← Back to list

Lentera Untuk Jingga : Prolog

Napak Tilas Pecahan Memori

Gii~ · 2026-05-05 07:46 · 0 claps · 6.5 min read
#drama #romance #teenlit #highschool-life #fiction
Open on Medium ↗
Wiki topics: LIT · Literature & Writing 💑 · Relationships ✍️ · Writing & Creative

Lentera Untuk Jingga : Prolog

Napak Tilas Pecahan Memori

Lembaran 1.

“Ih! Ini kado milikku. Udah kubilang yang merah punyaku!”

“Aku mau yang merah! Kamu itu yang biru! Cepat kasih aku!”

Dua gadis kecil yang memakai gaun pesta bag putri dari negeri dongeng terpantau berseteru di pojok ruangan yang penuh dengan bungkusan kotak kado. Mereka saling menarik satu sama lain dengan tangan mungil mereka yang memegang barang yang sama. Sebuah kado berukuran lumayan besar terbungkus dengan kertas metalik berwarna merah yang terlihat bergerak ke kanan dan ke kiri di antara tangan mungil mereka.

Orang orang yang berlalu lalang melewati ruangan itu sedari tadi hanya mengabaikan suara ribut dari dalam. Sampai akhirnya tak berapa lama kemudian seorang wanita cantik berambut lurus dan panjang datang menghampiri kedua anak manis yang ada di sana.

“Ya ampun kalian ini ngapain, sih? Jangan berebut begitu dong, sayang”

Langkah kaki kecil sang wanita yang cukup cepat mampu menjangkau kedua anak itu yang ternyata adalah putri kembarnya dengan mudah. Kotak yang menjadi masalah diantara anaknya kemudian diangkat. Hal ini membuat acara baku hantam kedua bocah di sana terhenti seketika. Kedua bibir anak itu mengerucut. Kepala mereka mengadah ke atas, memperhatikan wajah ibundanya dengan tatapan kesal dan merajuk.

“Ah mamaaaa! Jingga mauuuu!”

“Enggaaa! Itu punya Senja!”

“Engga!!”

“Aaaaaa mamaaa! pokoknya itu punya Senja!”

Sang mama masih memperhatikan Senja dan Jingga, anaknya, dengan tatapan santai. Ia kemudian tak bisa lagi menahan kekehan ringan keluar dari mulutnya. Mama Senja dan Jingga lalu meletakkan kotak yang ada di tangannya ke tumpukan kado di belakang di bagian paling atas. Tubuh rampingnya itu merendah, berjongkok tepat diantara Senja dan Jingga yang masih berdiri di hadapannya. Tangan halus mama memegang masing-masing tangan Jingga maupun Senja untuk lebih mendekat.

Netra hitam pekat dan besar milik mama menatap kedua wajah putri kecilnya secara bergantian. Namun bukannya mendapatkan balasan senyuman, mama hanya mendapat dengusan kesal dan wajah yang saling membuang pandang milik kedua putrinya.

Acara merajuk itu masih memiliki durasi.

Bibir plum yang sangat indah di wajah mama menyunggingkan sedikit senyuman. Mama menggerakkan tangannya dan mengangkat sedikit ke atas untuk mengelus puncak kepala anaknya bergantian.

“Jingga…. Senja…. Acara ulang tahun kalian baru aja selesai, loh. Teman teman kalian belum semuanya pulang. Malu, ih! nanti kalo diliat teman-teman sama om badut tadi, gimana?”

Baik Jingga maupun Senja ternyata tidak menunjukkan tanda-tanda mendengarkan. Kedua pasang tangan mungil mereka justru melipat dan tersampir rapi di depan perut. Bibir mungil itu juga semakin mengerucut tanda tak setuju untuk sekedar menerima segala jenis negosiasi yang mama lontarkan.

Masih dengan kekehan ringan, mama akhirnya bangkit dan berdiri kembali.

“Semua kadonya mama sama papa bawa pulang dulu ke rumah, ya. Nanti kita bagi kado kadonya di rumah, oke?”

Sejauh yang mama mereka ingat, setelah itu masih banyak protes kecil bahkan besar perihal kado dan kue. Ulang tahun ke lima keluarga kecil itu berubah menjadi sangat ribut hanya karena masalah egosentrisme anak-anak mereka.

Begitulah mereka.

Selama beberapa tahun, sampai kedua anak kembar identik yang diceritakan tadi beranjak remaja, perselisihan dan adu pendapat selalu menjadi variasi dalam keseharian di kedua belah pihak. Apa saja yang bisa dilakukan atau di dapat, rasanya akan selalu mereka permasalahkan. Bukan hanya satu sisi, namun keduanya memiliki sifat yang jelas sama persis, terutama dalam hal keras kepala dan galaknya. Setidaknya itu yang lebih dominan di antara yang lainnya.

