuk ke depan agar suaranya terdengar. Jalur sempit di dalam pasar tidak memungkinkan mereka untuk berjalan sejajar, terutama karena sepagi ini masih ramai lalu-lalang.

“Yang suka kue buatanku cuman kamu, Kak.”

Jero kembali menegap, matanya memperhatikan sekitar. Para pedagang sibuk di kios masing-masing, sesekali menyapa ramah dan membolehkan untuk mampir melihat-lihat. Lampu kuning temaram menyoroti dagangan hasil tangan mereka semalam, atau mungkin selumbari jika belum rezeki. Wujud kerja keras untuk bertahan hidup dari hari ke hari.

Kios mereka berisi palawija dan beberapa buah segar. Pelanggan silih berganti datang, menyebut Ibu Dahlan sebagai “jeng” atau “sayang”, Maisara sebagai “si cantik”, dan Jero sebagai “si A’ ganteng”. Jero belum pernah mendengar sanjungan sebanyak hari itu selama 24 tahun hidupnya. Berdagang sambil menjual wajah bisa menjadi prospek menjanjikan.

Eh, Jeng, Jeng, tahu enggak?” ibu dari kios sebelah tergopoh-gopoh datang dengan mantra pembuka pergunjingan raya. “Anaknya si ‘Anu’, yang kabur dari kecil itu, dengar-dengar kemarin dia pulang ke sini. Bapak-bapak ronda yang pergok dia tengah malam, dituruni dari mobil di depan gerbang desa.”

Oh, iya? Terus terus?”

Melihat perbincangan semakin panas, Jero dan Maisara yang sedang membereskan sisa dagangan akhirnya tergiur ikut menguping. Wajib diketahui bahwa di sini istilah Kabar Burung artinya: Kabar Ibu-Ibu yang Bergabung.

Di tengah pergunjingan yang makin terik makin berduri, Jero dan Maisara memutuskan pulang lebih awal, membiarkan ibu-ibu makan siang dengan lauk-pauk gerbas-gerbus. Jero membeli es kelapa untuk mendinginkan kepala dan telinganya yang panas.

Maisara tertawa melihat Jero kewalahan. “Bayangkan hari-hari aku menghadapi mereka, Kak. Dari soal dapur sampai kasur semua mereka tahu. Polisi enggak ada apa-apanya dibanding mereka.”

The power of mother-mother, ya.”

“Yang artinya?”

“Kekuatan ibu-ibu. Kamu enggak lanjut belajar bahasa inggris lagi, kah?” Jero menyeruput es kelapa dalam plastiknya melalui sedotan, kemudian menawarkan kepada Maisara — yang ditanggapi gelengan kepala.

“Sebenarnya masih mau lanjut les, tapi bapak suruh berhenti. Iya sudah, mau gimana lagi?”

“Nanti belajar sama aku kalau kamu mau,” tawar Jero sambil menempelkan es kelapanya di pipi Maisara yang memerah.

Rambut mereka sudah diacak-acak oleh keringat dan beringsang kemarau. Anting-anting delima perempuan itu bergoyang seperti genta angin, memantuli binar ketika matahari menciumnya. Sekarang mereka harus berjalan tiga kilometer untuk sampai ke rumah sambil menjinjing keranjang anyaman di masing-masing tangan.

Tiba-tiba seorang pria pesepeda motor membunyikan klakson, mengiringi langkah Maisara dan menawarinya tumpangan — seolah itu kegiatan pada hari-hari biasa. Maisara menolak dengan dalih ingin olahraga, Jero tahu itu bualan semata. Siapa yang siang bolong begini semangat olahraga?

Pria berkepala tiga itu menatap Jero dari poni sampai kaki tanpa ekspresi, sebelum kemudian melindas kubangan dan mencipratkotori rok sebetis Maisara.

Ck, bego!” umpat Jero, lalu mengambil keranjang-keranjang dari tangan Maisara. “Kena sampai rok, ya?”

