Tuangan Pertama dari Diriku
Pada 10 Juni 2024 di waktu matahari masih belum terlihat bentuknya, namun cahayanya masih terpancar dibantu oleh bulan. Aku mulai mencoba…
Tuangan Pertama dari Diriku
Pada 10 Juni 2024 di waktu matahari masih belum terlihat bentuknya, namun cahayanya masih terpancar dibantu oleh bulan. Aku mulai mencoba untuk menuangkan pikiranku kembali di media apa saja yang bisa kugunakan saat ini.
Namaku Jedi, aku pemuda biasa yang sedang eksplorasi apa yang ingin ku lakukan kedepannya. Proses eksplorasi banyak sekali yang ku pikirkan dan hadapi, salah satunya adalah gawai.
Gawai merupakan teknologi yang menurutku membuat orang sangat bergantung padanya (Kalau kalian tidak familiar dengan kata ‘gawai’ silahkan buka KBBI dulu biar hilang penasarannya). Ketergantungan itu membuat manusia, khususnya diriku secara tidak sadar sangat takut lepas darinya. Sensasinya adalah jantung berdebar dan takut kehilangan banyak informasi yang sebenarnya tidak terlalu diperlukan olehku.
Sebentar aku pause dulu tulisannya di sini, soalnya settingan manusia mengharuskan diriku untuk berkontemplasi di kamar mandi.
…
Aku kembali lagi untuk menuangkan pikiranku. Aku tadi dan sekarang juga akan kembali membahas mengenai gawai. Gawai membuatku menjadi sangat terpaku dengannya, tidak bisa lepas darinya. Bangun tidur ku cari gawai yang mungkin terselip di ruang kasur, selimut, atau tertindih bantal atau guling. Walaupun mataku belum kembali normal atau seharusnya dilakukan sinkronisasi terlebih dahulu seperti dikucek atau nyuci dengan berwudhu. Tentu dengan aktivitas pencarian gawai dan memainkannya padahal mataku belum tersinkronisasi dapat merusak mataku, tapi anehnya tetap kulakukan.
Aku juga seseorang yang sangat suka memerhatikan lingkungan sekitar baik dari aktivitas manusia di lingkungan tersebut maupun kondisi suhu yang kurasakan. Namun gawai mengganggu aktivitas tersebut, sehingga aku tidak bisa menikmati memerhatikan lingkungan sekitar. Otak secara tidak langsung menyuruhku. “Buka gawai aja lah, mungkin ada informasi terbaru”. Setelah aku menuruti kehendak otak untuk melihat gawai, aku pun bingung karena, “Lah ini mah udah diliat tadi” dan berakhir dengan diriku yang wasting of time (Karena tidak mendapatkan kepuasan, akhirnya berlanjut untuk surfing di gawai”.
Padahal proses pemahaman lingkungan sekitar itu lebih bermanfaat bagiku dibanding surfing di gawai, karena dengan aktivtias pemerhatian tersebut skill intel dan empati diriku mengenai orang lain dan juga lingkungan bisa terus enhancing. Aku jadi tau kebiasaan seseorang dan juga menjadi lebih mengenal lingkungan. Kedua manfaat tersebut dapat membantu diriku dalam menentukan keputusan kedepannya karena aku sudah tau lingkungan ini lebih sesuai dengan keputusan apa berdasarkan pertimbangan pemerhati sekitar.
…
Gawai juga memberhentikan proses berpikirku. Aku dengan kesunyianku dapat berpikir sangat jauh dan abstrak seperti, “Apakah kita dulu pernah hidup menjadi makhluk lain sebelum menjadi manusia?” dan pikiran lainnya. Aku membenci apabila berpikir seperti itu karena terlalu jauh dan berangan-angan. Namun, aku juga membenci ketika aku terbiasa menjadi tidak berpikir. Gawai menjadi media yang memuat beragam informasi setiap detik, menit, dan jam. Hal tersebut membuatku hanya melihat gawai dan aku tidak pernah lagi melakukan kontemplasi seperti merenungkan diriku sendiri yang hingga kini belum menjadi apa-apa.
Aku begitu mendambakan diriku yang dulu karena belum tercebur ke gawai, aku masih bisa membatasi diriku dari hiruk pikuk duniawi. Aku sangat menikmati diriku, keluargaku, teman-temanku, dan juga lingkunganku. Kini aku sudah beda, aku tidak berani menikmati diriku, keluargaku, teman-temanku, dan juga lingkunganku tanpa gawai berada di dekatku. Begitu ironinya hidupku, namun aku tetap bersyukur atas apa yang Tuhan rahmatkan dan karuniakan kepada hidupku.
Aku menuangkan pikiran menjadi tulisan adalah karena aku ingin sejenak untuk dapat menikmati diriku, bukan untuk mengeluh dan setidaknya aku juga bisa menuangkan pikiranku terhadap sesuatu yang mungkin menurutku penting untuk diberikan pendapat. Manusia memang sudah disetting begitu, makanya surah yang keluar pertama kan Al-Alaq yang di dalam isinya ada perintah Tuhan untuk membaca dan menulis.
Aku sangat suka membaca, tapi tidak semua bacaan cocok dengan keinginanku. Namun, walaupun aku tidak suka terhadap suatu buku, aku akan memaksakan diriku untuk menyelesaikannya karena itu merupakan bentuk tanggung jawabku atas kecintaan terhadap membaca. Namun, aku sudah sangat jarang membaca karena ada gawai di dekatku dan membuatku beralasan, “Nanti aja lah, cape juga”. Padahal kegiatan yang membuatku lelah adalah membuka gawai tersebut sepanjang hari. Sehingga banyak sekali buku yang sudah kubeli namun belum ku baca.
Aku ingin mengubah diriku untuk tidak terlalu bergantung pada gawai. Aku ingin membatasi diriku dengannya, Aku ingin menikmati diriku, keluargaku, teman-temanku, dan juga lingkunganku tanpa merasa berdebar walau tidak ada gawai di dekatku. Aku ingin memerhatikan yang menarik perhatianku, sehingga aku dapat menuangkannya menjadi tulisan agar aku menjadi puas dan berkualitas.
Terakhir sebagai penutup sesi Penuangan Pertama dari Diriku mengenai Gawai, aku jadi lupa itu juga faktor aku jarang berpikir akibat gawai sih. Ah kesalnya, jadi aku sekarang bingung menutup dengan apa padahal tadi sudah terpikir. Ya sudah sekian dulu dari ku.
메타데이터
- post_id
- 8509e58cbf64
- slug
- tuangan-pertama-dari-diriku-8509e58cbf64
- url
- https://medium.com/@jdywars/tuangan-pertama-dari-diriku-8509e58cbf64
- canonical_url
- https://medium.com/@jdywars/tuangan-pertama-dari-diriku-8509e58cbf64
- author_url
- https://medium.com/@jdywars
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-23 16:15:37