← Back to list

#126: Tentang Bernumfor-numforlah, saudara-saudara.

Bila orang datang ke Irian, misalnya di daerah kecamatan Raja Ampat di Sorong, orang mendengar misalnya suku Besser atau Beteu di Pulau…

Dayu Rifanto · 2026-01-06 09:55 · 18 claps · 3.8 min read
#papua #biak #suku #pelaut
Open on Medium ↗

#126: Tentang Bernumfor-numforlah, saudara-saudara.

Bila orang datang ke Irian, misalnya ke daerah kecamatan Raja Ampat di Sorong, orang mendengar misalnya suku Besser atau Beteu di Pulau Batanta berbicara bahasa Biak dengan logat yang berirama.

Ada beberapa buku yang saya baru saja pinjam pada seorang teman. Buku-buku berlatar Papua yang membuat saya tak tahan untuk membacanya, setiap kesempatan datang.

Salah satu buku yang saya baca, milik teman yang berjudul “Perempuan Pu HAM” — sebuah buku tentang 10 hak dasar perempuan Papua yang dilindungi oleh konstitusi. Saya meminjam buku tersebut, karena mengetahui bahwa itu adalah buku komik, yang menjelaskan tentang HAM perempuan. Karena saya juga menulis buku cerita anak bergambar, maka komik berlatar cerita tentang hak asasi manusia menarik minat saya membacanya.

Saat membacanya kemarin, saya kaget karena di dalamnya ada potongan berita dari koran TIFA Irian, yang terbit pada minggu ke-III tahun 1993. Potongan berita itu berjudul “Astronomi Tradisional Suku Biak.” Tiada catatan tentang siapa penulisnya, kecuali kode (rb) di bagian akhir tulisannya.

Jika mengingat tahun 1993, adalah jaman saya sedang bersiap untuk mulai masuk SMP. Waduh, sudah lama sekali.

Karena khawatir potongan koran tersebut hilang, atau rusak maka saya memutuskan untuk menuliskannya ulang, agar lebih banyak orang dapat membacanya. Siapa tau menarik bagi sobat yang ingin tahu mengenali astronomi suku Biak.

Potongan arsip berita Tifa Irian (sumber: pribadi)

Potongan arsip berita Tifa Irian (sumber: pribadi)

Astronomi Tradisional Suku Biak

Tahun Baru Biak, 21 Maret

Bilang orang datang ke Irian, misalnya di daerah kecamatan Raja Ampat di Sorong, orang mendengar misalnya suku Besser atau Beteu di pulau Batanta berbicara bahasa Biak dengan logat yang berirama.

Di sebelah utara Pulau Batanta terdapat sebuah pulau besar yang disebut Waigeo. Di bagian utara pulau ini terdapat juga suatu kelompok suku Biak yang tinggal di Urbinasopen. Di antara mereka, ada yang bernama keluarga Urbinas, Wanma, dan Dimara. Singkatnya, suku Biak merupakan suatu suku di Irian Jaya yang menyebar sampai ke kawasan timur Indonesia.

Bahkan menurut catatan sejarah dalam buku para peneliti Belanda, suku Biak sudah pernah mengunjungi Pulau Flores dan Timor. Dari catatan ini diketahui bahwa di Irian Jaya hampir seluruh pantai utara Irian Jaya telah dijelajahi suku Biak. Penjelajahan ini pada zaman dahulu kala harus dilakukan melalui laut.

Untuk melakukan perjalanan laut yang jauh, para pelaut tradisional tidak memiliki kompas atau radar seperti pelaut di kapal-kapal modern. Mereka ternyata mengandalkan pengetahuan tentang bintang-bintang atau astognosi. Seorang peneliti Belanda, Dr. W.K.H. Feuilletau de Bruyn, pada tahun 1915/1916 ketika mengadakan pelayaran eksplorasi ke Kepulauan Biak Numfor, sempat meneliti astronomi tradisional suku Biak. Laporan perjalanan dan penelitiannya ditulis dalam Tijdschrisft Nieuw Guinea, Juni 1940.

Di Indonesia, kita mengenal berbagai perhitungan permulaan tahun. Ada perhitungan Cina, ada perhitungan Islam, ada perhitungan Hindu, dan ada perhitungan Masehi. Hari pertama tahun itu disebut tahun baru. Perhitungan tahun, hari dan minggu, serta jam diperoleh berdasarkan pengamatan bintang-bintang di langit. Hal ini pun juga terjadi pada suku Biak, namun perhitungan tahun baru suku Biak tidak didasarkan pada pengamatan bintang, tetapi pada posisi matahari dan air laut.