“Enggak apa-apa, Kak, cuman sedikit.” masalahnya rok itu berwarna dasar putih dengan corak awan-awan merah.

“Bisa dibersihin pakai ini dulu, enggak?” Jero menyodorkan es kelapanya.

Maisara mengernyit, tak yakin apakah lelaki berkuncir itu sedang serius atau bergurau. “Enggak, enggak usah, nanti aku malah disemutin.”

Jero menarik Maisara ke pinggir jalan, ke bawah naungan terpal biru. Mengeluarkan es batu dari minumannya kemudian membersihkan noda-noda di kaki dan rok perempuan itu. Maisara berdiri membeku, menunggu Jero selesai dari urusannya.

“Perempuan-perempuan di kota harus diperlakukan begini ya, Kak?”

“Memang kamu enggak suka?”

Dagu Maisara terangkat selagi dia berpaling. “Enggak suka, tuh. Masa kotor sedikit saja minta dibersihin sama orang lain? Manja amat.”

Ada seringai usil sebelum Jero memasukkan sisa es batu ke mulutnya dan menyemburnya ke Maisara, lalu melarikan diri.

“Kak, jorok, ih! Awas, ya!”

Tiap kali bermain polisi-maling sewaktu kecil, Maisara selalu menjadi polisi karena dia paling lincah dan cepat. Sementara Sanim, sekalipun lebih tinggi dari anak-anak lain, selalu kalah karena kekurangan motivasi — mental mengalah sejak dini. Namun, sekarang Jero mustahil dikejar karena aset kaki jenjangnya terlatih dengan baik.

Dia bisa lari dari segala hal.

Setelah dua minggu pencarian, akhirnya terjadi serah terima rumah baru Jero. Lokasinya di ujung desa, terpisah dari permukiman warga yang berdempetan, lebih dekat dengan sawah dan sungai. Sesuai keinginan.

Diadakanlah agenda doa bersama untuk memberkati rumah baru Jero — yang dalam pelaksanaannya menelan biaya cukup besar untuk; membeli jamuan, membayar Pak Ustad (ayah si Bala), dan membagikan bingkisan berupa buah-buahan. Padahal Jero baru menerima upah dari Pak Dahlan kemarin. Sekarang sudah ludes, bahkan minus. Tidak sesuai keinginan.

Setidaknya di rumah baru ada kasur dan perabotan yang ditinggalkan oleh pemilik lama. Rumah itu butuh perbaikan di sana-sini, tetapi Jero menyukainya. Lahan kosong di belakang rumahnya sangat luas, bersebelahan dengan ladang tomat dan cabai milik tetangga. Dia bisa melakukan budidaya dan menjadi kaya.

Tetangga Jero berada tiga ratus langkah dari rumahnya. Rumah kayu tua dengan pintu tinggi asimetris, pagar-pagar berkawat, dan orang-orangan sawah yang berjaga di teras — khas rumah hantu di sinema-sinema.

Penghuni rumah itu hampir tidak pernah keluar. Warga lebih memilih putar balik daripada melewati depan rumah tua itu. Anak-anak sering menjadikan di sana arena uji nyali — termasuk Jero sewaktu kecil. Barang siapa berani mengetuk pintu rumah tua itu maka dia dinobatkan sebagai jagoan selama seminggu.

Namun, sampai hari ini tidak ada yang berhasil mendapat gelar itu karena semua langsung terbirit-birit setelah selangkah melewati pagar.

Dari atap rumah terbengkalai yang dekat menara pemancar, lanskap remang-remang tujuh petang Desa Inhil menjadi pemandangan permai bagi Jero dan Sanim. Berbeda drastis dengan gemerlap kota yang biasa Jero saksikan. Polusi udara dan suara klakson temperamen terganti silir-semilir dan senandung monoton jangkrik — sesekali disahuti jerit kucing berahi.

Di antara semua rumah yang dijaga dua pijar lentera di teras, ada satu rumah yang dibiarkan gelap gelita.

“San, ke rumah tua yang itu, yuk? Kan, kata orang-orang, anaknya sudah pulang ke rumah. Kita basa-basi saja kenalan sama anaknya.”

