← Back to list

MAMPUKAH HUTAN INDONESIA BERTAHAN ?

Indonesia sepertinya salah satu wilayah di planet bumi yang menarik perhatian dunia internasional. Selama rentang waktu dua tahun, dua kali…

Lucky Richard · 2016-11-14 12:13 · 1 claps · 5.2 min read
#hutan-indonesia #kelapa-sawit #wonderful-indonesia #farwiza-farhan #greenpeace
Open on Medium ↗
Wiki topics: 🔭 · Astronomy & Space

MAMPUKAH HUTAN INDONESIA BERTAHAN ?

Indonesia sepertinya salah satu wilayah di planet bumi yang menarik perhatian dunia internasional. Selama rentang waktu dua tahun, dua kali sudah Indonesia mucul dalam film dokumenter yang tayang di saluran National Geographic. Sayangnya, yang ditayangkan bukan soal keelokan lansekap Indonesia namun masalah lingkungan hidup yang terjadi di negara ini dan telah menjadi persoalan serius.

Di film pertama, Years of Living Dangerously (2014), pada episode “End of the Woods”, Harisson Ford dengan wajah teramat gusar menyaksikan kerusakan hutan di Kalimantan dan Sumatera, dan bagaimana hutan hujan tropis telah berganti menjadi kebun kelapa sawit. Kegusarannya tersebut ia bawa ketika bertemu dengan Zulfikli Hasan yang kala itu menjabat sebagai Menteri Kehutanan. Pertemuan ini sempat menjadi bahan pemberitaan karena sang Indiana Jones disebut bersikap kurang ajar terhadap sang menteri. Kegusaran yang sama juga terlihat ketika ia bertemu dengan presiden ketika itu Sby.

Di film kedua, Before The Flood (2016), giliran Leonardo DiCaprio yang tidak percaya melihat kondisi sebagian hutan di wilayah Aceh telah berubah menjadi perkebunan kelapa sawit. Farwiza Farhan dari yayasan HAKA yang ikut menemani Leo menyebutkan, 80% hutan di Indonesia telah beralih fungsinya akibat ekspansi industri minyak sawit.

Pembukaan lahan hutan untuk perkebunan kelapa sawit dianggap sebagai biang keladi deforestasi di Indonesia. Greenpeace pernah menerbitkan laporan yang menuding bahwa produksi kelapa sawit menjadi salah satu penyebab tunggal terbesar deforestasi di Indonesia, yang mencapai sekitar seperempat jumlah kehilangan total area hutan di Indonesia sepanjang tahun 2009 hingga 2011.

Masalah pelik yang harus dihadapi dari perluasan perkebunan kelapa sawit bukan semata hilangnya areal hutan, tapi juga praktik ilegal pembukaan lahan dengan cara membakar hutan telah mengancam kesehatan manusia akibat asap pekat yang ditimbulkan serta ancaman langsung berupa hancurnya ekosistem hutan yang dibakar tersebut. Kehancuran itulah yang membuat hewan-hewan liar seperti orang utan, gajah hingga harimau sumatera yang langka harus tergusur bahkan terbunuh di habitat alaminya.

What is man without the beasts?

If all the beasts were gone, men would die from great loneliness of spirit,

for whatever happens to the beasts also happens to the men.

All things are connected.

Whatever befalls the earth, befall the sons of the earth.

(Chief Seattle)

Haruskah produksi kelapa sawit dihentikan ?

Tentu saja tidak. Salah satu hasil akhir produk kelapa sawit yaitu minyak goreng telah menjadi bahan utama dalam urusan masak-memasak mayoritas masyarakat Indonesia. Memang ada minyak jenis lain yang bisa digunakan untuk memasak yang lebih ramah lingkungan dan relatif lebih sehat seperti canola atau zaitun, namun buat warga kebanyakan (termasuk saya) harganya jelas tidak ramah buat kantong.

Industri kelapa sawit selain menghasilkan produk-produk konsumsi yang dibutuhkan masyarakat dunia, bukan cuma di Indonesia, juga memberikan devisa bagi negara serta pembukaan lapangan kerja yang cukup besar bagi masyarakat. Tapi segala keuntungan tersebut jangan dijadikan pembenaran bahwa lebih penting kebun kelapa sawit dibanding hutan primer.

Dari film pertama saya akhirnya jadi mengetahui kalau satu pohon kelapa sawit buahnya bisa dipanen selama 3 kali dalam sebulan! Saya tidak bisa membayangkan berapa besar keuntungan yang diraih dari jutaan batang pohon kelapa sawit yang telah ditanam di ratusan ribu atau mungkin jutaan hektar perkebunan kelapa sawit di Indonesia.

Karena saya bukan aktivis atau pakar di bidang lingkungan hidup, saya tidak ingin memberikan argumen tentang hilangnya hutan akan berdampak pada perubahan iklim. Pertanyaan simpel saya adalah, mengingat profitnya yang luar biasa, kalaulah semua hutan di Indonesia dibabat habis dan digantikan dengan kebun kelapa sawit, akankah Indonesia menjadi negara kaya dan seluruh penduduknya sejahtera?

beritadaerah.co.id

beritadaerah.co.id

Cerita Masa Lalu

Deforestasi hutan di Indonesia tidak melulu karena perluasan perkebunan kelapa sawit. Pembalakan liar merupakan masalah serius lainnya buat hutan Indonesia yang harus terus diperangi. WWF Indonesia melansir laporan yang menyebutkan sekitar 130 juta hektar hutan yang tersisa di Indonesia, 42 juta diantaranya sudah habis ditebang.