Hal ini didukung dengan kondisi ayah dan ibu mereka yang terlihat condong ke salah satu anak di pihak yang berbeda. Ayah sedari dulu terlihat lebih dekat dengan Senja. Hal sepele dijadikan ayahnya alasan menganak emaskan putrinya yang lahir lebih lama beberapa menit setelah Jingga itu. Sejak masih di sekolah dasar, Senja sangat menyukai seni. Bahkan Senja mampu menjuarai kejuaraan melukis kontemporer dasar untuk kategori umurnya dalam tingkat nasional. Suara milik Senja juga sangat indah. Mengikuti koor dan mendaftarkan diri di club menyanyi sudah seperti jadwal rutin di kehidupannya.

Namun, pendapat ayahnya yang mengatakan bahwa manusia itu harus kreatif dipatahkan oleh istrinya sendiri. Terlepas dari ibu kedua anak itu adalah dosen di universitas negeri tersohor di Indonesia, bagi wanita pekerja keras itu, pendidikan akademis baik itu untuk laki-laki maupun perempuan sangatlah penting. Jingga terlihat lebih pintar dalam bidang akademik dibandingkan Senja. Karenanya, sang ibu lebih senang untuk mengasah kemampuan akademis Jingga. Seluruh les, olimpiade mandiri, bahkan pendaftaran sekolah terbaik sejak SD untuk Jingga selalu diusahakan dan didahulukan oleh ibu.

Sebenarnya bukan berarti Senja itu lebih bodoh dari Jingga. Hanya saja Senja tidak suka jika akademik dijadikan tolak ukur untuk dikatakan pintar. Dia mau dilihat pintar karena bakat alaminya. Masalah di sekolah, Senja sudah cukup membuktikan bahwa otak kirinya masih bekerja dengan baik karena masih bisa masuk 10 besar peringkat paralel di sekolah mereka di Sekolah Dasar.

Saat Jingga dan Senja menapaki jenjang SMP tahun pertama, terjadi perselisihan kecil kembali di keluarga itu.

“Aku mau ke Paris saja ikut Om Anto”, ucap Senja.

Tas yang ditenteng Senja di bahunya dihempaskan begitu saja ke atas sofa ruang depan. Padahal, belum ada tiga menit anak itu membuka pintu utama rumah dan pulang dari sekolah, tapi nampaknya Senja masih memiliki tenaga untuk membuat keributan di siang bolong seperti sekarang.

Ayahnya yang mendengar keluhan Senja kemudian menutup lembaran koran yang sebelumnya dia baca. Ia menurunkan kacamata yang dipakainya untuk bisa melihat Senja yang sedang mengeluh itu. Beliau sedang mengambil cuti. Hari ini ada janji dengan dokter spesialis saraf untuk melakukan kontrol tahunan.

Bagaimana dengan Jingga?

Ada. Jingga ada di sana juga. Gadis itu baru saja masuk setelah beberapa saat Senja masuk lebih dulu ke dalam rumah.

“Kenapa jadi bawa-bawa Om Anto?”, ucap sang ayah.

Senja mendengus kesal. Satu tarikan gerakan, kemudian dirinya berhasil duduk dengan cepat di sisi lain sofa yang juga diduduki sang ayah. Wajahnya kembali seperti saat tragedi rebutan kado dahulu kala. Bibir Senja mengerucut, kedua alisnya bertaut, dan tangannya sudah setia terlipat di depan perutnya sambil badannya bersandar di sofa. Rasanya, pasti terjadi sesuatu beberapa jam lalu saat di sekolah.

“Apaan, sih? Lebay banget pake segala mau ke Paris”, celetukan Jingga yang sudah bergabung dengan ayahnya dan Senja. .

Mereka masih saja menjadi kembaran yang tidak ada kompaknya sampai detik ini. Entah kesalahan server yang mana, tapi kejadian ini sangat lumrah di keluarga Haditama, ayahnya. Walaupun tidak seberisik dulu, namun tidak pernah Jingga dan senja terlihat se akrab itu sampai mereka sudah menjadi remaja seperti sekarang ini.

“Suka suka gue dong!”, balasan Senja dengan ketusnya.

“Lagian mau ngapain, sih? Lulus aja belom pake segala sok-sokan mau ke Paris. Ada juga jadi gembel lo di sana. Makin nyusahin om Anto!”

“Berisik! Gue ga ngajak lo ngomong jadi gausah komentar! Cih!”

Keributan itu semakin memanas. Nada bicara Senja yang semakin meninggi akhirnya terdengar ke telinga mama yang tiba tiba keluar dari pintu dapur. Mama sejak satu jam lalu sudah sibuk di dapur sana. Ia memang berniat menyiapkan makan siang enak dan beberapa cemilan yang bisa langsung disantap bersama sepulang Jingga dan Senja dari sekolah. Namun, mama sepertinya harus mengisi tangki kesabarannya lagi karena keributan seperti ini harus terjadi di tengah rencana baiknya.

Kendati malas untuk merespon, wanita yang mulai menua itu hanya sanggup menggerakkan kepalanya untuk menggeleng. Ia lebih memilih untuk meletakkan piring dengan setumpuk pisang goreng tepung yang asapnya saja masih mengepul di atas meja.