Satu hal yang melekat dari rumah tua itu yakni keberadaan pasangan lanjut usia yang melakukan praktik-praktik mistis dan dianggap warga sebagai ritual yang ditunggangi iblis.

Sanim yang sedang melumuri kaki dengan minyak serai sontak berhenti. Gatal-gatal di kakinya mendadak hilang. “Ngadi-ngadi, lo.” yang muncul justru logatnya. “Gue memang frustrasi, tapi bukan berarti gue mau mati muda, Jer.”

Ah, cemen. Kita ajak si Bala sama Sara juga.”

“Jangan bawa-bawa adik gue. Dia mau jadi pengantin sebentar lagi,” omel Sanim. “Gue dengar anak mereka seumuran Bala. Ternyata muda juga, ya? Gue kira karena mereka sudah kakek-nenek, anaknya lebih tua dari kita. Mungkin itu cucunya, ya?”

Nah! Dalam rangka membuktikan hal tersebut, maka alangkah baiknya kita — ”

“Enggak! Enggak ada bukti-buktian! Gue enggak peduli itu anaknya, cucunya, piaraannya. Kita enggak usah cari masalah.”

Jero membuka ponselnya, memberi unjuk foto perempuan yang dia akui sebagai rekan kerjanya. “Manis, kan? Lebih muda satu tahun dari kita, tapi pemikirannya dewasa. Baik hati, rajin menabung, idamanlah pokoknya. Nanti gue kenalin lo sama dia.”

Oh, sekarang ancaman lo pakai ‘wanita’? Lo pikir gue laki-laki apain?”

“Tuh, kan.” Jero menunjuk temannya penuh tudingan. “Lidah lo memang enggak bisa bohong. Sepandai-pandainya tupai melompat, anaknya Dahlan jatuh juga.”

Kalah telak, Sanim menendang Jero sampai nyaris terjungkal dari atap. Beruntung sarung di lehernya sempat ditarik sebelum jatuh korban jiwa.

Selain panen sawah dan perkebunan, setiap tahun Desa Inhil memanen setidaknya satu nyawa.

Memuaskan hasrat di ujung tanduk, Jero akhirnya berhasil membujuk Sanim dan Bala untuk menerobos ke pekarangan rumah tua itu keesokan malamnya. Hanya melihat-lihat isi perkebunan mereka, lalu pergi — rencana awalnya demikian.

“Ini kalau ketahuan si Dahlan bisa disembelih gue.” Sanim mengeratkan sarung yang menjadi tudung kepalanya, berjalan di antara Jero yang memimpin dan Bala yang mengekori.

“Abah sering ngancam gue begitu, tapi gue masih utuh nih. Santai saja.” lagi-lagi Bala bicara seakan tidak ada yang salah dengan keluarganya.

Dengan senter masing-masing mereka membelah rerumputan tinggi di perkebunan rumah tua itu. Namun, tidak tertanam apa-apa di sana, seperti telah ditelantarkan. Jero menyoroti jendela di sisi rumah yang ditutupi koran alih-alih tirai, tak memberi celah untuk diintip.

Angin mengencang dan sayup-sayup bunyi kerincing terdengar. Mereka yakin tidak ada lonceng di sekitar rumah tua itu, atau mungkin mereka belum cukup jauh untuk menemukannya. Kilat tanpa suara menyambar dari langit yang tiba-tiba bergumul awan kelabu.

“Perasaan tadi cerah ….” Bala menyorot ke atas sambil menggaruk-garuk kepala, lalu bertanya pada dua orang di depannya. “Enggak ada apa-apa ternyata di sini, Bang. Pulang kali kita?”

“Kalian dengar itu, enggak? Semacam suara kerincing?”

Sanim mengusap wajahnya gusar, kakinya mulai gemetar. “Enggak lucu, Jer, sumpah.”

Tungkai Jero tergerak pelan mengikuti suara itu, seakan terhipnotis. Semakin dekat, semakin jelas.

