Explanation and Home visit

Explanation and Home visit
"Gitu, Wir, ceritanya," ucap Rul sambil menghela napas.
Wira yang dari tadi dengan saksama mendengarkan semua penjelasan sepupunya hanya bisa terdiam, tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.
"Terus Kak Yul sekarang di mana?" tanya Wira memastikan.
"Di kamar bawah. Wir, saya bingung, jujur. Dari kemarin dia belum keluar kamar dan belum ketemu saya. Takut dia nggak nyaman," ucap Rul sambil menunduk memandang ubin ruang tamu.
"Pelan-pelan aja, Kak. Coba aja kabarin terus biar Kak Yul nggak ngerasa sendirian atau bosen," ujar Wira sambil mengambil toples berisi makanan ringan yang tertata di atas meja. Camilan itu baru saja dibeli Rul sepulang dari kantor karena mengingat ucapan teman-teman kantornya yang akan berkunjung ke rumah untuk bertemu dengan sang istri.
Tak terasa, waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam.
Tok... tok... tok...
"Rul... permisi! Kita udah sampai depan, Rul!" teriak seseorang dari balik pintu. Ketukan itu kembali terdengar beberapa kali.
"Aduh, Kak... berisik banget itu di luar. Bukain dulu, gih," ucap Wira yang masih santai mengunyah makanan.
"Kamu ini, bukannya bantuin saya malah asyik makan. Ini saya harus gimana, Wir? Mereka pasti nanyain Yul, sedangkan Yul aja belum bales chat saya dari tadi siang," jawab Rul dengan nada panik karena teman-teman kantornya sudah datang.
"Ya udah, Kakak siapin dulu jamuannya. Biar pintunya aku yang buka. Woy... berisik amat! Sabar, ini juga mau dibukain!" balas Wira sambil bergegas menghampiri pintu depan.
Suasana ruang tamu pun seketika menjadi ramai. Hampir semua teman sekantor Rul datang untuk memberikan selamat atas kabar pernikahannya yang baru mereka dengar.
Di tengah ramainya perbincangan, Mahen menghampiri Rul.
"Rul, mana istri kamu? Dari tadi belum kelihatan," tanyanya sambil melirik ke sekeliling ruangan.
"Kan udah saya bilang tadi, dia lagi nggak enak badan, Hen. Kapan-kapan main lagi aja," jawab Rul dengan senyum canggung yang tidak mampu menutupi kepanikannya.
Dari kejauhan, Sadipta ikut bergabung.
"Ah, masa nggak ketemu sekarang, Rul? Kan nggak tahu kita bisa ke sini lagi kapan."
Belum sempat Rul menjawab pertanyaan Sadipta, suasana ruang tamu mendadak hening. Semua mata tertuju ke arah seseorang yang baru saja muncul dari lorong belakang rumah.
Yul berjalan perlahan mengenakan pakaian putih yang rapi dipadukan dengan celana bahan berwarna senada. Riasan tipis di wajahnya membuat penampilannya terlihat begitu anggun. Di kedua tangannya, ia membawa sebuah nampan berisi aneka camilan untuk dibagikan kepada para tamu.
"Eh, itu istrinya, ya?"
"Si Rul pinter juga nyarinya. Cantik banget."
"Wih, Rul! Katanya istri kamu sakit. Bilang aja malu-malu mau ngenalin," celetuk Mahen sambil menepuk pundak Rul agar menoleh ke arah Yul.
Tanpa sadar, Rul pun berbalik.
Tatapannya langsung tertuju pada Yul.
Ia hanya terdiam, namun sorot matanya penuh kekaguman.
Setelan putih bersih yang dikenakan Yul membuatnya tampak begitu manis dan sederhana. Senyumnya mengembang saat menghampiri para tamu, menawarkan camilan yang dibawanya satu per satu. Ia berbincang dengan teman-teman Rul dengan sopan, sesekali tertawa kecil. Binar di matanya yang sempat menghilang kini kembali terlihat.
Tanpa sadar, Rul terus memandang Yul dari sudut ruang tamu.
Aneh...
Ada perasaan yang kembali memenuhi dadanya.
Perasaan yang sama seperti saat pertama kali ia melihat Yul.
Senyum indah itu kembali terpancar.
Binar matanya kembali hidup.
Dan untuk kedua kalinya, Rul kembali merasakan jatuh cinta.
메타데이터
- post_id
- 8554771739cc
- slug
- explanation-and-home-visit-8554771739cc
- url
- https://medium.com/@mingigflove21/explanation-and-home-visit-8554771739cc
- canonical_url
- https://medium.com/@mingigflove21/explanation-and-home-visit-8554771739cc
- author_url
- https://medium.com/@mingigflove21
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-08-24 14:54:12