Mendapati setumpuk pisang goreng hangat yang dibawakan mama, situasi panas yang tadi masih menguap tiba-tiba saja mereda. Kedua putri cantik mereka menggeser duduk mendekat ke arah di mana target bernama “pisang goreng” itu berada. Walaupun masih duduk dengan jarak, baik Jingga maupun Senja, mereka terlihat jauh lebih tenang sambil mengunyah makanan enak buatan sang mama.

Siang itu, alur pembicaraan mereka terlihat amat santai namun serius. Ayahanda yang memang sudah sangat terbiasa, kini terlihat membuka pembicaraan dengan perlahan setelah situasi di ruang tamu kembali kondusif.

Diawali dengan pertanyaan dasar mengenai ucapan Senja, kemudian berlanjut dengan presentasi singkat oleh putrinya itu mengenai keputusannya untuk pergi ke Paris. Wajah sang ayah tak ada kilat protes atau marah. Namun berbeda dengan mama, ada beberapa bagian protes yang dilayangkannya. Berbekal keyakinan dan usaha untuk membujuk kedua orang tuanya, keputusan akhir di hari yang ribut itu adalah Senja sungguh-sungguh diberangkatkan ke Paris.

Sejak batang hidung Senja tak terlihat lagi di akhir tahun, hidup Jingga berubah total. Keributan di keluarga kecil mereka tak pernah terdengar lagi. Bahkan sekadar diskusi dan pembicaraan ringan di meja makan saja semakin sulit untuk diwujudkan. Pekerjaan mama dan papa yang semakin menuntut, serta biaya yang membengkak karena kebutuhan yang juga semakin bertambah membuat semua orang di keluarga Haditama semakin sibuk dengan urusan mereka masing masing.

Di tahun kedua setelah Senja pergi, tepat di hari kelulusan Jingga dari sekolah menengah pertama, hanya ayahnyalah yang bisa mendampingi Jingga. Senja tidak menunjukkan batang hidungnya, bahkan ibunya yang sudah berhenti bekerja dari bagian universitas pun tak bisa datang dengan alasan banyaknya pesanan catering dari beberapa pelanggan di minggu itu yang harus diurus. Itu pekerjaan tetap beliau saat ini.

Apakah Jingga kecewa?

Jelas.

Terbesit sedikit di pikiran Jingga kalau ia merindukan keributan yang terjadi dengan kembarannya saat masih belia dulu. Walaupun mereka tak pernah terlihat akur sama sekali, tapi perasaan saling menyayangi itu pastilah tetap ada. Kesunyian yang dihasilkan pasca kepergian Senja ke Paris dua tahun lalu, membuat suasana menusuk yang membuat Jingga seringkali terlihat melamunkan banyak hal.

Mungkin separuh nyawanya di Paris pun selama ini merasakan perasaan yang sama. Namun tak ada satupun, baik Senja maupun Jingga, yang mau menyapa lebih dulu di ruang obrolan pribadi mereka. Aplikasi berbalas pesan miliknya dan Senja sepertinya hanya berfungsi pada grup keluarga saja. Itu pun tidak setiap saat, hanya beberapa hari sekali untuk bertukar keadaan.

Mudah saja bagi Jingga yang notabenenya anak yang sangat berprestasi akademik untuk mendapatkan sekolah favorit. Dan itu memang yang didapatkan olehnya saat ini. Bukan hanya masuk, tapi Jingga mampu untuk mempertahankan prestasinya menjadi juara kelas dan juara umum pada tahun pertamanya di sekolah menengah atas yang paling bergengsi di daerah tempat tinggalnya.

Namun, semua prestasi dan usahanya tidak diizinkan Tuhan untuk dikenang sampai Jingga menua. Ada hari dimana semuanya tiba-tiba saja berhenti. Suaranya…. Parasnya…. Kegiatannya….. Prestasinya….. Bahkan raga dan jiwanya.

Hari itu tiba.

Hari dimana Senja dipaksa pulang jauh dari eropa secara mendadak.

Senja secara sadar membawa buah tangan yang sangat banyak berupa air mata. Dari jauh hari Senja memang ingin pulang. Tapi yang diharapkan olehnya bukanlah berjumpa dengan batu nisan berwarna hitam pekat yang bertuliskan nama separuh jiwanya di depan mata.

“Jingga……….. Maaf…….”

“Maaf…… Aku terlambat”

Berlanjut di bab 1


메타데이터
post_id
85b33ae5f37e
slug
lentera-untuk-jingga-prolog-85b33ae5f37e
url
https://medium.com/@anderomaidea/lentera-untuk-jingga-prolog-85b33ae5f37e
canonical_url
https://medium.com/@anderomaidea/lentera-untuk-jingga-prolog-85b33ae5f37e
author_url
https://medium.com/@anderomaidea
status
ok
fetched_at
2026-06-25 12:15:08