Tidak salah lagi. Ini suara yang dia dengar pada malam itu.

Malam ketika rumahnya dilalap api.

“Jer!” bahunya ditahan. “Itu depan lo parit, bodoh.”

Jero menunduk, lalu mundur mengikuti tuntunan cengkeram Sanim pada tengkuknya, seperti kucing yang ditarik majikannya dari tempat berbahaya.

Kret — tak.

Keduanya sama-sama menginjak sesuatu yang keras dan menimbulkan suara retakan. Daun tidak keras, batu tidak menimbulkan suara retakan, kemungkinan itu … tulang.

Tulang tengkorak manusia.

SHIT!”

“ANJ — !”

“APAAN? ADA APAAN!?”

“KABUR!”

Berlari mereka terkocar-kacir, menjerit-jerit sampai rombongan gagak terbang semua. Persetan satu desa mendengar kehisterisan mereka.

Rumah tua itu menyempurnai definisi terkutuk.

Tiga hari Jero tidak bisa tidur. Terpejam sepuluh menit saja dia was-was bukan main. Benar-benar menjadi orang senewen. Maisara sampai datang menjenguk membawa beberapa makanan.

“Lagian kalian aneh, sih. Ngapain coba iseng ke sana? Rumah angker malah disamper,” rutuk perempuan itu sambil menyuapkan bubur untuk Jero yang terbaring lemas di sofa.

“Buat seru-seruan saja, Sar.”

Seru-seruan?” lantas mulut Jero disumpal telur puyuh. “Abang San demam sampai hari ini tahu, enggak? Sudah macam mayat. Bapak sama ibu jadi panik enggak keruan. Mana mau nulis wasiat mulu dia.”

Setelah tiga hari tegang mampus, akhirnya Jero bisa tertawa pagi itu. Tawa itu memicu perih pada luka di area pelipisnya. Melihat luka itu, Maisara keluar mencari daun sirih di sekitar rumah dan menumbuknya untuk dijadikan antiseptik pada luka Jero.

“Abang juga luka di hidung sama tangannya.”

“Iya, soalnya kita bertiga nabrak pagar kawat.”

Embusan napas panjang sudah cukup mewakili seberapa kesal-jengkel-dongkol-gondok Maisara.

Setelah bubur habis, obat mengering, dan sekarung bibit sayur-mayur pesanan Jero tempo hari terserahkan, Maisara pamit. Dia harus ke pasar menemani ibu meskipun hujan mulai deras.

“Aku enggak ada payung, Sar.”

“Iya, aku juga lupa bawa. Padahal tadi sudah ditaruh di kursi teras.” semua kebutuhan Jero dia bawa, kecuali kebutuhannya sendiri.

“Tunggu agak reda dulu. Nanti malah sakit kalau hujan-hujanan. Stres nanti Mr. and Mrs. Dahlan.”

Perempuan rambut sebahu itu bersedekap memandangi keluar pintu. “Kamu lupa ya, aku suka hujan-hujanan?”

“Ingatlah! Kan, aku sama Sanim yang didamprat ibu kalau kamu sakit habis hujan-hujanan. Padahal kamu yang bandel, disuruh masuk rumah malah kabur mutari desa.”

Maisara terkekeh-kekeh. “Ternyata dari dulu naluri kita mau kabur, ya?”

Tak lama berselang, rasa nyaman membuat Jero rapat terpejam.

Duduklah Maisara di sofa mungil itu, membawa kepala sang tuan rumah tertidur beralas pangkuannya. Rambut panjangnya disisir-sisir lembut dengan jari, mimpi indah merekah setelah satu kecupan di dahi, dan dua tetes cairan kental turun ke kerongkongan tanpa si empu ketahui. Tumbukan sirih yang telah mengering di pelipisnya dijilat sampai bersih.

“Andai saja waktu itu kamu enggak kabur … aku enggak perlu melakukan ini.”