Saya ingat percakapan dengan seorang pegawai instansi pemerintah yang pernah bertugas di Kalimantan. Ia keheranan melihat kayu-kayu hasil tebangan ilegal yang ‘lewat’ begitu saja tanpa ada hambatan dari berbagai instansi.

Begini ia mendeskripsikan, “Coba bayangkan, kayu-kayu yang ditebang dari atas gunung, itu ukurannya besar-besar. Karena jumlahnya sangat banyak, kayu-kayu itu dibawa turun menggunakan sungai dari hulu ke hilir. Saking banyaknya, kayu-kayu tersebut berjalan secara perlahan di atas air. Yang jadi pertanyaan adalah, dengan jumlah yang begitu besar, dan jalan kayunya pun lambat mengikuti alur sungai, masak nggak ada (aparat pemerintah) yang tahu perjalanan kayu-kayu itu?”.

Saya cuma tersenyum mendengar pertanyaan retoris itu. Dalam hati saya berucap, mungkin aparat disana tutup mata ketika kayu lewat, dan baru membuka mata ketika amplop datang.

Di lain cerita, suatu saat dalam penerbangan di atas wilayah Kalimantan, saya berkenalan dengan seorang bapak yang pekerjaannya membuat ia keluar masuk hutan hingga ke pedalaman. Dari awalnya bertukar cerita soal remeh-temeh, percakapan kami kemudian berlanjut soal kondisi hutan di Kalimantan. Saya tidak akan pernah lupa dengan kata-katanya begini, ”Kalau pemerintah tidak berbuat sesuatu, habis hutan kita !”.

pixabay.com

pixabay.com

Save Our Forest

Tapi itu dulu, percakapan sekitar 8–9 tahun yang lalu. Tahun-tahun ini, terutama di kepemimpinan Presiden Jokowi, saya berharap tidak ada lagi cerita seperti itu. Saya teramat berharap ketegasan Presiden Jokowi dalam menjaga kelangsungan hutan tropis di Indonesia seraya memastikan pertumbuhan ekonomi dari hasil hutan bisa tetap terjaga. Komitmen pemerintah dalam menjaga kelestarian hutan mutlak diperlukan, termasuk komitmen untuk menindak tegas para perusak hutan baik individu maupun korporasi. Sesuatu yang tidak atau belum dilakukan oleh presiden sebelumnya.

Saya sadar mencari keseimbangan itu tentu tidak mudah. Tapi pemerintah punya kewenangan untuk mengatur tata kelola pemanfaatan lingkungan yang benar dan berkelanjutan. Pemerintah misalnya bisa mendorong sambil mengawal para pengusaha yang mengambil manfaat dari hutan di Indonesia untuk menjalankan bisnis yang ramah lingkungan. Tujuan utamanya tidak lain supaya hutan-hutan yang terbentang dari Sumatera hingga Papua bisa memberikan manfaat bagi seluruh rakyat dan bukan segelintir kalangan.

Kerusakan hutan dan lingkungan di Indonesia jika tidak mampu dikendalikan, dalam beberapa aspek ekonomi justru akan merugikan Indonesia. Sekedar contoh, kampanye “Wonderful Indonesia” yang gencar digaungkan untuk mendongkrak kunjungan wisatawan ke Indonesia bakal sia-sia jika di saat yang bersamaan bertebaran pemandangan hutan Indonsia yang rusak dan hilangnya kekayaan flora dan fauna di dalamnya. Sementara ekowisata merupakan salah satu paket perjalanan yang sangat menjual bagi turis mancanegara. Ketika hutan hilang, apakah turis mau menjelajah ke perkebunanan kelapa sawit?

Tanggung Jawab Bersama

Satu hal yang perlu disadari, upaya untuk menjaga kelestarian hutan bukan semata di pundak pemerintah, tapi juga seluruh lapisan masyarakat khususnya masyarakat yang tinggal di areal hutan. Saya percaya menjaga lingkungan merupakan bagian dari tanggung jawab yang diberikan Tuhan kepada manusia untuk menghormati hasil ciptaanNya. Konyol rasanya ketika membayangkan bagaimana segala jenis tumbuhan, pepohonan, hewan liar dan ternak yang mengisi bumi diciptakan Tuhan dalam tempo dua hari, lalu setelahnya manusia membuat kerusakan bertahun-tahun, hingga saat ini.

Dari hutan kita bisa menikmati berbagai anugerah untuk menopang kehidupan, hasil hutan untuk kebutuhan hidup, keseimbangan iklim, kecukupan air, udara yang bersih, hingga keindahan alam untuk relaksasi dan tujuan wisata. Semuanya itu bisa dinikmati generasi sekarang dan diwariskan turun temurun untuk generasi yang akan datang. Namun di saat yang sama, semuanya itu juga bisa hilang dalam sekejap ketika eksploitasi dilakukan tanpa kearifan. Karena itu pilihannya ada di kita bersama.

Sebelum memilih, mungkin kata-kata yang ditulis di poster yang dibentangkan seorang demonstran perempuan bisa menjadi perenungan bersama :

When all the trees are cut down

When all the animals are dead

When all the waters are poisoned

When all the air is unsafe to breathe

Only then will you discover …

You cannot eat money


메타데이터
post_id
85f5a75ecdb9
slug
mampukah-hutan-indonesia-bertahan-85f5a75ecdb9
url
https://medium.com/@FeliksRT/mampukah-hutan-indonesia-bertahan-85f5a75ecdb9
canonical_url
https://medium.com/@FeliksRT/mampukah-hutan-indonesia-bertahan-85f5a75ecdb9
author_url
https://medium.com/@FeliksRT
status
ok
fetched_at
2026-07-30 16:14:16