Tahun baru menurut astrognosi suku Biak jatuh pada tanggal 21 Maret tahun Masehi. Untuk menentukan tanggal ini, orang Biak pada zaman dahulu kala menempuh dua cara. Pertama, dengan jalan memilih dua titik, misalnya tiang utama rumah dan sebuah tanjung yang letaknya membentuk sebuah garis lurus dan mengarah ke timur. Orang Biak mengetahui bahwa matahari selama enam bulan terbit di bagian utara timur, dan enam bulan di bagian selatan. Bila matahari terbit tepat pada garis perpanjangan yang dibentuk oleh tiang utama rumah dan tanjung itu, maka saat itu 21 Maret.

Kedua, di Bosnik di bagian selatan Pulau Biak, digunakan cara lain untuk menentukan tanggal 21 Maret. Di bagian ini bukan letak atau terbitnya matahari, tetapi pasang surutnya air laut yang menentukan tanggal tersebut. Bila air laut surut dan mengakibatkan sebuah batu karang tertentu di dasar laut tampak kering, maka pada saat itu laut berada pada tingkat air surut paling rendah. Bagi orang Biak, saat itu adalah tanggal 21 Maret tahun Masehi.

Selain itu juga, orang Biak mengetahui bulan Maret itu dari dua tanda berikut. Dalam bulan itu bertiup angin tenang yang disebut Wam Pasis (angin tenang). Bulan ini ditandai juga dengan munculnya seekor burung yang dikenal dalam bahasa Biak sebagai burung Manarweri, burung pemangsa serangga. Bila musim angin barat tiba, maka burung itu menghilang lagi. Ternyata kedatangan burung itu menandakan tibanya musim dingin di Australia.

Berdasarkan astrognosinya, suku Biak mempunyai perhitungan bulan dalam setahun sebagai berikut: Manarweri (Maret), Airami (April), Ayuni Wampasis (Mei), Sarmuri (Juni), Saremi (Juli), Saremiwedari (Agustus), Romangwan Beba (September), Romanggwan Wedari (Oktober), Wam barus beba (November), Wam barus wedari (Desember), Inseri (Januari), dan Sarwir (Februari).

Yang menarik dari sistem astrognosi suku Biak adalah bahwa nama beberapa bulan sama dengan tahap lambang bintang atau zodiac. Misalnya masa Romanggwan Beba sama dengan masa berlakunya lambang bintang Scorpio. Begitu juga Romanggwan Wedari, masa Sagitarius. Nama beberapa bintang seperti bintang pagi Venus disebut Kumeser atau Sampari, dan bintang Venus yang nampak pada malam hari disebut Makbram. Yupiter dinamakan Kumbendi, sedangkan bimasakti terdekat Andromeda dinamakan Makwan.

Lalu bagaimana dengan planet terdekat dengan bumi, bulan? Suku Biak menganggap planet ini sebagai Dewi Bulan dan diberi nama Insorubki (wanita yang mengatur pasang surut air laut). Dari penamaan ini ternyata suku Biak sudah mengetahui tentang hubungan bulan dan pasang surut air laut. Nampaknya dengan pengetahuan perbintangan tradisional ini, suku Biak dapat melakukan pelayaran jauh dan menetap di hampir seluruh bagian utara Irian Jaya.

Konon, berkembang biaknya suku Biak ini sempat membuat lelucon. Pada suatu hari seorang pendeta suku Biak berkhotbah dan mengajak umatnya, “Berkembang biaklah, saudara-saudara!” Seorang penduduk Pulau Numfor yang mendengar khotbah itu nampaknya tidak setuju. Ia menduga bahwa umat itu diajak pendeta untuk mengembangkan kebudayaan Biak. Maka berdirilah ia, dan berkata dengan suara nyaring: “Bernumfor-numforlah, saudara-saudara (rb).”


메타데이터
post_id
853088c84dee
slug
126-tentang-bernumfor-numforlah-saudara-saudara-853088c84dee
url
https://medium.com/@dayourifanto/126-tentang-bernumfor-numforlah-saudara-saudara-853088c84dee
canonical_url
https://medium.com/@dayourifanto/126-tentang-bernumfor-numforlah-saudara-saudara-853088c84dee
author_url
https://medium.com/@dayourifanto
status
ok
fetched_at
2026-06-23 07:05:20