Roda-roda gerobak berputar lamban, menggilas rerumputan liar dan lumpur sisa hujan barusan. Mengarak ke satu tempat di kejauhan. Dari gerobak itu setumpuk jerami dan seorang lelaki dikeluarkan, diseret diam-diam ke dalam kediaman.

Lilin-lilin dinyalakan, dupa dibakar, garam ditaburkan ke sekeliling tubuh si lelaki yang terbaring nihil kesadaran. Sepotong lidi panjang dilumuri lendir lidah buaya sebelum dimasukkan ke rongga mulutnya, mencolok tenggorokannya hingga dia tersentak bangun dan terbatuk-batuk seakan nyawanya ditarik keluar.

Dan memang itulah yang sedang dilakukan si Mbah. Ritual menyelamatkan nyawa seseorang.

“Muntahkan, Nak. Semuanya.”

Diberikan sebuah baskom, Jero menuruti apa yang diperintahkan. Matanya panas, tenggorokannya perih, perutnya dibludak asam yang memabukkan sehingga dia muntah sampai keluar darah.

Mbah memberikan semangkuk air, membantu Jero yang masih gemetaran untuk meneguknya sampai tetes terakhir. Kepala Jero memberat sehingga dia menyungkum ke lantai kayu yang hangat, membiarkan darah mengalir ke ujung kepalanya sambil pelan-pelan mengolah napas. Jero tidak ingat apa yang terjadi dan di mana dia sekarang. Namun, ketika kulit punggungnya diusapkan kain basah yang sejuk, dia merasa sedikit tenang.

“Arwah yang enggak diinginkan Leluhur enggak bisa terbenam di bumi. Saya menggalimu keluar dari tanah, membawamu kembali ke permukaan.”

Butuh sejenak untuk menelaah pernyataan Mbah. “Tadi saya … meninggal, kah?”

“Bukan, Nak. Kamu masih terlalu panas untuk mati. Hatimu itu, bisa-bisa ia hangus sebentar lagi.” Mbah mengguyurkan segayung air bunga ke kepala Jero, turut membasuh wajah dan tubuhnya seperti memandikan bayi. “Kepulanganmu bukan tanpa tujuan berarti.”

Tatapan sang nenek berjubah putih gading berhasil menguliti kedustaan Jero sampai tulang-belulang. Si lelaki mengedarkan pandangan ke sekitar yang terlalu redup untuk diterka, kecuali jajaran guci antik dan koran-koran yang menutupi jendela.

Rupanya Jero berada di rumah tua itu.

“Saya melakukan dosa besar … lalu saya melarikan diri.”

Ayah Jero seorang pemabuk berat. Dia selalu minum arak buatan istrinya. Mereka sering mabuk bersama, membiarkan Jero sejak kecil terbiasa menyaksikannya. Ayah dan ibu Jero bekerja sebagai pedagang emas dan perhiasan. Mereka sering menipu demi keuntungan lebih, dan tidak jera meskipun pernah digeruduk warga. Orang tuanya meraung-raung berjanji akan tobat sampai akhirnya warga mengampuni — sebenarnya hanya iba terhadap Jero yang masih kecil.

Tobat itu hanya berlangsung beberapa bulan. Sebab salah satu rukun kejahatan adalah kambuh.

Mereka sepakat untuk “mendidik” Jero lebih keras agar anak itu tidak sembarang membocorkan apa yang terjadi di dalam rumah. Jika ada tetangga datang karena mencurigai orang tuanya mabuk-mabukkan lagi, Jero yang akan dipukuli.

“Ini anak benar-benar enggak bisa dibilangi, ya? Ngadu ke siapa lagi kamu, hah?”

“Enggak, Yah … Jero enggak bilang siapa-siapa ….”

“Kecil-kecil tukang bohong! Main sama siapa sih, kamu jadi bandel begini? Enggak usah minta makan sama ibu kalau enggak mau ngaku.”

Anak 6 tahun itu hanya bisa membela diri dengan menangis, mengharapkan belas kasih dari sorot nyalang orang tuanya, tetapi tiap tetes air mata justru dibayar oleh satu pukulan yang menyisakan luka hingga dewasa.

Luka yang memerah, membiru, kemudian membara.

Suatu hari ketika Jero berusia 12, api entah dari mana menjalar ke perabotan dapur dan menelan seisi rumah dalam hitungan detik. Orang tuanya keluar dari kamar karena kepulan asap pekat, tetapi mereka sudah terlambat. Jero berlari keluar rumah menyelamatkan diri.

Warga berduyun-duyun datang, tetapi apalah daya ember-ember mungil melawan api yang membengkak di sekujur rumah. Orang tua Jero tak kunjung keluar, sibuk menyelamatkan emas-emas dan kotak-kotak perhiasan seolah itulah anak-anak mereka. Tabung gas di dapur meledak, membuat warga buru-buru menjauhi lokasi. Alam seakan berkonspirasi membumihanguskan rumah Jero sampai titik nadir.

Rumah kayu mereka terbakar sampai menjadi arang, menolak padam sepanjang malam.

Jero menyaksikan bagaimana ayah dan ibunya tergeletak didekap bara yang meninabobokan mereka. Kala itu Jero sama sekali tidak menangis.

Kali ini, setelah lebih dari satu dekade melintang, dia akhirnya meratapi segenggam sesal yang telah menjadi abu.

“Saya kembali ke sini karena terus dihantui rasa bersalah.”

Ck ck ck, malangnya. Hatimu itu, ia terluka bahkan sebelum mengenal apa itu dosa,” ucap Mbah sambil mencubit api pada lilin-lilin di dekat simpuhnya.

“Yang saya ketahui tentang rasa bersalah hanya bagaimana ia padam oleh kerelaan. Manusia harus cukup berani, cukup memahami, untuk bisa merelakan sesuatu terjadi, meski sesuatu itu enggak sudi dikehendaki.”

“Iya, Mbah ….” dengan kedua tangan Jero mengusap air mata dan ingusnya.

Si Mbah berdiri menggunakan tongkat yang penuh kerincingan. “Barangkali kerelaanmu dibawa orang tuamu pergi, atau setelah perbuatan mereka dibalas oleh api. Namun, di tanah yang beracun, tanaman menolak tumbuh dan akan mati membusuk.”

Diberikan Jero sebutir Biji Hitam seukuran kelingking, dan sebuah jubah emas kemerahan yang terbuat dari sutra teratai.

“Barangkali kerelaanmu tumbuh setelah perlawanan yang hakiki.”

Lelaki itu bangkit, merasakan kembali kekuatan pada kaki dan tangannya. “Terima kasih, Mbah.”

“Hati-hati, Nak. Niscaya Leluhur mengawasi segala sesuatu.”

Jero pergi dari sana setelah melihat bakiak Mbah dan sepasang sepatu olahraga yang mirip dengan miliknya—hanya saja lebih bagus dan bersih. Seakan baru dibeli dan dimiliki oleh seseorang seusia Jero.

“Permisi, ya.” Jero menarik pelan sepatunya yang dijadikan bantal oleh seekor kucing hitam, makhluk yang baru dia sadari eksistensinya ketika sebuntal bulu menyapa telapak tangannya. Kucing itu berpindah ke keset tanpa meongan murka sehingga Jero menghadiahinya elus-elusan.

Air bunga, dupa, kucing hitam. Tiada satu pun warga akan percaya bila Jero bersaksi nyawanya telah diselamatkan oleh penghuni rumah tua ini. Bisa-bisa dia dikira terkena guna-guna.

Padahal Mbah lebih baik dari sebagian manusia yang pernah Jero temui.

Bagi sebagian orang kematian dan kemalangan orang lain bisa menyumbang sesuatu yang berharga bagi kehidupan mereka. Misalkan warisan dan barang-barang hasil jarahan.

Cincin batu giok milik ayah, totem rubah milikku, anting delima milik ibu.

Di kamar Sanim, Jero menemukan satu kopernya telah dibuka. Semua uangnya telah hirap berpindah tangan. Koper lainnya yang masih tergembok buru-buru dia buka, seluruh isinya dia tumpahkan ke dalam guci dan disembunyikan di kolong kasur Pak Dahlan.

Di tanah sawah kepala desa dia tanamkan Biji Hitam sebelum diludahi dan ditinggalkan. Sekali surya membelainya, ia akan bekerja dengan caranya.

Fajar hampir membuntang, Jero berlari menuju destinasi terakhir: menara pemancar. Dia memanjat tangga menuju atap rumah terbengkalai. Namun ….

Woi! Siapa lo!?

Berjubah emas, gerak-gerik Jero malah jadi mencolok. Hendak mempersetankan seruan itu, kaki Jero malah ditarik dan dia terjatuh ke tanah.

“Loh? Bang Jer? Kok lo masih hidup?”

Ternyata itu Bala.

Duh.” Jero memegangi pinggangnya, lalu memungut ponselnya yang loncat dari saku. “Heh, kenapa pertanyaan lo begitu?”

“Itu soalnya … sebentar, lo bukan hantu, kan?”

Jero menendang tulang kering Bala sebagai pembuktian dirinya masih manusia yang mampu menganiaya. “Soalnya apa?”

“Soalnya Pak Kepala Desa sama Maisara lagi keliling minta sumbangan dari warga buat pemakaman lo. Katanya, lo mati keracunan kemarin.”

Dasar keluarga musang berbulu ayam!

Dulu orang tuanya, sekarang dia. Penjahat memang tidak akan kenyang sampai perut mereka meledak dan usus mereka disatai untuk lauk warung makan.

Jero kembali memanjat tangga menuju atap, disusul Bala yang berjanji akan tutup mulut asalkan dibagikan kebenaran. Jero langsung menelepon ketika sinyal berhasil menambat, berpesan singkat, dan berakhir tepat sebelum arunika menggerogot langit lamat-lamat.

Tudung jubah dilepaskan, Jero melirik lelaki yang duduk di sebelahnya. “Bal, lo mau berbisnis sama gue, enggak?”

“Berbisnis? Maulah! Bisnis apa?”

“Bisnis dari hasil ladang gue. Nanti kita bertani dulu, sekitar enam bulanan baru bisa panen. Tapi, ini tawaran eksklusif, ya. Jangan cerita sama siapa-siapa dulu, terutama ke bapak lo.”

“Aman, Bang. Lagian peduli apa bapak gue sama kehidupan anaknya?” Bala menggigit bibir bawahnya, memeluk kedua lutut sambil melirik Jero sedikit-sedikit. “Jadi … kenapa lo bisa hidup lagi?”

Seringai Jero menjadi jawaban mutlak. “Gue masih terlalu panas buat mati.”

Hah? Lo arang apa gimana? Ada-ada saja.”

Tiga jam kemudian, kegemparan yang belum pernah terbayangkan terjadi di Desa Inhil. Warga berkerumun di satu rumah, terpanggil oleh suara sirene terlampau nyaring dan label-label kuning yang dilintangkan secara tegas dan mengerikan.

Di mana lagi jika bukan di rumah kepala desa yang diciduk polisi karena menyimpan seguci narkoba di kolong kasurnya?

Tidak ada panen nyawa tahun ini di Desa Inhil.

Hanya ada sawah mati mengering di depan rumah yang para penghuninya hijrah ke bilik jeruji.

Prompt:

Bokek, Yeonjun coba cari duit lewat cara bertani. Dia balik kampung, nyari temen temen lama buat minta tolong. Baru ketemu satu temen udah ditanya, “Loh bukannya lu dah mati?”


메타데이터
post_id
85016e2aba8e
slug
arang-temaram-85016e2aba8e
url
https://medium.com/@lightamora/arang-temaram-85016e2aba8e
canonical_url
https://medium.com/@lightamora/arang-temaram-85016e2aba8e
author_url
https://medium.com/@lightamora
status
ok
fetched_at
2026-09-03 18:23:55